LOGIN"Kau tahu apa artinya, Amira? Mulai detik ini... Jika aku menyuruhmu membuat roti di dapur ini, kau harus membuat roti dengan kualitas terbaik. Dan... jika aku menyuruhmu untuk membuka lebar-lebar kedua kakimu untukku, di atas ranjangku... Kau juga harus melakukannya tanpa ragu. Persis seperti seekor anjing yang jinak, di hadapan tuannya. Kau paham?!" Sultan Rayyan Al-Fariz—penguasa tiran yang dingin dan angkuh—hidup dalam kegelapan yang hambar. Trauma masa lalu membuatnya membenci wanita dan kehilangan selera makannya akibat penyakit anoreksia yang dideritanya. Baginya, dunia ini hanyalah tempat yang penuh racun. Sampai ia mencicipi roti buatan Amira—dan merasakan gairah liar saat menatap bibir gadis itu... . Amira, seorang pembuat roti yang hancur karena terlilit utang dan dikhianati, tidak punya pilihan selain menandatangani kontrak "berdarah". Sultan Rayyan menawarkan kebebasan finansial, dengan satu syarat mutlak: Amira harus melayani apa pun yang ia minta, kapan pun ia mau! . Kesepakatan itu segera berubah menjadi permainan dominasi yang berbahaya! Di siang hari, Amira adalah koki pribadi yang memberikan kehangatan lewat masakannya. Namun di malam hari, di atas ranjang sutra hitam yang panas, Rayyan terus menuntut "menu tambahan" , untuk memenuhi nafsu dan obsesinya. . Saat Amira mulai terjebak dalam pesona pria yang memujanya di atas ranjang, Ibu tiri Sultan malah berusaha menyingkirkannya dengan berbagai cara! Di tengah intrik istana dengan segala kebusukannya, haruskah Amira pergi dan kembali ke kehidupannya sebagai rakyat biasa, atau menetap di istana megah itu dan melawan musuh-musuh mereka?
View MorePukul 02.00 dini hari. Penthouse Suite, Kamar Utama Menara Barat Istana Al-Fariz.
Sultan Rayyan Al-Fariz sudah selesai menyantap habis menu makan malamnya. Suasana di dalam ruang makan privat itu mendadak hening, menyisakan ketegangan yang begitu mencekik, di udara. "Kau terlalu jauh, Amira," suara rendah Rayyan tiba-tiba mengalun, memecah kesunyian malam dengan getaran berat dan serak, yang seketika membuat isi perut Amira bergejolak hebat. Pria berkuasa itu menyandarkan punggung tegapnya di sandaran kursi makan, menatap Amira dengan sepasang mata elang yang menggelap. "Lain kali saat aku makan, berdiri tepat satu meter di sisiku. Mengerti?" Amira Nabila menahan napas, dadanya bergemuruh hebat sebelum akhirnya ia mengangguk patuh dengan kepala yang tertunduk dalam. Detik berikutnya, sepasang mata elang sang Sultan seolah memberikan isyarat agar Amira segera membersihkan sisa kekacauan di atas meja. Dengan jemari yang gemetar, Amira mulai menaruh semua piring dan gelas kaca mahal di atas nampan perak besar dengan hati-hati, lalu berbalik, melangkah buru-buru menuju area dapur. Ia hanya ingin segera meloloskan diri dari tatapan intimidasi yang mengulitinya sejak satu jam lalu, itu. Tak. Tak. Tak… Namun, suara langkah sepatu pantofel kulit buatan Italia yang tegas, terdengar mendekat dari arah belakang. Seperti biasa, ritmenya yang lambat, teratur, dan terdengar bagai derap langkah kaki seorang predator yang tahu bahwa mangsanya tidak akan pernah bisa meloloskan diri dari jebakan yang telah dipasang. Jantung Amira berdegup gila, menghantam dinding rusuknya dengan begitu menyakitkan seiring dengan semakin dekatnya derap langkah tersebut. Setiap ketukan sepatu Rayyan terdengar seperti dentum genderang perang yang siap menghancurkan seluruh hidupnya. Selalu, begitu. Amira menahan napas saat aroma maskulin yang teramat pekat—perpaduan expensive wood dan peppermint tajam—mulai menginvasi seluruh indra penciumannya. Sebelum ia sempat melangkah lebih jauh untuk kabur secepatnya, tubuh besar dan kokoh Sultan Rayyan merangsek maju dari belakang. Membuatnya tersentak hebat saat punggung mungilnya tiba-tiba menabrak dada bidang yang sekeras batu karang. Saking kagetnya karena hantaman fisik yang tiba-tiba itu, genggaman tangan Amira goyah. Isi dari nampan perak yang ia bawa, berjatuhan ke atas lantai granit. PRANG!!! Suara pecahan yang memekakkan telinga menggema, saat piring dan gelas kaca mahal itu pecah berantakan, berserakan tak berharga di sekitar kaki mereka. Amira panik, refleks hendak bergerak turun untuk memungut pecahan tersebut, namun sepasang lengan kekar Rayyan justru bergerak lebih cepat, mengunci pinggangnya dari belakang dengan cengkeraman yang kokoh, nyaris menyakitkan. "Jangan bergerak," geram Rayyan rendah tepat di samping telinganya. Amira menghentikan gerakannya seketika. Tubuhnya kaku, namun ia menolak untuk berbalik dan menghadap sang tiran. Jemarinya meremas pinggiran nampan perak di tangannya yang kini sudah kosong melongpong, dengan cengkeraman yang kian mengeras, mencoba mengumpulkan kembali serpihan keberaniannya yang tersisa di dalam dada. "S-saya harus merapikan cangkir yang pecah ini, Yang Mulia Sultan," bisik Amira dengan suara parau yang bergetar. "Setelah itu... tugas saya malam ini sudah selesai." "Siapa yang bilang sudah selesai? Kau tahu sendiri bagaimana peraturan perjanjian kita, Amira Nabila..." Rayyan berbisik, suaranya terdengar bagai geraman pelan dari seekor binatang liar yang sedang mengklaim wilayah kekuasaannya dengan mutlak. Napas pria itu berembus panas, menerpa kulit leher Amira yang sensitif dan membuat seluruh tubuh gadis itu menggigil seketika. Rayyan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah tegas berahang kerasnya, di ceruk leher Amira. Pria itu memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Amira yang murni—aroma manis vanila alami yang selama beberapa waktu terakhir ini menjadi satu-satunya antidot bagi siksaan fobia anorexia dan kelaparannya. "Aku tidak hanya memintamu memuaskan lambungku, Amira," desis Rayyan dengan kilat kegilaan yang menggelap di matanya. "Malam ini... aku ingin menuntut seluruh hakku atas dirimu." Sultan Rayyan memutar tubuh Amira dengan satu sentakan dominan yang sangat bertenaga, sampai nampan di tangannya ikut terhempas jatuh. Kini Amira dipaksa berbalik, menghadap langsung ke arah sang tiran yang sedang menatapnya dengan rahang mengeras. Tatapan mata mereka terkunci rapat, beradu di antara kemarahan Amira yang mendidih di balik pelupuk matanya dan hasrat gelap Rayyan yang membakar habis sisa kewarasannya. Tanpa memberikan waktu sedetik pun bagi Amira untuk memprotes, Rayyan menunduk dan menyerbu bibir ranum Amira dengan sebuah ciuman yang ganas, menuntut, dan penuh rasa lapar primal yang tak mengenal kata belas kasihan. Itu bukan sekadar ciuman biasa; itu adalah klaim dari seorang penguasa monarki, yang bersifat mutlak. Rayyan melumat bibir Amira dengan intensitas gila yang seolah ingin merobek seluruh kesadaran dari jiwanya. Amira meronta lemah, tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang Rayyan, mencoba mendorong dada tegap pria itu. Namun, perlawanan Amira justru membuat Rayyan semakin beringas. Pria itu menangkap kedua pergelangan tangan Amira dengan satu tangan kirinya yang besar, mengangkatnya ke atas kepala, dan menguncinya dengan kuat. Dalam satu gerakan sentakan yang mudah, Rayyan mengangkat tubuh mungil Amira ke dalam gendongannya yang kokoh. Amira terpekik kaget, refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang kokoh sang Sultan demi menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh, sementara Rayyan melangkah lebar membawa tubuhnya keluar dari ruang makan pribadi, melintasi lorong menara yang temaram, dan menendang pintu ganda kamar tidur utamanya hingga terbuka lebar sebelum menguncinya dari dalam. Atmosfer di dalam kamar utama, seketika terasa jauh lebih panas, sesak, dan berbahaya. Rayyan menurunkan tubuh Amira perlahan di atas ranjang king size yang dilapisi sprei sutra hitam, sebelum akhirnya ia ikut merangsek maju, merangkak di atas tubuh Amira dan mengurung tubuh gadis itu di bawah beban tubuh besarnya yang dominan. Di bagian bawah tubuhnya, Amira dapat merasakan sesuatu yang teramat keras dan menonjol di balik celana kain milik Sultan, menekan telak pahanya dengan intensitas gila yang menakutkan, membuat seluruh persendian Amira melemas seketika, hingga ia hampir kehilangan seluruh kewarasannya. Tanpa memberikan celah untuk Amira meloloskan diri, tangan besar Sultan yang bebas mulai bergerak nakal. Telapak tangan kasarnya merayap masuk ke dalam baju pelayan tipis yang dikenakan Amira. Sentuhannya terasa sepanas api, merayap perlahan melewati paha polos Amira dan langsung menekan bagian intim Amira yang masih terhalang selembar kain tipis. "A-ah..." sebuah desahan kecil yang teramat pasrah dan tertahan lolos begitu saja dari bibir Amira yang gemetar saat ia merasakan jemari panjang Rayyan melucuti celana dalamnya dengan cepat, dan mulai bermain dengan teramat binal di area intimnya. Jemari pria itu memutar, menekan, dan menggesek titik sensitif Amira dengan ritme yang memabukkan, menuntut penundukan total atas raga gadis itu. "Yang Mulia... to... tolong... hentikan..." cicit Amira dengan suara parau bercampur isak tangis yang tertahan, dadanya naik turun dengan cepat menahan emosi yang berkecamuk di dalam benaknya. Namun, Rayyan sama sekali tidak mendengarkan permohonan itu. Ia justru menjawabnya dengan sebuah ciuman panas yang kembali membakar bibir Amira tanpa ampun. Di bawah kungkungan binal sang tiran, tubuh Amira perlahan-lahan mulai mengkhianati akal sehatnya sendiri. Dadanya membusung pasrah, dan setiap sentuhan kasar serta gesekan jemari Rayyan di bagian bawah sana, justru menyalakan api hasrat terlarang yang membuat Amira tenggelam dalam kenikmatan yang menyiksa. Rayyan melepaskan tautan bibir mereka sejenak, namun wajah tampannya tetap bertahan hanya berjarak satu inci dari wajah Amira yang sudah memerah, berantakan, dan basah oleh sisa ciuman mereka. Jari-jari panjang Rayyan yang dingin bergerak perlahan menyingkirkan helaian pakaian pelayan Amira yang menghalangi, membiarkan kulit polos mereka bertemu langsung tanpa pembatas di atas sprei sutra. "Lihat aku, Amira," bisik Rayyan dengan suara yang terengah parau, namun penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Katakan padaku, siapa pemilikmu sekarang?" Amira memalingkan wajahnya ke samping, enggan menjawab, menolak dengan keras untuk tunduk pada intimidasi yang merendahkan harganya dirinya itu. Namun, Rayyan dengan cepat menangkup rahang mungilnya dengan cengkeraman kasar, memaksanya untuk kembali mendongak menatap sepasang mata elang miliknya yang berkobar oleh kabut gairah kelam. "Ucapkan nama penguasamu dengan jelas, Amira Nabila!" desis Rayyan, memberikan penekanan berat di setiap kata yang keluar dari bibirnya. Air mata amarah akhirnya menggenang penuh di pelupuk mata Amira, bergulir jatuh melewati pipinya yang ternoda tepung terigu tipis dari dapur tadi. "A-anda... Anda pemilikku, Sultan Rayyan," bisik Amira dengan suara parau yang pecah oleh kombinasi rasa benci, takut, dan desahan yang tak mampu lagi ia bendung di tenggorokannya. Sudut bibir Rayyan terangkat, membentuk seulas senyum miring yang berbahaya, gelap, sekaligus luar biasa tampan. Kilat kepuasan yang teramat pekat memancar dari matanya saat melihat penundukan dan kepasrahan total gadis itu di atas ranjangnya. "Bagus," gumam Rayyan rendah sebelum kembali menjatuhkan bibirnya di leher jenjang Amira, menggigitnya kecil untuk meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok—sebuah cap kepemilikan mutlak. Ciumannya terus turun, menuju belahan dada Amira yang naik turun. "Karena setiap kali aku menginginkannya, kau harus terus membuka lebar-lebar kedua kakimu untukku, Amira. Persis seperti apa yang telah kau setujui dalam perjanjian terlarang kita." Jemari tangan Rayyan kembali bergerak beringas di bagian intim Amira lagi, dengan ritme yang kian cepat dan intensitas yang gila. Memaksa Amira mendongak dengan dada yang membusung tinggi saat gelombang kenikmatan dahsyat menghantam pusat dirinya. "BERHENTIII.. Berhentiii.. Aah!!!!" Hening. Amira mencapai orgasme pertamanya malam itu. Saat liang yang berkedut hebat itu mengeluarkan cairan kental tanda penundukan fisiknya, Rayyan mengangkat jemarinya yang basah, lalu menunjukkannya tepat di depan mata Amira yang sayu oleh kabut gairah. "Lihat dirimu, Amira. Mulutmu memohon agar aku berhenti, tapi tubuhmu justru menyambutku seperti pelacur yang haus belaian..." Rayyan menatap pupil bergetar Amira yang menampilkan wajahnya dengan senyum penuh kepuasan. "Jadi, jangan pernah bermimpi bisa lepas dariku, Amira... Kau akan tetap berada di bawah belengguku... sampai aku memutuskan, kapan kau boleh pergi," geram Rayyan rendah, sebelum melumat bibir Amira lagi. Di bawah sorot lampu menara barat yang teramat temaram, Amira menyadari bahwa seluruh pertahanan dirinya telah runtuh total tak bersisa. Malam ini… Ia bukan lagi sekadar koki penawar racun di siang hari. Ia telah bertransformasi menjadi menu perjamuan utama yang sesungguhnya di atas ranjang sang Sultan, dan Rayyan tidak akan menyisakan satu bagian pun dari tubuh dan jiwanya, hingga fajar memecah kegelapan istana. Amira memejamkan mata dalam isak tangis yang tertahan, menaikkan kedua tangannya yang lemas untuk meremas kuat kemeja sutra di bahu Rayyan, mencari pegangan di tengah berderak runtuhnya sisa kesadarannya yang kini mulai tenggelam sepenuhnya ke dalam pusaran gairah memabukkan milik sang tiran. ……………………………"Jadi... ini tikus jalanan yang semalam mendadak menjadi pahlawan?!" suara sinis dari Kepala Koki Utama, seorang pria paruh baya berwajah angkuh bernama Chef Gibran, memecah keheningan dengan nada merendah yang kentara.Chef Gibran melangkah mendekati Amira, diikuti oleh beberapa asisten koki yang menatap Amira dengan pandangan jijik. Setelah berjarak kurang lebih tiga jengkal dari Amira, Chef Gibran mengangkat tangannya, lalu menggunakan ujung sebilah pisau dapur panjang yang berkilat tajam untuk menyentak kerah blus tinggi Amira secara kasar, dalam gerakan secepat kilat. Bahkan sebelum Amira selesai berkedip.SRETT!!Kancing teratas blus Amira terlepas, memaksa kerah kain itu terbuka lebar. Seluruh pasang mata di dapur umum seketika terbelalak sempurna, disusul oleh suara kasak-kusuk penuh dengki yang meledak di ruangan. Di atas kulit leher Amira yang putih, jejak-jejak kemerahan pekat bekas gigitan binal yang ditinggalkan Sultan Rayyan subuh tadi, terpampang nyata di bawah sorota
"Baru masuk satu malam, tapi sudah tahu cara menggunakan tubuhnya untuk merayu tiran di menara barat. Hebat sekali caramu bermain!" sindir Zurie, suaranya terdengar begitu sinis memotong keheningan kamar."S-saya tidak merayu siapa pun! Tolong jangan asal bicara... Keluar dari kamar saya!" seru Amira parau dengan wajah pucat pasi, mencoba menyambar blus bersih untuk menutupi tubuhnya.Namun, Zurie justru melangkah masuk dengan angkuh, memberi isyarat pada para pelayan junior untuk merangsek maju. Tanpa belas kasihan, tubuh mungil Amira didorong kasar hingga keluar dari bilik kamarnya, diseret paksa ke tengah koridor asrama yang dingin di mana belasan pelayan lain kini berkumpul untuk menonton kelantangannya."Jangan berlagak suci di depan kami, Jalang!" bentak Zurie sembari menyentak apron linen putih milik Amira yang baru saja hendak ia kenakan, merobek jahitannya hingga terlepas tak bersisa. "Tuan Malik memecat puluhan koki profesional karena makanan mereka membuat Sultan murka. T
Pagutan brutal di bibir Amira Nabila kian memabukkan, merenggut paksa sisa oksigen yang tersisa di dalam paru-parunya. Ciuman Sultan Rayyan Al-Fariz tidak lagi sekadar tuntutan rasa lapar lambungnya yang rusak, melainkan telah menjelma menjadi sebuah keliaran impulsif yang berbahaya.Di atas meja marmer dapur privat yang dingin, tubuh Amira gemetar hebat di bawah himpitan raga kokoh sang tiran. Di tengah ciumannya yang kian beringas menyesap sisa air mata dan anyir darah di bibir Amira, tangan besar Rayyan bergerak semakin gila. Dengan sentakan yang tidak sabaran, jemari panjang pria itu mulai membuka satu demi satu kancing blus putih pelayan tipis yang Amira gunakan. Kain tipis itu terbelah, mengizinkan hawa dingin subuh menyentuh langsung kulit polos Amira yang mendadak meremang hebat.Payudara Amira yang sintal dan besar yang terbungkus bra berwarna nude langsung terekspos sempurna di bawah temaram lampu dapur.Pemandangan sensual tersebut membuat pertahanan Rayyan semakin mengg
"Katakan padaku, Amira... apa kau sengaja memakai parfum murahan untuk merayuku, agar bisa naik ke ranjangku?" "TIDAK YANG MULIA!!" Amira memekik histeris. "Saya tidak pernah memakai apa pun untuk merayu atau apa pun, Yang Mulia! Saya bersumpah!" Amira menunduk cepat, mencoba memalingkan wajahnya dari intimasi yang mengubur kesadarannya.Rayyan bergerak kasar, ibu jarinya mengusap bibir ranum Amira dengan penekanan yang menyakitkan untuk memaksa wajah wanita ini menghadapnya. "Hey, hey... tenanglah, Pelayan. Baiklah. Jika kau menolak mengakuinya, kita tinggal membuktikannya saja sekarang, bukan? Apakah kau memakai parfum atau tidak?"Sebelum Amira sempat memproses kalimat tersebut, Rayyan sudah memajukan wajahnya dengan brutal. Pria itu menyerbu leher jenjang Amira, menenggelamkan wajahnya di sana dan memberikan ciuman serta gigitan yang kasar, menghisap kulit sensitif gadis itu tanpa belas kasihan."Nnghh... l-lepaskan..." Amira memberontak, tangan kecilnya memukul dada Rayyan deng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore