MAS IT & MBAK SECRETARY

MAS IT & MBAK SECRETARY

last updateÚltima actualización : 2026-07-22
Por:  TifanyPujiLestariActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
No hay suficientes calificaciones
7Capítulos
5vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Erina menjadi sekretaris di kantor Tantenya untuk menghindari karir pilihan sang Ayah. Namun sikapnya yang genit membuat dia tertantang ketika berhadapan dengan Akmal, seorang staf IT yang terkenal super cuek. Bukan Erina namanya kalau pantang menyerah! Bagaimana usaha Erina mendapatkan perhatian Akmal? Apakah Erina akan tetap menerima Akmal, ketika dia mengetahui rahasia terbesar lelaki itu?

Ver más

Capítulo 1

Bab 1: Fenomena Erina

"Erin nanti balik jam berapa?"

Gerald menghampiri Erina yang sedang menyeduh kopi sachet di pantri lantai satu. Lelaki bertubuh gempal itu berkali-kali menggaruk pergelangan tangannya sendiri.

"Kenapa?" Suara serak khas Erina menjawab.

Gadis itu menoleh padanya. Rambut tebal sepanjang pinggang itu bergerak lambat. Bulu mata yang lentik, bibir tebal yang merah, kemeja ketat pas badan, setelah berhasil menyadarkan diri dari pesona Erina, Gerald pun menelan ludah.

Erina Valerie memang sudah menjadi fenomena tersendiri di Ang Siwa Learning Center. Kecantikan yang cenderung sensual sungguh kontras dengan tampilan monokrom karyawan lain.

“Gue lihat di I*******m, lo suka visit ke Mighty Club ya?” Semalaman Gerald menelusuri postingan Erina. Berkali-kali zoom di beberapa foto bikini gadis itu dan mengusap keringat di dahinya sambil berpikiran macam-macam.

Erina menyeruput kopinya. Matanya menyipit memperhatikan Gerald yang terus menghindari kontak mata. “Lumayan suka.”

“Ada event seru Er. Gue punya voucher yang bisa dituker ke empat minuman. Mau ikut?”

Erina meletakkan gelas kopinya ke meja, bersidekap sambil tersenyum kecil. “Itu agak jauh sih. Kalau balik kemaleman biasanya gue staycation di sekitar situ.”

Sebelah alis Gerald naik. Bunyi ‘ting’ seolah muncul di otaknya seperti dia baru saja mendapatkan lampu hijau terang untuk usaha mendekati bidadari kantor ini.

“Gue juga. Gue biasa ke Ambika Hotel deket terminal.”

Tanpa diduga Erina malah menyemburkan tawa. Ia menggeleng-geleng sampai memegangi perutnya seolah jawaban Gerald lucu sekali.

“Lo gak suka?”

“Sorry banget ya Ger, gue gak pernah kebayang akan nginjekkin kaki gue di hotel tanpa bintang kayak gitu.”

Sebuah bom seakan meledak di dada Gerald. Senyumnya lenyap, kedua tangannya terkulai.

“Ternyata lo semiskin itu Ger? Murah banget seleranya.” Nada suara Erina merendah. Ucapan itu jadi semakin menusuk ke tengah dadanya.

Perempuan sialan!

Muka Gerald memerah, hampir saja dia mengeluarkan asap dari hidung dan telinganya. Namun lelaki itu memutuskan melangkah keluar dari pantri.

Esok paginya, gosip baru menyebar.

Kali ini bukan soal kehidupan malam Erina, melainkan betapa sombongnya perempuan itu.

Berbulan-bulan bekerja di sini, ia sudah terbiasa melihat bagaimana orang bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Perempuan-perempuan yang tersenyum ramah di hadapannya adalah orang yang sama yang paling semangat membahas keburukannya ketika dia pergi.

"Erin."

Suara Bu Berta menghentikan lamunannya.

Wanita berusia akhir empat puluhan itu kelihatan imut dengan blazer kebesaran. Ia masuk ke ruangan sambil berjalan cepat. Poninya nyaris mencolok mata.

"Mana proyek yang kamu janjikan? Dari Januari sampai September belum ada perkembangan sama sekali. Kamu tuh diterima kerja di sini bukan buat jadi sumber gosip tau!"

Erina memutar kursinya menghadap tantenya.

"Tenang Tante, sebelum 2022 selesai project Erin pasti rampung kok." Tentu saja itu cuma kalimat penenang. Faktanya Erina bahkan belum tahu mau melakukan apa. Dia terpaksa memilih pekerjaan ini daripada jadi direktur di pabrik makanan kaleng milik Pak Rudolf, ayah tirinya.

“Tinggal empat bulan lagi loh, Er. Stop main-main!” Tatapan tajam Bu Berta turun ke arah rok span mini yang dipakai keponakannya. "Ini juga. Sampai sakit kuping Tante denger omongan soal pakaian kamu."

Erina malah memutar matanya, menunjukkan ketidakpedulian yang sangat jelas.

“Gak ada yang tau Tante itu adiknya Pak Rudolf. Kalau kamu gak mau dicurigain sebagai keponakan Tante, coba deh jangan mencolok!”

“Tanteku sayaaang, bunga mawar mau ditempatkan di mana pun pasti harum mawar. Bukan salah Erin dong kalau Erin emang jadi distraksi di kantor yang ngebosenin ini?”

“Oke.” Tantenya mengangguk lalu bersidekap angkuh. “Kita lihat akhir tahun ini, apakah kamu masih bisa senyum-senyum nanti.”

“Project aku akan mengguncangkan dunia. Tante gak usah khawatir,” kata Erina dramatis. Senyum tengil gadis itu menimbulkan ribuan kata omelan di otak Bu Berta.

Namun wanita itu memilih menghentakkan kakinya keras sebelum berjalan keluar ruangan. Seperti layaknya bos menyebalkan, dia pergi begitu saja tanpa menutup pintunya kembali.

“Gitu tuh kelakuan direktur hasil giveaway. Masih mending gue berjuang dari nol di sini,” ucap Erina ke dirinya sendiri.

Erina mengembuskan napas panjang, bersandar ke kursi, memutar pulpen di jarinya, yang malah membuat tutup pulpen itu terlempar masuk ke dalam kemejanya. Tangan Erina merogoh ke bagian tengah dadanya. Ia fokus pada jemarinya yang berusaha merasakan keberadaan ujung pulpen.

“Astaga.” Suara seorang lelaki membuat mata Erina membulat melihat ke arah pintu.

Lelaki jangkung itu mundur selangkah. Dia kelihatan asing. Bahunya lebar, kemeja merah lengan panjangnya tergulung sampai siku. Tangan kanannya menutup mata, tangan kirinya memegang kardus kecil.

“Gila ya lo? Ketuk dulu kek!” Erina buru-buru mengambil tutup pulpen dari tengah dadanya. Ia kembali merapikan kemejanya.

“Pintunya kebuka kali!” balas lelaki itu dengan nada tinggi.

“Itu kan masih bisa lo ketuk. Dasar gak sopan!”

“Lo mau gak mouse-nya? Dari minggu kemarin bawel banget lo pengen mouse baru.”

Erina melirik ke mouse di mejanya. Jenis mouse murah yang suaranya terlalu keras. Dia memang minta penggantian dari minggu lalu.

“Lama banget, Mas, prosesnya. Lebih cepet pencairan pinjol.”

“Wow, seorang anak Rudolf Handani, chef ternama Asia Tenggara, bisa-bisanya ya tau pinjol? Make lo?”

“Eh!” Muka Erina memanas. Walau dia melotot, dia kehabisan kata-kata.

"Mas Akmal!"

Teriakan dari ruang tengah membuat lelaki itu menoleh keluar. Sambil menunduk, dia meletakkan mouse ke meja gadis itu. Tanpa bicara lagi dia berjalan cepat ke luar. Sedetik kemudian dia kembali untuk menutup pintu Erina.

Jadi itu yang namanya Akmal.

Nama itu hampir setiap hari terdengar di lantai tiga. Dia staf IT yang paling rajin bantu sana-sini. Di antara banyak lelaki yang berusaha mengintip dadanya, Akmal malah menutup mata. Akmal juga menyempatkan untuk menutup pintunya walau dia sudah dipanggil.

Sesak emosi Erina mendadak reda.

“Unik juga lo.” Matanya berbinar. Ia memegang kardus mouse sambil tersenyum. Sebuah senyum tulus pertamanya setelah berbulan-bulan.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
7 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status