MasukSisa hidup Emma tinggal sebulan lagi. Ia yang begitu sial justru bertemu dengan Raynard, pangeran rubah yang mendominasi. Karena telah menelan esensi kehidupan sang pangeran, selamanya ia terjebak pada pria itu. Ia memanfaatkan momen itu untuk berbalas dendam pada Iris, saudari tiri yang berulang kali ingin melenyapkannya. Lalu, fakta tentang kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya kembali terkuak, pun tentang tujuan Raynard menyelamatkannya. Lalu, langkah apa yang akan Emma ambil? Tetap menerima hidupnya, atau menyerah pada takdir?
Lihat lebih banyakEmma melangkah mendekati jembatan kayu, yang sebentar lagi akan dibangun beton. Senyumnya merekah, takjub. “Ayah, lihatlah! Aku bisa membangun mimpi Ayah,” gumamnya pelan. Air matanya nyaris menetes karena terharu. Ia yakin,mendiang ayahnya akan bangga.
“Emma.” Iris mendekat, gadis kemayu itu tersenyum sinis. Senyum yang nyaris tak pernah ia tunjukkan pada saudari tirinya itu. Emma yang memang tak begitu menyukai Iris hanya melirik sekilas, lalu fokus pada gedung tinggi itu. “Iris, mending kamu hubungi Pak Alex, tanyakan, kapan proyek pembangunan jembatan ini akan dilakukan.” Iris biasanya akan menurut, tetapi kali ini ia tertawa keras, membuat Emma mengernyit, melirik skiptis padanya. “Kamu gila? Aku menyuruh kamu, Iris!” Iris mengeluarkan pisau dari tasnya. Emma mendelik melihat aksi adik tirinya itu. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Emma dengan suara bergetar, ia mundur dua langkah, lalu menoleh ke belakang, riak sungai begitu deras. Ia meremas roknya, telapak tangannya sudah berkeringat, ngeri. “Hahahaha … aku sudah menunggu waktu ini, Emma. Kamu akan lenyap! Sudah lelah aku mengalah dan menjadi budakmu.” Emma menggeleng kuat, matanya mengedar, berharap ada seseorang yang bisa membantunya dari perempuan gila ini. “Iris, jangan macam-macam. Aku bisa saja teriak.” “Teriaklah sesukamu! Tak akan ada yang membantu!” Mirip psikopat, Iris nengeram lirih, lalu disusul dengan tawa renyah. Iris mendekat, pisaunya yang lancip membuat Emma gemeteran. “Aku yang akan menikah dengan pewaris Georgetown Company. Dan semuanya akan jadi milikku, Emma. Aku muak dengan sikapmu.” “Iris! Tolong! Siapapun tolong!” teriak Emma sekeras mungkin, tetapi tanggapan Iris hanya tertawa nyaring. “Kamu akan mati! Mati! Selamat tinggal, Emma. Pergilah ke neraka!” Iris mengayunkan tangan, mencoba menghunus dada Emma, tetapi Emma justru memilih menjatuhkan diri ke sungai itu. Klik. Waktu seolah berhenti, tetapi tidak pada udara siang itu. Emma tersentak, seperti terlempar pada dimensi lain. Gadis itu gelagapan, takut dan begitu banyak rasa yang tak bisa ia jelaskan. “Apa aku di surga?” gumam Emma, tanpa sadar, tangannya meremas sesuatu. Ia merasakan hangat di wajah. “Kamu baik-baik saja?” Mata Emma mendelik. Baru saja menyadari sosok tampan sedang menggendongnya. Namun, yang membuat ia terkejut, sosok ini terasa tidak asing. Sosok yang pernah ia jumpai di dalam mimpi. Pangeran impiannya. Ah, apa Emma beneran mati dan bertemu pangeran di surga? “Hei?” Pria itu menyentil kening Emma pelan. “Aku beneran di surga? Bertemu bidadara? Pria yang ada di mimpiku?” Emma melebarkan senyuman. Pria itu yang selalu membantunya dalam situasi sulit, Emma sangat penasaran, ia justru memberanikan diri untuk lebih dekat, menarik tengkuk pria itu. “Kamu yang di mimpiku kan?” “Bodoh, kamu tidak pernah mimpi, kamu memang selalu sial ….” Ucapan pria itu terhenti, karena tiba-tiba saja Emma mencium bibirnya. Ia mendelik, seolah membiarkan momen yang semestinya terjadi, ia membuka sedikit mulutnya. Uhuk! Uhuk! Emma meraba lehernya sendiri, “apa yang kutelan?” “Esensi kehidupan milikku, bodoh! Kamu tidak bermimpi. Mulai detik ini, hidupmu adalah milikku.” “A-apa?” Emma menggeleng kuat. “Ja-jadi, siapa kamu? Kenapa bisa terbang, dan aku … apa yang sebenarnya terjadi kalau ini bukan mimpi?” “Tuan, dia lancang!’ teriak seseorang dari seberang, pria itu memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Emma bertambah bingung, dua pria asing melayang di udara? Yang menggendongnya justru mengusap udara, cahaya putih menyambar lembut. Mata Emma mengerjab pelan, suara tawa Iris terdengar samar. Tubuh Emma terbawa angin bersama pria tampan itu, menembus awan. Semua terasa gelap, embusan angin membuat mata Emma terpejam, pasrah. Emma membuka matanya cepat. Yang ia dapati adalah kamar asing dengan aroma bunga sakura. Matanya mengerjap beberapa kali. Pikirannya berkelana jauh, tetapi tak menemukan apapun. “Apa aku di surga? Apa aku sudah mati?” Ia menepuk pipinya keras. Rasa panas menyengat, ia memekik keras, “Aw!” Emma menyibak selimut tebal dengan gambar bunga anggrek berwarna ungu yang menutupi tubuh rampingnya. Kakinya perlahan turun pada lantai kayu, matanya menyisir ke penjuru ruangan. “Di mana aku? Apa aku mati karena Iris tadi?” Emma menggaruk kepalanya, gatal. Lalu, ingatan mengenai wajah tampan nan dingin, membuat mulutnya terbuka lebar. “Sebentar! Tadi siapa?” Suara sayup terdengar dari luar kamar, tanpa alas kali, Emma melangkah dengan mengendap-endap. Tangan dinginnya mengayunkan gagang pintu dengan sedikit gemetar. Kepalanya menyembul keluar, ragu. “Suara itu … apa itu suara pria yang kucium tadi?” gumamnya dengan jantung berdebar. Bukan jatuh cinta, melainkan ngeri dengan ancaman pria tampan itu yang kapan saja bisa melenyapkan nyawanya. Emma berjalan menuju ke sumber suara, berharap akan mendapat informasi mengenai tempat asing ini, matanya bergerak waspada, takut-takut sesuatu akan menyerangnya secara tiba-tiba. “Tuan Muda, jika esensi kehidupan itu tertelan oleh wanita itu, kondisi Anda akan sangat berbahaya, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membunuh wanita itu sekarang, supaya Anda bisa kembali normal.” Pria bertubuh kurus itu terlihat frustasi, pria yang di panggil Tuan Muda, tampak santai sambil membaca surat kabar dengan kaki bersila di bangku kayu. “Tidak. Jangan mengacaukan rencanaku. Gadis sial itu terlalu impulsif. Biarkan saja, belum saatnya dia tahu.” Sementara itu, Emma membungkam mulutnya sendiri, berjongkok di balik kendi tanaman air untuk menguping lebih jauh. “Duh, bagaimana ini? Mereka akan membunuhku. Lalu, gimana caranya aku balas dendam dengan Iris dan ibunya yang mata duitan itu?” Emma menggelengkan kepala. Itu terlalu mengerikan. Emma bangkit dari tempat persembunyiannya. “Aku harus kabur, sebelum mereka menemukanku.” Emma tidak akan kehilangan kesempatan emas ini, sialnya kepalanya justru membentur pot gantung dan spontan ia memekik. “Sialan! Aduh… siapa yang menaruh benda bodoh ini di sini?!” Dua pria yang sedang mengobrol itu langsung menoleh. Emma gelagapan karena lepas kendali. “Hey, kamu menguping ya!” “Oliver, tahan. Kecilkan suaramu.” Sang Tuan Muda melipat korannya cepat. Menaruhnya di atas meja, ia melangkah santai, Emma justru yang gelagapan. “Kamu sudah sadar?” “S-si-siapa kamu? Aku berada di mana ini?” Alih-alih menjawab pertanyaan Emma, pria tampan dengan tatapan dingin itu menghela napas panjang, ia justru menatap mata bulat Emma yang mendelik “Tuan Raynard, gadis ini tidak sopan. Dia ….” Ucapan Oliver terhenti, saat Raynard mengangkat tangan ke udara. “Jadi namamu Raynard?” Emma berusaha untuk lebih berani, meski dalam hati ketakutan setengah mati. “Untuk apa kamu membawaku ke sini?!” “Songong sekali dia,” gerutu Oliver tertahan. “Kamu tahu, takdir kamu hanya hidup sampai usia 24 tahun. Itu sudah menjadi suratan takdir kamu, Emma. Dan kamu, menelan esensi kehidupanku.” Emma mendelik, refleks tangannya mengusap lehernya sendiri, kepalanya menggeleng cepat. Tubuh mungilnya bergetar, kakinya mundur, menghindari tatapan intimidasi. “Bagaimana ca-caranya aku bisa hidup lagi? Mak-maksudku … aku bisa bales dendam dulu.” “Dia bicara apa?” Oliver geleng-geleng kepala, tak habis pikir. “Lalu bagaimana?” “Menurut dan patuh, hidupmu sekarang milikku.” Emma menggeleng. “Kalau begitu, aku kembalikan saja. Aku tidak mau terjebak di sini selamanya!” Emma ingat, ia mendapatkan esensi kehidupan itu karena ia mencium Raynard. Dan ia yakin, cara mengembalikan ya juga dengan cara yang sama. Perlahan ia maju, lalu mencium kembali Raynard. Mata leia itu mendelik. Pun dengan Emma, karena sosok tampan itu berubah wujud, telinganya berbulu putih, pria itu mengeluarkan sembilan ekor. “Tuan Muda!”Seraaaaaang!”Teriakan itu memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.Prajurit Raiver bergerak lebih dulu. Derap kaki memenuhi halaman batu, pedang dan tombak terangkat bersamaan. Sorak perang menggema, membuat beberapa pelayan yang masih berada di sekitar balai menjerit ketakutan dan berlari menjauh.“Lindungi tetua!” teriak salah satu pengawal Onyx.Raynard tidak mundur. Begitu prajurit pertama menerjang, ia menyambar tombak yang mengarah ke dadanya, memutarnya, lalu menghantamkan gagang tombak itu ke rahang lawan. Tubuh pria itu terpelanting dan menabrak dua prajurit di belakangnya.Diego langsung maju dengan pedang panjang berlapis cahaya merah. Tebasannya cepat dan berat. Raynard menahan dengan pedangnya sendiri, benturan keduanya memercikkan cahaya biru dan merah yang membuat udara berdesis.“Masih sempat melindungi manusia itu?” sindir Diego sambil menekan pedangnya.Raynard mendorong balik hingga Diego mundur setengah langkah. “Aku selalu sempat.”Di sisi lain ha
Langkah Raynard mantap menuju ke balai. Terdengar keributan. Beberapa orang berkumpul di sana. Termasuk ayahnya dan juga para tetua.“Tuan Muda, Diego River datang dengan para prajurit mereka!” Salah satu pengawal tergopoh menghampiri Raynard, wajahnya penuh dengan ketakutan.“Sial! Dia justru datang terlebih dahulu.” Raynard menghentikan langkah, kepalannya semakin kuat. Mengingat Emma sedang mengandung, jiwa protektifnya kembali muncul.“Tambah lagi keamanan di ruangan itu. Jangan ada satu pun yang boleh masuk. Siapa pun itu, termasuk pelayan, sebelum aku kembali.”Pengawal itu memberikan anggukan. “Semuanya, bersiap!” teriak Raynard. Para prajuritnya mengikuti di belakang.Sorak sorai terdengar keras dari kejauhan. Para prajurit klan Raiver mulai meneriaki slogan mereka.Saat Raynard keluar, suasana jadi hening. Edrick sudah nyaris putus asa.“Tenang!” Diego maju selangkah, senyum smirknya membuat Raynard muak. Pria itu menatap sinis Raynard.“Ada apa? Bukankah duel itu akan dilak
Raynard tetap menggenggam tangan Emma saat mereka berjalan menyusuri lorong batu. Langkahnya sengaja diperlambat, menyesuaikan dengan Emma yang masih terlihat sedikit lemas.“Kita mau ke mana?” tanya Emma penasaran.“Sebentar lagi kamu juga tahu,” jawab Raynard dengan senyum tipis.Mereka melewati beberapa taman kecil, lalu sebuah gerbang kayu berukir terbuka perlahan. Begitu melangkah masuk, Emma sontak menghentikan langkahnya.“Ray….”Di hadapannya terbentang hamparan bunga berwarna-warni yang seolah tak berujung. Kupu-kupu dengan berbagai warna beterbangan bebas di antara kelopak-kelopak bunga. Sebagian bahkan memancarkan cahaya lembut saat sayapnya mengepak, membuat taman itu tampak seperti lukisan hidup.Angin berembus pelan, membawa aroma bunga yang segar dan menenangkan.“Cantik sekali, aku suka sama wangi bunganya juga,” gumam Emma tanpa mengalihkan pandangannya.Raynard tersenyum melihat kekaguman di wajah istrinya.“Ini Taman Aravelle,” ujarnya. “Tempat ini hanya dibuka untu
Emma baru saja benar-benar terjaga ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia menyibak selimut, lalu berjalan membuka pintu dengan rambut masih terurai.Di ambang pintu, dua pelayan perempuan berdiri rapi. Salah satunya membawa nampan berisi gaun berwarna pucat dengan sulaman perak halus, yang lain membawa perhiasan sederhana.Emma refleks tertegun.“Uh… ini untuk apa?”Pelayan yang lebih tua menunduk sopan. “Ini gaun yang harus dikenakan hari ini, Nyonya.”Nada suaranya datar, seolah itu bukan permintaan, melainkan ketetapan.Emma ragu sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. “Baik.”Ia membiarkan mereka masuk dan mulai membantu melepas pakaian tidurnya, merapikan rambutnya, mengenakan gaun itu dengan cekatan. Kainnya ringan, dingin di kulit, jatuh pas di tubuh Emma tanpa terasa berlebihan.Saat pelayan terakhir mengencangkan ikatannya, Emma bertanya, seolah baru teringat sesuatu, “Raynard di mana?”Kedua pelayan itu saling pandang singkat sebelum
Raynard menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah dingin, tajam dengan keyakinan yang tak ingin ia ucapkan sembarangan.“Bukan ayahku,” katanya akhirnya. “Dan bukan pendeta itu.”Emma terdiam. Dadanya berdebar, firasat buruk merambat naik. “Lalu siapa?”“Oliver,” jawab Raynard lir
“Siapa kamu?” geram Lee dengan muka merah padam, napasnya menderu dengan kedua tangan yang mengepal.Emma menelan ludah. Napasnya tercekat di tenggorokan. “Ray, kenapa kamu di sini?”Raynard hanya tersenyum tipis. Setiap langkahnya menjadi pusat perhatian. Pria dengan wajah datar itu mendekat, sant
“Tolong ….”Emma ternganga, nyaris memuntahkan napasnya, dan detik berikutnya ia justru tersenyum pongah. Tetapi tidak pada Iris dan kubu-nya. Mereka diam, dengan wajah memucat.“Nona Iris, tolong.” Pria bertubuh kekar bersimpuh dengan tangan yang diborgol, di belakang beberapa polisi dan Frans ber
Emma dan Oliver baru saja turun dari mobil. Suasana rumah keluarga Azzure sudah tampak ramai. Mobil berderet di car port. Emma berjalan dengan anggun menuju gerbang, seorang satpam yang berjaga mendelik sempurna.“No-nona Muda? An-anda masih hidup?” tanya satpam itu dengan tergagap.Emma mengulas s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan