LOGINWARNING! ⛔️⛔️ : MENGANDUNG KONTEN 21+ "Aku bisa memberimu uang, tempat tinggal, bahkan kehidupan mewah tapi sebagai gantinya, kau harus menjadi milik kami." Ana Lancaster kehilangan segalanya dalam satu hari. Pacarnya menikahi sahabatnya yang sedang hamil, lalu meninggalkannya dengan hinaan bahwa tidak akan ada pria yang menginginkan gadis miskin dan jelek seperti dirinya. Kini Ana hanya seorang pelayan di mansion keluarga Leon, keluarga pengusaha paling berkuasa di kota. Hidupnya dipenuhi perintah, hinaan, dan tatapan merendahkan. Sampai tiga pria berbahaya mulai memperhatikannya. Leon, pria dingin dan dominan yang selalu menatap Ana seperti barang miliknya. Adrian, pria dewasa penuh ketenangan yang perlahan membuat Ana merasa diinginkan. Sebastian, pria liar dan menggoda yang tidak pernah malu mempermainkan tubuh dan pikiran Ana. Saat utang rumah sakit mendiang ibunya mengancam menghancurkan hidupnya, Ana terjebak dalam kesepakatan rahasia dengan tiga pria yang terlalu kaya, terlalu berkuasa, dan terlalu obsesif untuk ditolak. Satu keputusan membuat Ana masuk ke dunia penuh uang, gairah, dan permainan berbahaya di antara tiga sahabat yang mulai saling menghancurkan demi dirinya. Di balik gaun mahal, sentuhan panas, dan bisikan penuh dosa, Ana perlahan menyadari satu hal: Mereka tidak hanya menginginkan tubuhnya. Mereka ingin memilikinya sepenuhnya.
View MorePov ANA.
Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya. Dua bulan lalu, Sasha datang ke apartemenku berlutut sambil terisak. "Ana, aku hamil dan anak ini adalah anaknya Max. Tolong jangan marah." Aku tidak menangis saat itu. Aku hanya diam. Aku tidak tahu harus marah kepada siapa. Kepada Max yang bilang dia sibuk dengan pekerjaannya? Atau kepada Sasha yang setiap pagi minum kopi bersamaku sambil bercerita tentang cowok-cowok yang mendekatinya? Sekarang mereka menikah dan mereka berciuman di altar. Semua orang bertepuk tangan. Keluarga Max, keluarga Sasha, teman-teman yang mengenalku sebagai "teman baik Sasha". Tidak ada yang menoleh ke arahku. Aku berdiri pelan, berjalan keluar melalui pintu samping Di luar, teleponku bergetar kencang di saku celana. "Hey gendut! Datang ke mall sekarang!" Aku segera berjalan cepat ke mall dan butuh waktu dua puluh menit, nafasku ngos-ngosan karena berat tubuhku yang berlebihan. Sesampainya di sana, Clara sudah menunggu. "Astaga, lama sekali," keluh Clara sambil menyodorkan tiga tas besar ke tanganku. "Bawa ini." Aku mengangkat semua tas itu. Beratnya menarik bahuku ke bawah. Dia berjalan di depanku dengan langkah santai sepatu mahalnya sambil bercerita tentang pesta semalam di klub malam yang tidak pernah aku injak karena satu kali masuknya bisa untuk beli makanku seminggu. Aku hanya mengikuti, sesekali menyesuaikan tas yang mulai tergelincir dari bahuku, sesekali menunduk untuk menghindari tatapan orang yang melihat seorang gadis dengan rambut keriting kusut membawa tumpukan tas mewah di siang hari. Sampai di depan mall, Clara berhenti di area drop-off. Aku meletakkan tas-tas itu di trotoar batu sambil mengatur napas. Tanganku terasa seperti akan lepas dari bahu. Beberapa saat kemudian, tiga mobil mewah berhenti tepat di depan kami. Pengawal-pengawal keluar dari mobil di depan dan belakang. Mereka membuka pintu dengan gerakan sigap, dan keluar dari dalam mobil para pria paruh baya dengan jas rapi, sepatu mengilap, dan wajah tanpa kerutan. Salah satunya adalah ayah Clara. "Oh aku lupa, Ana," Clara berbalik dan ia mengeluarkan beberapa lembar euro, dua puluh, lima puluh, sepuluh lalu melemparnya ke arahku. Uang itu mengenai pipi kiriku, lalu jatuh ke tanah. Dia sudah mengulang hinaan ini ratusan kali selama dua tahun. Dulu aku merasa sakit hati tapi sekarang tidak ada yang bisa lebih menyakitkan dari apa yang sudah kualami pagi ini ketika melihat pacarku menikah dengan sahabatku. Aku menunduk. Aku memunguti lembaran-lembaran euro itu satu per satu dan memasukkan uang itu ke dalam saku jaketku tanpa menghitung. Saat aku berdiri kembali dan menepuk debu dari lutut celanaku, Clara sudah masuk ke dalam mobil tapi sebelum pintu mobil menutup, aku melihat sesuatu yang menghentikan napasku sebentar. Di kursi belakang masing-masing mobil, para pria itu menatapku. Aku tidak bisa bergerak lalu pintu mobil menutup satu per satu. Tiga mobil itu melaju pergi bersamaan, meninggalkan aku berdiri sendirian di trotoar dengan uang kotor di saku dan bau asap knalpot di hidung. Kemudian aku kembali ke mansion, tentu saja itu bukan mansionku, aku bekerja di sana, di rumah ayah Clara. Setibanya di sana, aku buka pintu kamarku dengan kunci yang sudah berkarat lalu aku menangis untuk pertama kalinya hari itu. Aku baru saja menenangkan diri ketika ponselku bergetar lagi. Kukira pesan dari Clara tapi ternyata Max. "Aku tahu kamu ada di gereja tadi. Kamu lihat sendiri kan? Sasha cantik sedangkan kamu?Coba deh intropeksi diri. Masa pacarmu milih cewek lain, kamu masih nggak sadar kenapa? Kamu tidak bisa merawat diri dengan baik. Dasar gadis jelek dan gendut! Setelah ini tidak ada laki laki yang mau dengan gadis gendut sepertimu!" Aku membaca sekali sampai dua kali. Bukan permintaan maaf, bukan penyesalan. Justru hinaan dari laki-laki yang sebelumnya menjadi pacarku. Aku ingin membalas dan ingin menulis semua kepedihan yang mengendap dua bulan terakhir tapi tanganku berhenti. Tidak perlu karena ia bukan lagi urusanku. Aku tekan namanya lalu pilih blokir tapi tak sampai satu menit kemudian sebuah pesan masuk dari Clara. "Hei gendut! Ke kolam renang sekarang!"Ciuman Leon masih terasa di bibirku, perih, agresif, penuh kepemilikan tapi aku tidak puas dan masih haus. Aku ingin lebih.Aku melepaskan diri dari pelukan Leon dan melangkah mundur, tepat di antara Adrian dan Sebastian. Tanganku meraih tangan mereka berdua, lalu aku letakkan telapak tangan mereka di dadaku"Rasakan, aku sudah basah," kataku.Adrian mengerang pelan. Tangannya yang tadinya ragu kini mulai meremas dadaku dengan lembut, melalui kain gaun. Sebastian mengikuti tangannya yang besar dan kasar meremas sisi lain dadaku, dengan tekanan yang berbeda."Haaah... ya... seperti itu..." Aku memejamkan mata, menikmati sentuhan mereka berdua.Leon berdiri di depanku dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya dingin tapi matanya, matanya hitam pekat, gelap oleh hasrat yang tidak bisa dia sembunyikan."Keterlaluan, di tengah lapangan? Orang bisa melihat," kata Leon.Aku tertawa, tertawa pelan di sela-sela desahan. "Kau yang memulai semuanya. Kau yang menciumku di depan mereka. Sekarang k
“Cukup,” suara Leon memotong dengan dingin. Matanya yang hitam pekat menatap Adrian dan Sebastian bergantian. “Aku yang memutuskan.”Sebelum aku sempat bereaksi, Leon meraih tanganku dan menarikku ke arahnya. Tubuhku menghantam dadanya yang bidang lalu dia menciumku.Bukan ciuman lembut seperti Adrian, bukan ciuman hangat seperti Sebastian. Ini ciuman beringas penuh amarah, penuh kekuasaan, seperti dia ingin menunjukkan pada seluruh lapangan bahwa aku miliknya.Bibirnya menekan bibirku dengan kasar. Giginya menggigit bibir bawahku cukup keras untuk membuatku tersentak sakit, tapi tidak cukup untuk membuatku mendorongnya. Lidahnya masuk tanpa permisi, menjelajahi mulutku dengan agresif, seperti sedang membersihkan jejak ciuman Adrian dan Sebastian dari bibirku.Aku terkejut. Awalnya aku membeku tapi kemudian sesuatu di dalam diriku merespon.Tanganku yang tadinya terkulai perlahan naik ke dadanya. Aku meremas kemeja putihnya yang bersih. Aku membalas ciumannya tidak seagresif dia, tapi
Keesokan harinya. Hari ini aku akan pergi ke tempat golf bersama Leon. Aku akan bertemu Adrian dan Sebastian lagi.Leon sudah berdiri di depan cermin, memakai pakaian golf berwarna putih bersih. Celana kain panjang, polo shirt lengan pendek, sepatu golf mahal berwarna hitam. Dia terlihat tampan, setampan biasanya, tapi dengan aroma yang sedikit lebih santai."Kamu pakai itu?" tanyanya sambil menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki."Ada yang salah?" tanyaku."Kamu akan kedinginan.""Aku tidak kedinginan."Leon menghela napas. Dia melepas jaket golfnya, jaket putih tipis berbahan katun dan melemparkannya ke arahku."Pakai itu."Aku terkejut. "Tapi ini jaketmu...""Kamu istriku, meskipun di atas kertas. Aku tidak mau kamu kedinginan dan menangis lagi."Aku tersenyum kecil. "Baik."Tempat golf itu ternyata milik Sebastian.Begitu mobil masuk melalui gerbang besar, aku melihat papan nama marmer hitam.Luas sekali, hamparan rumput hijau membentang sejauh mata memandang. Pohon-pohon r
Kami masih berpelukan ketika suara langkah kaki menghentak di ujung koridor.Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aku sudah mengenal langkah itu sejak dua tahun lalu, tegas, terukur, berat. Langkah kaki yang selalu membuat para pembantu lain bersembunyi di balik pintu.Leon.Aku melepaskan pelukan Adrian dan Sebastian dengan gerakan cepat.Leon berdiri di ujung koridor, tepat di bawah lampu darurat yang menyala redup."Ana, pulang," katanya.Aku tidak bergerak. Kakiku terasa kaku.Adrian menyandarkan tubuhnya ke dinding lagi, tangannya masuk ke saku celana. Wajahnya yang tadinya serius sekarang berubah menjadi santai."Leon, jangan terlalu galak padanya. Kami akan membawanya pulang kalau kamu terus begitu," kata Adrian.Leon tidak menjawab. Matanya tetap tertuju padaku seperti Adrian tidak ada di sana.Sebastian berdiri di sampingku, tangannya masih di pinggangku."Kami serius," kata Sebastian.Leon mendekat. Langkah kakinya yang berat bergema di koridor yang sempit. Aroma pa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.