INICIAR SESIÓNErina menjadi sekretaris di kantor Tantenya untuk menghindari karir pilihan sang Ayah. Namun sikapnya yang genit membuat dia tertantang ketika berhadapan dengan Akmal, seorang staf IT yang terkenal super cuek. Bukan Erina namanya kalau pantang menyerah! Bagaimana usaha Erina mendapatkan perhatian Akmal? Apakah Erina akan tetap menerima Akmal, ketika dia mengetahui rahasia terbesar lelaki itu?
Ver más"Erin nanti balik jam berapa?"
Gerald menghampiri Erina yang sedang menyeduh kopi sachet di pantri lantai satu. Lelaki bertubuh gempal itu berkali-kali menggaruk pergelangan tangannya sendiri.
"Kenapa?" Suara serak khas Erina menjawab.
Gadis itu menoleh padanya. Rambut tebal sepanjang pinggang itu bergerak lambat. Bulu mata yang lentik, bibir tebal yang merah, kemeja ketat pas badan, setelah berhasil menyadarkan diri dari pesona Erina, Gerald pun menelan ludah.
Erina Valerie memang sudah menjadi fenomena tersendiri di Ang Siwa Learning Center. Kecantikan yang cenderung sensual sungguh kontras dengan tampilan monokrom karyawan lain.
“Gue lihat di I*******m, lo suka visit ke Mighty Club ya?” Semalaman Gerald menelusuri postingan Erina. Berkali-kali zoom di beberapa foto bikini gadis itu dan mengusap keringat di dahinya sambil berpikiran macam-macam.
Erina menyeruput kopinya. Matanya menyipit memperhatikan Gerald yang terus menghindari kontak mata. “Lumayan suka.”
“Ada event seru Er. Gue punya voucher yang bisa dituker ke empat minuman. Mau ikut?”
Erina meletakkan gelas kopinya ke meja, bersidekap sambil tersenyum kecil. “Itu agak jauh sih. Kalau balik kemaleman biasanya gue staycation di sekitar situ.”
Sebelah alis Gerald naik. Bunyi ‘ting’ seolah muncul di otaknya seperti dia baru saja mendapatkan lampu hijau terang untuk usaha mendekati bidadari kantor ini.
“Gue juga. Gue biasa ke Ambika Hotel deket terminal.”
Tanpa diduga Erina malah menyemburkan tawa. Ia menggeleng-geleng sampai memegangi perutnya seolah jawaban Gerald lucu sekali.
“Lo gak suka?”
“Sorry banget ya Ger, gue gak pernah kebayang akan nginjekkin kaki gue di hotel tanpa bintang kayak gitu.”
Sebuah bom seakan meledak di dada Gerald. Senyumnya lenyap, kedua tangannya terkulai.
“Ternyata lo semiskin itu Ger? Murah banget seleranya.” Nada suara Erina merendah. Ucapan itu jadi semakin menusuk ke tengah dadanya.
Perempuan sialan!
Muka Gerald memerah, hampir saja dia mengeluarkan asap dari hidung dan telinganya. Namun lelaki itu memutuskan melangkah keluar dari pantri.
Esok paginya, gosip baru menyebar.
Kali ini bukan soal kehidupan malam Erina, melainkan betapa sombongnya perempuan itu.
Berbulan-bulan bekerja di sini, ia sudah terbiasa melihat bagaimana orang bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Perempuan-perempuan yang tersenyum ramah di hadapannya adalah orang yang sama yang paling semangat membahas keburukannya ketika dia pergi.
"Erin."
Suara Bu Berta menghentikan lamunannya.
Wanita berusia akhir empat puluhan itu kelihatan imut dengan blazer kebesaran. Ia masuk ke ruangan sambil berjalan cepat. Poninya nyaris mencolok mata.
"Mana proyek yang kamu janjikan? Dari Januari sampai September belum ada perkembangan sama sekali. Kamu tuh diterima kerja di sini bukan buat jadi sumber gosip tau!"
Erina memutar kursinya menghadap tantenya.
"Tenang Tante, sebelum 2022 selesai project Erin pasti rampung kok." Tentu saja itu cuma kalimat penenang. Faktanya Erina bahkan belum tahu mau melakukan apa. Dia terpaksa memilih pekerjaan ini daripada jadi direktur di pabrik makanan kaleng milik Pak Rudolf, ayah tirinya.
“Tinggal empat bulan lagi loh, Er. Stop main-main!” Tatapan tajam Bu Berta turun ke arah rok span mini yang dipakai keponakannya. "Ini juga. Sampai sakit kuping Tante denger omongan soal pakaian kamu."
Erina malah memutar matanya, menunjukkan ketidakpedulian yang sangat jelas.
“Gak ada yang tau Tante itu adiknya Pak Rudolf. Kalau kamu gak mau dicurigain sebagai keponakan Tante, coba deh jangan mencolok!”
“Tanteku sayaaang, bunga mawar mau ditempatkan di mana pun pasti harum mawar. Bukan salah Erin dong kalau Erin emang jadi distraksi di kantor yang ngebosenin ini?”
“Oke.” Tantenya mengangguk lalu bersidekap angkuh. “Kita lihat akhir tahun ini, apakah kamu masih bisa senyum-senyum nanti.”
“Project aku akan mengguncangkan dunia. Tante gak usah khawatir,” kata Erina dramatis. Senyum tengil gadis itu menimbulkan ribuan kata omelan di otak Bu Berta.
Namun wanita itu memilih menghentakkan kakinya keras sebelum berjalan keluar ruangan. Seperti layaknya bos menyebalkan, dia pergi begitu saja tanpa menutup pintunya kembali.
“Gitu tuh kelakuan direktur hasil giveaway. Masih mending gue berjuang dari nol di sini,” ucap Erina ke dirinya sendiri.
Erina mengembuskan napas panjang, bersandar ke kursi, memutar pulpen di jarinya, yang malah membuat tutup pulpen itu terlempar masuk ke dalam kemejanya. Tangan Erina merogoh ke bagian tengah dadanya. Ia fokus pada jemarinya yang berusaha merasakan keberadaan ujung pulpen.
“Astaga.” Suara seorang lelaki membuat mata Erina membulat melihat ke arah pintu.
Lelaki jangkung itu mundur selangkah. Dia kelihatan asing. Bahunya lebar, kemeja merah lengan panjangnya tergulung sampai siku. Tangan kanannya menutup mata, tangan kirinya memegang kardus kecil.
“Gila ya lo? Ketuk dulu kek!” Erina buru-buru mengambil tutup pulpen dari tengah dadanya. Ia kembali merapikan kemejanya.
“Pintunya kebuka kali!” balas lelaki itu dengan nada tinggi.
“Itu kan masih bisa lo ketuk. Dasar gak sopan!”
“Lo mau gak mouse-nya? Dari minggu kemarin bawel banget lo pengen mouse baru.”
Erina melirik ke mouse di mejanya. Jenis mouse murah yang suaranya terlalu keras. Dia memang minta penggantian dari minggu lalu.
“Lama banget, Mas, prosesnya. Lebih cepet pencairan pinjol.”
“Wow, seorang anak Rudolf Handani, chef ternama Asia Tenggara, bisa-bisanya ya tau pinjol? Make lo?”
“Eh!” Muka Erina memanas. Walau dia melotot, dia kehabisan kata-kata.
"Mas Akmal!"
Teriakan dari ruang tengah membuat lelaki itu menoleh keluar. Sambil menunduk, dia meletakkan mouse ke meja gadis itu. Tanpa bicara lagi dia berjalan cepat ke luar. Sedetik kemudian dia kembali untuk menutup pintu Erina.
Jadi itu yang namanya Akmal.
Nama itu hampir setiap hari terdengar di lantai tiga. Dia staf IT yang paling rajin bantu sana-sini. Di antara banyak lelaki yang berusaha mengintip dadanya, Akmal malah menutup mata. Akmal juga menyempatkan untuk menutup pintunya walau dia sudah dipanggil.
Sesak emosi Erina mendadak reda.
“Unik juga lo.” Matanya berbinar. Ia memegang kardus mouse sambil tersenyum. Sebuah senyum tulus pertamanya setelah berbulan-bulan.
"Mari kita deketin cowok itu."Erina membisikkan kalimat tersebut pada bayangannya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kantor sepi, hanya suara langkah Akmal yang sesekali terdengar naik turun tangga.Dalam proses menunggu, Erina mulai ragu.Kok dia harus sampai segininya hanya untuk mendapatkan perhatian seorang lelaki? Biasanya satu kedipan saja sudah cukup membuat lelaki rela diseret ke kasur. Jangan-jangan semesta sedang memberitahunya bahwa Akmal memang tidak layak diperjuangkan.Ah, sudahlah.Semuanya harus dibuktikan terlebih dahulu.Erina berdiri dari kursinya lalu memeriksa penampilannya melalui pantulan monitor yang sudah mati. Dia mengenakan kemeja floral berlengan panjang dan rok merah gelap yang nyaris ungu. Kebetulan, warna kemeja Akmal hari itu hampir senada dengan roknya.Bisa jadi pertanda mereka memang serasi.Selalu ada kemungkinan.Erina berkaca melalui layar iPhone 13 pro max miliknya. Riasannya masih bagus, bulu mata ekstensi tetap rapi,
"Pantri untuk apa?" seru Bu Berta."Makan, Bu ... " jawab semuanya serentak.Erina juga ikut menjawab. Dia menunduk sok patuh. Padahal dalam hatinya ngakak, karena dia tahu tantenya itu penggila sambal terasi. Jangan-jangan, dia ngamuk mencium sambal terasi di area kantor karena tidak ditawari."Kantor untuk apa?""Bekerja, Bu.""Kalau makan di mana?""Di pantri, Bu.""Kalian mau ulangi seperti ini gak?""Tidak, Bu."Bu Berta memperhatikan wajah karyawan-karyawannya seolah bisa membaca ekspresi siapa yang kurang meyakinkan. Namun akhirnya ia mengangguk, "Erina dan Kia, buat klasifikasi makanan yang diperbolehkan dimakan di area kerja dan yang tidak. Saya tunggu laporannya hari ini.""Baik, Bu," Erina dan Kia menjawab hampir bersamaan."Xavier, tolong pantau lantai dua. Pastikan gak ada yang mukbang juga di studio."Lelaki sipit berkacamata itu mengangguk patuh, "siap, Bu.""Silakan kembali bekerja." Bu Berta kemudian menuju tangga turun, disusul Xavier yang selalu jadi buntutnya.Erin
“Lo lagi bikin sekte, Mas?”Mata Erina menatap tajam ke Akmal. Mereka berdua berdiri di depan pintu studio enam lantai dua yang terbuka. Studio itu dibilang kosong karena memang tak digunakan untuk shooting keperluan e-learning perusahaan edukasi ini. Namun Erina tak menyangka ajakan Akmal adalah untuk meeting bersama tim IT enam orang yang semuanya lelaki.“Itu anggota sekte pengabdi Erina katanya. Buruan masuk, mereka butuh bantuan susun proposal pengajuan tambahan manpower ke Bu Berta,” jawab Akmal datar.“Emang urusan gue? Penambahan karyawan tuh urusan Mbak Kia.” Erina melirik ke para lelaki yang sudah senyum-senyum menunggunya.“Kia aja angkat tangan. Cuma lo yang diharapkan bisa bujuk Bu Berta. Lo kan karyawan kesayangannya.”Hanya karena Erina tak terlihat sibuk dan punya ruangan sendiri, itulah yang orang pikirkan. Tak ada yang tahu bahwa ini karena Erina memang punya ikatan keluarga dengan Bu Berta.“Gak mau! Masa gue cewek sendiri?” bisik Erina kesal.“Ya gimana lagi? Ini m
"Aduh, si Non ...."Malam hari di tengah kompleks perumahan mewah, sopir berseragam hitam-hitam itu kelimpungan. Badan kecilnya agak susah kalau harus membopong tubuh Erina.Dia menelepon Nathan, adik Erina. Yang harusnya malam ini menemani Erina, tapi memutuskan berduaan bersama pacarnya di rumah mumpung kedua orang tua mereka sedang staycation di Bogor.Pemuda itu masih mengucek-ngucek mata waktu melihat kakaknya dibiarkan tergeletak."Padahal masukin aja, Pak.""Ah, gak berani, Mas."Nathan berjongkok, menepuk-nepuk pipi kakaknya. "Kak Erin! Bangun dong! Lo janji loh gak keterlaluan mabuknya. Heh!"Dengan sekali guncangan di bahu, gadis itu membuka mata. Dia menyingkirkan rambut tebalnya yang menghalangi pandangan. Saat melihat Nathan, dia tersenyum lebar. “Dikit kok, Nate.""Tai lah, ganggu aja. Ayo bangun!"Dari halaman luas keluarga Rudolf yang bisa menampung enam mobil, mereka masuk ke ruang tengah raksasa dengan lampu kuning menggantung tinggi dari lantai tiga. Harum kayu dan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.