LOGINSiapa sangka, kehidupan janda biasa seperti Alina berubah total sejak seorang duda kaya raya dan anaknya yang nakal menjadi tetangganya?! Reynard yang angkuh dan dingin, perlahan mulai terobsesi dan menginginkan wanita yang berhasil menaklukan putranya yang nakal itu. Terjebak di antara kesepian dan ketakutan akan trauma masa lalu, bisakah Alina membiarkan hatinya kembali terbuka? Dan mampukah Reynard membuktikan bahwa tidak semua pernikahan berakhir dengan kehancuran?
View More"Eh, Jeng Mira, sudah lihat belum? Itu lho, rumah besar di ujung belokan yang sudah kosong dua tahun!"
"Oh, yang pagarnya tinggi menjulang warna hitam itu? Memangnya kenapa, Jeng?" "Kemarin sore ada truk kontainer besar datang. Katanya, yang punya rumah itu sudah pindah ke sana. Sumpah, Jeng, waktu mobil mewahnya lewat, kacanya sempat turun sedikit. Orangnya tampan sekali! Kulitnya putih, rahangnya tegas, tapi ya ampun... mukanya datar banget kayak triplek baru diamplas. Sombong sekali, tidak ada senyum-senyunya sama sekali waktu disapa Pak RT!" Wanita bernama Alina Delisha hanya bisa menghela napas pelan mendengar riuhnya obrolan di warung kelontong milik Bu Lastri. Dengan pakaian kaku khas seragam pramuniaga kafe yang masih melekat di tubuh mungilnya, wanita itu sibuk memilih beberapa butir telur. Mau tidak mau, telinganya harus rela dijejali gosip hangat pagi ini. "Biasa itu, Jeng. Orang kaya raya mah bebas mau sombong juga. Katanya dia duda, lho. Bawa anak laki-laki satu," sahut Bu Lastri sambil membungkus cabai rawit. "Eh, Alina! Sini. Kamu kan rumahnya tepat berhadapan dengan rumah besar itu. Sudah lihat orangnya?" Alina tersenyum tipis, menggeleng pelan sambil menyerahkan sekantung telur. "Belum, Bu Lastri. Kemarin Alina pulang malam, langsung tidur karena capek." "Halah, Alina ini gimana, toh. Punya tetangga tampan kok ya tidak penasaran," celetuk Jeng Mira sambil tertawa renyah. Bagi Alina, menjadi janda di usia 28 tahun sudah memberinya cukup banyak pelajaran berharga tentang hidup. Pengalaman pahit di masa lalu membuatnya paham satu hal: lelaki tampan, kaya, dan sombong adalah perpaduan paling sempurna untuk menciptakan penderitaan bagi wanita biasa seperti dirinya. Jangankan untuk penasaran, mendengar tipikal pria seperti itu saja sudah membuat bulu kuduk Alina meremajakan trauma lamanya. "Ini uangnya, Bu Lastri. Pas, ya. Alina permisi pulang dulu, mau bersiap-siap," ucap Alina ramah, memilih menyudahi interaksi sebelum topik beralih membedah status jandanya. "Iya. Hati-hati. Jangan lupa intip depan rumah, siapa tahu jodoh!" seru Bu Lastri yang hanya dibalas Alina dengan lambaian tangan sopan. Alina berjalan kaki menyusuri gang menuju rumah kontrakannya yang sederhana. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti tepat di depan pagar. Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan mengejutkan di halaman rumahnya sendiri. "Astaga! Pot tanaman kuping gajahku!" pekik Alina tertahan. Pot plastik hitam yang kemarin sore masih tertata rapi di atas benteng pembatas rumahnya kini telah hancur berkeping-keping di lantai tanah. Tanah subur dan akar tanaman kesayangannya berceceran ke mana-mana. "Siapa yang melakukan ini? Keterlaluan sekali," gumam Alina dengan dada bergemuruh jengkel. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling gang, namun suasananya sepi. Tin! Tin! Suara klakson mobil yang nyaring mengejutkannya. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik meluncur pelan dan berhenti tepat di depan gerbang rumah besar di seberang jalannya. Alina sempat terpaku sejenak melihat kemewahan kendaraan itu. Namun, rasa kesalnya akibat pot yang pecah membuat Alina enggan peduli. Dia memilih membalikkan badan, membuka pintu rumahnya dengan hentakan kesal, dan masuk ke dalam tanpa berniat mengintip siapa pun yang keluar dari mobil tersebut. Keesokan paginya, matahari baru saja memancarkan sinar hangat saat Alina melangkah keluar rumah dengan pakaian rapi. Hari ini dia mendapat sif pagi di kafe. Tangannya bergerak lincah mengunci gembok pagar seng rumahnya sambil bersenandung kecil. Bugh! "Aduh!" Alina mengaduh keras saat sebuah benda bundar dan keras mendarat tepat di puncak kepalanya. Kepalanya berdenyut nyeri seketika. Pfftt... "Hahaha! Rasain! Kena!" Suara tawa melengking khas anak kecil terdengar sangat menyebalkan di telinganya. Alina memegang kepalanya yang pening, lalu perlahan menunduk melihat sebuah bola sepak plastik berukuran sedang menggelinding di dekat kakinya. Napasnya memburu. Kesabarannya yang setipis tisu di pagi hari runtuh seketika. Alina berbalik dengan cepat, siap menyemburkan kekesalannya. "Siapa yang—" Kalimat Alina menggantung di udara. Di seberang jalan, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Anak itu mengenakan kaus oblong bermerek dan celana pendek. Wajahnya sangat tampan, dengan mata bulat yang bersinar jenaka namun sarat akan kenakalan. Namun, yang membuat nyali Alina sedikit menciut bukan karena ketampanan bocah itu, melainkan tatapan matanya yang tampak begitu polos dan tidak merasa bersalah sama sekali setelah membuat kepala orang lain kesakitan. Alina menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam amarahnya agar tidak meledak di depan anak kecil. Dia melangkah mendekati bocah itu, lalu berjongkok menyamakan tingginya. "Adik tampan, tidak boleh ya melempar bola ke kepala orang seperti itu. Itu berbahaya dan tidak sopan," ujar Alina dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, meski kepalanya masih terasa senut-senut. "Kalau tadi kena mata Tante gimana? Lain kali mainnya hati-hati, ya?" Alina tersenyum manis, mengabaikan fakta bahwa bocah di depannya justru menjulurkan lidah dengan ekspresi mengejek. Merasa gemas sekaligus ingin menyentuh anak kecil yang sudah lama tidak ia rasakan kehangatannya, tangan Alina perlahan terangkat, berniat mengusap lembut rambut hitam bocah tersebut. Namun, reaksi anak itu sungguh di luar dugaan. Begitu melihat tangan Alina bergerak naik, matanya membelalak ketakutan. "Jangan pukul aku! Dasar Tante galak!" teriak bocah itu histeris. Dia langsung berbalik dan berlari kencang ketakutan menuju gerbang rumah mewah yang terbuka lebar. Alina terperangah. "Eh? Tante tidak mau memukul—" "Ada apa ini, Sean?!" Sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan menggelegar memotong kalimat Alina. Dari balik gerbang, muncul sosok pria bertubuh tinggi tegap. Pria itu mengenakan setelan jas kerja mahal berwarna hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya yang luar biasa tampan tampak mengeras dengan rahang yang mengetat kuat. Bocah bernama Sean itu langsung menubruk dan memeluk erat kaki kanan sang pria, menyembunyikan wajahnya di sana sembari menunjuk-nunjuk ke arah Alina. "Papa! Tante itu mau memukulku! Dia galak sekali!" Pria itu Reynard Dirgantara, ia perlahan mengalihkan pandangan tajamnya yang sedingin es langsung ke arah Alina. Sepasang matanya menatap Alina dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara. Alina mematung di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena terpesona, melainkan karena aura intimidasi yang kuat dari pria di depannya. Reynard mendengus sinis, melipat kedua tangannya di dada. "Jadi, begini kualitas lingkungan di sini? Baru hari pertama saya pindah, saya sudah tahu kalau tetangga di depan rumah saya ternyata hanya wanita yang hobi memarahi dan mengancam anak kecil." "Apa?!" Suara Alina melengking tak percaya. "Tuan, saya tidak—" "Masuk, Sean. Jangan dekat-dekat dengan orang asing yang kasar," potong Reynard tanpa memberi kesempatan bagi Alina untuk membela diri. Reynard berbalik, menuntun anaknya masuk ke dalam halaman rumah mewah mereka. Pintu gerbang besi yang kokoh dan tinggi itu ditutup dengan hentakan keras, menyisakan suara dentingan besi yang menggema di sepanjang gang sepi. Alina berdiri terpaku di tepi jalan dengan mulut setengah terbuka. Kejengkelannya sudah mencapai ubun-ubun. Dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menatap nanar ke arah gerbang hitam yang tertutup rapat itu. "Dasar lelaki sombong!" gumam Alina dengan napas memburu menahan geram. "Siapa sebenarnya pria menyebalkan itu?!""Ehhh... Tante wangi? Tante sedang apa di sini sama Papa? Kenapa Tante pelukan sama Papa yang galak?" Pertanyaan polos yang keluar dari bibir Sean seketika membuat atmosfer di dalam ruangan itu membeku. Alina langsung membelalakkan matanya, sementara jantungnya berdegup dua kali lebih cepat karena menyadari posisi mereka yang terlampau intim malam itu. "Ini... ini tidak seperti yang kamu lihat, Sean!" pekik Alina panik. Dengan sekuat tenaga, dia mendorong dada bidang Reynard hingga pria itu mundur satu langkah dan melepaskan cengkeraman tangannya di pinggang Alina. Reynard berdeham keras, wajah tampannya sempat memerah sesaat sebelum kembali berubah menjadi datar dan kaku. Dia merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut akibat dorongan Alina. "Sean, kenapa belum tidur? Dan apa yang kau katakan tadi? Siapa yang berpelukan?" "Itu tadi Papa sama Tante pelukan!" Sean menunjuk-nunjuk mereka berdua dengan telunjuk mungilnya, matanya berbinar jenaka. "Kalau Papa boleh peluk Tante, Sean
"Oh, tetangga depan rumah ya. Ada perlu apa kau kemari, Nona sombong?" tanya Reynard dengan nada suara yang sengaja diulur, sarat akan kepuasan yang tertahan. Alina mengepalkan kedua tangannya tersembunyi di balik saku kardigan. Wajahnya terasa memanas, bukan karena terpesona oleh penampilan pria di depannya yang terlampau santai dengan kemeja putih setengah terbuka, melainkan karena rasa gengsi yang kini sedang diinjak-injak. "Saya... saya kemari untuk membicarakan tawaran Tuan tadi pagi," jawab Alina, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar datar dan profesional. Reynard menaikkan sebelah alisnya, seringai di wajahnya semakin melebar. "Tawaran yang mana, ya? Seingat saya, tadi pagi ada wanita yang menolak saya dengan sangat heroik di depan pagar rumahnya. Katanya, uang saya tidak bisa membeli harga dirinya. Apa kau kenal dengan wanita itu?" "Tuan Dirgantara, tolong jangan berbelit-belit," desis Alina, giginya bergelatuk menahan geram. "Tuan tahu persis maksud kedatangan s
"Sean" teriak Alina, suaranya melengking memecah kepanikan yang mendadak melumpuhkan udara. Namun, sebelum Reynard sempat menggerakkan kakinya, wanita mungil yang sedari tadi memegang selang air itu justru sudah melemparkan selangnya begitu saja ke tanah. Alina berlari kencang, melewati pagar sengnya dengan gerakan lincah, dan melesat menyeberangi jalanan aspal untuk masuk terlebih dahulu ke dalam halaman rumah mewah Reynard. Reynard sempat tertegun selama beberapa detik di tempatnya berdiri. Matanya berkedip tidak percaya melihat bagaimana tetangga yang bertubuh mungil itu justru memiliki refleks yang jauh lebih cepat daripada dirinya saat putranya menjerit ketakutan. Setelah menguasai rasa terkejutnya, Reynard langsung mengambil langkah seribu, menyusul di belakang Alina dengan jantung yang berdegup kencang seolah mau copot. "Sean! Bertahanlah! Papa datang!" seru Reynard, pikirannya sudah dipenuhi oleh berbagai skenario mengerikan tentang perampokan, penculikan, atau serangan pe
"Sean! Berapa kali Papa bilang jangan keluar rumah tanpa alas kaki?!" suara bariton Reynard menggelegar dari ambang pintu gerbang, memecah keheningan pagi yang cerah itu. Sean yang sedang asyik melompat-lompat di dekat Alina seketika menjulurkan lidahnya. "Biarin! Di sini asyik, nggak kayak rumah Papa!" Alina mematikan tuas selang airnya dengan sentakan kesal, lalu beralih menatap pria yang berjalan menyeberang jalan ke arahnya. Pagi ini, Tuan besar Dirgantara itu tidak mengenakan setelan jas kaku seperti biasanya. Dia hanya memakai kaus oblong hitam ketat yang mencetak dengan sangat jelas lekuk dada bidang dan otot lengannya yang kekar, dipadukan dengan celana jins santai. Namun, ekspresi wajahnya tetap saja sama. Angkuh, dingin, dan kaku. "Tuan, tolong bawa anak anda pulang. Dia mengganggu pekerjaan saya," ucap Alina dingin, bahkan tanpa repot-repot menatap mata pria itu. Dia kembali menyibukkan diri merapikan pot tanaman hiasnya yang tersisa. Reynard menghentikan langkahnya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews