/ Romansa / MAS IT & MBAK SECRETARY / Bab 6: Si Rajin Erina

공유

Bab 6: Si Rajin Erina

last update 게시일: 2026-07-21 11:10:51

"Pantri untuk apa?" seru Bu Berta.

"Makan, Bu ... " jawab semuanya serentak.

Erina juga ikut menjawab. Dia menunduk sok patuh. Padahal dalam hatinya ngakak, karena dia tahu tantenya itu penggila sambal terasi. Jangan-jangan, dia ngamuk mencium sambal terasi di area kantor karena tidak ditawari.

"Kantor untuk apa?"

"Bekerja, Bu."

"Kalau makan di mana?"

"Di pantri, Bu."

"Kalian mau ulangi seperti ini gak?"

"Tidak, Bu."

Bu Berta memperhatikan wajah karyawan-karyawannya seolah bisa membaca ekspresi siapa yang kurang meyakinkan. Namun akhirnya ia mengangguk, "Erina dan Kia, buat klasifikasi makanan yang diperbolehkan dimakan di area kerja dan yang tidak. Saya tunggu laporannya hari ini."

"Baik, Bu," Erina dan Kia menjawab hampir bersamaan.

"Xavier, tolong pantau lantai dua. Pastikan gak ada yang mukbang juga di studio."

Lelaki sipit berkacamata itu mengangguk patuh, "siap, Bu."

"Silakan kembali bekerja." Bu Berta kemudian menuju tangga turun, disusul Xavier yang selalu jadi buntutnya.

Erina masih berdiri di depan ruangan. Sudut matanya melirik ke Akmal yang sedang merapikan meja kerjanya. Dia melipat-lipat kertas dan meletakkan benda itu ke samping kiri. Kertas apa ya itu?

"Mbak Erina!" Kia memanggil.

Erina maju beberapa langkah hingga tepat di depan meja Akmal. Dia menunggu Kia yang menghampirinya sambil masih memperhatikan Akmal dari sudut matanya.

"Mbak Erin, maaf banget," Kia membenarkan kacamatanya. Tubuh mungilnya memaksa dia mendongak untuk menatap si jangkung Erina dengan heels-nya, "hari ini saya full untuk interview karyawan. Mbak Erin boleh tolong bantu saya gak untuk kerjain yang Bu Berta bilang tadi? Maaf banget ya, Mbak, saya minta tolong gini."

Erina paham dengan keresahan Kia. Sebagai perusahaan yang berkembang pesat, Kia dituntut untuk penambahan karyawan secepat-cepatnya. Sayangnya banyak di antara para kandidat potensial itu tidak menyanggupi pulang malam, padahal posisi yang banyak dibutuhkan adalah admin webinar di mana webinar pasti dilakukan malam.

Ditambah lagi, kebetulan Erina berada di depan Akmal. Ini waktu yang tepat untuk cari perhatian!

Erina memegang bahu Kia, berkata dengan lembut, "Gak apa-apa. Saya bantu kerjain ya."

"Beneran, Mbak Erin? Saya gak enak banget nih."

"Gak apa-apa kok. Bener. Kalau ada yang bisa saya bantu lagi, bisa info saya ya, Mbak Kia."

Kia mengangguk semangat, "Terima kasih, Mbak Erin. Mbak Erin baik banget. Saya lanjut kerja ya, Mbak. Udah ada yang pada mau interview di bawah."

"Oke. Semangat ya, Mbak Kia."

"Siap Mbak." Kia berbalik cepat kembali ke mejanya.

"Saya minta semangat dong, Mbak Erin!" staf IT di samping Akmal nyengir lebar.

"Iya. Semangat yaa ... " Erin mengedipkan sebelah matanya. Kedua karyawan di kanan Akmal saling tertawa dan memukul karena salah tingkah. Yang diberi kedipan maut juga menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan.

Sementara Akmal?

Dengan cueknya dia sudah memakai headphone seolah punya dunianya sendiri..

Jabatan Erina sih sekretaris. Tapi ini hanya akal-akalan Bu Berta saja agar Erina bekerja sendiri dan berhubungan langsung dengan sang direktur tanpa banyak melibatkan diri dengan pekerja lainnya.

Di mejanya, Erina hanya menatap jadwal Bu Berta di software Notion yang sudah dibuat oleh Xavier.

Selain itu, pekerjaan Erina lebih ke admin. Bagiannya hanya memantau-mantau saja. Walau sebenarnya Erina punya satu tugas besar di mana dia harus mengajukan project untuk Bu Berta sebelum akhir tahun. Dia masih malas memikirkannya.

Jemari Erina scroll halaman bolak-balik. Memilih berbagai menu berbeda, melihat jadwal-jadwal yang lain. Sampai tiba ke halaman jadwal webinar.

Ang Siwa Learning Center adalah perusahaan yang memiliki aplikasi serta website untuk belajar online bagi semua kalangan. Kursor mouse Erina bergerak ke kanan, melihat jadwal tiga pelatihan private digital marketing yang akan berlangsung live mulai jam delapan malam ini.

Dari data tersebut, Erina mendapati ada tiga staf produksi yang mendampingi para admin, sementara Akmal menjadi staf IT yang berjaga.

Hmm ...

Erina jadi kepikiran. Bagaimana kalau malam ini dia ikut lembur agar bisa mengenal Akmal lebih dekat?

Untuk tugas seperti ini, setahu Erina tim IT hanya bertugas di awal untuk setting kamera dan Zoom. Sisanya, mereka hanya menunggu. Itu bisa jadi waktu yang tepat untuk Erina mengulik si Akmal ini.

Boleh juga idenya!

Dengan semangat, gadis itu ke grup W******p kantor, mencari 'form lembur' di pencarian W******p dan menemukan link G****e Form.

Setelah mengisinya, Erina kembali ke W******p, mencari kontak Kia.

“Mbak Kia, tolong acc lemburan saya ya. Saya mau kerjain yang tadi pagi. Sekarang gak sempet soalnya dapet tambahan tugas dari Bu Berta.”

Pesan terkirim dan langsung centang biru, karena tepat sekali Kia sedang online.

“Baik, Mbak Erin. Nanti malam di lantai tiga ada Akmal lembur juga. Jadi biar nanti lampu kantor ruang tengah dimatiin pas Akmal udah beres aja ya.”

Jawaban itu membuat Erina tersenyum. Seulas lengkungan bibir menggambarkan hati yang lapang. Karena malam ini bukan soal momen mereka berdua, tapi malam di mana dia akan memutuskan, mengejar atau melepas Akmal.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 7: Kebab Untuk Erina

    "Mari kita deketin cowok itu."Erina membisikkan kalimat tersebut pada bayangannya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kantor sepi, hanya suara langkah Akmal yang sesekali terdengar naik turun tangga.Dalam proses menunggu, Erina mulai ragu.Kok dia harus sampai segininya hanya untuk mendapatkan perhatian seorang lelaki? Biasanya satu kedipan saja sudah cukup membuat lelaki rela diseret ke kasur. Jangan-jangan semesta sedang memberitahunya bahwa Akmal memang tidak layak diperjuangkan.Ah, sudahlah.Semuanya harus dibuktikan terlebih dahulu.Erina berdiri dari kursinya lalu memeriksa penampilannya melalui pantulan monitor yang sudah mati. Dia mengenakan kemeja floral berlengan panjang dan rok merah gelap yang nyaris ungu. Kebetulan, warna kemeja Akmal hari itu hampir senada dengan roknya.Bisa jadi pertanda mereka memang serasi.Selalu ada kemungkinan.Erina berkaca melalui layar iPhone 13 pro max miliknya. Riasannya masih bagus, bulu mata ekstensi tetap rapi,

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 6: Si Rajin Erina

    "Pantri untuk apa?" seru Bu Berta."Makan, Bu ... " jawab semuanya serentak.Erina juga ikut menjawab. Dia menunduk sok patuh. Padahal dalam hatinya ngakak, karena dia tahu tantenya itu penggila sambal terasi. Jangan-jangan, dia ngamuk mencium sambal terasi di area kantor karena tidak ditawari."Kantor untuk apa?""Bekerja, Bu.""Kalau makan di mana?""Di pantri, Bu.""Kalian mau ulangi seperti ini gak?""Tidak, Bu."Bu Berta memperhatikan wajah karyawan-karyawannya seolah bisa membaca ekspresi siapa yang kurang meyakinkan. Namun akhirnya ia mengangguk, "Erina dan Kia, buat klasifikasi makanan yang diperbolehkan dimakan di area kerja dan yang tidak. Saya tunggu laporannya hari ini.""Baik, Bu," Erina dan Kia menjawab hampir bersamaan."Xavier, tolong pantau lantai dua. Pastikan gak ada yang mukbang juga di studio."Lelaki sipit berkacamata itu mengangguk patuh, "siap, Bu.""Silakan kembali bekerja." Bu Berta kemudian menuju tangga turun, disusul Xavier yang selalu jadi buntutnya.Erin

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 5: Misi Mengenal Akmal

    “Lo lagi bikin sekte, Mas?”Mata Erina menatap tajam ke Akmal. Mereka berdua berdiri di depan pintu studio enam lantai dua yang terbuka. Studio itu dibilang kosong karena memang tak digunakan untuk shooting keperluan e-learning perusahaan edukasi ini. Namun Erina tak menyangka ajakan Akmal adalah untuk meeting bersama tim IT enam orang yang semuanya lelaki.“Itu anggota sekte pengabdi Erina katanya. Buruan masuk, mereka butuh bantuan susun proposal pengajuan tambahan manpower ke Bu Berta,” jawab Akmal datar.“Emang urusan gue? Penambahan karyawan tuh urusan Mbak Kia.” Erina melirik ke para lelaki yang sudah senyum-senyum menunggunya.“Kia aja angkat tangan. Cuma lo yang diharapkan bisa bujuk Bu Berta. Lo kan karyawan kesayangannya.”Hanya karena Erina tak terlihat sibuk dan punya ruangan sendiri, itulah yang orang pikirkan. Tak ada yang tahu bahwa ini karena Erina memang punya ikatan keluarga dengan Bu Berta.“Gak mau! Masa gue cewek sendiri?” bisik Erina kesal.“Ya gimana lagi? Ini m

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 4: Dialog Kakak Beradik

    "Aduh, si Non ...."Malam hari di tengah kompleks perumahan mewah, sopir berseragam hitam-hitam itu kelimpungan. Badan kecilnya agak susah kalau harus membopong tubuh Erina.Dia menelepon Nathan, adik Erina. Yang harusnya malam ini menemani Erina, tapi memutuskan berduaan bersama pacarnya di rumah mumpung kedua orang tua mereka sedang staycation di Bogor.Pemuda itu masih mengucek-ngucek mata waktu melihat kakaknya dibiarkan tergeletak."Padahal masukin aja, Pak.""Ah, gak berani, Mas."Nathan berjongkok, menepuk-nepuk pipi kakaknya. "Kak Erin! Bangun dong! Lo janji loh gak keterlaluan mabuknya. Heh!"Dengan sekali guncangan di bahu, gadis itu membuka mata. Dia menyingkirkan rambut tebalnya yang menghalangi pandangan. Saat melihat Nathan, dia tersenyum lebar. “Dikit kok, Nate.""Tai lah, ganggu aja. Ayo bangun!"Dari halaman luas keluarga Rudolf yang bisa menampung enam mobil, mereka masuk ke ruang tengah raksasa dengan lampu kuning menggantung tinggi dari lantai tiga. Harum kayu dan

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 3: Cincin Akmal?

    “Akmal Lucius Winarto.”Erina membaca nama pada label alamat, lalu meletakkan paket plastik hitam seukuran kotak sepatu itu di meja Akmal.Lelaki itu membuka sebelah headphone-nya, “Kenapa lo bawain ke sini?”“Sekalian naik aja.” Erina tersenyum.“Oh. Thank you.” Akmal meletakkan paket itu ke kolong meja, memakai kembali headphone-nya, lalu menatap komputer seolah Erina sudah tak ada di depannya.“Anytime, Mas Akmal.” Erina tak peduli Akmal tak meliriknya lagi. Sejujurnya dia sedang mencari alasan untuk menyebut nama itu. Nama yang akhir-akhir ini muncul di otaknya, sesering wajah Akmal yang tak bisa lepas dari mimpi di tidurnya.Di ruangan pengap yang hanya menjadi hunian bagi Erina, kursi putarnya yang sering macet dan meja besar yang berhimpitan dengan lemari arsip, dia hanya bisa memperhatikan keramaian di luar ruangan dari suara-suara yang terdengar. Pintunya memang tipis, jadi ruangannya tak kedap suara sama sekali.Minimal dua jam sekali pasti nama Akmal disebut.Ketika mendada

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 2: Pahlawan Baju Kusut

    "Hi, guys. Udah pada makan?"Erina mengangkat sebelah tangannya menyapa tiga pemuda yang baru masuk ke pantri lantai satu. Mereka memakai seragam putih-hitam, kemungkinan karyawan baru yang butuh sekitar tiga hari lagi untuk diperbolehkan pakai pakaian formal bebas."Udah, Mbak. Mbak Erin baru mau makan?" Pemuda berambut cepak menjawab. Dia duduk di kursi dekat pintu. Kedua temannya saling menyikut, jelas salah tingkah disapa wanita seksi paling populer di kantor ini."Iya nih."Erina meletakkan pisang Sunpride dan satu bungkus kopi di atas meja keramik. Entah kenapa sejak masuk ke kantor ini dia justru jatuh cinta pada kopi sachet yang rasanya terlalu manis. Makan siang berat hampir tidak pernah menjadi pilihannya."Makan apa kalian tadi?""Nasi kotak, Mbak.” Kini pemuda berkacamata yang menjawab. Dia terkikik sendiri setelah berhasil bicara tanpa gemetar."Emangnya Mbak Erin nggak pernah makan katering?" Si rambut cepak bertanya lagi, tak ingin kalah.Erina menunjukkan pisangnya. "S

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status