Share

TAMING THE BOSS
TAMING THE BOSS
Penulis: Chacha Prima

Prolog

Penulis: Chacha Prima
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 20:03:55

“Good morning, Bae.”

Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat.

“Morning. Maaf, semalam aku sudah tidur, tidak tahu kapan kau datang. Tadi pagi aku juga tidak berani membangunkanmu,” balas wanita itu rikuh, lalu membiarkan sendok pengaduk di cangkir untuk menyentuh lengan-lengan kekar yang melingkari perutnya. Bubuhan bibir di kening dan pundaknya membuat ia merinding sekaligus merasa dicintai.

“It’s okay. Kau mungkin kelelahan. Ingat, akhir-akhir ini kau memang sering kelelahan.”

“Itu karena aku bekerja keras.” Benar, membangun usaha yang sedang diambang kebangkrutan memang sangat melelahkan.

“Jangan terlalu keras bekerja, biar aku saja. Omong-omong, mula-mula kau membuat teh? Biasanya Americano.” Pria itu meletakkan dagu di pundak tunangannya sembari menurunkan pandangan ke cangkir keramik putih berlarik emas.

“I don’t know. Mungkin hanya sedang bosan,” jawab wanita itu sembari menoleh sedikit supaya bisa melihat wajah tunangannya. “Kau mau kopi? Akan kubuatkan.”

Senyum hangat melekuk di bibir pria itu. “But, all I want is you. Bagaimana? Kau mau membuatkannya?”

“Dasar perayu ulung!” hardik wanita itu, tetapi diselingi senyum rikuh.

“Quickies, okay?” bisik pria itu di pelipis tunangannya.

“Dasar ...,” gumam Jameka Michelle yang lantas membiarkan dirinya meleleh di bawah sentuhan bibir River Devoss di bibirnya. Pria itu selalu mampu melemahkan sendi-sendi kakinya. Sehingga ia harus membalik tubuh untuk berpegangan pada River yang mulai menekuri lehernya.

“Aku merindukanmu. Kau terlalu lama pulang ke Indonesia.”

Jameka mendongak sembari memejam. Tangannya menyugar rambut River. “Sebagian besar pekerjaanku di sana.”

River menyingkirkan keramik cangkir teh Jameka supaya bisa mendudukkan wanita berambut panjang itu di kitchen island.

Sedikit sentakan tersebut membuat mereka kian menyulut badai gairah. Bibir mereka saling mencari, tangan mereka saling menyentuh dan membantu melepaskan bawahan pasangannya. Akibat rindu yang membeludak, River jadi sedikit tergesa-gesa mengisi Jameka.

Wanita itu merintih, “Pelan-pelan, Riv.”

“Maaf, aku terlalu merindukanmu.” River melayangkan ciuman lembut yang kuat, tetapi menuntut seraya mencoba mengisi Jameka kembali.

“Oh!” Jameka kembali tersentak sebab merasakan ketidaknyamanan di bawah sana. Yang merambat ke perut bagian bawahnya.

Jameka bergerak seduktif, menyesuaikan irama yang River ciptakan. Sebelah tangannya menahan setengah tubuh terbaringnya. Sementara tangan yang lain meraih punggung pria itu yang kian bergerak cepat sembari mempekerjakan indra pengecap di puncak dadanya, berpesta pora di sana, meninggalkan jejak-jejak keintiman.

“Riv ..., pelan-pelan.” Kedua alis sempurna Jameka mengernyit, benar-benar tidak merasa nyaman. Seperti ada yang menyakitinya. Padahal seharusnya tidak. Namun, ia tidak ingin membuat River merasa bersalah.

River mengangkat wajah sedikit untuk melihat Jameka. “Maaf, aku hampir sampai, Bae.”

Jameka ingin menjerit, tetapi tidak ingin merusak suasana yang dibangun River, lalu berpotensi besar menyulut pertengkaran. Bisa dibilang wanita itu sangat mecintai River. Begitu pula sebaliknya.

He’s the one who can handle her heart well. The first man who touched her maturely and proposed to her.

Satu sentakan kuat, satu desah panjang, dan River menegang sebelum meledak. Di tengah napasnya yang memburu, ia membubuhkan bibirnya pada kening Jameka yang masih memejam dan ngos-ngosan. Lalu ia menurunkan ciuman ke bibir lembut wanita itu. Lanjut memeluk tunangannya penuh kasih sayang serta rasa terima kasih.

Ketika sedikit menjauhkan diri dengan niat mengosongkan Jameka, River terkejut luar biasa dan langsung dilanda panik tidak tanggung-tanggung. “Astaga, kau berdarah banyak, Bae.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 12A

    “ANJIR!” Tito menarik tangan dari atas wajan. Setitik minyak panas mendarat telak di punggung tangannya, meninggalkan sengatan kecil yang cukup membuat sumpah serapahnya mengguncang dapur basecamp. Ia buru-buru membuka keran, menyodorkan tangan ke bawah aliran air, lalu menendang pintu kabinet yang sejak tadi menghalangi betisnya. “Masak doang ribet amat, sih? Heran gue. Tinggal mateng, masuk mulut, beres.” Ponsel yang disandarkan pada botol minyak masih memutar video tutorial. Seorang perempuan bersuara lembut sedang menjelaskan cara memastikan adonan kroket ikan tidak terlalu lembek. Tito memelototi layar. “Ya, gampang buat lo ngomong. Dapur lo kagak kayak habis digerebek polisi.” Ia mematikan keran, mengeringkan tangan pada kaus hitam yang dikenakan, lalu kembali ke meja dapur. Keadaan di sana sudah tidak tertolong. Dua mangkuk berisi kentang tumbuk memenuhi sisi kanan meja. Kulit telur berserakan di dekat talenan. Tepung roti tumpah membentuk jejak putih sampai ke lantai

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 11B

    “Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?”Vivian langsung menegakkan punggung ketika tiga orang berhenti di depan meja resepsionis. Dua laki-laki mengenakan kemeja batik, sedangkan seorang perempuan membawa map hitam yang dijepit di dada.“Kami mau bertemu Bu Jameka,” jawab laki-laki yang berdiri paling depan.“Apakah sebelumnya sudah membuat janji, Pak?”Ketiganya saling berpandangan.“Belum,” sahut perempuan tersebut. “Kami dari perusahaan pemasok perangkat rumah tangga. Mau mengenalkan produk baru sekalian menyerahkan katalog.”Vivian mengangguk. Senyum pelayanannya tidak bergeser. “Mohon maaf, saat ini Bu Jameka sedang ada agenda di luar kantor.”“Kira-kira kembali jam berapa?”“Kami belum menerima informasi jam kepulangan beliau, Pak.” Vivian menggeser buku tamu ke depan. “Kalau Bapak dan Ibu berkenan, kami bisa bantu membuatkan janji terlebih dahulu. Nanti bagian sekretariat akan menghubungi untuk konfirmasi waktunya.”Laki-laki itu melihat dua rekannya sebelum mengangguk. “Bol

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 11A

    Jari Jameka yang sedang membenahi ujung blazernya terhenti. “Betul.” “Ada keluhan lanjutan setelah kejadian itu?” “Nggak ada.” Dokter mengangguk, tidak mengejar cerita di baliknya. Ia hanya mencatat jawaban Jameka, lalu beralih ke pertanyaan berikutnya. “Siklus menstruasinya sebelum operasi masih tidak teratur?” “Iya.” “Baik. Nanti kita pantau perkembangannya setelah masa pemulihan. Untuk sementara, tubuhnya jangan dipaksa dulu.” Dokter berhenti sebentar sebelum mengajukan pertanyaan lain dengan nada yang tetap datar dan profesional. “Sebelum operasi, Ibu masih aktif secara seksual?” Jameka berdeham kecil. “Masih.” “Setelah operasi?” “Belum.” “Bagus. Untuk dua minggu ke depan sebaiknya tetap dihentikan dulu. Kalau masih ada nyeri saat kontrol berikutnya, masa istirahatnya bisa diperpanjang.” Alis Jameka sedikit terangkat. “Dua minggu lagi?” “Minimal. Tujuannya supaya tidak ada tekanan berlebihan pada area yang masih pulih.” Jameka mengangguk pelan.

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 10B

    “Duduk situ.” Tito menunjuk satu-satunya tempat kosong di bangku panjang bagian depan ruang tunggu poli kandungan. Jameka menoleh ke bangku di belakangnya. Di sana juga hanya tersisa satu kursi, tepat di belakang tempat yang ditunjuk Tito. “Terus lo di mana?” “Gue di belakang lo.” Tito menunjuk bangku tersebut. “Kenapa nggak lo aja yang depan?” “Emang gue yang sakit?” Jameka mendecakkan lidah, lalu duduk. Tasnya diletakkan di pangkuan. Tito mengambil tempat di belakangnya, membuka kedua kaki, kemudian menyandarkan punggung. Ruang tunggu poli kandungan cukup padat. Beberapa pasien sibuk dengan ponsel. Seorang perempuan hamil berbicara pelan kepada suaminya. Televisi yang tergantung di sudut ruangan menayangkan acara kesehatan tanpa suara. Jameka baru saja membuka surel ketika ujung rambutnya tertarik pelan. Ia tidak langsung menoleh. Namun, beberapa saat kemudian, tarikan itu muncul lagi. Satu bagian rambut merah gelapnya yang bergelombang di ujung terangkat dari

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 10A

    Jameka terbangun tanpa mengetahui sudah berapa lama ia tertidur. Kelopak matanya terasa berat. Tenggorokannya kering, tubuhnya hangat di balik selimut tipis, sementara nyeri pada bagian bawah perut sudah turun menjadi denyutan samar. Butuh beberapa detik sampai langit-langit ruang kerjanya terlihat utuh dan pikirannya kembali mengumpulkan potongan kejadian sebelum ia tertidur. Obat. Kevino datang. Selagi Tito turun menggantikannya, Jameka menelepon Kevino untuk menginformasikan perwakilannya. Setelah itu tubuh Jameka mulai rileks. Ia juga sudah bisa melepaskan tangan dari permukaan perut. Bermenit-menit berikutnya kantuk datang. Mungkin efek obat. Makanya ia tidak bisa menahannya lagi ketika merasa permukaan meja kerja tampak lapang. Bisa digunakan untuk meletakkan kepala sebentar. Ia juga berniat memejam sebentar. Eh, tidak tahunya malah ketiduran. Jameka mengubah posisi. Gerakan kecil tersebut membuat kulit sofa berderit. Barulah matanya menangkap sosok yang duduk tepat di

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 9B

    Bunyi penanda lantai lima terdengar. Pintu elevator terbuka sebelum Kevino sempat mengejar penjelasan. Tito membawanya ke ruang rapat kecil yang terletak tidak jauh dari ruang CEO. Ruangan tersebut biasa dipakai untuk diskusi internal atau menerima tamu dalam jumlah terbatas. Meja oval menempati bagian tengah. Sebuah layar tertanam di dinding, sementara kaca buram memisahkan ruangan dari koridor. Tito sengaja memilih tempat terdekat. Kalau Jameka menelepon atau nyerinya bertambah, ia bisa kembali dalam hitungan detik. “Silakan, Pak Kevino.” Kevino duduk di salah satu sisi meja. Tito mengambil kursi di seberangnya, membuka buku catatan, lalu meletakkan ponsel dekat tangan. Penghitung waktu masih berjalan. Empat belas menit. Kevino membuka jilidan tipis yang dibawanya. Sampul brosur vendor pernikahan itu ternyata memuat nama perusahaan rintisannya. Syukurlah. Tidak ada nama Kevino dan Jameka yang dicetak menggunakan huruf sambung emas. “Ini konsep yang sempat saya b

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2B

    Oh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas. Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2A

    Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengi

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1B

    “Udahalah kagak usah banyak drama.“ Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini mem

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1A

    You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjut

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status