Masuk“Tidurlah dengan suamiku… dan lahirkan anaknya untuk kami.” Kalimat itu menghancurkan hidup Nadira dalam satu malam. Demi biaya operasi ayahnya, Nadira menerima pernikahan rahasia dengan Arjuna Mahendra—pria dingin yang sudah memiliki istri sempurna. Mereka sepakat: menikah, punya anak, lalu bercerai setelah bayi itu lahir. Tanpa cinta. Tanpa perasaan. Tapi semuanya menjadi rumit saat Arjuna mulai bersikap seperti suami sungguhan—melindunginya, cemburu, bahkan tak rela Nadira disentuh pria lain. Dan yang paling menyakitkan… Wanita yang meminta Nadira tidur dengan suaminya sendiri perlahan mulai menyesal telah menghadirkan orang ketiga di rumah tangganya.
Lihat lebih banyak“Tidurlah dengan suami saya. Pinjamkan rahimmu dan lahirkan anaknya.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa beban seolah yang sedang dibicarakan bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Nadira Azzahra membeku di tempatnya, tak bisa menjawab, bahkan mulutnya ternganga mendengar permintaan wanita cantik nan berkelas di depannya. Sinta Larasati. Putri pemilik rumah sakit tempat Nadira bekerja, sekaligus istri dari Arjuna Mahardika, yang dikenal sangat dingin dan mencintai istrinya. Istri dari dokter spesialis bedah terbaik, wanita dari keluarga terpandang, dan seseorang yang hidupnya tampak tanpa cela itu tiba-tiba menghampiri Nadira di kantin dan langsung memberikan penawaran tidak masuk akal pada Nadira yang notabene dokter koas di bawah pimpinan Arjuna. Sendok di tangan Nadira terlepas. Dia tersentak dan langsung menutup mulutnya yang ternganga. Nadira membersihkan tumpahan makanan di mejanya dengan tisu, sambil sesekali melihat ke arah Sinta. Mata Nadira bergetar. “Ma-maaf, Bu Sinta. Sa-saya tidak mengerti maksud ucapan Bu Sinta,” ucap Nadira pelan, penuh dengan ketegangan. Sinta meletakkan tas mahalnya di atas meja. Dia menyandarkan punggungnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Tidurlah dengan Mas Juna dan lahirkan anaknya," Sinta mengulang ucapannya. "Tapi, jangan sampai jatuh cinta padanya!” lanjut Sinta, memberi peringatan keras. Sorot matanya terlihat menusuk Nadira. Nadira menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Sinta, masih sangat bingung dengan keadaan ini. Selama ini dia tidak pernah berurusan dengan Sinta. Kalaupun mereka bertemu, Nadira hanya menyapa Sinta dan wanita itu akan berlalu begitu saja tanpa membalas sapaannya. "Maaf, Bu, saya tidak bisa—" “Kamu butuh biaya untuk operasi ayahmu, kan?” potong Sinta. Napas Nadira tercekat. Wajahnya yang semua dipenuhi ketakutan mulai berubah serius. Nadira memang butuh biaya untuk operasi ayahnya, tapi dia tidak ingin menanggalkan jas dokternya dan jadi wanita jalang demi itu. Sinta mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya tajam namun bibirnya tetap tersenyum. “Biayanya gak sedikit. Kamu tahu itu, kan? Dan saya bisa menanggung semuanya. Atau kalau perlu, saya akan meminta Mas Juna yang mengoperasi ayahmu.” Sinta mengangkat dagu Nadira. “Kamu tau kan gimana suami saya di ruang operasi?” Jari Nadira mengepal di atas meja. Sudah berhari-hari dia berusaha mencari pinjaman, bantuan, tapi semua jalan terasa buntu. Dan setiap detik yang berlalu, kondisi ayahnya semakin memburuk. Ayah Nadira harus segera mendapatkan operasi jantung. Dia harus berpacu dengan waktu, mencari biaya operasi sambil menjaga kesehatan ayahnya yang setiap saat bisa saja memburuk. Sinta kembali bersandar sambil tersenyum angkuh, mulai menyadari ada keraguan di sorot mata Nadira. “Kalau kamu setuju, saya akan tanggung semua biaya operasi ayahmu, termasuk biaya perawatan pasca operasi. Kamu hanya perlu fokus melayani Mas Arjuna dan memastikan kamu hamil. Itu saja ... gimana, mudah kan?” Seringaian muncul di wajah Sinta yang terkesan seperti sebuah penghinaan bagi Nadira. Jantung Nadira berdetak cepat, mulai goyah. Solusi biaya operasi yang beberapa minggu ini memenuhi kepalanya, kini sudah terpecahkan. Bahkan biaya pasca operasi yang juga akan membutuhkan banyak biaya sudah ikut ditanggung. Tapi haruskah dia menjual dirinya demi semua itu? Bagaimana kalau nanti ayahnya tahu kalau dia melakukan hal hina demi mendapatkan biaya operasi. Apakah jantung ayahnya masih bisa baik-baik saja? "Tapi kenapa saya, Bu?" Sinta mendecak. “Jangan terlalu percaya diri kamu! Jangan berpikir kamu istimewa sampai saya menawarkan ini ke kamu!” kata Sinta, tidak ingin dokter muda di depannya itu terlalu percaya diri pantas naik ke ranjang suaminya. "Saya kasihan sama kamu. Saya tau kondisi ayahmu, dan kamu termasuk dokter yang cakap dalam bekerja. Saya milih kamu, karena kita bisa berbisnis dengan baik. Kamu dapat uangnya dan saya dapat anak suami saya,” lanjut Sinta tidak peduli dengan harga diri Nadira. Napas Nadira tersendat. Wanita itu benar-benar merendahkannya. “Mas Juna butuh anak. Keluarga kami menuntut itu.” Sinta menghela napas ringan, seolah sedikit jengkel. “Dan saya … tidak ingin hamil! Saya tidak mau tubuh saya berubah. Tidak mau karier saya terganggu. Dan jujur saja … saya tidak tertarik jadi ibu,” lanjut Sinta tanpa rasa bersalah sedikit pun. Semua orang tahu kalau Sinta adalah seorang model terkenal. Banyak brand datang padanya dan tentu saja itu semua membutuhkan kesempurnaan fisik yang diagungkan Sinta. Namun, bagaimana mungkin ada wanita yang tidak punya naluri keibuan di dalam hatinya. “Ah iya ... soal karir koas kamu. Kamu gak perlu khawatir, soal itu.” Sinta kembali memberikan penawaran menggiurkan agar Nadira segera setuju. “Setelah kamu hamil dan melahirkan, semuanya selesai. Kamu bisa pergi. Saya tetap istri sahnya dan anak itu akan jadi anak kami. Kamu bisa kembali ke rumah sakit, seperti tidak pernah terjadi apa-apa,” lanjutnya lagi. Sebuah rancangan masa depan yang sangat indah. Ayahnya terselamatkan, dan karier dokternya juga akan tetap baik-baik saja. Nadira menelan ludahnya kasar. “Bu, ini salah,” ucapnya, berusaha mempertahankan harga dirinya. “Saya tidak bisa—” “Kamu bisa, Nadira!” potong Sinta cepat, memaksa Nadira. Nada bicaranya penuh penakanan. "Apa kamu siap, kalau bentar lagi dokter panggil kamu dan bilang kalo ayahmu harus operasi sekarang juga? Jangan sok jual mahal kamu! Gadis miskin yang cuma mengandalkan uang beasiswa seperti kamu bisa apa?!” hardik Sinta yang mulai kehilangan kesabarannya. Kalimat Sinta menusuk hati Nadira. Kenyataan mahasiswa pintar yang bertahan karena beasiswa miskin itu kembali memukulnya. Nadira menunduk, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak stabil. Bayangan ayahnya di ranjang rumah sakit kembali terlintas. Keadaannya yang kian lemah, pucat, dengan selang di mana-mana, membuat Nadira meremas ujung jas dokternya. Dia belum siap. Nadira belum siap kehilangan ayahnya, keluarganya satu-satunya. Sinta mendengus kesal. “Pikirkan baik-baik! Waktumu gak banyak!” Nadira mengusap wajahnya kasar. Pertanyaan Sinta lebih sulit dijawab Nadira daripada soal ujiannya selama ini. Nadira mengangkat wajahnya perlahan. Dengan sisa keberaniannya, dia kembali menatap Sinta. “Lalu bagaimana dengan Dokter Arjuna? Apa beliau tahu tentang ini?” Sinta tersenyum tipis penuh makna. “Belum,” jawabnya. “Tapi saya yakin dia bakal setuju.” “Belum?” ucap Nadira dengan bahu yang merosot. Membayangkan memberikan laporan pada dokter tampan itu saja membuatnya takut, apa lagi kalau sampai dia harus merayunya. Ini sulit. Sangat sulit! Nadira menggigit bibirnya, ragu, takut, dan terjebak dalam pilihan yang terasa tidak adil. “Pikirkan ini baik-baik, Nadira. Nyawa ayahmu taruhannya!” kata Sinta sambil berdiri, merapikan tasnya. “Tapi jangan terlalu lama. Kondisi ayahmu tidak akan menunggu sampai kamu menaklukkan harga dirimu yang ... gak seberapa,” ucap Sinta dengan mudahnya merendahkan Nadira sambil memicingkan matanya. Kemudian dia pergi meninggalkan Nadira. Dia malas melihat wajah naif Nadira yang memuakkan di matanya. Tatapan kosong Nadira menembus dinding kantin, sekosong pikirannya saat ini. Naik ke ranjang suami orang. Mengandung anaknya dan pergi begitu saja dengan jaminan masa depan cerah. Apakah itu harga yang pantas untuk menyelamatkan ayahnya? Nadira menutup matanya perlahan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia benar-benar tidak tahu keputusan mana yang benar. Di tengah kebimbangannya, tiba-tiba ponsel Nadira berbunyi. Dia merogoh saku jas dokternya, meraih benda pipih yang bergetar di dalamnya. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Nadira. Dia membaca pesan itu dan tangannya mengepal erat. “Ayah!” ucap Nadira panik lalu segera berlari meninggalkan kantin.Wajah Mahendra berubah sangat serius saat dia mendengarkan info yang disampaikan oleh Iwan. Tangannya sampai memegang sandaran tangan kursi rodanya dengan sangat kuat.Tak ada suara yang keluar dari mulut Mahendra saat ini. Dia hanya diam sambil terus mendengarkan dan berpikir.“Pak,” panggil Iwan yang tidak mendapatkan respons dari atasannya.“Terus awasi dan laporkan ke saya. Pantau pergerakan Sinta. Jangan sampai ketahuan,” titah Mahendra.“Baik, Pak.”Mahendra mengakhiri panggilan telepon itu.Tangan pria itu seketika menjadi lemas. Dia mengatur napasnya agar jantungnya tidak kembali bereaksi saat dia terus menerima pukulan dari putrinya.Entah apa yang dia lakukan beberapa tahun ini, sampai dia sama sekali tidak mengetahui kelakuan putrinya sendiri.Mungkin juga karena selama ini Arjuna selalu menjaga dan melindungi Sinta dengan sangat baik, sampai dia tidak melihat kesalahan Sinta.Kepercayaannya pada Arjuna yang besar, membuatnya buta.
“Sinta,” ucap Arjuna lirih saat dia berdiri di depan korban kecelakaan yang hendak dia bantu.Polisi di samping Arjuna menoleh. “Dokter kenal korban?” tanya pasien itu.Arjuna tidak menjawab. Dadanya berdebar kencang sambil terus melihat ke arah wanita itu.Tubuhnya mendadak kaku sambil terus melihat tas yang ada di pangkuan wanita itu.Tas yang dia pesan khusus untuk Sinta saat ulang tahun pernikahan mereka tahun lalu.“Dok, Dokter,” panggil polisi itu lagi.Arjuna terenyak. Dia melirik sebentar ke polisi itu lalu mengambil napas dalam.Arjuna memejamkan matanya sebentar, mengembalikan kesadarannya sebagai dokter yang harus segera menolong pasien.Tangan Arjuna dengan sigap menyibak rambut panjang wanita itu dan memeriksa nadi di leher korban.“Dia masih hidup,” ucap Arjuna.“Hidup! Yang ini hidup!” teriak polisi itu.Suara sirene ambulans mulai terdengar. Sekali lagi Arjuna menyibak rambut wanita itu.Kulit putih di wajah si wanita bersimbah darah dari kepalanya.“To-tolong,” lirih
“Apa ini?” tanya Arjuna sambil melihat ke kertas putih di atas meja.“Apa ini, Wis?” tanya Raka yang juga ikut penasaran.Tangan Raka langsung meraih kertas itu. Dia langsung membukanya, demi memuaskan rasa penasarannya.Kening Raka mengerut saat dia melihat apa yang ada di tangannya. Dia kemudian memberikan pada Arjuna, agar pria itu juga dapat melihatnya.“Wis, punya siapa itu?” tanya Raka.“Sinta,” jawab Wisnu.“Sinta??” Raka kaget.Arjuna meletakkan kembali kertas di tangannya. “Siapa dokternya?” tanya Arjuna.“Dokter Wira. Dia ngadep aku kemaren. Dia mau ketemu kamu tapi ragu. Dan dia serahkan ini ... buat kamu, Jun.” Wisnu menjelaskan semuanya.Raka menoleh ke Arjuna. “Jun,” panggil Raka yang tidak tahu harus menanyakan apa.“Aku udah tau. Jauh sebelum ini. Beberapa bulan setelah kami menikah,” jawab Arjuna.“Haa?? Serius lu, Jun?”“Hmm. Waktu itu aku udah bilang ke dia kalo dia masih bisa lakukan pengobatan. Tapi dia hak pernah mau. Katanya sibuk.”“Dan sekarang dia hampir kehi
“Jun,” panggil Raka saat sahabatnya itu masih ada di ruang praktik.Arjuna mengangkat wajahnya. Dia melihat Raka berdiri di ambang pintu sambil memasukkan sebagian tubuhnya ke dalam ruang praktiknya.“Bisa ngobrol bentar?” tanya Raka.“Masuk aja.”“Mau keluar? Wisnu ngajak ....” Raka tidak melanjutkan ucapannya karena Arjuna pasti tahu maksudnya.“Aku gak bisa. Nadira masih sakit, aku gak enak ninggalin dia.”“Ck! Berlagak jadi suami yang baik lu,” ledek Raka.“Katanya harus gitu. Kamu kan yang ngomong gitu tadi.”Raka tersenyum hambar. “Iya deh. Ntar aku kabarin lagi. Aku telpon Wisnu dulu.”Arjuna mengangguk. “Hmm.”Raka pun mundur. Dia akan menghubungi Wisnu karena acara berubah.Arjuna bersiap meninggalkan ruang praktiknya, setelah semua tugasnya selesai. Dia akan mengunjungi Nadira, yang pasti sudah menunggunya.Arjuna naik ke ruang VIP di mana istrinya berada. Saat akan masuk, dia bertemu dengan seorang suster yang hendak mengantarkan sesuatu ke kamar istrinya.“Apa itu?” tanya
Sinta berdiri membeku di ambang pintu. Senyumnya perlahan mulai memudar melihat pemandangan di depannya.Tatapannya terpaku pada Arjuna dan Nadira yang masih berdiri berpelukan seperti pasangan sejati.Melihat Sinta masuk, Nadira langsung mendorong badan suaminya. Wajah wanita itu langsung pucat, m
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal
“Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak