Share

Bab 6: Keceplosan

Penulis: Salwa Maulidya
last update Tanggal publikasi: 2026-06-10 21:50:03

Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.

Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara bariton yang berat dan dalam memecah kesunyian, membuat jantung Selina mencelos hingga ke lambung.

“Belum tidur, Selina?”

Selina tersentak hebat, lalu tubuhnya berputar cepat ke arah sudut ruangan di mana sebuah mini bar bernuansa kayu gelap berada. Di sana, di atas salah satu kursi tinggi, duduk Edgar Anthony.

Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang kancing teratasnya sudah terbuka, yang berhasil memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Di bawah temaram lampu gantung mini bar, siluet wajah Edgar tampak begitu tegas, dingin, dan mengintimidasi.

Selina meremas ujung kaus tidurnya yang longgar, mencoba menguasai rasa gugup yang mendadak menyerang. “A-apa yang sedang Paman lakukan di sini?” tanya Selina dengan suara setengah berbisik, takut suaranya akan menggema hingga ke lantai atas.

Edgar tidak langsung menjawab. Jari-jarinya yang panjang bergerak memutar perlahan gelas kristal di genggamannya, membuat es batu di dalamnya berdenting pelan, beradu dengan cairan amber pekat di dalamnya. P

ria itu mengangkat gelas berisi wiski tersebut ke arah Selina, memperlihatkannya sekilas sebelum kembali menatap lurus ke dalam manik mata sang gadis.

“Mencari ketenangan,” jawab Edgar pendek, lalu meletakkan kembali gelasnya ke atas meja bar, dan menopang dagunya dengan satu tangan. “Sekarang aku yang bertanya, apa yang sedang dilakukan istri keponakanku di dapur pada jam seperti ini?”

Selina menelan saliva dengan susah payah sebelum melangkah mendekati dispenser. “Aku hanya haus, Paman. Aku lupa membawa sebotol air ke dalam kamar tadi malam,” lirihnya sembari menuangkan air ke dalam gelas kaca.

Dengan gerakan cepat, Selina meneguk air putih itu hingga tandas, berharap rasa dingin dari air tersebut bisa meredakan debaran jantungnya yang kian tak beraturan akibat tatapan intens Edgar.

Rasa canggung dan kilasan memori saat dia tak sengaja menarik handuk Edgar dua hari lalu kembali berputar di kepalanya, membuat wajah Selina perlahan memanas.

Setelah meletakkan gelas kosongnya di atas konter, Selina buru-buru membalikkan badan. “Kalau begitu, aku permisi kembali ke kamar dulu, Paman.”

Namun, baru saja Selina mengambil satu langkah, sebuah gerakan kilat menghentikannya. Telapak tangan Edgar yang besar, hangat, dan kokoh mendadak mencengkeram pergelangan tangan Selina dari belakang. Sentuhan fisik yang tiba-tiba itu mengirimkan sengatan listrik yang aneh ke seluruh tubuh Selina.

Selina mematung, pandangannya perlahan turun, menoleh ke arah tangan Edgar yang tengah menggenggam erat pergelangan tangannya. Kulit kasar pria itu terasa begitu kontras dengan kulit lembutnya yang bergetar. Kepanikan seketika melanda pikiran Selina.

“P-paman, tolong lepaskan,” bisik Selina dengan nada memohon, matanya bergerak gelisah menatap ke arah pintu keluar dapur. “Aku mohon, lepaskan. Aku takut ... aku takut jika Ibu atau Bibi Gretha tiba-tiba turun dan melihat kita seperti ini.”

Mendengar nama dua wanita itu disebut, Edgar justru terkekeh rendah. Sebuah tawa sinis yang terdengar sangat seksi namun berbahaya. Cengkeramannya pada tangan Selina tidak melonggar sedikit pun, justru terasa semakin mantap.

“Kenapa kau harus takut pada mereka?” tanya Edgar, nadanya beralih menjadi dingin dan tajam. Pria itu menegakkan tubuhnya, menatap punggung Selina yang tegang.

“Toh, seingatku, mereka berdua tidak pernah sedikit pun menghargai atau menganggapmu sebagai manusia di rumah ini. Jadi, kenapa kau masih memedulikan pandangan mereka?”

Deg.

Kata-kata Edgar menghantam tepat di ulu hati Selina. Gadis itu menelan salivanya dengan pelan, merasa seluruh luka batinnya yang coba dia sembunyikan kembali dikuliti oleh pria di hadapannya ini. Kenyataan bahwa Edgar menyadari posisinya yang menyedihkan membuat Selina merasa telanjang di depan sang paman.

Edgar perlahan menarik tangan Selina, memaksa gadis itu untuk memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan, meski Selina masih menundukkan kepalanya, menolak menatap mata elang itu.

“Aku tahu masalah apa yang sedang kau hadapi di rumah neraka ini, Selina,” ujar Edgar dengan suara rendah dan berbisik bagai desau angin malam yang memikat.

“Kau harus segera memberikan keturunan untuk keluarga Theodore jika ingin ayahmu tetap aman, bukan?”

Selina merasa napasnya tercekat. Dia tidak menyangka Edgar akan mengetahui detail ancaman Luna di ruang tengah tadi siang. Tanpa bisa ditahan, rasa sedih yang mendalam kembali merayapi dadanya. Selina mengangguk dengan sangat pelan, membiarkan satu helai rambutnya jatuh menutupi pipinya yang pias.

“Ya,” lirih Selina. Karena rasa frustrasi yang sudah menumpuk di puncak kepala, pertahanan akal sehatnya mendadak runtuh.

“Tapi ... tapi bagaimana mungkin aku bisa hamil jika Rafael sendiri enggan menyentuhku sama sekali? Mana mungkin rahimku terisi jika suamiku sendiri tidak sudi menatapku!”

Deg!

Selina tersentak hebat, matanya seketika membola sempurna saat menyadari apa yang baru saja keluar dari bibirnya.

Dia keceplosan! Rahasia paling memalukan dalam rumah tangganya yang dia jaga setengah mati, kini mengudara begitu saja di depan paman suaminya.

Selina dengan refleks langsung mengangkat tangannya, menutup mulutnya sendiri dengan rapat sembari menatap Edgar dengan pandangan penuh horor dan penyesalan.

Di hadapannya, Edgar Anthony tidak meledak marah. Pria itu justru menaikkan satu alis tebalnya perlahan. Sepasang matanya yang sehitam obsidian berkilat tajam, memancarkan ketertarikan yang begitu dalam dan berbahaya. Edgar tampak sangat terkejut sekaligus puas mendengar pengakuan tak terduga dari bibir manis istri keponakannya itu.

“Oh?” Edgar bergumam rendah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh arti. “Jadi, keponakanku yang bodoh itu belum pernah menyentuhmu sama sekali selama satu bulan ini?”

“A-aku ... bukan itu maksudku, Paman! Aku harus kembali ke kamar!” Selina panik setengah mati.

Dia menyentak tangannya dengan kuat, mencoba melepaskan diri dari kungkungan Edgar. Dia harus lari dari dapur ini sekarang juga sebelum situasi berubah menjadi semakin tidak terkendali.

Namun, kekuatan Selina tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan otot-otot kekar milik Edgar. Alih-alih terlepas, tangan Edgar yang satu lagi justru bergerak cepat mencengkeram pinggang Selina, lalu menarik tubuh mungil gadis itu dengan satu sentakan kuat.

Bruk!

Selina terpekik pelan saat tubuhnya menabrak dada bidang Edgar yang keras laksana batu karang. Jarak di antara mereka seketika mengikis habis hingga tak bersisa.

Selina bisa merasakan deru napas Edgar yang hangat dan beraroma wiski menerpa permukaan wajahnya, sementara detak jantung pria itu berdegub konstan dan kuat di balik kemeja hitamnya.

Dalam posisi yang begitu intim itu, kedua mata mereka saling bertatapan lurus. Edgar menundukkan kepalanya sedikit, mengunci netra Selina yang dipenuhi ketakutan dan getaran hasrat yang mulai tersulut, sementara cengkeramannya di pinggang Selina terasa kian posesif, seolah enggan membiarkan mangsanya lepas lagi.

“Beritahu aku lebih jelas, Selina,” bisik Edgar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 16: Hanya ada Dua Pilihan

    Keduanya berjalan berdampingan mendorong troli di koridor supermarket mewah itu. Selina mencoba fokus pada daftar belanjaan yang diberikan Luna, memilih sayur dan daging yang menjadi makanan favorit Rafael dan mertuanya dengan terbiasa patuh.Jemarinya yang masih agak gemetar memilah potongan daging sapi wagyu pilihan Luna, lalu mengambil beberapa botol saus impor kesukaan Rafael. Pikirannya masih berkabut, namun tubuhnya bergerak otomatis seperti robot yang telah diprogram untuk melayani.Edgar tiba-tiba menghentikan troli tepat di depan rak camilan dan bahan makanan manis yang disukai Selina yang selama ini dilarang dibeli oleh Luna karena dianggap pemborosan tidak bermutu.Dengan gerakan tangan yang santai namun pasti, Edgar mengambil beberapa kotak cokelat praline premium, biskuit mentega impor, dan selai beri kesukaan Selina yang dulu sering ia beli sebelum menikah. Edgar memasukkannya begitu saja ke dalam troli, tepat di atas tumpukan daging pesanan Luna."Paman—maksudku, Edgar,

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 15: Memikirkan Ulang

    Selina duduk kaku di kursi penumpang mobil mewah Edgar. Suasana kabin begitu sunyi, hanya diisi deru mesin yang halus.Selina mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat, matanya lurus menatap jalanan Jakarta tetapi pikirannya kacau. Ada kecemasan luar biasa jika ada kenalan keluarga Theodore yang melihat mereka bersama.Pikiran Selina berputar pada skenario terburuk. Jika ada satu saja kolega bisnis mertuanya atau teman-teman sosialita Luna yang memergoki dirinya berada di dalam satu mobil dengan paman suaminya ini, habislah sudah.Edgar adalah sekam yang siap membakar dinasti Theodore, pria berbahaya yang selalu dihindari sekaligus ditakuti.Berada sedekat ini dengannya di tempat umum sama saja dengan mengantarkan leher ke pisau jagal. Jantung Selina berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri, dan napasnya tertahan di ujung tenggorokan.Edgar yang menyadari ketegangan Selina melirik sekilas, lalu memecah keheningan. Dengan suara baritonnya yang tenang, dia meminta Selina untuk

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 14: Ultimatum sang Adik Ipar

    “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?!”Teriakan melengking dari seorang wanita paruh baya seketika memecah ketegangan intim di sudut dapur. Selina tersentak kecil, tubuhnya menegang hebat dengan jantung yang mencelos ke lambung.Dia pun buru-buru memutar tubuhnya kembali menghadap wastafel, menyalakan keran air dengan tangan gemetar, dan berpura-pura kembali mencuci sisa piring yang sebenarnya sudah hampir selesai.Di sampingnya, Edgar tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dengan gerakan yang teramat tenang dan kasual, dia menoleh ke arah sumber suara.Di ambang pintu dapur, Luna berdiri dengan posisi melipat tangan di dadanya. Sepasang matanya menatap tajam, penuh dengan kecurigaan dan kilat merendahkan yang amat kentara.Edgar sama sekali tidak merasa terintimidasi. Alih-alih menjauh, dia justru mengulurkan tangannya yang besar, menaruh gelas kaca sisa kopinya ke dalam wastafel cuci piring tepat di samping tangan Selina, sengaja membuat kulit lengan mereka bergesekan sekilas.

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 13: Kabar yang Mengejutkan!

    “Kau tidak datang kemarin malam, Selina.”Suara bariton yang berat dan dalam itu seketika memecah keheningan dapur. Selina terlonjak kaget hingga piring porselen di genggaman tangannya nyaris merosot ke dalam wastafel. Jantungnya bertalu hebat saat dia menoleh ke arah sumber suara.Edgar Anthony sudah berdiri di samping konter dapur, bersandar santai dengan sebelah tangan memegang secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis.Pria itu tampil kasual namun tetap memancarkan aura dominasi yang pekat. Tatapan mata elangnya langsung mengunci wajah Selina, menilai setiap guratan ekspresi dan rasa bersalah yang terpancar dari wajah pias sang keponakan menantu.Selina buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, menolak bertatapan langsung dengan obsidian kelam milik Edgar. Jemarinya kembali meremas spons cuci piring dengan gelisah.“A-aku ... maaf, Paman,” bisik Selina dengan suara parau dan bergetar menahan gugup yang mendadak menyerang seluruh syarafnya. “Aku belum bisa mengambil keputu

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 12: Hinaan Kasar pada Selina

    Waktu sudah menunjuk angka sembilan malam. Selina masih duduk di tepi ranjang, meremas jemarinya sendiri dalam keheningan yang mencekam.Ketegangan dari ancaman Edgar di ruang cuci sore tadi belum sepenuhnya memudar dari kepalanya, namun kini dia harus menghadapi kenyataan pahit lainnya.Cklek.Pintu kamar terbuka kasar. Rafael melangkah masuk dengan langkah lebar yang angkuh. Pria itu langsung menaruh tas kerjanya di atas sofa dengan asal, membiarkan benda kulit mahal itu tercampak begitu saja di lantai.Tanpa memandang Selina, Rafael mulai membuka kancing kemejanya satu per satu dengan raut wajah yang tampak sangat puas, jenis kepuasan yang belum pernah Selina lihat selama pria itu berada di dekatnya.Ada binar kebahagiaan yang asing di mata suaminya, sesuatu yang langsung memicu rasa perih yang teramat sangat di ulu hati Selina.Selina menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya yang telah diinjak-injak selama satu bulan ini. Dia lalu bangkit berdiri

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 11: Bawa Dirimu Datang Padaku

    Sore hari tiba dengan sisa-sisa kelelahan yang semakin mendera tubuh Selina. Lorong bagian belakang kediaman Theodore tampak sepi, hanya menyisakan suara deru konstan dari mesin cuci di ruang belakang.Selina sedang berdiri di depan meja setrika, melipat beberapa helai kemeja milik Rafael dengan gerakan mekanis. Pikirannya masih berkecamuk, memikirkan obrolannya dengan Lyra tadi siang serta bayangan Edgar yang seolah enggan lepas dari benaknya.Brak.Suara pintu ruang cuci yang ditutup dengan hentakan pelan namun tegas seketika membuat Selina tersentak. Dia membalikkan badan dengan cepat, dan sepasang matanya langsung membola sempurna.Edgar Anthony sudah berdiri di sana. Pria itu mengunci pintu dari dalam dengan satu gerakan tangan yang tenang, lalu memutar tubuhnya untuk menghadap Selina.Kemeja abu-abu yang dia kenakan sejak pagi kini lengannya sudah digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat menonjol di lengan kekarnya yang liat.Tanpa sepatah kata pun, Edgar melangkah maju. L

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status