تسجيل الدخولAku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.
Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion itu. Di dinding kanan kiri, lukisan-lukisan mahal bergantungan dengan bingkai emas yang berkilau. Aku sering bertanya-tanya, berapa harga satu lukisan itu? Mungkin cukup untuk hidupku setahun atau dua tahun. Aku melewati ruang keluarga yang luas, melewati dapur besar yang tidak pernah aku gunakan karena aku punya dapur kecil di belakang kamarku. Aku melewati tangga melingkar yang mengarah ke kamar-kamar keluarga Leon , tempat yang tidak pernah aku injak karena aku hanya pelayan. Halaman belakang mansion itu luas sekali. Ada taman dengan bunga-bunga yang dirawat tukang kebun setiap hari. Ada gazebo putih dengan sofa-sofa empuk di dalamnya dan di ujung sana, kolam renang berwarna biru jernih berkilauan di bawah sinar matahari. Di kolam itu, Clara sedang berenang. Rambut panjangnya yang diwarnai cokelat muda basah menempel di punggung. Gaya renangnya indah, terlatih, seperti putri duyung yang sedang pamer. Aku tahu dia pernah ikut lomba renang tingkat nasional dan menang. Tentu saja, orang kaya bisa membeli segalanya, termasuk pelatih renang terbaik. Dia berhenti di tepi kolam saat melihatku datang. "Akhirnya, kau lama sekali." "Maaf, aku tadi..." "Sudah, jangan banyak alasan." Dia menunjuk ke arah kursi panjang di samping kolam. "Baju renang sudah aku siapkan di sana. Cepet ganti!" Aku menoleh ke kursi yang dimaksud. Di sana tergeletak sehelai bikini berwarna merah. Potongannya kecil, sangat kecil. Atasan segitiga dengan tali tipis, bawahan yang hanya berupa dua potong kain kecil. "Aku tidak bisa memakai itu," kataku. "Kenapa?" "Itu terlalu seksi dan aku tidak pandai berenang." Tiga pria itu masih bermain billiard di dekat kolam. Meja hijaunya terletak di bangsal terbuka dengan atap kaca, hanya berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri. Aku bisa mendengar suara bola billiard berbenturan, dan di antaranya, tawa rendah para pria itu. Ayah Clara, Tuan Leon, sedang memegang stik billiard dengan satu tangan. Jasnya sudah dilepas, kemeja lengan panjangnya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan kekar yang tidak terlihat tua. Dua temannya, juga pria paruh baya dengan penampilan serupa, berdiri di sekeliling meja, mereka adalah Adrian dan Sebastian. "Cepat pakai!" "Tidak, Clara, aku malu." "Malu? Kamu pake baju kayak pemungut sampah setiap hari aja nggak malu, sekarang malu pake baju renang?" Aku masih diam. Clara berteriak. "Pakai itu sekarang juga, Ana! Atau kamu mau aku usir dari rumah ini? Aku bisa lapor ke Papa kalau kamu sukanya cuma nyuri makanan di dapur!" Tiga pria itu mendongak. Suara billiard berhenti. Aku bisa merasakan tatapan mereka dari kejauhan, tajam, penuh selidik, seperti sedang menonton pertunjukan yang menghibur. Tuan Leon meletakkan stik billiard di atas meja. Dia berjalan mendekati kolam renang dengan langkah tenang tapi tegas. "Clara, ada apa?" Clara langsung berubah. Dari gadis pemarah menjadi anak manja di depan ayahnya. "Papa, Ana nggak mau nurutin aku. Aku cuma minta dia nyoba renang bentar, tapi dia nolak terus." Tuan Leon menatapku. Mata hitamnya tajam, seperti bisa menembus semua lapisan alasan dan kebohongan. Aku menunduk, tidak berani menatap balik. "Ana, turuti mau dia. Itu tidak sulit." "Tapi Tuan..." "Tidak ada tapi, kamu bekerja di sini dan kamu akan melakukan apa yang diminta Clara. Itu sudah kesepakatan sejak awal," kata Tuan Leon. Aku tahu dia benar. Pada dasarnya, kesepakatannya sederhana, aku diberi tempat tinggal dan makan, dan aku harus membantu pekerjaan rumah serta mengikuti keinginan Clara. Tidak disebutkan secara tertulis, tapi itu sudah berjalan seperti itu selama dua tahun. Dengan tangan gemetar, aku mengambil bikini merah itu dari kursi. Aku berjalan ke bilik ganti di sudut halaman, dengan langkah kecil seperti orang yang berjalan ke tiang gantungan. Di dalam bilik, aku menatap bayanganku di cermin dinding. Rambutku benar-benar kusut karena seharian tidak pernah aku sisir dengan benar. Tubuhku gendut dan jelek. Aku memakai bikini itu. Kain merahnya terasa asing di kulitku, terlalu terbuka, terlalu terekspos. Aku menutup dadaku dengan kedua tangan saat keluar dari bilik, seperti itu bisa menyembunyikan sesuatu. Clara tertawa saat melihatku. "Ya ampun, kamu jelek sekali." Tuan Leon tidak berkata apa-apa tapi aku menangkap sedikit lengkungan di sudut bibirnya, tapi aku tidak tahu apakah itu senyum atau hanya ekspresi biasa. Aku masuk ke kolam renang secepat mungkin. Airnya dingin, membuat kulitku merinding seketika. Aku tenggelam sampai dada, bersyukur air itu bisa menyembunyikan sebagian besar tubuhku. "Aku ke toilet dulu," katanya sambil keluar dari kolam. "Lo jangan kemana-mana." Dia pergi dan eninggalkanku seorang diri di kolam besar itu. Tiga pria kembali ke permainan billiard mereka, sesekali melirik ke arahku tapi kemudian kembali ke meja hijau mereka. Setelah lima menit, Clara belum kembali. Sepuluh menit, masih belum. Aku mulai menggigil kedinginan. Air kolam terasa semakin dingin atau mungkin tubuhku yang semakin tidak kuat. Tanganku mulai terasa kaku, bibirku kebiruan. Aku memutuskan untuk keluar. Aku berenang ke tepi kolam, meraih pinggirannya dengan kedua tangan, lalu berusaha mengangkat tubuhku ke atas. Tapi kakiku licin membuat telapak kakiku tergelincir, tubuhku jatuh ke belakang, kepalaku masuk ke dalam air. Aku berusaha naik. Aku menendang-nendang, tanganku meraih ke segala arah, tapi air seperti memiliki kekuatan sendiri. Mulutku kebanjiran air, aku batuk di dalam air, dan itu hanya membuat paru-paruku semakin terisi. Aku tidak bisa berenang, bukan karena tidak pernah belajar, tapi karena tidak ada yang mengajari. Mama dulu terlalu sibuk bekerja, dan setelah dia meninggal, aku hanya hidup sendiri. Air semakin banyak masuk ke hidungku lalu ke telingaku. Aku mendengar suara-suara dari atas permukaan tapi semuanya teredam, seperti suara dari dunia lain. Aku berusaha berteriak, tapi yang keluar hanya gelembung-gelembung kecil yang segera pecah. Dan saat aku mulai kehilangan kesadaran, saat paru-paruku terasa seperti akan meledak, saat cahaya di atas permukaan mulai redup dan semuanya berubah menjadi hitam. Tangan besar meraih pinggangku. Tubuhku ditarik ke atas dengan kekuatan luar biasa. Sekali tarikan, aku sudah berada di permukaan. Sekali tarikan lagi, aku sudah terhempas ke pinggir kolam. Aku tersedak, memuntahkan air dari mulut dan hidungku. Batuk-batuk, napas tersengal, paru-paruku seperti terbakar. Kukira aku akan mati saat itu, tapi jantungku masih berdetak dengan cepat. Ada lengan melingkar di perutku dan tidak melepaskanku meskipun aku sudah tidak dalam bahaya lagi. Aku melirik ke belakang. Wajah Tuan Leon tepat di sampingku. Wajahnya basah, rambutnya yang biasanya disisir rapi sekarang berantakan menutupi dahi. Bibirnya yang tebal dan seksi itu hanya beberapa sentimeter dari pipiku. "Terima kasih, Tuan," kataku. Dia tidak menjawab dan Bibirnya menempel di leherku. Aku membeku. Lalu dia menggigit. Gigitannya lembut tapi meninggalkan bekas yang mengirimkan getaran aneh dari leherku turun ke tulang belakang. Aku tidak bisa bergerak dan tidak bisa bersuara. Lalu bibirnya naik ke telingaku. Hangatnya napasnya membuat bulu kudukku berdiri semua. "Kamu hampir mati dan aku tidak suka kehilangan barang milikku," katanya.Keadaan Leon memburuk dengan cepat.Seminggu setelah kunjungan ke museum, aku melihat perubahan yang tidak bisa aku abaikan. Leon lebih sering memegang dadanya, napasnya lebih pendek, dan kulitnya semakin pucat. Dia masih berusaha tersenyum, masih berusaha menjadi ayah yang sempurna untuk Ethan, tapi aku bisa melihat dia berjuang.Kamis malam, aku terbangun oleh suara batuk yang keras. Leon duduk di tepi tempat tidur, tangannya menekan dadanya, wajahnya basah oleh keringat. Lampu kamar masih redup, tapi aku bisa melihat betapa buruk kondisinya."Leon!" aku duduk dengan cepat, tanganku meraih bahunya. "Kau tidak baik-baik saja. Aku akan menelepon ambulans.""Tidak, aku hanya...""KAU TIDAK BAIK-BAIK SAJA!" teriakku, panik. "Aku tidak peduli apa kata dokter atau siapa pun. Aku tidak akan membiarkanmu mati di sini!"Aku meraih ponselku, jari-jariku gemetar saat menekan nomor darurat. Leon mencoba meraih tanganku, tapi tangannya lemas, dan dia jatuh kembali ke tempat tidur, matanya terpej
Hari minggu tiba.Aku turun dari tempat tidur, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang Leon belikan untukku beberapa hari yang lalu. Aku tidak pernah memintanya, tapi dia membelikannya entah bagaimana, dan ketika aku melihatnya tergantung di lemari. Gaun itu sederhana, tidak mewah, tapi indah untuk bentuk tubuhku yang sekarang.Di ruang makan, Ethan sudah duduk di kursinya, memakan sereal dengan lahap. Leon duduk di sampingnya, menatap Ethan dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya sejak hasil tes DNA keluar. Aku bisa melihat betapa Leon berusaha menjadi ayah yang baik, hadir di setiap momen, menikmati setiap detik bersama anaknya."Mom!" teriak Ethan begitu melihatku. "Daddy bilang kita pergi ke museum hari ini!""Apa kau senang?""Sangat senang! Aku mau lihat dinosaurus!"Leon tertawa, suaranya hangat. "Aku janji, hari ini kita lihat dinosaurus sepuasnya."Kami sarapan bersama. Ethan berbicara tanpa henti tentang dinosaurus, tentang tulang-tulang raksasa yang d
Aku menatap Leon, matanya masih merah, wajahnya masih basah oleh air mata. Kata-katanya tentang Clara terngiang di kepalaku—tentang bagaimana Clara memilih Richard, tentang bagaimana Leon merasa dikhianati oleh putri sambungnya sendiri. Aku bisa melihat rasa sakit di balik matanya yang tenang, luka yang dia sembunyikan di balik ketegasan dan kekuatan.Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Sesuatu yang lebih dalam dari sekedar ketakutan akan pernikahan. Sesuatu yang selama ini aku pendam, yang aku kubur begitu dalam di bawah semua rasa sakit dan trauma."Apa artinya pernikahan bagimu, Leon?" tanyaku.Leon menatapku, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu."Apa maksudmu?""Aku serius. Apa artinya pernikahan? Bagiku, pernikahan hanyalah jerat seumur hidup. Sebuah sangkar yang aku masuki dengan sukarela, tapi begitu pintunya tertutup, aku tidak bisa keluar lagi. Aku kehilangan kebebasanku. Aku kehilangan diriku sendiri."Leon membuka mulutnya, tapi aku terus bicara. Aku tidak bis
Hari-hari berikutnya terasa seperti penantian yang tak berujung. Aku menghabiskan waktu di mansion bersama Ethan, mencoba menjalani rutinitas normal meskipun dadaku terasa sesak setiap kali ponsel berdering. Leon berusaha tetap tenang di depanku, tapi aku bisa melihat kegelisahan di matanya, cara jari-jarinya mengetuk meja tanpa henti, cara dia menatap ponselnya setiap beberapa menit.Aku juga gelisah. Bukan hanya karena hasil tes DNA, tapi karena semua yang terjadi dengan Clara, dengan Richard, dengan mimpi-mimpi buruk yang masih sesekali datang di malam hari. Leon sering terbangun di kursinya dan berjalan ke tempat tidur untuk memastikan aku masih bernapas. Aku berpura-pura tidur, tapi aku merasakan sentuhan tangannya di keningku, lembut dan penuh perhatian.Pada hari keempat, surat itu tiba.Kami sedang sarapan di ruang makan besar, aku, Leon, dan Ethan yang asyik memainkan dinosaurus plastiknya di atas meja ketika seorang pelayan masuk dengan amplop coklat di tangannya. "Untuk Tu
Aku meminum air itu sedikit demi sedikit, tenggorokanku terasa seperti terbakar. Leon duduk di sampingku, tangannya masih menggenggam tanganku, ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan gerakan melingkar yang menenangkan."Aku bisa tidur di sofa. Kau tidak perlu...""Kau tidak akan tidur di sofa. Kau akan tidur di sini, di tempat tidurku. Aku akan tidur di sofa.""Leon...""Aku tidak akan membantah, Ana. Ini sudah keputusan."Aku menatapnya, mencari celah untuk membantah, tapi tidak ada. Leon sudah kembali menjadi dirinya yang keras kepala, yang tegas, yang tidak bisa diganggu gugat. Aku menghela napas, menyerah.Leon membantuku berbaring lagi, menarik selimut, dan menepuk kepalaku sekali lagi sebelum dia berjalan ke kursi di dekat jendela. Aku menatap punggungnya yang lebar, bahunya yang tegang, dan aku bertanya-tanya apa yang ada di pikirannya. Tapi kelelahan akhirnya mengalahkan rasa ingin tahuku, dan aku tertidur.Aku terbangun dengan suara-suara dari luar kamar.Suara Leon da
Aku menatap Leon, matanya lurus ke depan, tangan mencengkeram setir dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ethan tertidur di kursi belakang, tubuh kecilnya terbungkus jaket Leon yang terlalu besar untuknya. Aku masih gemetar. Entah karena dingin, atau karena apa yang baru saja terjadi. Mungkin karena keduanya. "Leon..." suaraku serak. "Jangan bicara dulu," potongnya, masih tanpa menoleh. "Aku sedang berusaha untuk tidak berteriak." Aku menutup mulut. Kami melaju di jalanan malam yang sunyi. Mansion itu muncul di kejauhan. Begitu masuk ke gerbang besi besar, Clara sudah berdiri di teras, lengannya bersilang, wajahnya penuh tanya dan kekhawatiran. Aku merasakan perutku mulas. Aku sudah tahu bagaimana ini akan berakhir. Leon turun lebih dulu, membuka pintu belakang untuk menggendong Ethan yang masih tidur. Aku menyusul dengan langkah berat. Clara mendekat, matanya menatap Leon, lalu ke arahku. "Apa yang terjadi?" tanya Clara. Leon menghela napas. "Nanti aku jelaskan
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan
Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men







