LOGINNing Yuan tidak bisa menolak.Semua mata kini tertuju padanya. Kaisar berdiri di depan perjamuan, menunggunya. Di samping Kaisar, Putri Liang Lin tersenyum manis, tapi jelas di balik senyuman itu dia menyimpan amarah yang tertahan.Ning Yuan menoleh ke Pangeran Ketiga, berharap pria itu bisa membantunya menolak hal yang datang dadakan ini. Tapi Pangeran Ketiga malah dengan sigap mengambil jubah Kaisar dari tangan Ning Yuan dan memanggil dayang untuk membawa jubah itu pergi."Bawa jubah ini ke tenda Kaisar!" perintahnya pada dayang yang berlari mendekat.Ning Yuan menyikut pinggang Pangeran Ketiga dengan kasar. "KAU—"Pangeran Ketiga mendesah pelan kesakitan, tapi tetap tersenyum. "Silakan, Kak Yuan. Kaisar menunggumu."Ning Yuan menatapnya dengan tatapan yang bisa kesal yang terkira. Tapi mau bagaimana lagi? Ditelannya pun pangeran ketiga saat ini, dia tetap tidak punya pilihan. Dengan terpaksa dia berjalan perlahan menuju Kaisar, dengan langkah berat."Dia adalah rekanku dalam berbur
Ning Yuan melangkah keluar dari paviliun Janda Permaisuri.Wajahnya terlihat seperti menyimpan beban yang amat berat. Tidak ada yang tahu apa yang Janda Permaisuri dan Ning Yuan bicarakan di dalam sana. Yang pasti, kini ada dua gulungan di tangannya—satu titah perceraian yang sudah dia simpan, dan satu lagi entah apa isinya.Dia berjalan meninggalkan tempat itu menuju paviliun timur. Langkahnya mantap, tapi pikirannya kacau. Semua hal yang dia dan janda permaisuri bicarakan bagaikan beban yang tidak tahu harus kemana dia buang. Tapi dia tidak bisa memikirkan itu sekarang. Semuanya terlalu berat untuk dipikirkan oleh otak yang beku saat ini.Dia masuk ke paviliun timur, mengambil jubah naga yang sudah selesai dia kerjakan. Sulaman emas berkilau di bawah sinar matahari. Jubah itu sempurna. Ning Yuan tersenyum tipis. Setidaknya satu pekerjaan selesai. Tidak lupa dia melihat keadaan sejenak, memastikan keadaan Qinlan baik-baik saja. Setelah yakin Qinlan baik-baik saja, Ning Yuan berjal
Kaisar menggendong Ning Yuan melewati koridor panjang menuju kamarnya. Ning Yuan tidak bergerak, tidak bersuara—hanya diam dalam pelukannya, wajahnya tersembunyi di dadanya.Kasim Zhao sudah lebih dulu membersihkan jalan. Para dayang dan kasim yang melihat langsung membalikkan badan, tidak berani menatap. Mereka semua adalah orang kepercayaan Kaisar.Pintu kamar terbuka. Kaisar masuk dengan lembut, lalu menurunkan Ning Yuan di tepi ranjang. Di sampingnya, dayang sudah menyiapkan pakaian ganti untuk mereka berdua."Ganti pakaianmu," kata Kaisar, suaranya tenang."Baik." Ning Yuan reflek mencari tempat tertutup—ke balik tirai, ke sudut ruangan.Kaisar tersenyum melihat tingkahnya. "Kau mencari apa? Ganti saja di sini. Bagian tubuhmu yang mana yang belum aku lihat? Aku bahkan sudah menyentuh seluruhnya."Ning Yuan rasanya ingin sekali mengacak-acak rambut Kaisar karena ucapan ceplas-ceplos itu. Tapi apa yang dikatakan Kaisar memang benar. Bagian tubuhnya yang mana yang belum Kaisar jajak
Ning Yuan membeku sejenak mendengar kata-kata Kaisar. Jantungnya berdegup kencang—tapi begitu ingat bahwa Kaisar akan segera dijodohkan, degupan itu langsung menghilang, digantikan oleh rasa sakit yang dingin.Dia menarik tangannya dengan cepat, merapikan rambut dan pakaiannya yang basah. Berusaha terlihat tenang meskipun hatinya kacau."Kaisar salah paham," katanya, suaranya berusaha dingin. "Hamba datang karena ada hal yang perlu hamba bicarakan empat mata dengan Yang Mulia."Tapi bodohnya, perasaan cemburu yang tertahan di dalam sana justru terlihat jelas dari sikapnya yang menjauh, yang tidak mau berdekatan dengan Kaisar. Kaisar memandangi wajah Ning Yuan. Matanya menyipit, mengamati setiap perubahan ekspresi wanita itu. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang salah—Ning Yuan pasti sedang marah, atau kesal, atau tidak suka pada sesuatu. Tapi dia tidak tahu apa itu."Baik," kata Kaisar, melangkah maju semakin dekat. "Sekarang kau sudah berada di sini, bicaralah."Ning Yuan refleks mun
Ning Yuan melangkah masuk ke tempat pemandian Kaisar dengan langkah pelan. Jantungnya berdegup kencang, tangannya menggenggam erat nampan berisi perlengkapan mandi yang diberikan oleh orang Pangeran Ketiga.Kenapa aku setuju melakukan ini? batinnya kesal. Aku seharusnya menolak mentah-mentah.Tapi sudah terlanjur. Dia sudah di sini.Di balik tirai sutra, dia mendengar suara para dayang berbisik. Ning Yuan berhenti, mendengarkan tanpa sengaja."Kau dengar kabar tentang jamuan besok?" bisik salah satu dayang."Tentu saja. Seluruh istana membicarakannya. Konon ini sekaligus menjadi acara perjodohan Kaisar dengan Putri Liang Lin."Ning Yuan membeku. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Perkataan Kaisar beberapa waktu lalu tentang wanita yang sudah lama Kaisar cinta kembali putar otomatis di kepalanya. Belum lagi sikap Kaisar yang menurut Ning Yuan sangat spesial pada putri Liang Lin, membuat badai di hati Ning Yuan semakin terabas ke segala arah. "Benarkah? Tapi bukankah mereka sepupu?" p
Ning Yuan masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan pelan. Matanya beralih ke Qinglan yang masih terbaring lemah di ranjang, wajahnya pucat meskipun lukanya sudah dirawat.Angin malam mulai berhembus dari jendela yang terbuka. Ning Yuan berjalan mendekat, hendak menutupnya agar Qinglan tidak terkena angin.Tapi begitu tangannya menyentuh bingkai jendela—"Kak Yuan!"Ning Yuan hampir menjerit. Refleks, dia meraih peti kayu kecil di atas meja dan mengayunkannya ke arah kepala yang tiba-tiba muncul di jendela.Pangeran Ketiga dengan cepat menghindar, matanya membelalak. "Kak! Ini aku! Weijun!"Ning Yuan menurunkan peti kayu itu perlahan, napasnya masih memburu. "Kau—kenapa kau kembali? Kau benar-benar ingin membuat gosip yang tidak nyata itu semakin membara di istana?!"Pangeran Ketiga malah cengengesan, sambil kedua tangannya membuat gerakan memohon. Wajahnya terlihat memelas—tapi Ning Yuan tahu pria ini pasti sedang bermain drama."Kak Yuan, aku mohon padamu," katanya dengan nada mere







