Malam Panas Sang Sekretaris

Malam Panas Sang Sekretaris

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-30
Oleh:  Nona LeeBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
38Bab
916Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

21+ "Malam itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan, Tuan Aldebaran. Saya harap, kita bisa bersikap profesional seperti biasa." ​"Kau pikir, kau bisa melupakan malam panas itu begitu saja, Marlina?" ​Marlina tidak pernah menyangka, bahwa ia akan terlibat cinta satu malam dengan bos tampan yang baru menjabat beberapa minggu di perusahaan tempatnya bekerja. ​Rey Aldebaran, bos yang terkenal dingin dan acuh pada semua pegawainya. Namun, setelah malam menggairahkan yang ia lewati bersama sang sekretaris, sikapnya mulai mencair, bahkan ia lebih sering memperhatikan sekretaris cantiknya itu dan mencari cara agar bisa berduaan dengan Marlina. ​Apakah hubungan mereka akan benar-benar berubah, setelah malam panas itu terjadi?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Malam Penyambutan

"Bisa kau jelaskan, kenapa berkas penting ini masih berantakan di atas mejaku, Marlina?" suara bariton itu menginterupsi dengan nada sedingin es, tajam, dan sama sekali tidak memiliki toleransi.

Marlina Navasya, wanita bertubuh mungil dengan tinggi hanya 150 cm itu, langsung tersentak di balik kubikel kerjanya. Dengan gugup, ia merapikan blus putih sutranya sebelum buru-buru berdiri menghadapi sang atasan.

"Maafkan saya, Tuan Aldebaran. Ada beberapa data dari divisi keuangan yang baru saja masuk sepuluh menit yang lalu, jadi saya harus-"

"Aku tidak butuh alasan cerobohmu," potong Rey Aldebaran dengan cepat, melempar tatapan mata yang begitu menusuk hingga membuat nyali Marlina menciut seketika.

Pria bertubuh tegap, berahang tegas dengan aura dominan yang teramat kuat itu adalah Rey Aldebaran. Sebagai CEO baru di Cakrawala Group yang baru menjabat selama dua minggu, ia sudah terkenal sebagai sosok yang arogan, angkuh, dan sangat disegani. Tidak ada satu pun pegawai yang berani menatap matanya lebih dari tiga detik, termasuk Marlina yang kini hanya bisa menunduk dalam-dalam.

"Perbaiki sekarang. Dan ingat, malam ini adalah pesta penyambutanku di hotel. Jangan sampai kecerobohanmu mempermalukan aku di depan para kolega bisnis," sambung Rey lagi, suaranya terdengar datar namun sarat akan ancaman mutlak.

"Baik, Tuan. Segala keperluan di hotel sudah saya koordinasikan dengan baik," jawab Marlina dengan suara yang sedikit bergetar.

Rey tidak menyahut lagi. Pria itu hanya mendengus pelan, lalu membalikkan badan dan melangkah lebar meninggalkan ruangan dengan keangkuhan yang nyata. Begitu punggung tegap sang CEO menghilang di balik pintu kaca, Marlina langsung membuang napas panjang yang sedari tadi ditahannya. Dada bulatnya kembang kempis menahan dongkol yang teramat sangat.

Malam harinya, suasana ballroom hotel mewah bintang lima itu tampak begitu gemerlap. Ratusan tamu penting dari kalangan kelas atas berkumpul, dipenuhi dengan suara dentingan gelas dan obrolan formal yang membosankan. Pesta perayaan penyambutan CEO baru itu berjalan sangat meriah, semua orang tampak begitu menikmatinya, kecuali Marlina yang tampak kerepotan sendiri.

Dengan gaun hitam pekat yang membungkus indah tubuhnya, menonjolkan pinggang ramping serta lekuk paha dan bokongnya yang berisi. Marlina terus bergerak ke sana kemari. Kakinya yang ditopang oleh high heels sepuluh sentimeter terasa sangat pegal, menyapa para kolega penting dan memastikan gelas-gelas kristal milik tamu VIP selalu terisi penuh.

Sementara itu, Rey Aldebaran hanya berdiri santai di sudut ruangan yang sedikit lebih tinggi. Pria itu memutar-mutar gelas kristal berisi cairan amber di tangannya, memperhatikan bagaimana sekretaris mungilnya yang ceroboh itu kewalahan menghadapi para direktur tua yang mencoba menggoda dengan obrolan basa-basi.

"Kau terlihat sangat lelah, Sekretaris Navasya," sebuah suara berat tiba-tiba berbisik dari arah belakang saat Marlina baru saja meletakkan nampan kosong di bar.

Marlina menoleh cepat, mendapati Rey sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. "T-Tuan Aldebaran. Ah, tidak, saya baik-baik saja."

"Jangan berbohong. Wajahmu terlihat sangat kusut, dan itu mengganggu pemandanganku," ucap Rey ketus, mulutnya teramat tajam tanpa memikirkan perasaan sang sekretaris. "Menepilah sejenak. Aku tidak mau kolega bisnisku mengira aku memperbudak karyawanku."

"Baik, Tuan. Terima kasih atas perhatiannya," gumam Marlina dengan nada sarkasme yang disembunyikan rapat-rapat.

Marlina segera melangkah menjauh menuju sudut bar yang lebih sepi. Dadanya bergemuruh hebat akibat tekanan pekerjaan selama dua minggu ini dan sikap arogan Rey barusan. Karena ingin sedikit melepas penat dan mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah, Marlina meraih sebuah gelas berisi cairan merah muda yang cantik dari atas meja bar. Mengingat sifatnya yang kerap ceroboh, ia sama sekali tidak bertanya atau memeriksa jenis minuman apa itu, mengira itu hanyalah sirup buah dingin biasa.

Glekk

Glekk

"Manis sekali... tapi kenapa tenggorokanku mendadak hangat?" gumam Marlina, menyipitkan matanya yang mulai terasa berat.

Tanpa ia ketahui, minuman itu adalah koktail dengan kadar alkohol teramat tinggi. Hanya dalam waktu singkat, efek dari cairan tersebut mulai mengacaukan kesadarannya. Rasa hangat langsung menjalar ke seluruh tubuh, membuat kedua pipinya merona merah alami. Kepala Marlina mendadak terasa seringan kapas, dan langkah kakinya saat mencoba berjalan menjauh dari keramaian pesta mulai sempoyongan.

Di sisi lain, dentuman musik di dalam ballroom terasa semakin menggila dan memekakkan telinga. Rey yang sejak awal memang tidak menyukai kebisingan dan keramaian yang berlebihan, memutuskan untuk menepi ke area privat hotel. Ia melangkah lebar menuju koridor sunyi yang menuju ke arah penthouse dan lobi VIP, tempat yang dilapisi karpet tebal bernuansa emas yang mampu meredam setiap langkah kakinya.

Namun, langkah kaki Rey mendadak terhenti ketika netra tajamnya menangkap sosok wanita bergaun hitam sedang berdiri bersandar pada dinding koridor. Wanita itu tampak kebingungan, dengan napas yang memburu dan pandangan mata yang sayu.

"Marlina? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rey, suaranya menggema rendah, terdengar dingin namun ada sedikit nada tuntutan di dalamnya.

Marlina mendongak, mencoba memfokuskan pandangannya yang berbayang. Begitu mengenali sosok pria jangkung di hadapannya, seluruh rasa takut dan rasa tertekan yang ia pendam selama dua minggu ini mendadak menguap, digantikan oleh keberanian nekat akibat pengaruh alkohol yang kuat.

"Oh... Tuan CEO yang teramat agung dan... angkuh," rancu Marlina dengan tawa kecil yang terdengar aneh.

Rey mengerutkan keningnya dalam-dalam, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. "Kau mabuk? Berani sekali kau bicara dengan nada seperti itu padaku."

"Kenapa tidak berani?!" Marlina melangkah maju dengan nekat. Tangan mungilnya terangkat, jari telunjuknya menunjuk-nunjuk tepat di depan dada bidang Rey yang terbungkus jas mahal, sebuah tindakan luar biasa nekat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Kau tahu, Tuan Aldebaran? Kau itu... kau itu monster! Kau dingin, kejam, tidak punya perasaan! Mulutmu itu sangat tajam sampai membuatku ingin mengundurkan diri setiap hari!"

Rey tidak mundur selangkah pun. Ia hanya berdiri kokoh, menatap sekretaris mungilnya itu dengan tatapan menusuk yang tidak terbaca. Menariknya, alih-alih marah karena kelancangan ini, sudut bibir Rey justru terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sangat samar. Sungguh sebuah kepuasan tersendiri melihat sekretaris yang biasanya selalu menunduk patuh dan ketakutan kini mengumpat kasar di depan wajahnya.

"Kau sudah selesai mengacau, Sekretaris Navasya? Sekarang, kembali ke kamarmu sebelum aku benar-benar memecatmu," ujar Rey pelan, namun nadanya dipenuhi dengan dominasi yang kuat.

"Pecat saja! Aku tidak takut!" teriak Marlina manja, berbalik dengan hentakan kaki yang penuh amarah untuk pergi dari sana.

Namun, kecerobohan Marlina lagi-lagi membawa petaka. Karena memutar tubuhnya terlalu cepat dalam kondisi keseimbangan yang kacau, salah satu ujung high heelsnya tersangkut pada lipatan karpet tebal. Marlina menjerit kecil, tubuh mungilnya kehilangan kendali dan ia hampir terjatuh telentang ke atas lantai marmer yang keras.

Grep!

Rey bergerak dengan refleks yang luar biasa cepat. Tangan kekarnya yang kuat langsung menyambar pinggang ramping Marlina, menarik tubuh mungil itu dengan satu hentakan kuat hingga menempel erat pada dada bidangnya.

Waktu seolah berhenti berputar di koridor yang sunyi itu.

Ketegangan di antara keduanya mendadak meningkat drastis hingga ke titik tertinggi. Jarak di antara wajah mereka terkikis habis, menyisakan hanya beberapa sentimeter saja hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Mata mereka terkunci rapat. Rey bisa merasakan napas hangat Marlina yang berbau manis alkohol menerpa bibirnya, sementara Marlina terhipnotis oleh kilatan mata menusuk milik Rey yang kini tidak lagi sedingin es, melainkan telah berubah menjadi kobaran api gairah yang membara. Pertahanan diri keduanya yang selama ini dibatasi oleh status atasan dan bawahan runtuh begitu saja dalam suasana malam yang privat. Aroma parfum maskulin milik Rey yang mahal bercampur dengan aroma tubuh alami Marlina yang menggoda, memicu sebuah hasrat terlarang yang tiba-tiba meledak dan menguasai akal sehat mereka.

Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Rey menuntun langkah mereka yang tergesa-gesa, membawa tubuh mungil Marlina masuk ke dalam salah satu kamar suite mewah yang berada tepat di ujung koridor privat tersebut. Begitu pintu tertutup dan terkunci otomatis dengan bunyi klik yang nyaring, atmosfer di dalam ruangan berubah menjadi teramat pekat dan intim.

Rey tidak membuang waktu lagi. Dengan satu gerakan dominan yang sarat akan kekuasaan, ia langsung menyudutkan tubuh mungil Marlina ke dinding hotel yang dingin. Kedua tangan kekarnya mengunci pergerakan Marlina di sisi kiri dan kanan kepalanya, membuat wanita itu benar-benar terperangkap di bawah otoritasnya.

"T-Tuan Rey... apa yang ingin kau lakukan?" bisik Marlina, suaranya bergetar hebat. Kesadarannya yang tersisa mencoba untuk memberontak, namun tubuhnya justru terasa lemas dan mendambakan kehangatan yang lebih.

Rey tidak menjawab dengan bantahan. Ia menundukkan kepalanya, membelai wajah cantik Marlina dengan ujung jarinya yang dingin, menyingkirkan beberapa helai rambut panjang yang menghalangi leher jenjang wanita itu. Detik berikutnya, Rey memberikan kecupan sekilas yang teramat intens di leher, lalu bergeser naik ke arah telinga Marlina. Sentuhan fisik yang begitu intim itu membuat seluruh tubuh Marlina bergetar hebat karena sensasi aneh yang mendadak menyengat sarafnya. Marlina sempat mengangkat tangannya yang gemetar, mencoba mendorong dada bidang Rey untuk menolak, namun cengkeraman halus namun kuat dari pria itu pada pinggangnya justru membuat suaranya tercekat.

Rey terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang teramat seksi sekaligus berbahaya di indra pendengaran Marlina. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Marlina yang memerah, lalu berbisik dengan nada yang teramat intim dan penuh kemenangan.

"Kenapa kau berpura-pura menolak, Marlina? Selama dua minggu ini, aku tahu betul kalau kau selalu mencuri-curi pandang padaku saat di kantor," bisik Rey, embusan napasnya yang hangat membuat bulu kuduk Marlina meremang hebat. "Jangan munafik. Tubuhmu saja bahkan tidak bisa berbohong kalau kau juga menginginkannya."

Marlina menelan ludahnya kasar, "T-tidak... saya... saya tidak... Ah!"

Marlina membelalakkan matanya yang sayu dengan jantung yang berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar, sementara jemari tangan Rey mulai bergerak turun, menelusuri lekuk tubuhnya dengan sentuhan yang semakin menuntut dan mengaburkan seluruh akal sehat mereka malam itu.

"Katakan sekali lagi dengan jelas, Marlina. Apa kau benar-benar menolakku?"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Nona Lee
Nona Lee
Halo!! setelah sekian lama membeku, aku mutusin buat lanjutin lagi novel ini. semoga kalian sukaa
2026-07-23 11:45:23
1
0
38 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status