Share

Menjadi Tawanan Pangeran Rubah
Menjadi Tawanan Pangeran Rubah
Author: Layli Dinata

Bab. 1

Author: Layli Dinata
last update publish date: 2026-05-20 13:44:36

Emma melangkah mendekati jembatan kayu, yang sebentar lagi akan dibangun beton. Senyumnya merekah, takjub. “Ayah, lihatlah! Aku bisa membangun mimpi Ayah,”  gumamnya pelan. Air matanya nyaris menetes karena terharu. Ia yakin,mendiang ayahnya akan bangga.

“Emma.” Iris mendekat, gadis kemayu itu tersenyum sinis. Senyum yang nyaris tak pernah ia tunjukkan pada saudari tirinya itu.

Emma yang memang tak begitu menyukai Iris hanya melirik sekilas, lalu fokus pada gedung tinggi itu. “Iris, mending kamu hubungi Pak Alex, tanyakan, kapan proyek pembangunan jembatan ini akan dilakukan.”

Iris biasanya akan menurut, tetapi kali ini ia tertawa keras, membuat Emma mengernyit, melirik skiptis padanya.

“Kamu gila? Aku menyuruh kamu, Iris!”

Iris mengeluarkan pisau dari tasnya. Emma mendelik melihat aksi adik tirinya itu.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Emma dengan suara bergetar, ia mundur dua langkah, lalu menoleh ke belakang, riak sungai begitu deras. Ia meremas roknya, telapak tangannya sudah berkeringat, ngeri.

“Hahahaha … aku sudah menunggu waktu ini, Emma. Kamu akan lenyap! Sudah lelah aku mengalah dan menjadi budakmu.”

Emma menggeleng kuat, matanya mengedar, berharap ada seseorang yang bisa membantunya dari perempuan gila ini. “Iris, jangan macam-macam. Aku bisa saja teriak.”

“Teriaklah sesukamu! Tak akan ada yang membantu!” Mirip psikopat, Iris nengeram lirih, lalu disusul dengan tawa renyah.

Iris mendekat, pisaunya yang lancip membuat Emma gemeteran. “Aku yang akan menikah dengan pewaris Georgetown Company. Dan semuanya akan jadi milikku, Emma. Aku muak dengan sikapmu.”

“Iris! Tolong! Siapapun tolong!” teriak Emma sekeras mungkin, tetapi tanggapan Iris hanya tertawa nyaring.

“Kamu akan mati! Mati! Selamat tinggal, Emma. Pergilah ke neraka!” Iris mengayunkan tangan, mencoba menghunus dada Emma, tetapi Emma justru memilih menjatuhkan diri ke sungai itu.

Klik.

Waktu seolah berhenti, tetapi tidak pada udara siang itu.  

Emma tersentak, seperti terlempar pada dimensi lain. Gadis itu gelagapan, takut dan begitu banyak rasa yang tak bisa ia jelaskan.

“Apa aku di surga?” gumam Emma, tanpa sadar, tangannya meremas sesuatu. Ia merasakan hangat di wajah.

“Kamu baik-baik saja?”

Mata Emma mendelik. Baru saja menyadari sosok tampan sedang menggendongnya. Namun, yang membuat ia terkejut, sosok ini terasa tidak asing. Sosok yang pernah ia jumpai di dalam mimpi. Pangeran impiannya.

Ah, apa Emma beneran mati dan bertemu pangeran di surga?

“Hei?” Pria itu menyentil kening Emma pelan.

“Aku beneran di surga? Bertemu bidadara? Pria yang ada di mimpiku?” Emma melebarkan senyuman. Pria itu yang selalu membantunya dalam situasi sulit, Emma sangat penasaran, ia justru memberanikan diri untuk lebih dekat, menarik tengkuk pria itu. “Kamu yang di mimpiku kan?”

“Bodoh, kamu tidak pernah mimpi, kamu memang selalu sial ….” Ucapan pria itu terhenti, karena tiba-tiba saja Emma mencium bibirnya. Ia mendelik, seolah membiarkan momen yang semestinya terjadi, ia membuka sedikit mulutnya.

Uhuk! Uhuk!

Emma meraba lehernya sendiri, “apa yang kutelan?”

“Esensi kehidupan milikku, bodoh! Kamu tidak bermimpi. Mulai detik ini, hidupmu adalah milikku.”

“A-apa?” Emma menggeleng kuat. “Ja-jadi, siapa kamu? Kenapa bisa terbang, dan aku … apa yang sebenarnya terjadi kalau ini bukan mimpi?”

“Tuan, dia lancang!’ teriak seseorang dari seberang, pria itu memasukkan ponsel ke dalam saku celana.

Emma bertambah bingung, dua pria asing melayang di udara? Yang menggendongnya justru mengusap udara, cahaya putih  menyambar lembut. Mata Emma mengerjab pelan, suara tawa Iris terdengar samar.

Tubuh Emma terbawa angin bersama pria tampan itu, menembus awan.

Semua terasa gelap, embusan angin membuat mata Emma terpejam, pasrah.

Emma membuka matanya cepat. Yang ia dapati adalah kamar asing dengan aroma bunga sakura. Matanya mengerjap beberapa kali.

Pikirannya berkelana jauh, tetapi tak menemukan apapun.

“Apa aku di surga? Apa aku sudah mati?” Ia menepuk pipinya keras. Rasa panas menyengat, ia memekik keras, “Aw!”

Emma menyibak selimut tebal dengan gambar bunga anggrek berwarna ungu yang menutupi tubuh rampingnya. Kakinya perlahan turun pada lantai kayu, matanya menyisir ke penjuru ruangan.

“Di mana aku? Apa aku mati karena Iris tadi?” Emma menggaruk kepalanya, gatal. Lalu, ingatan mengenai wajah tampan nan dingin, membuat mulutnya terbuka lebar. “Sebentar! Tadi siapa?”

Suara sayup terdengar dari luar kamar, tanpa alas kali, Emma melangkah dengan mengendap-endap. Tangan dinginnya mengayunkan gagang pintu dengan sedikit gemetar. Kepalanya menyembul keluar, ragu.

“Suara itu … apa itu suara pria yang kucium tadi?” gumamnya dengan jantung berdebar. Bukan jatuh cinta, melainkan ngeri dengan ancaman pria tampan itu yang kapan saja bisa melenyapkan nyawanya.

Emma berjalan menuju ke sumber suara, berharap akan mendapat informasi mengenai tempat asing ini, matanya bergerak waspada, takut-takut sesuatu akan menyerangnya secara tiba-tiba.

“Tuan Muda, jika esensi kehidupan itu tertelan oleh wanita itu, kondisi Anda akan sangat berbahaya, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membunuh wanita itu sekarang, supaya Anda bisa kembali normal.” Pria bertubuh kurus itu terlihat frustasi, pria yang di panggil Tuan Muda, tampak santai sambil membaca surat kabar dengan kaki bersila di bangku kayu.

“Tidak. Jangan mengacaukan rencanaku. Gadis sial itu terlalu impulsif. Biarkan saja, belum saatnya dia tahu.”

Sementara itu, Emma membungkam mulutnya sendiri, berjongkok di balik kendi tanaman air untuk menguping lebih jauh.

“Duh, bagaimana ini? Mereka akan membunuhku. Lalu, gimana caranya aku balas dendam dengan Iris dan ibunya yang mata duitan itu?” Emma menggelengkan kepala. Itu terlalu mengerikan. 

Emma bangkit dari tempat persembunyiannya. “Aku harus kabur, sebelum mereka menemukanku.”

Emma tidak akan kehilangan kesempatan emas ini, sialnya kepalanya justru membentur pot gantung dan spontan ia memekik. “Sialan! Aduh… siapa yang menaruh benda bodoh ini di sini?!”

Dua pria yang sedang mengobrol itu langsung menoleh. Emma gelagapan karena lepas kendali. 

“Hey, kamu menguping ya!” 

“Oliver, tahan. Kecilkan suaramu.” Sang Tuan Muda melipat korannya cepat. Menaruhnya di atas meja, ia melangkah santai, Emma justru yang gelagapan.

“Kamu sudah sadar?” 

“S-si-siapa kamu? Aku berada di mana ini?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Emma, pria tampan dengan tatapan dingin itu menghela napas panjang, ia justru menatap mata bulat Emma yang mendelik 

“Tuan Raynard, gadis ini tidak sopan. Dia ….” Ucapan Oliver terhenti, saat Raynard mengangkat tangan ke udara.

“Jadi namamu Raynard?” Emma berusaha untuk lebih berani, meski dalam hati ketakutan setengah mati. “Untuk apa kamu membawaku ke sini?!”

“Songong sekali dia,” gerutu Oliver tertahan.

“Kamu tahu, takdir kamu hanya hidup sampai usia 24 tahun. Itu sudah menjadi suratan takdir kamu, Emma. Dan kamu, menelan esensi kehidupanku.”

Emma mendelik, refleks tangannya mengusap lehernya sendiri, kepalanya menggeleng cepat. Tubuh mungilnya bergetar, kakinya mundur, menghindari tatapan intimidasi.

“Bagaimana ca-caranya aku bisa hidup lagi? Mak-maksudku … aku bisa bales dendam dulu.”

“Dia bicara apa?” Oliver geleng-geleng kepala, tak habis pikir.

“Lalu bagaimana?”

“Menurut dan patuh, hidupmu sekarang milikku.”

Emma menggeleng. “Kalau begitu, aku kembalikan saja. Aku tidak mau terjebak di sini selamanya!” 

Emma ingat, ia mendapatkan esensi kehidupan itu karena ia mencium Raynard. Dan ia yakin, cara mengembalikan ya juga dengan cara yang sama. Perlahan ia maju, lalu mencium kembali Raynard. 

Mata leia itu mendelik. Pun dengan Emma, karena sosok tampan itu berubah wujud, telinganya berbulu putih, pria itu mengeluarkan sembilan ekor.

“Tuan Muda!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Layli Dinata
cusss lanjut aja kak
goodnovel comment avatar
Lin
seruuuu banget. otw lanjut
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 40 Incaran

    Ketukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk memecah suasana.Tok. Tok.Emma membuka mata lebar. Raynard menghela napas panjang, jelas tidak berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.“Serius?” gumamnya lirih.Ketukan kedua menyusul, lebih ragu. “Tuan, maaf mengganggu.”Raynard mendecak pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut dengan satu gerakan singkat. Memakai kembali celananya. Begitu juga Emma yang langsung memakai jubah tidurnya.Pintu terbuka perlahan. Oliver berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya canggung, jelas menyadari ia datang di waktu yang sangat tidak tepat.“Ah… saya kira Anda belum beristirahat,” katanya, suaranya menurun di akhir kalimat.Emma ikut duduk, membenarkan posisi bantal. “Gak apa-apa, Oliver. Ada apa?”Oliver melirik Raynard sekilas, lalu kembali ke Emma. “Para tetua meminta Tuan Muda segera ke balai tengah. Katanya ada perubahan keputusan.”Raynard langsung menegang. “Perubahan apa?”Oliver menarik napas. “Tentang penjagaan.

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   34. Menjenguk Dede Bayi di dalam Perut

    Acara peresmian itu telah usai.Segala tatapan sinis dan bisik-bisik yang sempat diarahkan pada Emma perlahan mereda, seolah kalah oleh kenyataan bahwa ritual telah diterima para tetua. Tidak ada kekacauan. Tidak ada penolakan terbuka. Semuanya berjalan lancar.Justru itulah yang membuat Emma merasa asing.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka, punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang hangat. Tangannya refleks menyentuh perutnya, masih rata, nyaris tak ada perubahan. Emma mengusapnya pelan, seolah takut menekan terlalu keras.“Ada kehidupan di sini,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Perasaan itu aneh. Bukan takut. Bukan juga sepenuhnya bahagia. Lebih seperti tidak percaya.Pintu kamar terbuka. Raynard keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, aroma sabun tipis menguar. Ia mengenakan pakaian sederhana khas dunia rubah, jauh dari kesan penguasa, lebih seperti pria biasa yang baru saja selesai mandi.Raynard duduk di samping Emma, jaraknya dekat, bahunya hampir bersent

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 38Pewaris Darah Onyx

    Kabut tipis menyelimuti lembah rubah saat fajar belum sepenuhnya naik. Cahaya biru pucat merembes di antara pepohonan tinggi, memantul di bebatuan berukir simbol kuno. Dunia itu tidak bising, tapi justru terlalu teratur, seolah setiap napas, setiap langkah, sudah diatur oleh sesuatu yang lebih tua dari waktu.Emma berdiri di samping Raynard.Jubah putih keperakan membalut tubuhnya. Bukan pakaian manusia. Bahannya ringan, hangat, dan seolah menyesuaikan dengan tubuhnya sendiri. Rambutnya dibiarkan tergerai, dihiasi benang perak yang disematkan para tetua perempuan rubah tanpa banyak bicara.Tatapan mereka dingin. Menilai.Emma bisa merasakannya.Bukan kebencian terang-terangan, tapi ketidakrelaan.Raynard menggenggam tangannya. Erat. Seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya tetap tenang.“Jangan lepaskan,” bisik Raynard pelan.Emma mengangguk.Di hadapan mereka, sebuah altar batu melingkar berdiri. Di tengahnya, kolam dangkal berisi cairan berkilau, bukan air, melainkan esensi

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 37 Ritual

    Emma berdiri kaku di tengah dunia Rubah.Udara di sana lebih padat, beraroma tanah basah dan kayu tua. Di sekelilingnya, manusia rubah berlalu-lalang—tinggi, ramping, dengan telinga dan ekor yang tak disembunyikan. Ada laki-laki, ada perempuan. Banyak perempuan. Dan hampir semuanya menatap Emma dengan sorot yang sama.Sinis. Mengukur. Tidak ramah.Emma tanpa sadar merapatkan kedua lengannya ke tubuh. Ada rasa asing, seperti ia sedang berdiri di tempat yang jelas bukan miliknya.Raynard menunduk sedikit, berbisik di dekat telinganya.“Jangan takut. Di sini, tidak ada yang berani menyentuhmu.”Nada suaranya tenang, tapi ada tekanan di baliknya, peringatan yang ditujukan bukan untuk Emma, melainkan untuk siapa pun yang mendengar.Langkah kaki mendekat.Seorang perempuan dengan rambut oranye terang berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tajam, dagunya terangkat angkuh. Ia tidak melirik Emma, seolah keberadaan Emma terlalu rendah untuk diperhitungkan.“Raynard,” katanya dingin. “Kenapa

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 36 Lahirkan Bayi Rubah

    Edrick melangkah maju satu langkah. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka kembali menegang.“Kalian jangan senang dulu.”Raynard refleks merapatkan tubuh Emma ke sisinya. Emma menoleh, jantungnya kembali berdebar, firasat buruk menyelinap pelan.“Dua ini memang kalah,” lanjut Edrick datar, matanya menatap tubuh para pendeta yang terkapar. “Tapi kaum mereka belum habis.”Ia menoleh ke arah Raynard. Tatapannya tajam, bukan marah, lebih seperti peringatan.“Mereka tidak akan berhenti hanya karena gagal sekali. Mereka sudah tahu keberadaanmu. Sudah tahu manusia itu,” dagunya sedikit terangkat ke arah Emma, “adalah celah.”Emma menggenggam lengan Raynard lebih erat. “Mereka bisa ke dunia manusia lagi?”“Bukan bisa,” jawab Edrick pelan. “Mereka pasti akan mencoba.”Ia menghela napas pendek, seolah menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan, namun harus.“Portal kalian bukan lagi rahasia. Jika satu pendeta bisa menembusnya, berarti ada metode. Dan metode

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 35 Dendam Kesumat

    Raynard berdiri kaku. Untuk pertama kalinya, napasnya benar-benar goyah.Dua pendeta itu tertawa bersamaan, tawa pendek yang terdengar puas. Salah satunya melangkah setengah langkah maju, suaranya ringan seolah sedang menawar barang murah.“Tidak sulit,” katanya. “Serahkan esensi kehidupanmu. Hanya itu. Anak itu, ” ia melirik Oliver yang nyaris tak sadarkan diri, “akan kami lepaskan. Utuh.”Emma menggeleng keras. “Ray, jangan.”Raynard menutup mata sesaat. Bibirnya bergerak, hampir mengucapkan sesuatu. Cahaya biru di sekeliling tubuhnya bergetar tak stabil, seperti nyala api yang kehabisan udara.“Pilihan mulia,” ejek pendeta kedua. “Kau menyelamatkan bawahanmu. Dan dunia kami mendapat apa yang dibutuhkan.”Emma melangkah maju, namun kakinya terasa berat. Ia melihat keputusan itu hampir diambil dan itu membuat dadanya nyeri.Lalu udara berubah.Tekanan yang tak kasatmata menekan dari segala arah. Tanah bergetar halus, bukan karena ledakan, melainkan karena kehadiran. Api obor di sekit

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab 32 Kamu Tak Boleh Tersentuh

    Raynard menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah dingin, tajam dengan keyakinan yang tak ingin ia ucapkan sembarangan.“Bukan ayahku,” katanya akhirnya. “Dan bukan pendeta itu.”Emma terdiam. Dadanya berdebar, firasat buruk merambat naik. “Lalu siapa?”“Oliver,” jawab Raynard lir

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 30 Jangan Umbar Kemesraan

    Raynard menatap Clara lebih lama dari sebelumnya, suaranya turun satu oktaf.“Clara, aku perlu kamu berjanji satu hal.”Clara menghentikan gerakannya. “Apa?”“Jangan katakan pada siapa pun kalau kami ada di sini. Pada siapa pun.”Kening Clara berkerut. “Termasuk ayahku?”Ia menoleh singkat, lalu me

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 29 Bucin

    Tiba-tiba Emma merasa udara di sekitarnya berubah.Tidak serta-merta menyakitkan, tapi berat. Tidak sejernih dunia Raynard. Ada aroma knalpot yang samar, bercampur bau debu dan beton, bau khas metropolitan yang dulu begitu akrab, kini terasa menyesakkan. Padahal mereka tidak berada di pinggir jalan

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   26 Aliansi Ganda 21++

    Emma terengah. Mata sayunya menatap manik Raynard yang memerah. Bukan karena marah, tetapi karena hawa panas yang keluar dari tubuhnya. Hasrat yang ia pendam selama ini.“Emma, aku….” Ucapan Raynard terhentu, Emma kembali membungkam bibirnya dengan ciuman panas. Raynard tidak bisa menahan diri. Tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status