LOGINSetiap malam selama dua tahun terakhir, suami Ning Yuan sibuk dengan seorang selir yang merupakan adik tiri Ning Yuan sendiri. Selama itu pula, Ning Yuan menghabiskan malam di Paviliun Bulan bersama seorang pria bayaran. Namun, ketika persiapan Ning Yuan selesai untuk mengembalikan nama baiknya sebagai nyonya muda keluarga Shen, ia harus berpisah dengan pria simpanannya itu. Sampai malam pesta istana tiba… Ning Yuan melihat pria yang selama ini tidur di ranjangnya, sedang duduk di singgasana naga tertinggi Kekaisaran. Pria simpanannya selama dua tahun itu ternyata adalah Kaisar?!
View More"Nyonya… malam ini, aku ingin kau mengingat setiap detiknya. Saat kau kembali ke rumah itu dan melihat suamimu, yang kau ingat hanyalah aku."
Suara pria itu parau, serak seperti kehausan. Napas hangatnya mendarat di kulit Ning Yuan yang telanjang, dan bulu-bulu halus di lengannya berdiri.
Ning Yuan memejamkan mata. Bibirnya tergigit menahan erangan ketika pria itu menggigit lembut daun telinganya, lidahnya menjilat kulit di baliknya.
"Aku sudah memperingatkanmu," bisik Ning Yuan, "Jangan bicara tentang suamiku di ranjang ini."
Ini bukan pertama kalinya Ning Yuan datang ke paviliun ini, tempatnya bergumul hangat dengan seorang pria bayaran.
Sejak dua tahun lalu, suaminya membawa pulang adik tiri Ning Yuan sebagai selir ke kediaman mereka, dan menghabiskan malam-malam dengan selirnya itu, Ning Yuan yang kesepian pun mencari cara untuk mengisi kekosongan hatinya.
Pria itu terkekeh pelan, suaranya dalam dan menggema pelan. "Baik, Nyonya… Kau hanya perlu fokus pada perasaan ini."
Jemari pria itu sudah bergerak turun, menyusuri pinggangnya, menggenggam pahanya. Kain sutra merah Ning Yuan melorot hingga pinggang, memperlihatkan dua gundukan putih dengan puncak merah muda.
Dia menunduk, mengambil puncak sensitif Ning Yuan ke dalam mulutnya. Menghisap perlahan, lidahnya bergerak dalam ritme yang membuat Ning Yuan kehilangan kendali.
Erangan panjang lolos dari bibirnya. Sensasi panas menyebar dari dadanya ke seluruh tubuh.
Tangannya mencengkeram bahu pria itu, merasakan otot-otot keras di balik jubah hitam yang setengah terbuka.
Pria itu terus menghisap, kadang menggigit lembut, kadang menjilat. Tangannya yang lain bergerak turun, menyusuri perut Ning Yuan yang rata, melewati pusarnya, berhenti di antara pahanya—di mana kehangatan dan kelembapan sudah menunggu.
"Kau seperti danau di musim hujan, Nyonya," bisiknya. "Dan kita bahkan belum mulai."
Jari pria itu menyusup ke dalam kelopak yang menunggu. Jari itu bergerak di dalam dirinya, mengeksplorasi, menemukan titik yang membuatnya melengkungkan punggung dan menggenggam rambut pria itu erat-erat.
"A-ah..." Dia terputus ketika pria itu menambahkan jari kedua, melebarkan lipatannya perlahan. "Kau terlalu cepat..."
"Bagaimana aku bisa sabar saat Nyonya ada dalam pelukanku seperti ini?" Pria itu menggeram pelan.
Ning Yuan merasakan tubuhnya mulai bergetar, otot-otot di perutnya menegang. Hingga ia akhirnya mencapai puncak.
Dengan napas terengah-engah, Ning Yuan membuka mata. Tubuhnya puas, namun sudut hatinya terasa hampa.
Sebab, setiap selesai di ranjang ini dan pulang kembali ke kediaman Shen, ia akan kembali menjadi istri dan menantu yang tidak dianggap.
Ning Yuan bangkit dan menarik jubahnya kembali hingga menutupi bahu polosnya. Sebelum ia sempat beranjak, pria itu menahan lengannya.
"Nyonya… kau mau ke mana?"
Ning Yuan tersenyum tipis. "Aku harus kembali ke kediamanku. Seperti yang sudah kukatakan, hubungan kita selesai. Ini adalah terakhir kalinya aku menemuimu."
Ya. Ning Yuan sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Setelah ini, ia akan mengambil kehormatannya kembali sebagai nyonya muda.
Pria itu menatapnya dengan rahang yang mengeras. Meski ia sudah dibayar, ia seolah tak rela melepaskan pelanggan tetapnya selama dua tahun terakhir itu.
"Bukankah kau tidak punya tempat di sana? Bukankah mereka menjadikanmu sapi perah keluarga Shen? Itu sebabnya kau datang padaku. Kenapa sekarang meninggalkan aku dan memilih mereka?"
Ning Yuan tersenyum, hatinya tersentuh. Tatapan pria bayaran yang sudah dua tahun melayaninya ini seolah benar-benar mempedulikannya.
Ia mengelus pelan kedua pipi pria itu di tangannya. "Ada beberapa hal yang harus aku urus. Dan tidak bisa aku katakan padamu."
"Aku memberimu bayaran lebih untuk malam ini. Setelah itu, kau bisa hidup dengan lebih baik, dan berhenti menjadi pria bayaran."
Pria itu tertegun. Begitu Ning Yuan melepaskannya dan beranjak dari kasur, dua tangan kokoh itu menariknya kembali ke dalam pelukannya.
"Tidak… belum selesai," desisnya di telinga Ning Yuan. "Karena Nyonya membayar lebih, maka aku akan… beri pelayanan lebih."
Dia membalikkan tubuh Ning Yuan, menelungkupkannya di atas ranjang. Tubuh pria itu menekannya dari belakang—berat, hangat. Dan dia merasakan keinginannya yang keras menekan kulit punggungnya.
"Apa yang kau… ah…"
Ning Yuan menggigit bantal menahan erangan ketika pria itu menyusup ke dalam dirinya dari belakang—perlahan, inci demi inci, sampai kepenuhan membanjirinya. Setiap kali, setiap kali, rasanya seperti pertama kali.
Pria itu mulai bergerak. Lambat. Membiarkannya menyesuaikan diri. Kemudian ritmenya meningkat, lebih dalam, lebih cepat. Suara tubuh mereka bertabrakan di ruangan sunyi.
"Kau... terlalu... dalam..." Ning Yuan mencoba berkata.
Tapi kata-katanya terpotong ketika pria itu mencapai sudut yang membuatnya hampir menjerit. Tangannya mencengkeram seprai, kukunya hampir merobek kain. Puncaknya datang lagi, dan lagi.
Tubuhnya bergetar hebat di bawah pria itu—gelombang kenikmatan menyapu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kau benar-benar wanita yang keras kepala, Ning Yuan," suara rendah pria itu menyapu telinganya lembut. "Aku berjanji padamu, suatu hari nanti kau akan kembali ke atas ranjangku atas keinginanmu sendiri."
***
Saat Ning Yuan kembali ke kediaman Shen, ia melihat kereta besar berhias berhenti di pelataran.
Peti-peti mewah diturunkan. Dan di sana, berdiri dengan anggun, adalah Ning Xue'er. Di sampingnya, Shen Ziyuan, suami Ning Yuan, berdiri dengan tangan melingkari pinggang Ning Xue’er.
"Ah, Kakak Ning Yuan?"
Ning Xue'er melihatnya pertama kali. Wajahnya berseri dengan senyum manis khasnnya.
"Kami baru saja tiba. Aku dan Kakak Ziyuan sangat merindukan rumah ini!" Dia melangkah mendekat dengan anggun, dan dengan sengaja menyentuh perutnya yang masih rata.
"Aku juga ingin memberitahu kabar baik. Aku hamil, Kak. Anak Kakak Ziyuan."
Ning Yuan tiba di paviliun Janda Permaisuri sore itu. Sendirian. Qinglan sudah dia suruh ke rumah keluarga Shen untuk mengabarkan bahwa dia tidak akan pulang sampai jubah Kaisar selesai.Dia melangkah masuk dengan anggun, berpakaian sederhana tapi rapi. Di dalam, para nyonya bangsawan sudah banyak hadir, duduk melingkar di atas bantal sutra berwarna-warni. Aroma teh melati dan kue-kue manis memenuhi ruangan."Dimana Yang Mulia?" Batin Ning Yuan sebab dia tidak melihat Janda Permaisuri di mana-mana.Yang terlihat justru Putri Liang Lin yang duduk di kursi utama, tersenyum manis kepada para tamu. Di sampingnya, Ning Yuan melihat seorang gadis gemuk dengan wajah penuh jerawat duduk dengan malu-malu, matanya menunduk, tangannya menggenggam erat ujung bajunya."Siapa gadis ini?" Tanya Ning Yuan dalam hati.Ning Yuan terus berjalan mendekat kemudian menunduk hormat. "Hormat hamba Putri Liang Lin, hamba datang atas undangan Janda Permaisuri."Liang Lin tersenyum, seolah tamu terakhir yang dia
Shen Ziyuan melangkah masuk ke kediaman keluarga Shen dengan bau tak sedap. Seluruh tubuhnya mengeluarkan aroma kandang babi yang menyengat. Para pelayan yang melihatnya langsung menutup hidung, berusaha tidak menunjukkan rasa jijik.Nyonya Besar yang sedang minum teh di ruang utama langsung terkejut. "Ziyuan?! Apa yang terjadi padamu?!"Shen Ziyuan tidak menjawab. Wajahnya merah padam karena amarah dan malu.Ning Xue'er yang mendengar keributan segera berlari keluar. Begitu mencium bau dari suaminya, dia hampir muntah. Tapi dia menahan diri, berpura-pura peduli."Kak Ziyuan!" serunya dengan suara cemas. "Kenapa kau begini?"Shen Ziyuan mengepalkan tinjunya. "Entahlah!!"Nyonya Besar mengernyit. "Entahlah? Apa maksudmu dengan entahlah? Bukankah kau datang bersama Ning Yuan agar kecipratan pekerjaan dari Kaisar? Mengapa kau jadi bu kandang babi begini?""Aku bau kandang babi, karena aku bekerja di kandang babi, Bu!" Shen Ziyuan berteriak frustasi. "Kaisar menugaskanku membersihkan koto
Dengan mood yang kurang baik, Ning Yuan mulai mengambil ukuran jubah di tubuh Kaisar. Jemarinya bergerak di atas kulit sang penguasa; menyentuh bahu, dada, pinggang. Setiap sentuhan terasa seperti api kecil yang menjalar di aliran darah sang titisan Naga. Ning Yuan berusaha profesional, tap bohong jika ia tidak mengakui bahwa jari-jarinya tetap gemetar.Kaisar berdiri diam, menahan napas. Setiap kali jari Ning Yuan menyentuh kulitnya, dia ingin meraih wanita itu dan menciumnya. Tapi dia tahan. Dia membiarkan Ning Yuan menyelesaikan tugasnya."Sudah selesai," kata Ning Yuan akhirnya, suaranya datar. Dia membereskan perkakasnya dengan cepat. "Hamba akan mulai memperbaiki ukuran jubah yang kemarin agar Yang Mulia bisa mengenakannya." Ia membungkuk, hendak pamit pulang."Tunggu," Kaisar memanggil. "Kau tidak boleh pulang. Kau akan mengerjakan jubah itu di sini. Di istana."Ning Yuan menoleh. "Mengerjakan disini? Tapi ini butuh waktu Yang Mulia. Paling tidak dua hari.""Kalau begitu, sela
Setelah Shen Ziyuan pergi, gazebo menjadi sunyi.Ning Yuan berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Matanya menunduk, tapi pikirannya berputar cepat. Rasa sakit yang tadi menusuk dadanya masih terasa."Aku jatuh cinta padanya sejak sepuluh tahun lalu."Kata-kata Kaisar terus terngiang.Bodoh kau, Ning Yuan. Di mata Kaisar, kau tidak lebih dari wanita penghangat ranjangnya.Kaisar mengamatinya diam-diam. Matanya menyipit melihat ekspresi Ning Yuan yang dingin, tertutup, menjaga jarak.Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia tiba-tiba berbeda?"Kau diam sekali," ucap Kaisar pelan. "Apa kau tidak senang berada di sini?"Ning Yuan mengangkat kepalanya, wajahnya datar. "Hamba senang, Yang Mulia.""Kau berbohong.""Tidak, Yang Mulia. Hamba hanya..." dia berhenti, mencari kata, "...tidak nyaman."Kaisar tersenyum tipis. Tidak nyaman. Benar! Dia pasti tidak nyaman karena aku memaksanya menerima titah ini.Dia tidak tahu bahwa Ning Yuan berbohong. Dia mengira Ning Yuan tidak nyaman karena cara lici






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.