MasukPindah ke sebuah kontrakan tua di pinggiran kota adalah pilihan terakhir Nayra untuk menyambung hidup. Namun, kenyamanan yang ia impikan justru berubah menjadi kegelisahan tanpa akhir setiap kali jarum jam menyentuh angka dua malam. Suara derit ranjang berirama dan napas memburu dari kamar sebelah selalu terdengar begitu intim di dinding kamarnya yang tipis. Awalnya, Nayra mengira itu adalah aktivitas sepasang suami istri. Sampai sebuah fakta mengejutkan terlontar dari mulut tetangga: Kamar sebelah hanya dihuni oleh seorang duda muda misterius bernama Arga. Setiap malam pria itu terjaga dalam kegelapan. Setiap malam pula suara berisik itu menyiksa akal sehat Nayra. Misteri apa yang disembunyikan sang duda di balik pintu kamarnya yang selalu terkunci? Dan apa yang akan terjadi saat Arga tahu bahwa tetangga baru perempuannya diam-diam selalu mendengarkan desahan napasnya setiap malam?
Lihat lebih banyakKrieeet... krieeet...
"Eughhh!" "Sshhhh..." Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas. Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, bukan karena takut oleh makhluk halus, melainkan karena rasa penasaran yang membuncah hingga ke ubun-ubun. Ini bukan kali pertama, kedua atau ketiga. Ini sudah yang kesekian kalinya. Sudah dua tahun Nayra menghuni kosan dua lantai ini, dan selama itu pula hidupnya tenang-tenang saja. Namun, segalanya berubah sejak sebulan lalu, tepat ketika kamar di sebelah ujung koridor itu akhirnya terisi. Sejak malam itu, tidur nyenyak menjadi barang mewah yang mustahil ia dapatkan. Setiap jarum jam bergeser melewati tengah malam, saat sebelah kamarnya pulang kerja, suara-suara aneh itu selalu datang memecah keheningan. Maklum saja, bangunan ini bukan kosan elit berfasilitas mewah. Tempat ini sudah cukup tua, peninggalan era lawas yang hanya mendapat renovasi seadanya. Walaupun dinding pembatas antar kamar terbuat dari bata, ketebalannya sangat minim dan sama sekali tidak kedap suara. "Dia ngapain sih, ya Allah... Aku capek, pengen tidur!" rengek Nayra dalam hati. Ia membalikkan tubuhnya menghadap dinding, lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan bantal. Saking kesalnya, ia rasanya ingin menggedor dinding itu keras-keras. Pikiran untuk mengungsi mulai berputar di kepalanya. "Apa iya aku pindah aja ya ke lantai dua? Mumpung kamar yang di atas ada yang kosong? Tapi... ah, kesal banget! Aku 'kan yang lebih dulu tinggal di sini!" batinnya merutuk, tidak terima jika harus repot-repot pindah barang hanya karena tetangga baru. "Shhh... pelan-pelan. Jangan buru-buru!" Suara serak dan berat itu kembali terdengar, begitu dekat hingga membuat bulu kuduk Nayra meremang. Dahi Nayra berkerut dalam di kegelapan kamar. Ia menahan napas, mencoba mencerna setiap artikulasi suara yang barusan lolos dari balik dinding. Suara itu terdengar penuh tekanan, samar-samar diselingi derit ranjang kayu yang beritme konstan. ** Pagi harinya, dunia terasa berputar lebih cepat bagi Nayra. ia merasa seolah baru saja memejamkan mata selama lima menit tapi pagi sudah menyapa. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya bangkit dari kasur tipisnya. Saat berkaca di cermin lemari pakaian, Nayra hanya bisa menghela napas panjang melihat penampilannya sendiri. Sepasang mata panda yang menghitam dan sedikit bengkak menghiasi wajahnya yang pucat. Efek kurang tidur yang terakumulasi selama sebulan terakhir benar-benar mulai mengikis kewarasannya. ‘’Pagi Nayra, tetap semangat! Ingat tabungan kamu masih kurang banyak! Kamu harus sabar dan tetap kuat!’’ Sambil mengalungkan handuk bermotif bunga di leher dan menenteng sebuah keranjang plastik berisi sabun serta sampo, Nayra membuka pintu kamar. Langkah kakinya gontai, bersiap untuk mengantre di depan kamar mandi umum yang terletak di ujung koridor lantai satu. "Lesu amat Nay, abis begadang?’’ Sebuah suara nyaring yang khas menyapa pendengarannya. Nayra menoleh dan mendapati Mbak Dewi, penghuni kamar tepat di depan kamarnya sedang berdiri di ambang pintu sambil mengoleskan krim malam yang terlambat atau mungkin krim pagi yang terlalu tebal. "Biasa, Mbak," jawab Nayra pelan, nyaris berbisik. Suaranya serak, khas orang yang kekurangan istirahat. Mbak Dewi menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah penuh simpati yang dibuat-buat. "Kamu itu masih muda, Nay. Jangan terlalu memforsir diri kamu dengan kerjaan atau nonton drama sampai subuh. Tubuh itu butuh istirahat, jangan begadang terus. Nanti cepat tua kayak Mbak, loh." Nayra hanya membalas dengan senyuman kecut yang dipaksakan. 'Aku juga pengen tidur nyenyak tiap malam, Mbak! Tapi gimana bisa kalau tetangga baru kita itu selalu bikin konser suara aneh tiap jam dua subuh?' jerit Nayra dalam hati. Tentu saja, ia tidak punya keberanian untuk menyuarakan kalimat itu dengan lantang. Ia terlalu gengsi, dan sejujurnya, terlalu malu untuk membahas suara-suara sensitif seperti itu di lorong kosan. Cklek. Pembicaraan mereka terputus saat pintu kamar mandi umum di ujung koridor terbuka. Uap air yang hangat dan aroma sabun antiseptik menyeruak keluar, membawa kesegaran yang kontras dengan udara koridor yang pengap. Sosok yang keluar dari sana seolah-olah membawa gravitasi sendiri, membuat suasana di lorong sempit itu mendadak terasa sesak dan intim. Seorang laki-laki muncul. Nayra terpaku di tempatnya berdiri. Laki-laki itu tinggi, kulitnya putih bersih, setipe dengan orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di bawah terik matahari. Kaos putih polos yang basah di beberapa bagian melekat pas di tubuhnya yang tegap, mencetak jelas bidang dadanya yang kokoh. Celana pendek selutut yang dipakainya memperlihatkan tungkai kaki yang kuat. Rambutnya yang hitam legam masih basah kuyup, butiran air jatuh satu per satu ke handuk yang tersampir di pundak lebarnya yang bidang. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah gayung plastik berisi perlengkapan mandi sederhana, sebuah pemandangan yang seharusnya biasa saja, namun di mata Nayra, pria ini tampak seperti aktor film yang salah masuk set ke kontrakan kumuh. Ada kesan dingin yang terpancar dari wajahnya yang simetris, rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata yang seolah bisa menembus apa pun yang ia lihat. Namun, sekaligus ada daya tarik misterius yang membuat siapa pun sulit untuk memalingkan wajah. "Halo Mas Arga, good morning? Segar banget tampaknya pagi ini," sapa Mbak Dewi dengan nada centilnya. Dalam sekejap, suara-suara yang didengarnya semalam kembali terngiang di kepala Nayra dengan resolusi tinggi. Suara derit kayu yang ritmis dan lenguhan berat seolah diputar kembali dengan volume maksimal tepat di telinganya. Tatapan Nayra tanpa sengaja turun ke arah tangan Arga yang memegang gayung. Tangan itu terlihat kuat dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangannya. Bayangan tentang apa yang dilakukan tangan itu semalam membuat wajah Nayra mendadak memanas, merah padam hingga ke ujung telinga.Beberapa hari kemudian, aroma antiseptik dan hawa dingin ruangan rumah sakit yang membayangi kehidupan keluarga kecil itu selama bertahun-tahun akhirnya berganti. Kondisi fisik Nayra menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan intensif, terapi fisik awal untuk mengembalikan kekuatan otot-otot kakinya yang kaku, serta evaluasi menyeluruh dari tim dokter, Nayra akhirnya secara resmi diperbolehkan pulang. Siang itu, udara luar terasa begitu hangat menyapu kulitnya. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap telah bersiap di area lobi rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Nayra tak henti-hentinya menatap keluar jendela. Tatapannya dipenuhi binar takjub sekaligus rasa asing melihat deretan gedung-gedung baru dan tatanan kota yang terasa banyak berubah dari ingatan terakhirnya lima tahun lalu. Mobil perlahan melambat, lalu membelok memasuki sebuah kawasan perumahan elit dengan pengawasan
Deg!Seketika itu juga, dunia di sekitar Nayra terasa berhenti berputar. Kalimat itu menghantam kepalanya bagaikan palu godam raksasa. Sekelebat kesadaran menyengat otaknya secara paksa.Dengan gerakan panik, Nayra menundukkan pandangannya. Ia meraba-raba perutnya sendiri yang kini sudah terasa rata di balik selimut rumah sakit."Bayiku...? Bayiku di mana, Mas?!" tanya Nayra panik setengah mati. Ia mencengkeram seprai rumah sakit dengan jemari gemetar, air matanya semakin tumpah ruah. "Mana perutku? Kenapa aku gak hamil lagi?! Di mana bayi kita, Mas?!"Melihat kepanikan luar biasa di wajah istrinya, Arga menghela napas berat. Pria itu merengkuh tangan Nayra, menggenggamnya erat-erat untuk menyalurkan ketenangan."Bayi kita... sudah besar, Nay," jawab Arga lirih, suaranya nyaris berbisik menahan haru. "Dia ada di sana... Dia sabar menunggu kamu bangun selama bertahun-tahun. Dan sekarang, dia ketakutan melihat ibunya sendiri kebingungan dan tidak mau mengakui keberadaannya."Deg!Jant
"Eughhhh!"Lenguhan berat itu lolos dari bibir Nayra. Kedua kelopak matanya mengerjap pelan, menyesuaikan diri dengan bias cahaya lampu ruangan yang menyilaukan indra penglihatannya. Pandangan pertamanya menangkap siluet seorang pria berbalut pakaian formal yang sangat rapi. Kemeja abu-abu tua yang melapisi tubuh tegapnya dipadu dengan jas hitam elegan, serta aroma parfum khas yang begitu lekat dalam ingatan Nayra aroma yang sama yang selalu ia hiraukan setiap kali suaminya pulang bekerja."Sayang... akhirnya kamu bangun," gumam Arga terharu. Suaranya pecah, bergetar hebat menahan gelombang emosi yang membuncah di dalam dadanya. Air mata kebahagiaan yang bertahun-tahun ia tahan akhirnya luruh begitu saja membasahi pipinya.Tanpa bisa dicegah lagi, Arga langsung merangsek maju dan memeluk tubuh istrinya sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Nayra, menyalurkan seluruh rindu, ketakutan, dan rasa syukur yang teramat dalam.Namu
Sore harinya, langit Jakarta berhias rona jingga yang hangat. Mobil sedan hitam milik Arga membelah jalanan ibu kota menuju ke Rumah Sakit Medika Utama. Di kursi samping pengemudi, Naka duduk dengan rapi lengkap dengan seragam sekolahnya. Tangan kecil bocah lima tahun itu memeluk erat seikat bunga mawar merah segar yang sengaja mereka beli di toko bunga langganan tadi."Ayah, Naka mau yang pegang bunganya ya nanti saat masuk ke kamar Bunda," ujar Naka dengan binar mata polos yang memancarkan kebahagiaan."Iya, Jagoan. Naka yang kasih langsung ke Bunda," jawab Arga seraya menyunggingkan senyum hangat. Ia membelokkan setir memasuki area parkir VIP rumah sakit.Meski bertahun-tahun telah berlalu dan kariernya melesat hingga menjabat sebagai Wakil Direktur, rutinitas Arga tidak pernah berubah. Setiap sore setelah bekerja dan menjemput Naka, tempat tujuannya selalu sama: kamar rawat inap nomor 304. Tempat di mana belahan jiwanya terbaring menunggu waktu untuk terbangun.Langkah kaki k
Pikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima
Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-
"Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber
Krieeet... krieeet..."Eughhh!""Sshhhh..."Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, buk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan