Home / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 5. Titik Balik

Share

Bab 5. Titik Balik

Author: Elsa Mahesa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-14 19:09:09

Profil kandidat di layar ponselnya benar-benar memancarkan kesan profesional yang kuat. Pria di foto CV itu berambut rapi, tatapannya tajam, berwajah tampan, dan memancarkan rasa percaya diri yang tinggi.

Tepat di bawah foto tersebut, tertera sebuah nama.

Kenzo Kazbegi Kaze.

Ellena memandangi layar ponselnya dalam diam. Semakin lama ia memperhatikan profil pria itu, semakin kuat pula firasat bahwa orang inilah yang mungkin bisa menjadi titik balik bagi NTV.

"Jadi... ini calon news anchor-nya?" gumamnya lirih pada keheningan kamar.

Ia mengembuskan napas panjang. "Halim... kamu benar-benar, ya. Bahkan di saat saya sedang tumbang begini pun, kamu masih bisa memberi saya kejutan."

Meski sempat mengeluh, sudut bibirnya justru perlahan terangkat tipis. Tatapannya kembali terkunci pada foto Kenzo.

"Aku harus bertemu langsung dengannya."

Kalimat itu terucap begitu saja dari bibirnya. Ellena mulai berpikir keras. Tanpa sadar, ia menggigit ujung jarinya—sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia sedang menyusun strategi besar.

Beberapa detik kemudian, sepasang matanya langsung berbinar cerah.

"Hari ini kan, Mas Mahesa ada rapat pleno penting di kantornya...” batin Ellena. Ia mengangguk pelan, seolah baru saja menemukan jalan keluar dari labirin. “Kalau begitu... Aku bisa manfaatin waktu kosong ini buat ketemu Halim sama Kenzo.”

Ellena mengembuskan napas pelan, lalu menggenggam tiang infus dan melangkah kembali ke ranjang. Ia meringis kecil. Nyeri di lambungnya masih menusuk, membuat langkah-langkah pendek itu terasa menguras tenaga.

Begitu berhasil naik ke atas ranjang, ia menyandarkan punggungnya perlahan pada sandaran tempat tidur. Ponsel itu segera ia selipkan di bawah bantal, tepat saat pintu ruang rawat VIP terbuka.

Mahesa melangkah masuk sambil membawa map hasil konsultasi dokter.

"Sayang," panggil Mahesa lembut sembari mendekat ke ranjang. "Barusan aku sudah ngobrol cukup lama sama dokter yang menangani kamu. Kamu benar-benar harus menjalani bed rest total kali ini."

"Iya, Mas," jawab Ellena pelan sambil mengangguk. Senyum tipis dipaksakannya menghiasi wajah yang masih pucat. Ia lalu meraih telapak tangan Mahesa dan menggenggamnya erat.

"Aku tahu... kamu pasti khawatir sama kondisiku." Suaranya terdengar lembut. "Tapi sekarang lebih baik kamu berangkat saja dulu ke kantor. Bukannya hari ini ada rapat penting dengan investor?"

Ellena menatap mata suaminya dengan penuh keyakinan. "Aku nggak mau cuma karena aku sakit, pekerjaan kamu malah jadi berantakan."

"Ssst..." Mahesa mengangkat telunjuk jarinya, menyentuh lembut bibir Ellena. "Jangan mulai berpikir yang macam-macam lagi, ingat kata dokter tadi. Kamu tidak boleh membiarkan pikiranmu stres lagi."

"Tapi, Mas..." Ellena sedikit merajuk. "Kalau kamu sampai mengorbankan meeting ini, aku bakal kepikiran terus."

Mahesa tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Ellena beberapa saat, seolah sedang memastikan apakah istrinya benar-benar sanggup ditinggal. Jemarinya perlahan menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi wajah pucat istrinya.

"Yakin kamu bakal baik-baik saja kalau aku tinggal?" tanyanya pelan.

Ellena mengangguk sambil tersenyum tipis. "Yakin, Mas. Kamu tenang aja, di sini ada dokter dan perawat yang berjaga kok. Aku juga bakal nurut sama semua saran dokter, jadi kamu nggak usah khawatir."

Mahesa mengembuskan napas panjang. Meski masih tampak berat, akhirnya ia mengangguk pasrah.

"Baiklah. Aku ke kantor sebentar. Begitu rapat selesai, aku janji langsung balik ke sini."

Senyum lega langsung merekah di wajah Ellena. "Terima kasih banyak, ya, Mas."

Tanpa pikir panjang, Ellena meraih tubuh Mahesa dan memeluknya erat. Mahesa membalas pelukan itu dengan hangat, mengusap lembut punggung istrinya sebelum mengecup singkat puncak kepalanya.

Beberapa menit kemudian, Mahesa akhirnya benar-benar berpamitan. Sebelum keluar, ia masih sempat menoleh ke arah ranjang, memastikan Ellena sudah kembali berbaring dengan tenang.

"Istirahat yang cukup, ya. Jangan pikirkan pekerjaan apa pun," pesannya sekali lagi.

Ellena mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan."

Mahesa membalas senyum itu, lalu menutup pintu perlahan.

Ellena tidak langsung bergerak. Ia menunggu dalam diam hingga suara langkah kaki Mahesa benar-benar menghilang di balik lorong rumah sakit.

Barulah ia mengembuskan napas panjang. Senyum lembut yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, berganti dengan raut yang jauh lebih serius.

Perlahan, ia menyelipkan tangan ke bawah bantal dan mengambil kembali ponselnya yang tadi disembunyikan. Jemarinya bergerak cepat membuka aplikasi pesan, lalu mencari nama Halim.

Jemarinya bergerak dengan sangat cepat mengetik sebuah pesan singkat untuk Halim, lengkap dengan nomor kamar dan alamat rumah sakit tempatnya dirawat.

["Saya tunggu di rumah sakit sekarang. Bawa Kenzo ke ruangan saya."]

Pesan terkirim.

Di tempat lain, ponsel di dalam saku jas Halim mendadak bergetar. Pria paruh baya itu langsung mengeluarkan perangkatnya dan membaca pesan yang masuk.

"Ada apa, Om?" tanya Kenzo yang sejak tadi memperhatikan perubahan raut wajah pamannya yang mendadak menegang.

Halim mengangkat dan memutar layar ponselnya ke hadapan Kenzo. "Bu Alena meminta kita untuk datang ke rumah sakit sekarang juga."

"Rumah sakit?" Kenzo mengernyitkan dahi, merasa heran.

"Dia ingin melakukan wawancara dan bertemu langsung denganmu... saat ini juga," tegas Halim.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 36. Mental di Balik Kamera

    Rafasya berjuang setengah mati mempertahankan fokusnya."Selamat malam, pemirsa. Berikut informasi prakiraan cuaca untuk sejumlah wilayah di Indonesia..."Suaranya masih terdengar stabil. Namun, tiap kali tangannya terangkat menunjuk ikon cuaca di layar, foto wajah konyolnya sendiri seolah ikut "menyambut" pergerakan tangannya.Gumam tawa kecil mulai samar-samar terdengar dari bangku penonton.Rafasya menarik napas dalam-dalam, berusaha keras abai. Tatapannya kembali mengunci lensa kamera utama."...wilayah Jakarta diprakirakan cerah berawan sejak pagi hingga sore hari..."Ia nyaris berhasil melewatinya.Namun, tepat saat tangannya kembali mengarah ke layar, salah satu foto konyolnya mendadak membesar drastis dengan ekspresi menjulurkan lidah yang sangat absurd.Sudut bibir Rafasya bergetar hebat. Ia menggigit bibir dalamnya sekuat tenaga, mencoba menahan dorongan tawa yang membendung di tenggorokan.Sayangnya... benteng pertahanannya jebol.Sebuah tawa kecil akhirnya lolos begitu saj

  • Obsesi Gila Suamiku   Ujian Fokus

    Satu minggu berlalu.Ajang NTV News Anchor Search resmi menginjak babak eliminasi yang paling mendebarkan.Selama tujuh hari penuh, tiga puluh enam peserta telah dibabat habis lewat serangkaian ujian berat yang menguras fisik, mental, dan konsistensi mereka di depan kamera. Satu per satu gugur dan harus mengubur mimpinya di panggung ini.Kini, tersisa delapan peserta terbaik yang berhasil bertahan.Di balik panggung, kedelapan finalis sudah berbaris di posisinya masing-masing.Lorong sempit itu diterangi sorot lampu putih benderang, memantulkan deretan wajah yang mati-matian menyembunyikan rasa gugup, meski detak jantung mereka terpacu kencang.Ada yang memejamkan mata rapat-rapat sembari mengatur napas, ada yang sibuk merapikan kerah jas untuk kesekian kalinya, dan tak seorang pun bersuara.Sebab mereka paham betul... di babak inilah tempat mereka di balik meja berita utama dipertaruhkan."Peserta pertama, standby di posisi!" Suara tegas Floor Director bergema melalui pengeras suara

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 34. Gerbang Para News Anchor

    Lampu indikator merah di atas pintu ruang kontrol seketika menyala terang.Seluruh kru di dalam ruangan langsung bergerak sigap mengikuti komando."Kamera satu, standby!""Kamera dua, ambil wide shot penonton!""Opening VT... play!"Di deretan layar monitor, video pembuka berdurasi tiga puluh detik mulai meluncur. Cuplikan atmosfer ruang redaksi yang sibuk, kesibukan reporter di medan banjir, hingga gemerlap lampu studio berganti kilat dengan iringan musik bertempo cepat yang memacu adrenalin.Sesaat kemudian...Visual beralih ke panggung utama. Tepuk tangan riuh langsung membahana memenuhi studio.Dua presenter kondang melangkah anggun ke tengah panggung, mengumbar senyum profesional ke arah kamera."Selamat datang di NTV News Anchor Search!""Untuk pertama kalinya, NTV membuka ruang seluas-luasnya bagi talenta muda terbaik bangsa untuk menjadi ikon baru di dunia jurnalisme televisi."Kamera bergerak mulus menyorot jajaran peserta yang duduk rapi dalam balutan busana formal. Wajah-wa

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 33. Start Pertarungan

    Keesokan paginya...Mahesa sengaja datang jauh lebih awal ke kantor ALTV.Begitu menyelesaikan beberapa dokumen mendesak, ia langsung masuk ke ruang kerjanya. Laptop di atas meja sudah disambungkan ke layar monitor besar untuk virtual meeting pagi ini.Tak butuh waktu lama, layar monitor mulai menyala.Wajah Richard muncul pertama kali di layar."Selamat pagi, Mahesa.""Pagi, Richard.""Michael sebentar lagi masuk," ucap Richard sembari mengecek koneksinya.Mahesa mengangguk singkat.Beberapa detik berselang, layar kembali berkedip memperlihatkan frame baru. Seorang pria paruh baya berwajah tegas muncul. Rambutnya yang mulai memutih justru makin memperkuat aura karismatiknya. Di latar belakang ruangan Michael, terpampang logo timbul sebuah jaringan televisi raksasa ternama di Amerika.Richard langsung memandu perkenalan. "Mahesa, kenalkan ini Michael Carter. Salah satu petinggi sekaligus Executive Producer di jaringan TV kami."Mahesa mengulas senyum tipis. "Pleasure to finally meet y

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 32. Satu Konsep, Dua Strategi

    Perlahan, sudut bibir Mahesa terangkat tipis. Sebuah rencana baru langsung tersusun rapi di kepalanya.Ia merogoh ponsel, lalu menggeser layar mencari satu nama yang sudah cukup lama tersimpan di daftar kontaknya. Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil.Tak butuh waktu lama, sambungan telepon itu terhubung."Hello?" Suara berat seorang pria dengan aksen Amerika kental terdengar dari seberang.Mahesa tersenyum miring. "Good evening, Richard.""Mahesa?" Nada suara Richard terdengar agak terkejut. "Long time no see, Man! Aku hampir mikir kamu sudah lupa sama kawan lama.""Mana mungkin saya lupa sama orang yang pernah banyak bantu saya?"Richard terkekeh pelan di seberang sana. "So, ada angin apa nih mendadak nelepon?"Mahesa menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Saya cuma butuh masukan kamu.""Soal apa?""Konsep acara TV baru."Sembari berbicara, jemari Mahesa lincah melayangkan berkas konsep tersebut lewat surat elektronik. Detik berikutnya, terdengar klak-klik ketukan keyboard dan j

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 31. Takdir dan Ambisi

    Sementara itu di ruang kerjanya, Mahesa masih bergelut dengan satu teka-teki yang belum menemukan titik terang.Konsep acara itu memang sudah aman di tangannya. Namun, mengeksekusinya di lapangan adalah urusan yang sangat berbeda. Ia sadar betul, format unik ini butuh sentuhan dingin dari seseorang yang benar-benar paham seluk-beluk industri penyiaran Jepang.Dan cuma ada satu nama yang melintas di kepalanya: Kenzo.Mahesa mengembuskan napas panjang. Mustahil, pikirnya. Mana mungkin ia menurunkan gengsi dan merangkul orang yang justru paling ingin ia singkirkan?Di tempat lain, suasana kantor NTV perlahan kembali kondusif.Gara-gara insiden raibnya berkas kemarin, sistem keamanan internal langsung dirombak total. Akses data dibatasi ketat dan seluruh alur kerja dievaluasi ulang dari nol.Saat jam makan siang tiba, Kenzo mencolek lengan Halim. "Om, ikut Kenzo sebentar yuk.""Mau ke mana lagi, sih?" gerutu Halim malas. "Om sudah lapar ini.""Bentar doang, Om. Penting."Meski bibirnya te

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status