首頁 / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 4. Secercah Harapan

分享

Bab 4. Secercah Harapan

作者: Elsa Mahesa
last update publish date: 2026-07-14 19:01:13

"Iya, Pa. Kenzo juga sudah bilang ke Om Halim kalau mau dicoba dulu. Kalau memang tidak bisa, ya tinggal balik lagi ke Jepang," jawab Kenzo santai, sengaja melirik jahil ke arah Halim yang duduk tepat di depannya.

Halim hanya bisa memasang wajah masam melihat tingkah keponakannya itu.

Dari seberang telepon, suara sang ayah kembali terdengar serius.

"Apa pun pekerjaan yang kamu pilih, entah itu komentator atau news anchor, lakukan dengan sungguh-sungguh. Berikan yang terbaik."

Wejangan itu membuat senyum Halim perlahan mengembang. Ia melirik Kenzo dengan tatapan penuh kemenangan, sementara Kenzo hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Kini, ia tak lagi memiliki alasan untuk menghindari permintaan pamannya itu.

Setelah mendapatkan restu dari sang ayah, hari itu Halim dan Kenzo akhirnya kembali ke Jakarta. Butuh waktu dan perbincangan yang cukup panjang hingga Kenzo benar-benar bersedia berkemas dan meninggalkan kehidupannya di Jepang.

Mobil mereka memasuki kawasan perumahan elitis yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Rumah Halim berdiri paling megah di ujung jalan, dengan arsitektur bersih dan halaman yang tertata rapi.

Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Halim menepuk bahu Kenzo pelan. “Kamu sebaiknya langsung istirahat dulu, Ken. Kamarmu di atas sudah disiapkan."

Kenzo berjalan menuju undakan tangga, namun mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik dengan tatapan penuh selidik. “Om, calon bos-nya, galak nggak?”

"Kenapa? " Halim tertawa ringan melihat gelagat keponakannya. "Kamu sudah ciut duluan?”

“Takut sih nggak,” sahut Kenzo santai sambil menyampirkan jaketnya di lengan. “Cuma penasaran saja, calon bosku. Laki-laki apa—”

"Perempuan." Jawab Halim cepat. "Masih muda, cantik lagi.”

"Serius, Om?" Kenzo terlihat penasaran. "Secantik itu?”

Halim hanya memgaggukan kepalannya pelan, mata Kenzo seketika berbinar dan senyumnya langsung melebar jail.

“Wah, mantap kalau begitu. Jodoh memang nggak ke mana.”

Halim tidak membiarkan harapan kosong keponakannya itu tumbuh lebih jauh. “Dia sudah bersuami, Ken. Suaminya juga orang industri televisi. Jadi... jangan macam-macam.”

Detik itu juga, wajah Kenzo langsung berubah lesu. “Astaga... kenapa tidak bilang dari tadi, sih, Om?"

Kenzo langsung mengentakkan kakinya naik ke lantai atas dan menutup pintu kamarnya dengan wajah masam. Halim hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, menyisakan senyum geli di sudut bibirnya.

Di saat Halim berhasil membawa Kenzo ke Jakarta, di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit, kondisi kesehatan Ellena justru menunjukkan penurunan yang cukup drastis.

Seharusnya, hari itu menjadi jadwal kepulangannya. Berkas administrasi bahkan sudah disiapkan di meja perawat. Namun, sebelum memberikan izin, dokter memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan karena merasa kondisi fisik pasiennya belum cukup stabil.

Beberapa saat kemudian, dokter kembali memasuki ruang rawat VIP dengan membawa map hasil pemeriksaan. Raut wajahnya tampak jauh lebih serius dari biasanya.

"Bu Ellena, saya rasa rencana kepulangan Anda hari ini harus ditunda dulu," ucap dokter tersebut membuka pembicaraan.

Ellena yang sejak tadi sudah bersiap untuk pulang langsung mengangkat wajahnya dengan bingung. "Ditunda? Kenapa, Dok?"

Dokter itu meletakkan map hasil pemeriksaan di atas meja nakas. "Hasil pemeriksaan menunjukkan Anda mengalami gastritis akut. Peradangan pada lambung sudah tergolong cukup berat. Penyebab utamanya kemungkinan besar akumulasi dari stres berkepanjangan, pola makan yang tidak teratur, serta kelelahan fisik yang terus menumpuk."

Suasana ruangan mendadak sunyi.

Dokter kembali melanjutkan dengan nada tegas, "Kalau kondisi ini terus dipaksakan, peradangannya bisa merembet ke level yang lebih serius. Saya khawatir akan muncul komplikasi seperti tukak lambung atau bahkan risiko perdarahan. Untuk sementara waktu, Anda harus tetap menjalani perawatan intensif dan benar-benar beristirahat total."

Mahesa menoleh ke arah istrinya. Wajah Ellena tampak begitu pucat dan lesu. Hatinya merasa sesak melihat wanita yang paling dicintainya itu harus terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.

Ia meraih jemari Ellena perlahan, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. "Sayang, please... jangan terlalu stres, ya. Aku mohon, biar kamu cepat sembuh."

Ellena hanya bisa menatap mata suaminya tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun; energinya sudah habis terserap oleh rasa sakit di perutnya.

Di balik tatapan penuh kekhawatiran yang ia tunjukkan, Mahesa memang benar-benar takut jika sampai harus kehilangan Ellena. Namun jauh di sudut hatinya yang gelap, ia juga sangat sadar akan satu hal: selama stasiun televisi NTV terus berada di ambang kehancuran, Ellena akan semakin bergantung padanya.

Dan bagi Mahesa, ketergantungan itu adalah senjata utama yang tidak boleh hilang sedikit pun.

Ellena terpaksa harus kembali menjalani perawatan rumah sakit untuk beberapa hari ke depan. Dokter bahkan memberikan larangan keras bagi Ellena untuk tidak menyentuh pekerjaan apa pun sebelum kondisi fisiknya benar-benar dinyatakan stabil.

Sementara itu, Mahesa tampak sibuk mengurus seluruh kelengkapan administrasi rawat inap istrinya. Setelah semua urusan berkas beres, Mahesa masih menyempatkan diri untuk berbincang serius dengan dokter spesialis di ruang konsultasi, mendiskusikan penanganan terbaik untuk Ellena.

Di dalam kamar rawat VIP yang luas, Ellena kini hanya seorang diri.

Keheningan kamar yang semula menenangkan itu mendadak terusik oleh suara dering dari ponselnya.

Ellena menolehkan pelan. Benda itu ternyata tergeletak di atas sofa, posisinya cukup jauh dari jangkauan tempat tidur. Awalnya ia berniat menekan tombol panggilan darurat untuk meminta bantuan suster. Namun, melihat ruangan yang sepi, Ellena akhirnya memutuskan untuk turun dari ranjang sendiri.

Dengan langkah lambat dan penuh kehati-hatian, sebelah tangannya mencengkeram erat tiang infus, ia menyeret kakinya mendekati sofa. Begitu jemarinya berhasil meraih ponsel tersebut, ia langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu.

"Iya, Halim. Ada apa, nelpon?" tanya Ellena dengan nada suara yang terdengar amat lemas.

"Kabar baik, Bu!" sahut Halim di seberang dengan nada suara penuh semangat. "Saya baru saja menemukan orang yang sangat pas dan potensial untuk menyelamatkan rating stasiun TV kita!"

Ellena refleks memejamkan matanya rapat-rapat. Mendengar kata 'kantor' dan 'rating' seketika membuat kepalanya kembali berdenyut nyeri.

"Halim, maaf ya... untuk saat ini saya benar-benar tidak ingin membahas urusan pekerjaan dulu. Tolong, kita bicarakan lagi nanti saja," potong Ellena pelan namun sarat akan kelelahan.

Ellena langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak. Ia mengembuskan napas panjang yang terasa sesak. Tubuhnya benar-benar menjerit meminta istirahat saat ini.

Namun, baru saja ia hendak meletakkan kembali ponselnya, layar perangkat itu kembali berkedip menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Halim.

Ellena mengernyitkan dahi dengan sisa-sisa kesabaran yang ada. Rupanya Halim baru saja mengirimkan sebuah dokumen digital lampiran CV.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 36. Mental di Balik Kamera

    Rafasya berjuang setengah mati mempertahankan fokusnya."Selamat malam, pemirsa. Berikut informasi prakiraan cuaca untuk sejumlah wilayah di Indonesia..."Suaranya masih terdengar stabil. Namun, tiap kali tangannya terangkat menunjuk ikon cuaca di layar, foto wajah konyolnya sendiri seolah ikut "menyambut" pergerakan tangannya.Gumam tawa kecil mulai samar-samar terdengar dari bangku penonton.Rafasya menarik napas dalam-dalam, berusaha keras abai. Tatapannya kembali mengunci lensa kamera utama."...wilayah Jakarta diprakirakan cerah berawan sejak pagi hingga sore hari..."Ia nyaris berhasil melewatinya.Namun, tepat saat tangannya kembali mengarah ke layar, salah satu foto konyolnya mendadak membesar drastis dengan ekspresi menjulurkan lidah yang sangat absurd.Sudut bibir Rafasya bergetar hebat. Ia menggigit bibir dalamnya sekuat tenaga, mencoba menahan dorongan tawa yang membendung di tenggorokan.Sayangnya... benteng pertahanannya jebol.Sebuah tawa kecil akhirnya lolos begitu saj

  • Obsesi Gila Suamiku   Ujian Fokus

    Satu minggu berlalu.Ajang NTV News Anchor Search resmi menginjak babak eliminasi yang paling mendebarkan.Selama tujuh hari penuh, tiga puluh enam peserta telah dibabat habis lewat serangkaian ujian berat yang menguras fisik, mental, dan konsistensi mereka di depan kamera. Satu per satu gugur dan harus mengubur mimpinya di panggung ini.Kini, tersisa delapan peserta terbaik yang berhasil bertahan.Di balik panggung, kedelapan finalis sudah berbaris di posisinya masing-masing.Lorong sempit itu diterangi sorot lampu putih benderang, memantulkan deretan wajah yang mati-matian menyembunyikan rasa gugup, meski detak jantung mereka terpacu kencang.Ada yang memejamkan mata rapat-rapat sembari mengatur napas, ada yang sibuk merapikan kerah jas untuk kesekian kalinya, dan tak seorang pun bersuara.Sebab mereka paham betul... di babak inilah tempat mereka di balik meja berita utama dipertaruhkan."Peserta pertama, standby di posisi!" Suara tegas Floor Director bergema melalui pengeras suara

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 34. Gerbang Para News Anchor

    Lampu indikator merah di atas pintu ruang kontrol seketika menyala terang.Seluruh kru di dalam ruangan langsung bergerak sigap mengikuti komando."Kamera satu, standby!""Kamera dua, ambil wide shot penonton!""Opening VT... play!"Di deretan layar monitor, video pembuka berdurasi tiga puluh detik mulai meluncur. Cuplikan atmosfer ruang redaksi yang sibuk, kesibukan reporter di medan banjir, hingga gemerlap lampu studio berganti kilat dengan iringan musik bertempo cepat yang memacu adrenalin.Sesaat kemudian...Visual beralih ke panggung utama. Tepuk tangan riuh langsung membahana memenuhi studio.Dua presenter kondang melangkah anggun ke tengah panggung, mengumbar senyum profesional ke arah kamera."Selamat datang di NTV News Anchor Search!""Untuk pertama kalinya, NTV membuka ruang seluas-luasnya bagi talenta muda terbaik bangsa untuk menjadi ikon baru di dunia jurnalisme televisi."Kamera bergerak mulus menyorot jajaran peserta yang duduk rapi dalam balutan busana formal. Wajah-wa

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 33. Start Pertarungan

    Keesokan paginya...Mahesa sengaja datang jauh lebih awal ke kantor ALTV.Begitu menyelesaikan beberapa dokumen mendesak, ia langsung masuk ke ruang kerjanya. Laptop di atas meja sudah disambungkan ke layar monitor besar untuk virtual meeting pagi ini.Tak butuh waktu lama, layar monitor mulai menyala.Wajah Richard muncul pertama kali di layar."Selamat pagi, Mahesa.""Pagi, Richard.""Michael sebentar lagi masuk," ucap Richard sembari mengecek koneksinya.Mahesa mengangguk singkat.Beberapa detik berselang, layar kembali berkedip memperlihatkan frame baru. Seorang pria paruh baya berwajah tegas muncul. Rambutnya yang mulai memutih justru makin memperkuat aura karismatiknya. Di latar belakang ruangan Michael, terpampang logo timbul sebuah jaringan televisi raksasa ternama di Amerika.Richard langsung memandu perkenalan. "Mahesa, kenalkan ini Michael Carter. Salah satu petinggi sekaligus Executive Producer di jaringan TV kami."Mahesa mengulas senyum tipis. "Pleasure to finally meet y

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 32. Satu Konsep, Dua Strategi

    Perlahan, sudut bibir Mahesa terangkat tipis. Sebuah rencana baru langsung tersusun rapi di kepalanya.Ia merogoh ponsel, lalu menggeser layar mencari satu nama yang sudah cukup lama tersimpan di daftar kontaknya. Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil.Tak butuh waktu lama, sambungan telepon itu terhubung."Hello?" Suara berat seorang pria dengan aksen Amerika kental terdengar dari seberang.Mahesa tersenyum miring. "Good evening, Richard.""Mahesa?" Nada suara Richard terdengar agak terkejut. "Long time no see, Man! Aku hampir mikir kamu sudah lupa sama kawan lama.""Mana mungkin saya lupa sama orang yang pernah banyak bantu saya?"Richard terkekeh pelan di seberang sana. "So, ada angin apa nih mendadak nelepon?"Mahesa menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Saya cuma butuh masukan kamu.""Soal apa?""Konsep acara TV baru."Sembari berbicara, jemari Mahesa lincah melayangkan berkas konsep tersebut lewat surat elektronik. Detik berikutnya, terdengar klak-klik ketukan keyboard dan j

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 31. Takdir dan Ambisi

    Sementara itu di ruang kerjanya, Mahesa masih bergelut dengan satu teka-teki yang belum menemukan titik terang.Konsep acara itu memang sudah aman di tangannya. Namun, mengeksekusinya di lapangan adalah urusan yang sangat berbeda. Ia sadar betul, format unik ini butuh sentuhan dingin dari seseorang yang benar-benar paham seluk-beluk industri penyiaran Jepang.Dan cuma ada satu nama yang melintas di kepalanya: Kenzo.Mahesa mengembuskan napas panjang. Mustahil, pikirnya. Mana mungkin ia menurunkan gengsi dan merangkul orang yang justru paling ingin ia singkirkan?Di tempat lain, suasana kantor NTV perlahan kembali kondusif.Gara-gara insiden raibnya berkas kemarin, sistem keamanan internal langsung dirombak total. Akses data dibatasi ketat dan seluruh alur kerja dievaluasi ulang dari nol.Saat jam makan siang tiba, Kenzo mencolek lengan Halim. "Om, ikut Kenzo sebentar yuk.""Mau ke mana lagi, sih?" gerutu Halim malas. "Om sudah lapar ini.""Bentar doang, Om. Penting."Meski bibirnya te

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status