MasukMenikah karena utang, Selina dipaksa memberikan keturunan bagi keluarga Theodore. Sialnya, sang suami justru menolak menyentuhnya dan mengabaikannya bagai pajangan. Saat keputusasaan membakar habis akal sehatnya, Selina nekat melintasi batas terlarang. Ia menyerahkan dirinya pada Edgar, paman suaminya sendiri dalam satu malam panas yang liar. Hubungan rahasia ini salah, tetapi pesona Edgar terlalu mematikan untuk dihindari. Terutama ketika ia sadar, sang paman tidak akan pernah melepaskannya lagi.
Lihat lebih banyak“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”
Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus menggerogoti harga dirinya setiap malam.
Rafael Theodore bahkan tidak berbalik, lalu sebuah senyum sinis terukir di wajah tampannya yang kaku.
“Menyentuhmu?” Rafael berbalik lambat, kemudian menatap Selina dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan kilat mata merendahkan. “Kau pikir kau siapa, huh?”
Selina mencengkeram ujung gaun tidurnya begitu mendengar ucapan Rafael barusan. Kilasan memori pahit satu bulan lalu mendadak berputar di kepalanya.
Ayahnya yang menangis bersimpuh di lantai, dengan tumpukan surat utang yang nilainya mampu menjebloskan seluruh keluarganya ke penjara bawah tanah, hingga kedatangan Ryan Theodore, ayah Rafael yang datang membawa seoper koper uang sebagai dewa penyelamat.
Semua ada harganya. Selina yang terikat utang budi harus menerima perjodohan ini dengan satu syarat mutlak dari Ryan: dia harus hamil dan melahirkan pewaris untuk dinasti bisnis Theodore.
“Aku istrimu, Rafael. Ayahmu menuntutku untuk segera hamil,” bisik Selina, tengah mencoba mengingatkan pria itu pada garis takdir yang mengikat mereka.
Rafael lantas melangkah maju. Sepatu pantofelnya mengetuk lantai marmer dengan irama yang mengintimidasi. Lalu berhenti tepat satu jengkal di depan Selina, dan membungkuk sedikit hingga deru napasnya yang beraroma mint terasa di kening gadis itu. Tapi tidak ada kehangatan di sana, yang ada hanya kebencian yang begitu pekat.
“Jangan pernah sebut nama Ayah untuk mengancamku, Gadis Kampung,” desis Rafael tajam.
“Kau hanya perempuan miskin yang sedang beruntung karena masuk ke dalam keluarga terhormat seperti Theodore. Demi Tuhan, aku jijik melihatmu, apalagi harus menyentuh kulitmu.”
Kalimat itu menghantam ulu hati Selina lebih menyakitkan daripada tamparan fisik. Setitik air mata lolos di sudut matanya, namun dia buru-buru menyekanya dengan kasar. Sakit hati itu berubah menjadi sesak yang membakar dadanya.
“Lalu bagaimana dengan syarat dari Ayahmu?” Selina menuntut penjelasan. “Kau ingin mengecewakannya?”
Rafael terkekeh sumbang. Dia lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kartu kredit hitam dan melemparnya tepat ke dada Selina hingga benda plastik itu jatuh ke lantai.
“Gunakan otak miskinmu itu, Selina. Di luar sana banyak laki-laki yang mau dibayar mahal,” ujar Rafael dengan nada santai yang mengerikan. “Cari salah satu dari mereka, biarkan dia menghamilimu, dan berikan anak itu pada Ayah. Setelah itu, enyah dari hidupku.”
Selina mematung mendengarnya. Napasnya tertahan di tenggorokan. Dunia di sekitarnya seolah runtuh seketika. Bagaimana bisa seorang suami meminta istrinya sendiri melacurkan diri demi sebuah garis keturunan palsu?
Kehormatan yang dia jaga setengah mati, kini diinjak-injak hingga tak berbentuk oleh pria yang sah di mata hukum sebagai suaminya.
“Kau gila, Rafael,” lirih Selina dengan bibir bergetar.
“SELINA! TURUN SEKARANG JUGA!”
Teriakan melengking dari lantai bawah seketika memotong perdebatan panas itu. Selina tersentak begitu mendengar suara melengking dari Luna, ibu mertuanya.
Tanpa memedulikan Rafael yang kembali abai dan sibuk memakai jam tangan emasnya, Selina langsung memutar tubuh. Dia setengah berlari keluar dari kamar, dan menuruni anak tangga melingkar yang megah dengan jantung yang bertalu-talu.
Di ujung tangga, Luna Theodore sudah berdiri dengan berkacak pinggang. Wajah wanita paruh baya yang penuh dengan polesan riasan mahal itu tampak memerah padam akibat amarah.
“Apa saja yang kau lakukan di atas sana, hah? Menatap langit-langit kamar?” semprot Luna begitu Selina menapakkan kaki di lantai dasar. Jari telunjuknya yang dihiasi cincin berlian menunjuk kasar ke arah ruang makan yang masih kosong.
“Meja makan belum ada apa-apa, sementara keponakan Rafael sebentar lagi harus berangkat sekolah!”
“Maaf, Ibu. Aku akan segera menyiapkannya,” jawab Selina dengan pelan dan langsung menundukkan kepala sedalam mungkin.
“Jangan panggil aku Ibu! Aku tidak sudi punya menantu pemalas sepertimu!” Luna mendengus jijik, lalu mengibaskan tangan seolah mengusir lalat. “Cepat ke dapur! Jangan buat keluarga kami kelaparan karena kelalaianmu!”
Tanpa menjawab teriakan mertuanya itu, Selina segera membalikkan badan dan melangkah cepat menuju dapur luas yang terletak di bagian belakang rumah.
Tangannya dengan cekatan meraih pisau, memotong sayuran, dan menyalakan kompor. Pacing gerakannya begitu cepat, terlatih oleh siksaan rutinitas yang sama selama tiga puluh hari terakhir.
Sejak hari pertama menginjakkan kaki di kediaman mewah ini, status Selina memang bergeser drastis. Dia bukan menantu, melainkan pembantu tanpa gaji. Semua pelayan di rumah itu bahkan dilarang membantu Selina oleh Luna. Bagi mereka, derajat Selina berada di titik paling rendah, sangat jauh di bawah kasta keluarga Theodore yang terhormat.
Setengah jam berlalu, Selina bergerak bagai robot, menata piring-piring porselen berisi roti panggang, sup hangat, dan potongan daging asap ke atas meja makan panjang.
Satu per satu anggota keluarga Theodore mulai menempati kursi mereka. Luna duduk di ujung meja, disusul oleh Gretha, bibi Rafael yang langsung memeriksa jam tangan dengan wajah masam.
Rafael turun paling terakhir, dan langsung duduk tanpa memandang Selina yang berdiri kaku di dekat konter dapur dengan celemek yang masih melekat di pinggangnya.
“Lama sekali servis di rumah ini sekarang. Untung saja anakku tidak terlambat,” sindir Gretha sambil menyuapkan sepotong sosis ke dalam mulutnya.
Dia lalu melirik Selina dengan tatapan meremehkan yang sama persis dengan yang dimiliki Luna.
Selina hanya diam sambil meremas ujung celemeknya, dan mencoba mematikan semua rasa komparasi di dalam hatinya agar tidak meledak di tempat ini. Dia hanya perlu bertahan demi orang tuanya di rumah sederhananya.
Suasana ruang makan yang semula hanya diisi oleh denting garpu dan pisau, tiba-tiba dipecah oleh suara cicitan bocah laki-laki berusia delapan tahun yang duduk di sebelah Gretha.
Lucas, anak dari Gretha itu, tiba-tiba mendongak menatap ibunya dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. “Mommy, Paman tampan kapan pulang? Aku merindukannya.”
Gerakan tangan Luna yang hendak memotong roti mendadak terhenti di udara. Begitu pula dengan Rafael yang langsung meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit hentakan kasar ke atas meja. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah, menjadi begitu tegang dan sunyi dalam hitungan detik.
‘Paman?’ Selina bergumam dalam hati, bahkan dahi gadis itu berkerut tipis. Pikirannya langsung berputar cepat mencari memori tentang silsilah keluarga ini. ‘Jadi, masih ada satu anggota keluarga lagi yang tinggal di rumah megah ini?’
Selina menghela napas pendek yang sarat akan keputusasaan. Satu fakta baru ini justru mendatangkan ketakutan baru di kepalanya.
Jika satu orang lagi kembali ke rumah ini, itu berarti beban kerjanya sebagai pelayan tak kasat mata akan semakin berat. Siksaan mental dan fisiknya pasti akan berlipat ganda.
'Aku harus bersiap jadi pelayan tambahan setelah pria itu datang.'
Edgar merebahkan tubuh Selina di tengah ranjang berukuran king-size yang empuk.Sebelum Selina sempat membenahi posisinya, tubuh tegap Edgar sudah mengungkungnya dari atas, menindih Selina dengan dominasi mutlak yang tak memberi celah sedikit pun untuk meloloskan diri.Tanpa mengucap sepatah kata pun, Edgar menunduk dan menyergap bibir Selina dalam sebuah ciuman yang langsung membakar.Ciuman itu tidak lagi memiliki kelembutan; itu adalah serangan liar, panas, dan menuntut.Lidah Edgar menerobos masuk dengan kasar, membelit lidah Selina, menyapu setiap sudut rongga mulutnya, dan menyerap saliva yang bertukar di antara mereka.Selina melenguh tertahan, kedua tangannya yang gemetar bergerak naik untuk meremas bahu berotot Edgar, terhanyut sepenuhnya oleh keliaran pria yang sedang menguasainya.Puas melahap bibir Selina hingga membengkak basah, Edgar mengalihkan kecupannya turun ke garis rahang, menyusuri leher jenjang Selina yang jenjang.Tangannya yang lincah bekerja cepat melucuti pak
Edgar memperhatikan raut wajah Selina dengan lekat di dalam temaram lampu kamar suite hotel.Ibu jarinya merayap lembut, mengusap bekas jejak air mata di pipi mulus wanita itu.Tatapan mata elangnya meneliti setiap inci ekspresi Selina yang tampak begitu rapuh namun tertutup oleh pertahanan dingin."Apakah kau masih kesal padaku, Selina?" tanya Edgar dengan suara baritonnya yang rendah dan serak.Selina terdiam sejenak. Dia membuang pandangannya ke samping, menatap dinding kamar yang dingin sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya dengan pelan."Tidak," bisik Selina lirih.Sebuah tawa hambar dan samar lolos dari bibirnya. "Lagipula... apakah aku berhak untuk kesal padamu, Edgar? Memangnya apalah aku ini di matamu?"Mendengar pertanyaan bernada puitis namun penuh keputusasaan itu, raut wajah Edgar seketika berubah.Senyuman miring yang tadinya menghiasi bibirnya sirna perlahan.Edgar menatap lekat wajah Selina seolah ucapan yang baru saja keluar dari mulut wanita itu adalah sebuah kesa
Di dalam ruang kerja pribadi kantor direksi proyek yang megah, suasana terasa begitu mencekam.Suara barang pecah belah terdengar nyaring ketika Stella memukul meja kacanya dengan telapak tangan, menghempaskan cangkir porselen hingga hancur berkeping-keping di atas marmer.Wajah cantiknya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini memerah padam akibat amarah yang membakar dada.Napasnya memburu, matanya membelalak menatap pintu ruang kerja yang telah tertutup rapat sejak keberangkatan Edgar beberapa jam lalu."Sialan! Pria tidak tahu diri!" maki Stella histeris, sembari menyapu beberapa dokumen rapat di mejanya hingga berserakan di lantai.Stella tidak bisa menerima kenyataan ini. Selama bertahun-tahun dia mengejar Edgar Anderson, menahan kepalanya tetap tegak di hadapan pria sedingin es itu, dan berusaha keras menjadi wanita yang pantas berdiri di samping sang penguasa Anderson Group.Namun hari ini, Edgar justru membawanya, seorang wanita tak dikenal dengan pakaian formal sederhana yang di
Edgar menatap Stella sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Selina yang berdiri kaku di sampingnya.Dengan raut wajah yang tetap sulit ditebak, Edgar merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kunci kartu suite room hotel tempat mereka menginap."Selina, bawa kuncinya dan pergilah ke hotel lebih dulu," perintah Edgar tenang, mengulurkan kartu itu pada Selina."Rapikan barang-barang kita dan istirahatlah. Aku ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan bersama Stella di sini."Selina menatap kartu di tangan Edgar selama dua detik yang terasa begitu panjang.Ada desakan samar di dadanya yang ingin menolak, sebuah suara tak kasatmata yang ingin meminta agar dia tetap tinggal.Namun, menyadari posisinya secara resmi yang hanyalah seorang asisten pribadi dan secara rahasia hanyalah wanita yang terikat skandal dengannya, Selina menelan kekecewaan itu bulat-bulat.Selina menerima kartu kunci tersebut, dan mengangguk pelan tanpa menatap mata Edgar. "Baik, Tuan Edgar. Saya permisi dulu."Sebel
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.