MasukMature content 21+ Dirty mind, dark secret Menjadi playboy selama bertahun-tahun tentu menjadikan Tito Alvarez ahli dalam menakhlukkan banyak wanita. Bagaimana apabila ia menyukai Jameka Michelle--kakak sahabatnya yang sudah tahu seluk-beluk, luar-dalam, atau baik-buruk sifatnya, serta satu-satunya wanita yang tidak boleh ia dapatkan? Sementara hampir dua puluh empat jam selama seminggu Tito bekerja bersama Jameka untuk membangun Heratl Company yang hampir bangkrut? Akankah Tito menyerah dengan perasaannya? Atau justru berujung melawan sahabatnya yang berkuasa dan ditakuti orang-orang di seluruh belahan dunia untuk mendapatkan izin menyukai Jameka?
Lihat lebih banyak“Good morning, Bae.”
Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat. “Morning. Maaf, semalam aku sudah tidur, tidak tahu kapan kau datang. Tadi pagi aku juga tidak berani membangunkanmu,” balas wanita itu rikuh, lalu membiarkan sendok pengaduk di cangkir untuk menyentuh lengan-lengan kekar yang melingkari perutnya. Bubuhan bibir di kening dan pundaknya membuat ia merinding sekaligus merasa dicintai. “It’s okay. Kau mungkin kelelahan. Ingat, akhir-akhir ini kau memang sering kelelahan.” “Itu karena aku bekerja keras.” Benar, membangun usaha yang sedang diambang kebangkrutan memang sangat melelahkan. “Jangan terlalu keras bekerja, biar aku saja. Omong-omong, mula-mula kau membuat teh? Biasanya Americano.” Pria itu meletakkan dagu di pundak tunangannya sembari menurunkan pandangan ke cangkir keramik putih berlarik emas. “I don’t know. Mungkin hanya sedang bosan,” jawab wanita itu sembari menoleh sedikit supaya bisa melihat wajah tunangannya. “Kau mau kopi? Akan kubuatkan.” Senyum hangat melekuk di bibir pria itu. “But, all I want is you. Bagaimana? Kau mau membuatkannya?” “Dasar perayu ulung!” hardik wanita itu, tetapi diselingi senyum rikuh. “Quickies, okay?” bisik pria itu di pelipis tunangannya. “Dasar ...,” gumam Jameka Michelle yang lantas membiarkan dirinya meleleh di bawah sentuhan bibir River Devoss di bibirnya. Pria itu selalu mampu melemahkan sendi-sendi kakinya. Sehingga ia harus membalik tubuh untuk berpegangan pada River yang mulai menekuri lehernya. “Aku merindukanmu. Kau terlalu lama pulang ke Indonesia.” Jameka mendongak sembari memejam. Tangannya menyugar rambut River. “Sebagian besar pekerjaanku di sana.” River menyingkirkan keramik cangkir teh Jameka supaya bisa mendudukkan wanita berambut panjang itu di kitchen island. Sedikit sentakan tersebut membuat mereka kian menyulut badai gairah. Bibir mereka saling mencari, tangan mereka saling menyentuh dan membantu melepaskan bawahan pasangannya. Akibat rindu yang membeludak, River jadi sedikit tergesa-gesa mengisi Jameka. Wanita itu merintih, “Pelan-pelan, Riv.” “Maaf, aku terlalu merindukanmu.” River melayangkan ciuman lembut yang kuat, tetapi menuntut seraya mencoba mengisi Jameka kembali. “Oh!” Jameka kembali tersentak sebab merasakan ketidaknyamanan di bawah sana. Yang merambat ke perut bagian bawahnya. Jameka bergerak seduktif, menyesuaikan irama yang River ciptakan. Sebelah tangannya menahan setengah tubuh terbaringnya. Sementara tangan yang lain meraih punggung pria itu yang kian bergerak cepat sembari mempekerjakan indra pengecap di puncak dadanya, berpesta pora di sana, meninggalkan jejak-jejak keintiman. “Riv ..., pelan-pelan.” Kedua alis sempurna Jameka mengernyit, benar-benar tidak merasa nyaman. Seperti ada yang menyakitinya. Padahal seharusnya tidak. Namun, ia tidak ingin membuat River merasa bersalah. River mengangkat wajah sedikit untuk melihat Jameka. “Maaf, aku hampir sampai, Bae.” Jameka ingin menjerit, tetapi tidak ingin merusak suasana yang dibangun River, lalu berpotensi besar menyulut pertengkaran. Bisa dibilang wanita itu sangat mecintai River. Begitu pula sebaliknya. He’s the one who can handle her heart well. The first man who touched her maturely and proposed to her. Satu sentakan kuat, satu desah panjang, dan River menegang sebelum meledak. Di tengah napasnya yang memburu, ia membubuhkan bibirnya pada kening Jameka yang masih memejam dan ngos-ngosan. Lalu ia menurunkan ciuman ke bibir lembut wanita itu. Lanjut memeluk tunangannya penuh kasih sayang serta rasa terima kasih. Ketika sedikit menjauhkan diri dengan niat mengosongkan Jameka, River terkejut luar biasa dan langsung dilanda panik tidak tanggung-tanggung. “Astaga, kau berdarah banyak, Bae.”Kurang ajar memang si Kadal Sawah ini. Berani-beraninya pria itu mengintip adanya kemelut bak jelaga yang merusak susunan lapisan ozon dalam diri Jameka. Kendati tidak ingin sendirian malam ini, nyatanya ia tidak tahu harus bagaimana menyampaikan apa yang dirasakannya saat ini. Khususnya mengenai acara perjodohan tidak masuk akal papanya yang dikait-kaitkan dengan River. “Nggak ada apa-apa, kok, To,” jawab Jameka setelah sekian detik berpikir. Lalu memutuskan mengambil rokok dari dalam tas. Sayangnya, dengan kecepatan yang tidak bisa Jameka prediksi, Tito merampasnya. “Apaan, sih, lo?” geram Jameka dengan alis berkerut samar.“Lo udah mesen vodka, sekarang mau ngerokok? Udah gila beneran lo, ya?” omel Tito. “Kagak mungkin lo pengin dan butuh minum-minum kagak jelas padahal tahu besok ada rapat pagi. Kalau ada masalah, sini cerita ke gue atau Lih. Kagak perlu kayak gini, Jame. Gaya hidup galau lo kagak sehat.“Wanita itu pun melirik Lih di sebelah Tito. “Eh Bujang, lo denger kagak s
Does it scare you? That you might love someone that much someday, just to lose them too? —Cheryl McIntyre _________________________________ “Eh buset, merinding gue baca WA-nya Yang Mulia Ratu,” racau Tito lantas melempar ponsel ke meja bar setelah dengan amat terpaksa membagikan lokasi dirinya berada kepada Jameka. “Apaan?” tanya Lih Gashani—sahabat Tito—yang kebetulan baru selesai memesan segelas goblet rum cokelat tanpa campuran apa pun dan shisha[4] kecil ke bartender. Lih duduk di sebelah Tito dan melihat pria dengan kemeja biru dongker itu tampak berbeda. Seperti tidak berminat menggoda wanita seksi yang duduk bersama teman-temannya di sebelah kanan mereka. Padahal biasanya kalau ada yang bening-bening sedikit saja tertangkap mata, Tito pasti langsung mengeluarkan jurus buaya buntung dengan rayuan ulung. “Noh, kakak bos lo mau ke sini,” jawab pria bertato itu, memelototi ponsel dan menunjuk-nunjukknya secara ganas. Kening Lih berkerut samar. “Lah? Bukannya tadi ud
Oh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas. Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di kepalanya; kenapa jadi seperti ini? Bukankah sebulan lalu Jameka—didukung penuh oleh adiknya—sudah mengatakan kalau masih asyik quirky alone? Jameka juga ingat betul Jayden pernah mengingatkan papa mereka kalau ia bisa mencari jodoh sendiri. Tidak perlu menggunakan acara perjodohan. Dahulu, papanya kebelet punya menantu dari wanita yang dicintai Jayden, sekarang dari Jameka. Sungguh memusingkan. Jameka benar-benar tidak bisa mereka-reka jalan pikiran papanya. Oke, umur Jameka memang sudah lewat kepala tiga. Untuk ukuran wanita yang tinggal di Indonesia, memang itu seperti aib keluarga. Namun, ada alasan kenapa ia bisa sampai seperti ini. Ia pernah hampir menikah dengan River. Sangat disa
Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengin berduaan sama bokap,” jawab wanita itu, menuruti kata papanya. “Yah ... padahal lagi pengin makan gratis,” gumam Tito yang tidak digubris Jameka. Kedua netra pria itu menelisik ke luar jendela mobil. Bangunan bergaya Italy ini tampak sepi dan gelap. Hanya bagian sayap kanan yang menyala, sementara ruang-ruang lain lampunya sengaja dipadamkan. Gemericik air mancur di kaskade depan pintu masuk juga tidak lagi menyambut. Ini akibat pengurangan jumlah pekerja dan penghematan daya super. Mulanya Tito sempat menyampaikan pendapat lebih baik menjual atau menyewakan mansion super megah ini dan Om Allecio bisa tinggal di kondominium Jameka. Sementara itu, ia dan Jameka bersama seluruh karyawa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.