LOGIN"Rating televisimu terus turun. Sudahlah, tutup saja." Demi menyelamatkan stasiun televisi warisan keluarganya, Ellena rela mempertaruhkan segalanya. Namun, di balik perhatian dan kasih sayang sang suami, tersembunyi rencana yang perlahan menghancurkan mimpinya.
View More"Sayang, aku udah sering bilang sama kamu, lepasin aja NTV. Nggak usah takut, toh aku bakal jamin hidup kamu, kok."
Suara Mahesa memang tidak meninggi, tetapi setiap untai kalimatnya terdengar sangat tegas, seolah-olah tidak memberikan celah sedikit pun bagi istrinya untuk membantah. "Aku tidak bisa, Mas," sahut Ellena sembari menggelengkan kepala pelan. "Perusahaan itu milik keluargaku. Aku adalah satu-satunya penerus yang mereka punya saat ini." "Iya, aku paham. Tapi coba lihat keadaanmu sekarang." Tangannya terangkat, menunjuk ke arah tubuh Ellena yang masih tampak lemas. "Kamu jadi sering sakit-sakitan, bahkan sampai keluar masuk rumah sakit begini. Bagaimana aku tidak khawatir?" Ellena hanya bisa menundukkan kepala. Bibirnya tergigit pelan. Ada begitu banyak bantahan yang ingin ia ucapkan, tetapi tubuhnya yang masih lemah membuatnya tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Untuk sesaat, pandangannya jatuh pada selang infus yang menempel di lengannya. Pemandangan itu saja sudah cukup menjadi jawaban atas semua kekhawatiran Mahesa. Melihat istrinya hanya terdiam dengan raut sedih, Mahesa langsung melunakkan sikapnya. Ia merengkuh tubuh Ellena ke dalam pelukannya, lalu mengusap punggung wanita itu dengan gerakan lembut. "Sudah, tidak apa-apa, Sayang. Maafkan aku... aku bicaranya terlalu keras sama kamu." Ellena membalas dekapan itu dengan sangat erat. Bagi Ellena, Mahesa adalah satu-satunya tempat ia bisa bersandar dengan aman. Di hadapan rekan kerja dan keluarganya, Ellena selalu dituntut untuk terlihat tegar dan mandiri. Hanya di depan suaminya inilah ia berani menumpahkan segala rasa lelah dan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Beberapa saat kemudian, Mahesa perlahan merenggangkan pelukan mereka. "Aku berangkat ke kantor dulu, ya? Kamu benar-benar tidak apa-apa aku tinggal sendirian di rumah sakit?" tanya Mahesa dengan nada suara yang terdengar berat. "Tidak apa-apa, Mas. Di sini kan banyak dokter dan perawat yang berjaga. Kalau terjadi apa-apa, nanti aku pasti langsung mengabari kamu," tutur Ellena menenangkan. Mahesa mengangguk pelan. "Baiklah. Aku pergi dulu, ya." Sebelum berbalik langkah, ia mengecup lembut kening Ellena, lalu jemarinya bergerak mengusap puncak rambut istrinya dengan penuh kasih sayang. "Dah, Sayang." Mahesa melambaikan tangan sekilas sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruang rawat VIP tersebut. Sosok tegapnya perlahan menjauh hingga benar-benar menghilang di balik pintu yang tertutup rapat. Setelah kepergian suaminya, Ellena kembali menyandarkan punggungnya ke ranjang. Tatapannya mendadak kosong, seakan seluruh kekuatan yang ia paksakan muncul tadi ikut menguap pergi bersama langkah kaki Mahesa. Sekitar tiga puluh menit berselang, Mahesa akhirnya tiba di area kantornya. Sebuah gedung pencakar langit yang megah berdiri kokoh menyambut kedatangan pria itu. Mobil mewah yang ditumpanginya berhenti tepat di depan lobi utama gedung. Mahesa turun dari kendaraan dengan langkah kaki yang begitu mantap. Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak melekat rapi, membungkus proporsi tubuh tegapnya dengan sempurna. Begitu ia melangkah memasuki area dalam gedung, aura dingin dan berwibawa seorang pemimpin langsung terpancar kuat, membuat para karyawan yang kebetulan berpapasan spontan menundukkan kepala demi memberikan salam hormat. Telepon berdering tanpa henti dari berbagai meja. Beberapa staf tampak setengah berlari membawa tumpukan kertas rundown. Di sudut lain, para editor bergerak cepat di depan monitor, berkejaran dengan ketukan keyboard yang saling bersahutan. Dari ruang audio, terdengar suara kru yang sedang melakukan sound check. "Segmen tiga pindah ke menit dua belas! Geser bumper-nya sekarang!" teriak seorang produser dari ujung ruangan. Mahesa menyusuri lorong panjang yang dipenuhi papan jadwal produksi dan monitor yang menampilkan tayangan live. Kru dengan headset sibuk memberi instruksi, sementara tim kreatif berkumpul di depan papan tulis, berdebat seru soal storyboard baru. Menjelang sore, Mahesa berdiri di dalam control room. Di depannya, deretan layar besar menampilkan grafik performa acara secara real-time, lengkap dengan pergerakan angka penonton yang terus naik-turun. Matanya tertuju pada satu garis grafik yang perlahan-lahan merangkak naik, melewati angka kompetitor. Mahesa menaikkan sebelah alisnya, senyum puas tipis muncul di sudut bibirnya. "Bagus. Pertahankan posisinya, apa pun programnya, jaga ritme. Kita harus tetap stabil." Suaranya terdengar tenang, namun ambisi besar di dalamnya tidak bisa disembunyikan. Para staf mengangguk cepat, langsung kembali fokus ke layar komputer masing-masing. Langkah Mahesa baru saja mencapai pintu keluar ketika seorang pria berjas menghampirinya. "Pak Mahesa." Mahesa menghentikan langkahnya, lalu menoleh tenang ke arah pria yang baru saja memanggilnya. Dia adalah Dito, Direktur Akuisisi dan Investasi di MH Group. "Soal Bu Ellena," ucap Dito dengan suara rendah. "Apa penekanannya kita teruskan? Sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencana. Tinggal selangkah lagi NTV jatuh ke tangan Anda.""Pemirsa, kali ini saya akan menyampaikan berita tentang seekor ular—"Kenzo mendadak berhenti sepersekian detik."Se... seekor ular kadut bernama Dudut... berkedut... di sudut..." Ia mencoba memaksakan diri untuk terus membaca, namun lidahnya justru semakin kusut dan terpeleset. "...dudut..."Suasana studio mendadak sunyi senyap. Beberapa kru menahan napas agar tawa mereka tidak bocor, sementara Halim yang duduk di balik monitor hanya bisa memijat pelipisnya pelan.Kenzo akhirnya menyerah dan menurunkan kertas naskahnya. "Hahaha... maaf, maaf." Pria itu langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha meredam tawa yang justru terasa semakin menggelitik dan sulit dikendalikan."Kenzo."Panggilan bernada datar dari Halim seketika membuat Kenzo menghentikan tawanya. Ia menurunkan tangannya, berusaha kembali bersikap formal. "Iya, Om?""Itu bagian dari twister tongue untuk menguji fokusmu. Kalau kamu malah tertawa saat membaca naskah penuh jebakan seperti itu, bagaimana ja
Sepanjang malam itu, nama Kenzo terus berputar di kepala Mahesa.Meski sudah kembali ke rumah dan menjalani rutinitas seperti biasa, pikirannya sama sekali tidak bisa lepas dari sosok pria yang dibawa Halim ke hadapan istrinya. Terlebih, sepanjang sore kemarin, Alena berkali-kali memuji potensi Kenzo dengan sorot mata penuh gairah dan harapan.Sebuah binar harapan yang sudah lama hilang dari sepasang mata istrinya sejak stasiun televisi NTV mulai terseok-seok.Keesokan paginya, Mahesa berdiri seorang diri di depan cermin besar kamarnya. Suasana rumah terasa begitu sepi karena Ellena masih harus mendekam di rumah sakit.Ia merapikan letak kerah kemejanya, lalu memakai jam tangan di pergelangan tangan kiri dengan gerakan ritmis. Tatapannya berserobok dengan pantulan dirinya sendiri di cermin."Baru mau memulai karier..." gumamnya lirih, disusul seulas senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi. "Apa istimewanya pria itu sampai bisa membuat Ellena langsung seyakin itu?"Tidak ada j
Jarak di antara mereka semakin mengikis. Tanpa sadar, Kenzo yang sedang mendengarkan penjelasan sambil menoleh ke arah Halim, tanpa sadar bergeser sedikit ke sisi kanan koridor. Bruk. Bahu mereka beradu cukup keras. Kenzo refleks menghentikan langkah kakinya. "Ah, maaf," ucapnya spontan sembari sedikit menundukkan kepala tanda tidak sengaja. Mahesa ikut menghentikan langkah. Perlahan, ia mengangkat pandangannya. Sorot matanya yang sedingin es sempat tertuju sejenak pada wajah Kenzo. Hanya sepersekian detik, namun cukup untuk merekam visual pria muda di hadapannya. Tanpa membalas sepatah kata pun, Mahesa kembali melangkah, melewati Kenzo begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa. Kenzo sempat memutar tubuhnya, menatap punggung tegap pria itu yang kian menjauh. "Gila... dingin banget tuh orang," gumamnya pelan sambil mengusap bahu luarnya yang sedikit ngilu. Halim hanya melirik sekilas ke arah pergerakan Mahesa. "Dia emang kayak gitu, orangnya ken." Kenzo langsung menoleh
Senyuman lega tidak bisa disembunyikan dari wajah Kenzo. Ia kembali menundukkan kepalanya, memberikan gestur hormat yang tulus. "Terima kasih banyak atas kesempatannya, Bu. Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini." "Saya pegang janji kamu," sahut Ellena dengan seulas senyuman tipis. "NTV sedang berada di masa-masa sulit sekarang. Karena itu, saya butuh orang-orang yang tidak cuma sekadar bekerja, tapi juga punya tekad untuk berjuang bersama menyelamatkan stasiun TV ini." "Kami siap memberikan yang terbaik untuk NTV, Bu," sahut Halim mantap. Belum sempat percakapan mereka berlanjut, terdengar ketukan pelan di daun pintu. "Permisi..." Pintu kamar rawat VIP itu terbuka perlahan, Sosok dokter spesialis penyakit dalam melangkah masuk, didampingi seorang perawat yang mendorong troli kecil berisi peralatan medis. "Ah, ternyata Bu Ellena sedang ada tamu," sapa dokter itu ramah dengan senyuman hangat. Halim bergegas mengangguk sopan. "Selamat sore, Dok. Maaf kalau






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews