تسجيل الدخولPikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.
Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima belas menit. Nayra bernapas lega, ia punya sisa waktu sepuluh menit sebelum jam absennya dimulai. Begitu motor berhenti sempurna di area drop-off, Nayra segera turun dengan gerakan secepat yang ia bisa, mencoba mengembalikan jarak aman di antara mereka. Ia melepas kancing helm dengan jemari yang sedikit gemetar, lalu menyerahkannya kembali kepada pria itu. "Makasih ya, Mas, tumpangannya. Dan... maaf banget kalau sudah merepotkan jalan Mas Arga pagi-pagi begini," ujar Nayra setengah membungkuk, menatap Arga dengan rasa sungkan yang kentara. Arga menerima helm abu-abu itu dengan satu tangan, lalu menaruhnya di dahan spion. Ia menatap Nayra sejenak, senyuman tipis yang misterius namun menawan kembali terbit di wajahnya yang tegas. "Sama-sama. Kebetulan searah, jadi tidak repot sama sekali. Saya permisi duluan ya, Mbak Nayra." "Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih banyak. Hati-hati di jalan," sahut Nayra, memberikan anggukan hormat. Arga menurunkan kaca helm full-face miliknya hingga berbunyi klik, menutupi sisa ekspresi wajahnya. Detik berikutnya, ia menarik tuas gas dan motornya segera melenggang pergi, membaur dengan arus kendaraan yang menuju ke arah Menara Sentra Grup di sebelah mall. Nayra memandangi kepergian motor itu selama beberapa detik sebelum akhirnya berbalik badan. Ia membuang napas panjang, mencoba menetralkan seluruh pasokan oksigen di dadanya yang sempat terasa sesak karena gugup. Dengan langkah terburu-buru, ia melangkah masuk menembus pintu kaca mall yang sejuk oleh empasan pendingin ruangan. Namun baru beberapa langkah berjalan di atas lantai marmer yang mengilap, sebuah pekikan nyaring dari arah belakang mengejutkannya. "Nayra!" Gadis itu tersentak dan langsung menoleh. Sesosok gadis dengan seragam yang sama persis dengannya, blazer hitam dan riasan wajah yang on-point sedang berjalan cepat setengah berlari menghampirinya. "Tari! Astaga ngagetin aja sih," seru Nayra sambil mengelus dadanya. Dahinya berkerut heran melihat kehadiran sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. "Loh, bukanya kamu kebagian shift sore ya hari ini?”’ Tari terkekeh pelan sambil menyamakan langkah kakinya dengan Nayra menuju butik tas mewah tempat mereka bekerja. "Iya, harusnya begitu. Tapi aku tukar shift sama Dona. Dia ada arisan keluarga di rumahnya, jadi minta tolong digantikan pagi ini." Nayra mengangguk-angguk paham, Mereka berdua berjalan berdampingan melewati jajaran gerai-gerai merek internasional yang masih sepi pengunjung. Namun, kedamaian Nayra tidak bertahan lama. Tari tiba-tiba menyenggol lengan Nayra dengan sikunya, senyuman menggoda yang penuh selidik terukir jelas di wajahnya yang ceria. "Oh ya, Nay... ngomong-ngomong, tadi itu siapa? Pacar baru, ya?’’ goda Tari dengan mata yang berkedip-kedip jahil. "Bukan, ih! Dia itu cuma tetangga kosanku." "Masa sih cuma tetangga?" Tari menaikkan sebelah alisnya, nada suaranya terdengar sangat sangsi. "Baik banget sampai mau nganterin kerja jam segini. Jalur ke sini kan macetnya minta ampun kalau pagi. Kalau bukan karena ada 'apa-apanya', rasanya mustahil deh mau jadi ojol gratisan." Nayra mengembuskan napas frustrasi, merasa terpojok oleh tatapan menyelidik sahabatnya. " Aku itu tadi sudah mesan ojol di aplikasi, tahu gak? Tapi di-cancel mulu dari jam delapan kurang karena jaraknya kejauhan dan macet. Nah, pas aku lagi panik-paniknya di teras, dia kebetulan keluar mau berangkat kerja ke kantornya yang di sebelah mall ini. Jadi, ya sudah, ada Mbak Dewi juga yang memaksa, akhirnya kami barengan." "Ohhhhh, begitu ceritanya..." Tari memperpanjang huruf 'O' di kalimatnya dengan nada yang sangat menyebalkan, jelas sekali memperlihatkan kalau dirinya sama sekali tidak membeli alasan rasional dari Nayra. Nayra mendengus kencang, menatap temannya itu dengan sebal. "Kamu kayak yang gak percaya banget sih sama omonganku?" "Percaya kok!’’ sahut Tari sambil tertawa cekikikan, menikmati ekspresi panik di wajah sahabatnya yang biasanya selalu datar dan tenang itu. "Ckckck... terserah kamulah, Tar.’’ "Lah, kok malah ngambek, hahahaha!" Tari semakin tergelak puas melihat reaksi Nayra. Ia berlari kecil untuk mengejar langkah Nayra yang menghentak-hentak kesal. "Iya, iya, Nayra. Aku percaya kalau itu cuma kebetulan. Cuma ya... nanti kalau sudah 'gol', jangan lupa traktirannya di restoran atas ya?" Mendengar kata-kata itu, langkah kaki Nayra langsung berhenti mendadak di depan pintu masuk butik. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat Tari hampir saja menabrak punggungnya dari belakang. Nayra membalikkan badannya perlahan, menatap Tari dengan dahi yang berkerut dalam dan tatapan mata yang penuh tanda tanya besar. "Apanya yang gol?" Tari menghentikan tawa renyahnya, lalu menatap Nayra dengan gemas seolah-olah sahabatnya itu adalah makhluk paling polos yang ada di muka bumi. "Ya hubungannya lah, Nayra! Siapa tahu, kan, berawal dari tetangga, eh berujung jadi belahan jiwa,’’17 tahun kemudian …Suara ketukan palu hakim menggema kokoh di dalam ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Keheningan yang menegang seketika pecah, berganti menjadi bisik-bisik riuh dari para pengunjung, awak media, hingga barisan pengacara yang memadati area belakang."Menyatakan bahwa Gugatan Wanprestasi yang diajukan oleh Pihak Penggugat ditolak seluruhnya. Dan membebankan seluruh biaya perkara kepada Pihak Penggugat."Di barisan depan meja Tergugat, seorang pria berdiri tegap. Ia merapikan kancing jas hitam disukanya yang membalut bahu tegap dan lebar itu dengan gerakan yang sangat tenang, bahkan cenderung dingin. Wajahnya yang tegas, dengan rahang kokoh dan tatapan mata tajam di balik sorot matanya yang tenang, sama sekali tidak menunjukkan luapan kegembiraan berlebih.Nakara Argantara. Pengacara muda berumur 25 tahun yang dalam tiga tahun terakhir menjadi mimpi buruk bagi lawan-lawannya di meja hijau."Kerja bagus, Nakara," bisik rekan senior di sampingnya seraya men
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden tipis di ruang keluarga rumah megah Arga. Udara pagi terasa sangat sejuk, diiringi aroma minyak telon dan bedak bayi yang khas, memenuhi setiap sudut ruangan. Rumah yang dulunya sepi dan hening itu kini menjelma menjadi istana penuh tawa, riuh, dan kehangatan yang meluap-luap.Di atas sofa panjang yang empuk, Nayra duduk bersandarkan bantal dengan senyuman lembut yang tak pernah pudar dari wajah ayunya. Di kedua lengannya, terbaring dua sosok mungil yang terbungkus bedong kain lembut berwarna pastel. Anak kembar mereka yang baru berusia dua bulan, seorang bayi perempuan cantik bernama Shakira Arunika dan bayi laki-laki tampan bernama Arshaka Sebastian sedang tertidur lelap setelah selesai menyusu."Sayang, kamu tahu, tas tempat pensil warna Naka di mana ya? Kok gak ada di meja belajar?"Suara berat nan hangat Arga memecah keheningan pagi. Pria itu keluar dari arah koridor kamar anak dengan penampilan yang sudah s
Beberapa hari kemudian, aroma antiseptik dan hawa dingin ruangan rumah sakit yang membayangi kehidupan keluarga kecil itu selama bertahun-tahun akhirnya berganti. Kondisi fisik Nayra menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan intensif, terapi fisik awal untuk mengembalikan kekuatan otot-otot kakinya yang kaku, serta evaluasi menyeluruh dari tim dokter, Nayra akhirnya secara resmi diperbolehkan pulang. Siang itu, udara luar terasa begitu hangat menyapu kulitnya. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap telah bersiap di area lobi rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Nayra tak henti-hentinya menatap keluar jendela. Tatapannya dipenuhi binar takjub sekaligus rasa asing melihat deretan gedung-gedung baru dan tatanan kota yang terasa banyak berubah dari ingatan terakhirnya lima tahun lalu. Mobil perlahan melambat, lalu membelok memasuki sebuah kawasan perumahan elit dengan pengawasan
Deg!Seketika itu juga, dunia di sekitar Nayra terasa berhenti berputar. Kalimat itu menghantam kepalanya bagaikan palu godam raksasa. Sekelebat kesadaran menyengat otaknya secara paksa.Dengan gerakan panik, Nayra menundukkan pandangannya. Ia meraba-raba perutnya sendiri yang kini sudah terasa rata di balik selimut rumah sakit."Bayiku...? Bayiku di mana, Mas?!" tanya Nayra panik setengah mati. Ia mencengkeram seprai rumah sakit dengan jemari gemetar, air matanya semakin tumpah ruah. "Mana perutku? Kenapa aku gak hamil lagi?! Di mana bayi kita, Mas?!"Melihat kepanikan luar biasa di wajah istrinya, Arga menghela napas berat. Pria itu merengkuh tangan Nayra, menggenggamnya erat-erat untuk menyalurkan ketenangan."Bayi kita... sudah besar, Nay," jawab Arga lirih, suaranya nyaris berbisik menahan haru. "Dia ada di sana... Dia sabar menunggu kamu bangun selama bertahun-tahun. Dan sekarang, dia ketakutan melihat ibunya sendiri kebingungan dan tidak mau mengakui keberadaannya."Deg!Jant
"Eughhhh!"Lenguhan berat itu lolos dari bibir Nayra. Kedua kelopak matanya mengerjap pelan, menyesuaikan diri dengan bias cahaya lampu ruangan yang menyilaukan indra penglihatannya. Pandangan pertamanya menangkap siluet seorang pria berbalut pakaian formal yang sangat rapi. Kemeja abu-abu tua yang melapisi tubuh tegapnya dipadu dengan jas hitam elegan, serta aroma parfum khas yang begitu lekat dalam ingatan Nayra aroma yang sama yang selalu ia hiraukan setiap kali suaminya pulang bekerja."Sayang... akhirnya kamu bangun," gumam Arga terharu. Suaranya pecah, bergetar hebat menahan gelombang emosi yang membuncah di dalam dadanya. Air mata kebahagiaan yang bertahun-tahun ia tahan akhirnya luruh begitu saja membasahi pipinya.Tanpa bisa dicegah lagi, Arga langsung merangsek maju dan memeluk tubuh istrinya sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Nayra, menyalurkan seluruh rindu, ketakutan, dan rasa syukur yang teramat dalam.Namu
Sore harinya, langit Jakarta berhias rona jingga yang hangat. Mobil sedan hitam milik Arga membelah jalanan ibu kota menuju ke Rumah Sakit Medika Utama. Di kursi samping pengemudi, Naka duduk dengan rapi lengkap dengan seragam sekolahnya. Tangan kecil bocah lima tahun itu memeluk erat seikat bunga mawar merah segar yang sengaja mereka beli di toko bunga langganan tadi."Ayah, Naka mau yang pegang bunganya ya nanti saat masuk ke kamar Bunda," ujar Naka dengan binar mata polos yang memancarkan kebahagiaan."Iya, Jagoan. Naka yang kasih langsung ke Bunda," jawab Arga seraya menyunggingkan senyum hangat. Ia membelokkan setir memasuki area parkir VIP rumah sakit.Meski bertahun-tahun telah berlalu dan kariernya melesat hingga menjabat sebagai Wakil Direktur, rutinitas Arga tidak pernah berubah. Setiap sore setelah bekerja dan menjemput Naka, tempat tujuannya selalu sama: kamar rawat inap nomor 304. Tempat di mana belahan jiwanya terbaring menunggu waktu untuk terbangun.Langkah kaki k
"Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber
Krieeet... krieeet..."Eughhh!""Sshhhh..."Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, buk
Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal
Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke







