ANMELDENAnelies yang malang, dijual oleh seorang mucikari pada seorang raja kaya raya berumur 60 tahun. Pada malam pertama Raja Husain ditemukan meninggal. Anelies kabur karena takut dituduh membunuh raja. Tapi Anelies malah tertangkap oleh Pangeran Serkan. Anelies yang terdesak akhirnya mengaku jika dia memiliki kemampuan spesial membaca pikiran orang-orang di sekitarnya. "Bantu aku membongkar pembunuh ayahku!" Pangeran Serkan menawarkan perjanjian. "Aku akan membebaskan mu dari hukum pancung." "Bagaimana caranya?" Anelies masih gemetar ketakutan. "Aku akan menikahi mu, agar bisa aku bawa pulang ke istana." Serkan ingin Anelies membaca pikiran semua orang yang berada di lingkungan istana. Karena Serkan yakin dalang pembunuhan Raja Husian adalah keluarganya sendiri.
Mehr anzeigenBAB 1 DATANG KE TEMPAT YANG SALAH
Lampu diskotik berputar di tengah ruangan remang dengan suara guncangan musik keras. Seorang penari striptis meliuk di atas meja, bergelayut, berputar pada tiang untuk dihujani lembaran dolar. Anelies merinding dengan segala pemandangan di tempat itu. Tapi dia harus nekat datang untuk menemui Madam Lexis. Dia butuh pinjaman uang. "Hutangnya yang kemarin saja belum bisa dia bayar, sekarang wanita itu kembali datang untuk berhutang lagi!" Pablo melapor pada Madam Lexsis. "Bawa dia menemuiku!" Madam Lexsis mengetukkan abu rokok di tangannya tanpa peduli serpihannya bakal melubangi karpet mahal di bawah tumit heels nya. "Wanita tetap punya sesuatu yang berharga untuk membayar meskipun dia tidak punya uang." Pablo langsung kembali keluar dari ruangan bosnya untuk memanggil Anelies. Pria Meksiko berbadan tinggi besar, dan berkepala plontos jelek itu mendesis kan giginya yang keropos akibat heroin. "Ayo cepat masuk." Punggung Anelies di dorong kasar. Tapi dia tidak berani mengeluh. Anelies sedang sangat butuh pinjaman uang untuk membebaskan kawannya dari penjara. Anelies kembali di dorong kasar. "Ayo sana maju!" Di dalam ruangan itu, Madam Lexis terlihat duduk menyilangkan kaki di singgasana kebesarannya. Tatapannya tajam penuh penilaian. Meski wanita itu sedang berpura-pura tersenyum manis, matanya tak luput dari tubuh Anelies. Muda. Berlekuk feminim. Bakal sangat bernilai dalam penjualan. Anelies juga terlihat masih sangat polos dan kikuk untuk sekedar bicara di hadapan Madam Lexis. "Tolong beri aku pinjaman lima puluh ribu lagi." Nafasnya gugup, tapi sungguh dia sudah tidak punya pilihan kecuali datang kemari. "Bagaimana kau akan membayar hutangmu?" Sura Madam Lexis masih sangat tenang. "Aku bisa bekerja sebagai kurir." Selain memiliki bar dan klub dewasa, Madam Lexis juga penjual obat-obatan terlarang. "Pekerjaan kurir sangat berbahaya untuk gadis muda sepertimu. Kau bisa ikut masuk jeruji besi seperti kawanmu." Madam Lexsis menyalakan batang rokok baru sambil pura-pura meneliti penampilan Anelies. "Wanita muda sepertimu akan lebih cepat mendapatkan banyak uang jika bekerja di klub." "Aku tidak bisa bekerja di klub, Madam." Anelies berusaha untuk tetap bersikap sopan untuk menolaknya. "Kau cantik, kau pasti akan menghasilkan banyak uang agar bisa hidup lebih mudah." Kali ini Madam Lexsis mengetukkan abu rokoknya ke tepi meja. "Kau akan mendapat banyak tips dari pekerjaanmu hanya dengan sesekali merentangkan kaki jika ada yang minta." Tangan Anelies diam-diam mengepal. "Lebih baik aku bekerja sebagai kurir." "Semua gadis-gadisku di klub awalnya juga sepertimu. Tapi lihatlah mereka sekarang!" Madam Lexsis berdiri dari tempat duduknya, menghembuskan asap rokok sambil berjalan menghampiri Anelies. "Mereka justru ketagihan dan nyaman dengan pekerjaannya." Madam Lexsis menyentuh dagu Anelies untuk dia angkat lebih jelas. "Jika beruntung kau juga bisa menjadi peliharaan pria kaya yang akan menjamin hidupmu." "Aku tidak akan menjual diri." Anelies tetap tegas menolak. "Aku akan menawarkanmu pada pelanggan kelas atas, kau benar-benar bisa beruntung." Madam Lexsis terus meneliti tubuh Anelies. "Kau memiliki tubuh yang bagus. Hargamu bisa sangat mahal. Kita akan berbagi lima puluh persen dari penghasilanmu." "Aku benar-benar tidak bisa Madam. Aku bahkan belum pernah ..." Untuk mengucapkannya saja Anelies tidak sanggup. "Aku belum pernah bersama pria." "Apa?!" Madam Lexsis cukup terkejut. "Kau belum pernah berhubungan intim dengan teman laki-laki?" Dengan polosnya Anelies langsung mengangguk. Pablo pun juga terkejut. "Kau masih virgin?" Madam Lexsis memastikan keterkejutannya. Anelies mengangguk lagi tanpa menaruh curiga sama sekali. Anelies tidak sadar jika di tempat seperti ini siapapun akan langsung tergiur untuk melelang keperawanannya. Gadis perawan bisa dihargai sangat mahal, Madam Lexsis tidak akan melepaskannya begitu saja. "Apa kau tahu berapa harga gadis virgin sepertimu?" Tatapan Madam Lexis seketika berubah, seperti seorang pemburu yang baru mendapatkan mangsa berharga. Dia melangkah maju. "Kau pasti akan terkejut dan berlutut di depanku, memohon agar melelangmu!" Kali ini Anelies mulai was-was. Khawatir telah salah langkah karena telah datang kemari. "Aku datang bukan untuk menjual diri!" jawab Anelies dengan nada lebih tegas. "Aku bisa mendapatkan harga yang sangat mahal jika menjualmu pada lelaki kaya!" tegas Madam Lexsis dengan intonasi yang sudah jelas berbeda. Anelies mulai panik, melangkah mundur. "Itu tidak akan terjadi!" Dan cukup sekali saja Madam Lexis mengedipkan mata pada pengawalnya. "Tidak!!!" Anelies menjerit. Lengan besar Pablo menjerat tubuh Anelies dari belakang. Aromanya busuk seperti campuran tembako dan bir. "Lepaskan aku!" Kaki Anelies menendang-nendang lantai untuk melepaskan diri. Tapi lengan Pablo masih melingkar seperti besi. Mengangkat tubuhnya dengan sangat enteng. Kondisinya sangat mengerikan dengan sangat cepat. Anelies terus menjerit sampai suaranya pecah. Dia harus kabur, Anelies tidak mau dijual. "Lepaskan!" Teriakan Anelies suda tidak berguna. Karena setelah itu wajahnya langsung dibekap kencang. Suaranya lenyap. Kaki masih berontak menendang-nendang udara kosong. Dan tidak sampai satu menit, tubuh Anelies lemas tak berdaya. "Jaga barangku tetap bagus!" Madam Lexsis mengingatkan. Pablo mengangkat tubuh Anelies untuk dia bawa keluar dari ruangan Madam Lexis. ******* Entah berapa lama, Anelies dibuat pingsan. Begitu kembali sadar Anelies sudah terkunci didalam sebuah ruangan kotor menyerupai gudang. Kepala Anelies masih pening, kepalanya berputar, matana kabur. Tapi gadis itu segera sadar jika dirinya berada dalam bahaya. Anelies bangkit merangkak untuk menggedor pintu. "Buka pintunya!" Brak Brak Brak "Lepaskan aku!" Brak Brak Brak Anelies terus memukul daun pintu tebal dengan tangannya yang nyeri, kukunya patah, kulitnya merah lebam. "Kalian tidak bisa menjual ku!" Anelies terus berteriak hingga habis tenaga. "Ini tindakan kriminal!" "Ini ilegal!" Di luar pintu, Pablo tidak perduli dengan omelan Anelies karena gadis itu sedang sangat berharga untuk dijual daripada disiksa. Mereka akan mendapatkan pria kaya yang akan membayar berapapun untuk gadis muda yang masih virgin. Anelies masih berteriak-teriak ketika Pablo memasukkan makanan kaleng dari lubang pintu. "Simpan energi mu. Mau tidak akan bisa kabur, Manis!" Pablo tersenyum menjijikkan. Bekas jahitan yang melintang di pipinya terkihat berkerut seperti lipan tua. "Jangan banyak berulah, kami akan segera menemukan pria kaya yang akan membelimu dengan harga mahal!" Pablo terus menyeringaikan senyum jeleknya. "Kau sedang sangat beruntung karena aku tidak jadi menyiksamu pelan-pelan di gudang penyimpanan!" Anelies terus merinding sekaligus murka karena diperlakukan tidak manusiawi. "Kalian tidak bisa menjualku!" Pablo justru langsung menutup lubang pintu. Meninggalkan Anelies yang kembali berteriak. Brak Brak Brak "Keluarkan aku brengsek!" Anelies menggedor daun pintu tebal yang sudah tertutup rapat. Terus berteriak-teriak sampai tenggorokannya serak. Sungguh nasib Anelies sangat menyedihkan. Tubuhnya merosot ke lantai karena lelah. Dia menangis sampai menggigil karena ketakutan dan merasa bodoh. Anelies benar-benar sendirian, Antonio masih di dalam penjara, dia tidak akan bisa menolong dan kekuatan Anelies juga sedang tidak berguna. "Tolong aku..." Jari Anelies menggenggam cincin tua yang tergantung di liontinnya. Satu-satunya peninggalan wanita yang melahirkannya. Satu-satunya petunjuk yang tersisa sejak dirinya diculik saat bayi. "Tolong aku..." Ucap Anelies dengan penuh keyakinan. "Tolong aku dengan kekuatan apapun." Tiba-tiba sebuah kilasan masa depa melintas cepat di kepala Anelies. Terlalu banyak kematian mengerikan... "Tidak mungkin!" Anelies menggeleng, dan tiba-tiba hidungnya berdarah. Darah hitam yang sangat kental.BAB 66 MEMBUJUK PANGERAN HABIBIKetika rombongan pengawal Pangeran Hamdan ingin berangkat ke Istana Tamir, Pangeran Habibi langsung berlari ke halaman, menangis tantrum, meraung-raung di depan barisan mobil. Habibi ingin ikut tapi Pangeran Hamdan tidak mau membawa adiknya yang jumbo dan suka ribut dengan adik-adik Pangeran Al-Waleed.Akhirnya Faaz yang turun tangan, Faaz mengendong Pangeran Habibi untuk dia bawa menyingkir dari depan mobil. Begitu dibawa naik ke atas gendongan Faaza, Habibi malah langsung bergosip, menirukan Sura lembut Putri Sofia ketika terdesak gerah akibat efek samping saffron.Faaz berusaha tetap lanjut berjalan tenang untuk membawa Pangeran Habibi ke seberang teras istana. Setelah itu Faaz juga harus membujuk Pangeran Habibi agar tidak kembali tantrum."Jangan menangis lagi, nanti lain kali saya akan menemani Anda berkuda, Pangeran Habibi."Faaz menurunkan tubuh gembul Pangeran Habibi di koridor teras istana anak laki-laki."Kau mau mengajari aku berkuda?""Ya."
BAB 65 DI ISTANA ZUBAIRDi Istana Zubair terdapat area khusus untuk anak laki-laki dan untuk anak perempuan. Masing-masing bangunannya terpisah dengan istana utama, tapi saling berhadapan sejajar, cuma terpisah oleh halaman tengah komplek istana. Pangeran Hamdan, Pangeran Husain, dan Pangeran Habibi, menempati kamar di area laki-laki. Putri Sofia beserta adik perempuannya yang lain berada di area anak perempuan. Yang Mulya Serkan dan Anelies menempati istana utama yang berada di komplek bangunan paling depan.Putri Sofia sengaja belum tidur, berdiri di balkon menatap ke seberang halaman tempat Pangeran Hamdan. Kamar Pangeran Hamdan juga masih terang benderang. Pangeran Hamdan baru kembali ke istana setelah berkumpul dengan teman-teman di yacht."Selamat malam, Pangeran Hamdan." Faaz mengantar sampai di depan pintu kamar."Besok Anda ada jadwal berkuda dengan Pangeran Al-Waleed." Faaz juga mengingatkan jadwal kegiatan Pangeran Hamdan."Beritahu Husain untuk ikut." Hamdan memberi perint
BAB 64Sejak pertama kali melihat aksi Faaza di pertandingan berkuda, Pangeran Hamdan sudah sangat mengagumi kemampuan pemuda itu. Omar juga memberitahu jika Faaz adalah adik laki-laki Zahra dan dia seorang pilot. Kemarin, ketika Pangeran Hamdan mendengar semua kehebatan serta keberanian Faaz dalam menghancurkan kapal induk musuh, saat itu juga Pangeran Hamdan memohon pada Yang Mulya Serkan agar menjadikan Faaza sebagai pengawal pribadinya."Aku akan mempercayakan Pangeran Hamdan padamu."Faaz sangat terkejut mendengar ucapan Yang Mulya Serkan."Kau akan menjadi pengawal pribadi untuk putraku.""Sungguh Yang Mulya, saya merasa tidak layak untuk mendapat kepercayaan sebesar itu.""Hanya Kau yang dapat aku percaya untuk menjaga Putra Mahkota!" Serkan justru mempertegas ucapannya.Pastinya Yang Mulya Serkan juga tidak akan sembarangan memberi kepercayaan untuk menjaga keselamatan Pangeran Hamdan. Faaz pilihan yang sangat tepat, pemuda itu bukan cuma handal, cerdik, dan pemberani, dia jug
BAB 63 BERTEMU KEMBALIDua bulan pasca perang berakhir, ketegangan politik dunia berangsur mereda perekonomian global kembali tumbuh berkembang. Tapi bagi beberapa negara korban perang mereka masih harus kembali membangun negara mereka dari kehancuran. Mereka bukan bukan cuma harus membangun infrastruktur, tapi juga membangun pemerintahan, memulihkan ekonomi dan lingkungan sosial. Semua tugas yang tidak mungkin selesai dalam satu atau dua dekade.Warga sipil korban bencana perang bukan cuma kehilangan rumah dan keluarga, mereka juga masih mengalami trauma, terutama anak-anak. Yang Mulya Serkan serta Raja Khaleed mendirikan yayasan sosial untuk membantu anak-anak korban perang. Sebelumnya Yang Mulya Serkan juga telah memiliki yayasan serupa yang didanai langsung oleh Istana Zubair, tapi kali ini Istana Tamir juga akan ikut serta menjadi penyokong dana utama dan membuat yayasan yang lebih besar.Masih dengan misi tujuan yang sama, yayasan kemanusiaan yang didirikan oleh Yang Mulya Serka
240 MIA RINDUSatu Minggu setelah semua orang pergi meninggalkan rumah peternakan, Mia masih terlihat murung, belum memiliki aktifitas lain kecuali berdiam diri di dalam kamar. Mia sering menangis sampai pagi tanpa sedetikpun memejamkan mata.Sungguh Mia sangat rindu tapi tidak tahu harus mencari Z
BAB 262 MENCARI SEBUAH CAWANSalman kembali datang ke hadapan Zontus dengan membawa cawan emas besar."Apa seperti ini cawan yang Anda cari, Yang Mulia?"Zontus cuma memperhatikan benda mengkilat itu sekilas kemudian langsung membuangnya."Bukan!"Drako dan Salman sudah berulang kali membawa berbag
BAB 241 MENJALANI HIDUP Mia masih sangat muda dan labil, bisa bertindak ceroboh dalam kondisi tidak stabil. Sebelum pergi dari rumah peternakan, Anelies terus mengingatkan adiknya agar tidak pernah putus asa. "Waktu adalah kesempatan dengan banyak pelajaran yang dapat menjadi penyembuh bagi hati
BAB 242 MELANJUTKAN HIDUPAkhirnya musim gugur, hampir empat bulan sejak Mia kehilangan Zontus serta ibunya Helena. Mia terlihat jauh lebih baik, lebih sehat dan ceria, meski isi hatinya tetap tidak ada yang tahu.Mia dan Theo kembali berteman dekat dan berkomunikasi lagi seperti dulu. Theo juga se












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Bewertungen
RezensionenMehr