LOGINDihukum mati karena melakukan pemberontakan, Valerie, sang permaisuri kejam terlempar ke dunia modern dan masuk ke tubuh seorang wanita bernama Serena yang mati kelelahan. Meski awalnya ia sangat terkejut, tapi ia merasa ini lebih baik daripada mati sia-sia. Ia akhirnya menjalani hidup sebagai Serena yang merupakan anak yatim piatu dan harus berjuang sendirian. Hingga suatu ketika Valerie bertemu dengan seorang Idol, Ethan Miller. Dan membuatnya merasakan banyak hal baru yang luar biasa.
View More"Kepalanya akan dipenggal saat matahari mencapai Menara Timur!"
Kalimat itu merupakan putusan terakhir yang didengar Valerie Onderson setelah persidangannya berakhir. Dan hari ini, hukuman itu akhirnya akan dilaksanakan. Langit di atas Ibu Kota Omeland tampak cerah. Terlalu cerah untuk hari kematian seorang Permaisuri. Valerie kini berdiri di atas panggung eksekusi dengan kedua tangan terikat di depan tubuhnya. Mahkota yang selama bertahun-tahun menghiasi kepalanya telah lama disita. Seluruh gelar kebangsawanannya dicabut dan kekuasaannya juga telah dirampas. "Ternyata, ini adalah akhir dari semuanya," gumam Valerie pelan. Sangat pelan, sampai tidak terdengar oleh siapa pun. Namun entah mengapa, saat semua orang melihat perempuan itu berdiri di tengah panggung, tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa sedang memandang seorang tahanan. Karena punggung perempuan itu tetap tegak, dagunya terangkat, dan tatapannya masih tajam. Masih sama seperti saat ia mengendalikan seluruh istana dari balik singgasananya. Ribuan pasang mata tertuju padanya. Para bangsawan, pejabat, ksatria, dan rakyat Omeland datang untuk menyaksikan akhir hidup perempuan yang selama ini mereka takuti. "Jadi, beliau benar-benar akan dihukum mati?" tanya seorang rakyat biasa yang diperkenankan masuk ke dalam istana. "Astaga! Aku pikir Yang Mulia Kaisar akan mengampuninya." "Mengampuni dia kata kamu? Apa kamu lupa, kalau dia sudah mencoba membunuh Putra Mahkota!" Seorang rakyat lainnya menunjuk ke arah Valerie. "Tapi... lihatlah dia!" Beberapa orang mengerutkan kening dan kembali melihat ke arah perempuan yang akan di eksekusi itu. "Kenapa?" Orang tersebut berdecak pelan. "Dia masih saja berdiri setegak itu!" Beberapa ksatria yang berjaga ikut melirik ke arah panggung. "Tidak heran kalau semua orang sangat segan padanya," ucap salah satu ksatria. "Sayang, ambisinya justru menghancurkan dirinya sendiri." Di tribun kehormatan, dua bangsawan berbisik pelan. "Untung kita tidak berpihak padanya lagi." "Kalau pemberontakannya berhasil, mungkin sekarang kita yang sedang berlutut di sana." "Sudahlah. Semua kan sudah berakhir. Sekarang kita lihat saja bagaimana akhirnya." "Betul." Valerie sengaja membiarkan tatapannya menyapu kerumunan. Tidak ada wajah yang membuatnya terkejut. Pengkhianatan adalah hal yang terlalu sering ia lihat selama hidupnya. Namun tatapannya tiba-tiba saja berhenti pada satu orang. Doran, putranya. Pangeran yang selama ini ia perjuangkan untuk bisa merebut gelar Putra Mahkota dengan berbagai cara. Seseorang yang membuat Valerie menantang kekaisaran, tangannya dipenuhi darah, dan ia pun harus kehilangan segalanya. Doran berdiri di tribun kerajaan. Wajahnya terlihat sangat tenang. Valerie menatapnya cukup lama dan membisikkan nama putra semata wayangnya. "Doran..." Ia menunggu. Menunggu banyak kemungkinan dari putranya itu. Entah sebuah langkah, penolakan, atau sesuatu yang menunjukkan bahwa kematiannya cukup berarti. Namun sayangnya, tidak ada. Doran hanya diam, tidak bergerak sedikit pun. Seolah perempuan yang akan dieksekusi itu bukanlah Ibunya dan hanya seorang terpidana. "Yang Mulia Pangeran memang pantas menjadi calon kaisar," ucap salah satu rakyat. "Beliau tidak membiarkan hubungan darah menghalangi keadilan." "Benar!" Salah satu rakyat lagi, melihat lurus ke arah Valerie. "Tapi, bagaimanapun juga dia adalah Ibunya. Bagaimana bisa, ia hanya diam mematung seperti itu!" "Benar! Kalau aku jadi Pangeran, mungkin aku tidak akan sanggup melihatnya." Bisikan-bisikan itu terdengar samar di telinga Valerie. Namun, tidak ada satu pun yang lebih menyakitkan daripada keheningan Doran sendiri. Valerie merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada hukuman mati, yaitu rasa pedih dan kekecewaan. Sebuah emosi yang selama ini tidak pernah ia izinkan tumbuh sedikit pun dalam dirinya. Tapi pada akhirnya, ia harus menerimanya dari anak yang telah ia perjuangkan selama ini. Seorang pejabat kerajaan melangkah maju ke depan panggung. Suaranya terdengar lantang memenuhi seluruh pelataran istana. "Atas nama Yang Mulia Kaisar, hukuman mati terhadap Valerie Onderson akan segera dilaksanakan sesuai putusan Pengadilan Agung Kekaisaran." Beberapa saat, hening. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Angin berembus pelan melewati bendera-bendera kekaisaran yang berkibar di sekitar lapangan. Pejabat itu kembali membuka mulutnya. "Apakah terpidana memiliki kata-kata terakhir?" Valerie tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada anak semata wayangnya. Seolah mencari sesuatu. Apa pun itu. Namun, ia tetap saja tidak menemukan apa pun. Lalu, ia tersenyum tipis. Senyum yang sangat tipis hingga hampir tidak terlihat sama sekali. Betapa lucunya hidup ini. Ia berhasil mengalahkan begitu banyak musuh selama hidupnya. Tapi ternyata, kekalahan terbesar datang dari orang yang sangat ia lindungi selama ini. Untuk sesaat, ia melihat tangan Doran mengepal di sisi tubuhnya. Begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tapi, hanya itu saja yang ia lakukan. Putranya tetap tidak bergerak, tidak berbicara, dan membiarkan semuanya terjadi. 'Sebenarnya aku sudah melahirkan anak seperti apa?' tanya Valerie dalam hati. Ia perlahan memalingkan pandangan. Dadanya terasa kosong. 'Di saat terakhir pun, ia tetap memilih diam.' Maka, tidak ada lagi yang perlu ia katakan. Pejabat kerajaan mengangguk pelan. Algojo melangkah maju. Pedang besar berada di tangannya. Kilau tajamnya memantulkan cahaya matahari. Valerie menatap lapangan untuk terakhir kalinya, lalu berjalan menuju balok eksekusi. Dengan tenang, ia berlutut. Tidak ada permohonan ataupun air mata. Ia meletakkan lehernya di atas balok kayu. Jika ada kehidupan berikutnya, ia sama sekali tidak mau menjadi permaisuri, bangsawan, ataupun hidup di dalam istana. Dan saat matahari mencapai Menara Timur, pedang itu terangkat tinggi, lalu turun dengan cepat. Seketika, dunia berubah menjadi gelap. *** "Serena!" panggil seorang perempuan dengan nada panik. "Serena! Bangun!" suara itu, terdengar makin jelas. Lalu terdengar langkah kaki yang semakin menjauh dan suara pintu yang tertutup. Valerie mengerutkan kening. 'Bukannya aku sudah mati?' batinnya, seraya bertanya pada diri sendiri. Tiba-tiba saja, kegelapan perlahan memudar. Nafas pertama mulai memenuhi paru-parunya. Cukup kasar dan menyakitkan. Namun, ia yakin kalau saat ini, ia sudah kembali hidup. Valerie membuka matanya perlahan dan langsung terduduk di lantai begitu saja. Seolah, tubuhnya terjun bebas dari atas meja kasir itu. Seketika, tangannya memegang leher. Tidak ada darah, luka, ataupun rasa sakit akibat pedang yang seharusnya memisahkan kepala dari tubuhnya. "Ada apa sebenarnya?" tanya Valerie pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Jantungnya berdetak kencang. Lalu, ia menengok ke kiri dan ke kanan. Alisnya saling terpaut karena melihat rak-rak tinggi yang berjajar rapi, lampu putih terang yang menggantung di atas kepala, serta makanan dan minuman yang tersusun memenuhi ruangan. Di hadapannya, kini terdapat sebuah meja panjang dengan layar bercahaya di atasnya. Dahi Valerie berkerut heran. "Tempat apa ini?!""Iya," jawab Evelyn tanpa sedikit pun keraguan. Senyum tipis masih menghiasi wajah Evelyn. Seolah, ia sudah memperkirakan reaksi Ethan sejak awal. Tatapannya tetap tenang, tapi sorot mata menunjukkan keseriusan yang tidak bisa dianggap main-main. Valerie ikut terpaku. Ia melihat ke arah Evelyn dengan tatapan bingung. Sebagai orang yang baru mengenal keluarga itu, ia bisa merasakan kalau suasana di meja makan telah berubah dalam sekejap. Ethan mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Nek! Nenek tau kan, kalo aku nggak ada niat sama sekali buat nikah?!" Evelyn tetap tenang. Ia menggedikkan bahu pelan dan tersenyum kecil. "Nenek nggak tau. Yang Nenek tau, kamu cuma belum siap untuk itu." "Lagian, Nenek juga nggak nyuruh kalian menikah besok, Ethan," lanjut Evelyn. "Maksud Nenek?" tanya Ethan dengan kening berkerut. "Kalian bisa saling mengenal dulu. Pelan-pelan aja. Tapi dengan tujuan yang jelas, yaitu pernikahan dengan waktu yang akan kita sepakati
"Maaf, aku nggak bisa kasih tahu," jawab Valerie, akhirnya. Setelah ia menoleh ke arah Bianca dan menahan pintu yang sudah terbuka.Bianca mengerutkan kening. "Emangnya kenapa?""Kalau aku kasih tahu, kamu pasti bakal datang buat lihat Ethan. Terus kalau sampai ketahuan dan mengganggu aktifitas dia, pasti aku yang akan kena batunya."Bianca langsung tertawa kecil. "Emang, bisa ketahuan ya?"Valerie menggedikkan bahu pelan. "Bisa saja, kan? Masa depan tidak ada yang tahu, Bi."'Seperti sekarang. Bisa-bisanya aku berada dalam tubuh perempuan ini!' batin Valerie. "Ya ampun, Ser... Kamu serius amat sih?! Aku kan cuma pengen liat Ethan dari jauh...," tanya Bianca, seraya memohon kepada Valerie. Dengan cepat, Valerie menggelengkan kepala. "Lain kali saja! Kalau memang ada kesempatan, pasti akan aku kasih tau. Untuk sekarang, aku benar-benar harus pergi."Bianca menghembuskan napas pelan dan mengangkat kedua tangan, seolah menyerah dengan permintaan tadi. "Baiklah! Hati-hati, di jalan!""
"Iya. Kamu harus sampai sana sekitar jam lima pagi untuk mengurus semua keperluan Ethan. Tidak masalah, kan?" tanya Evelyn. Valerie terdiam sejenak lalu berkata pelan, "Tidak. Hanya saja jika Ibu mengizinkan, besok pagi saya ingin mengurus pengunduran diri dari pekerjaan saya di minimarket terlebih dahulu. Setelah itu, saya akan langsung menuju rumah Pak Ethan.""Saya pastikan tidak akan memakan waktu lama," lanjut Valerie. Evelyn tersenyum kecil dan kembali melihat ponsel yang masih ada di tangan. "Baiklah. Kalau begitu, tolong berikan nomor telponmu."Valerie segera menyebutkan nomor ponsel. Sedangkan Evelyn, langsung menyimpan nomor telpon dan mengirim pesan singkat."Itu nomor Nenek. Sekaligus nomor telpon dan alamat lengkap rumah Ethan. Kalau ada sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan, kamu bisa langsung hubungi Ethan," ucap Evelyn, sambil melihat ke arah Ethan. Sedangkan Ethan, masih tidak perduli. Ia lebih memilih fokus dengan makanan kesukaannya. Karena sejak terbangun tad
"Bekerja dengan Pak Ethan?" tanya Valerie pelan.Tadi, ia sempat membeku selama beberapa saat. Sebelum akhirnya menatap Evelyn, untuk memastikan kalau ia tidak salah dengar."Iya," jawab Evelyn sambil tersenyum. "Bagaimana menurut kamu?"Belum sempat Valerie memberikan jawaban, Ethan sudah lebih dulu angkat bicara sambil mengerutkan kening. "Sebentar, maksud Nenek apa?! Dia mau bekerja sebagai apa?!"Nada suara Ethan terdengar tenang. Namun tetap tegas.Evelyn menoleh ke arah cucunya seolah pertanyaan itu sudah ia duga sejak awal."Sebagai asisten pribadi kamu."Ethan langsung menggeleng kepala perlahan. "Nggak perlu! Aku bisa urus semua sendiri, Nek!"Meski mendengar jawaban itu dari Ethan, Evelyn tetap terlihat tenang."Betul. Tapi, bukan berarti kamu harus mengerjakan semua sendirian terus, Ethan.""Iya. Dan perlu Nenek ingat, aku sudah punya manajer!""Manajer hanya mengurus jadwal pekerjaan, kontrak, dan urusan dengan agensi."Evelyn meletakkan cangkir teh perlahan sebelum akhir






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.