Dianggap Wanita Biasa, Ternyata Berkuasa

Dianggap Wanita Biasa, Ternyata Berkuasa

last updateLast Updated : 2026-06-19
By:  SarasOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
30views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di mata keluarganya, Naila hanyalah seseorang yang tidak pernah cukup untuk dibanggakan, dan selalu di bandingkan dengan sepupunya Regina. Dan Ketika Regina terkena masalah, hanya Naila yang bisa membantunya, apakah akhirnya Naila akan membantu ... atau hanya membiarkan Regina tertimpa lebih dalam dengan masalahnya?

View More

Chapter 1

Bab 1 - Perbandingan yang tak pernah usai

Suasana hangat rumah nenek justru terasa dingin bagi Naila. Acara keluarga selalu menjadi panggung cerita siapa yang paling berhasil. Seseorang selalu diagungkan, menjadi contoh kesuksesan yang dipamerkan.

Malam itu lampu ruang tamu menyala terang, suara tawa memenuhi ruangan, aroma masakan rumahan menyelimuti udara, dan percakapan saling bersahutan tanpa henti. Semua tampak hangat... seperti keluarga yang sempurna. 

Bagi orang lain, suasana di rumah itu mungkin merasakan hangatnya keluarga, tetapi bagi Naila justru terasa asing. Ia berdiri sejenak di ambang pintu sebelum melangkah masuk, menatap wajah-wajah yang sudah dikenalnya sambil membalas senyum tipis.

"fuuu...." Naila menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya berjalan masuk, tepat saat suara yang selalu menjadi pusat perhatian terdengar.

"Regina sekarang lagi sibuk banget," ujar Amara dengan nada bangga yang nyaris seperti pengumuman.

 "Proyek yang dia pegang itu nilainya besar, bahkan kerjasamanya dengan perusahaan teknologi yang lagi berkembang pesat," ucap Amara lagi.

Semua orang mendengarkan dengan takjub. Beberapa orang melempar pujian, sementara yang lain mengangguk kagum memenuhi ruangan.

Regina yang duduk di samping ibunya hanya tersenyum kecil. Penampilannya rapi dan berkelas, gaun bermerek yang dikenakannya sederhana, tetapi jelas terlihat mahal. Cara duduknya, cara menanggapi perhatian semua orang, semuanya terlihat begitu terlatih.

"Masih banyak yang harus dipelajari," jawab Regina pelan, seolah merendah.

Amara terkekeh ringan.

"Kamu itu terlalu rendah hati. Hasilnya sudah kelihatan jelas kok," sahut Amara.

Amara tidak berhenti sampai di situ. 

“Belum lagi tunangannya, yang mempunyai posisi tinggi di perusahaan. Dan untungnya Regina dari dulu serius membangun hidup. Jadi sekarang tinggal menikmati hasilnya.” jelasnya dengan bangga. 

Regina hanya tersenyum, menunduk sedikit, tetapi jelas menikmati sorotan yang tertuju padanya, segalanya tampak begitu sempurna baginya, karir yang menjanjikan, kehidupan yang mapan, pasangan yang berpengaruh, seolah hidupnya adalah jawaban dari semua pertanyaan tentang keberhasilan.

setelah puas memamerkan keberhasilan anaknya. Amara pun langsung mencari-cari keberadaan Naila.

"Naila sudah datang ya?" tanya Amara dengan suara yang lebih ringan, tetapi mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.

Semua mata beralih, Naila melangkah masuk dengan tenang. Pakaiannya sederhana, kemeja longgar dengan celana kulotnya. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang menarik perhatian.

dengan senyum terpaksa Naila menjawab. "Iya, tante"

"Ke sini, duduk," ucap Amara.

Naila menurut, duduk di sofa yang sama, tetapi terasa seperti berada di sisi yang berbeda dari ruangan itu.

“Naila sekarang kerja di mana ya?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Amara. Sederhana, tetapi Naila tahu itu persis rangkaian bom yang bersembunyi di baliknya.

"Iya," sahut Naila singkat.

Dan benar saja, sumbu itu langsung menyala. “Oh… masih di tempat yang itu?

Masih di posisi yang biasa juga?”

nada bicara Tante Amara meninggi di ujung kalimat, seolah tempat kerja Naila adalah sebuah kesalahan besar.

Naila hanya bisa tersenyum kaku. Karena ia tahu wanita di hadapannya ini memang selalu mencari hal yang bisa dibandingkan dengan anaknya. 

“Perempuan itu jangan terlalu santai kalau umur sudah segini. Kalau belum dapat karir bagus, setidaknya cari pasangan yang jelas.” timpal Tante Amara lagi sambil membenarkan posisi gelangnya. 

Naila tersenyum kecil. “Masih dijalani saja, Tante.”

Amara tertawa pelan, sebuah tawa pendek yang kembali memotong kalimat Naila dengan cepat.

“Itu masalahnya. Hidup nggak bisa cuma dijalani,” sahut Amara. Nada suaranya kembali meninggi, penuh penekanan seolah ia baru saja memenangkan sebuah perdebatan dan kembali memegang kendali di ruangan itu.

Tidak ada satupun suara yang bangkit untuk membela. Keheningan yang menggantung di udara terasa begitu mutlak. Di antara kepala-kepala yang tertunduk dan tatapan mata yang membuang muka, tidak ada satu orang pun yang bersuara untuk mengatakan bahwa pertanyaan itu sudah keterlaluan

“Kamu nggak capek kerja bertahun-tahun tapi hasilnya nggak kelihatan?” tanya Amara lagi.

Naila diam. Lidahnya terasa kelu, terkunci oleh rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada. Ia memilih menahan kata-katanya di ujung bibir, menolak memberikan kepuasan pada lawan bicaranya dengan sebuah bantahan yang tak mungkin didengar. 

Amara lanjut bicara.

“Perempuan itu nggak harus hebat. Tapi minimal hidupnya bikin orang tua tenang.”

"Oh iya," Amara kembali bersuara, seolah baru teringat sesuatu yang penting.

"Tante punya kenalan, namanya Toni. Orangnya baik, kerjaannya jelas, penghasilannya juga stabil," ucapnya menjelaskan.

“Cocok buat kamu, dengan keadaan kamu sekarang, tidak banyak orang yang akan cari perempuan yang hidupnya belum jadi apa-apa,” tegas Amara 

Kalimat itu meluncur mulus, dingin, dan tanpa beban. Amara sengaja menekankan kata ‘belum jadi apa-apa’, seolah sedang melabeli Naila sebagai produk gagal yang tidak punya nilai.

Ruangan mendadak sangat tenang.

Naila tidak merasa marah. Tidak ada letupan emosi atau keinginan untuk membalas makian. Ia hanya merasa lelah sebuah kelelahan yang teramat sangat, yang telah menumpuk dan menguras seluruh energinya… 

“Jadi perempuan itu nggak bisa terlalu lama sendiri,” timpal Regina. 

“Yang penting ada yang menjamin hidup untuk masa depan,” lanjut Amara lagi. 

Satu per satu kalimat itu terdengar seperti nasihat yang diberikan untuknya. Padahal terasa seperti tekanan baginya

Naila menarik nafas pelan.

“Saya belum kepikiran ke arah sana, Tante.”

Amara tersenyum. Kali ini lebih tipis.

“Jangan terlalu pilih-pilih,nanti malah nggak dapat apa-apa,” katanya. 

Kalimat itu meluncur dengan pelan, namun berat. Untuk sesaat, Naila ingin bicara, tapi ditahan.

Ayahnya berdiri. “Naila,” panggil beliau lembut, memecah ketegangan yang sedari tadi mencekik ruangan.

Naila menoleh. Di sisi ruangan yang tak terlalu jauh, sang ayah memaksakan sebuah senyum kecil, jenis senyuman yang menyembunyikan rasa bersalah sekaligus perlindungan seorang orang tua.

“Kalau capek, istirahat dulu di luar,” lanjut ayahnya, memberi jalan bagi Naila untuk meloloskan diri.

Naila mengangguk samar. Tanpa pamit pada Amara maupun orang-orang yang mendadak bungkam, ia berdiri lalu melangkah lebar keluar menuju teras.

“Huff…” hembusan nafas panjang. Udara sore di luar langsung menyergap parunya, terasa jauh lebih ringan dan waras ketimbang atmosfer beracun di dalam ruangan tadi. Naila bersandar pada pembatas teras, menatap kosong ke arah jalanan depan rumah selama beberapa saat, mencoba mengurai sesak di dadanya.

Bzzt. Bzzt.

Saku bajunya bergetar. Tangannya perlahan merogoh tas dan mengambil ponsel. Layar itu langsung menyala, menampilkan pesan baru dari tim intinya. Rapat bersama investor utama ternyata dimajukan ke besok pagi, dan kehadirannya diminta secara langsung. Naila membaca pesan demi pesan itu tanpa banyak perubahan ekspresi, sampai satu pesan terakhir kembali muncul di layar.

“aku harus hadir sebagai….” Naila berucap pelan sambil membaca pesan. 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status