MasukMatahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.
Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersalah yang menggunung terus membayangi benaknya. Sebelum memesan ojek online untuk pulang, Nayra menyempatkan diri mampir ke sebuah rumah makan di dekat mall untuk membeli satu porsi makanan hangat. Tidak lupa, ia juga singgah ke toko buah terdekat, memilih satu kantong plastik berisi buah jeruk dan apel segar. Ia berpikir, orang yang sedang memulihkan diri dari luka fisik pasti membutuhkan asupan nutrisi yang baik. Setidaknya, ini adalah cara terbaik bagi Nayra untuk menebus prasangka buruknya semalam. Namun, harapan Nayra untuk bisa menjenguk tetangganya dengan tenang seketika pupus begitu ia melangkah masuk ke koridor lantai satu kosan tua itu. Suasana lorong yang biasanya sepi di jam-jam pulang kerja, kini mendadak ramai. Beberapa penghuni kosan, termasuk Mbak Dewi dan beberapa anak lantai dua, tampak berdiri berkerumun di depan kamarnya dan Arga. Suasana di depan kamar Arga terasa canggung dan tegang. Alih-alih suasana menjenguk yang penuh simpati, dari dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit itu justru terdengar suara perdebatan yang cukup riuh dan intens. "Aku lagi gak mau debat, Shil!" Suara Arga terdengar memecah keheningan koridor. Meskipun terdengar lemah, parau, dan sarat akan rasa sakit fisik, nada baritonnya malam ini terasa begitu berat dan penuh dengan penekanan emosi yang tertahan. "Aku juga gak mau debat sama kamu, Ga. Tapi aku beneran tulus ke kamu! Tolong dengerin aku dulu!" Suara lengkingan seorang wanita membalas dari dalam kamar. Suara itu terdengar asing di telinga Nayra, elegan, namun penuh dengan nada menuntut yang egois. Nayra berdiri terpaku beberapa langkah di belakang kerumunan. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena terkejut. Walau pintu kamar itu terbuka, tubuh beberapa orang yang berdiri di depan Nayra sepenuhnya menghalangi pandangannya untuk melihat langsung siapa sosok wanita di dalam sana. Kantong plastik berisi makanan dan buah di genggaman tangan Nayra terasa mendadak berat. "Mending kamu pulang dulu sekarang, aku mau istirahat!" usir Arga tanpa tedeng aling-aling. Suaranya terdengar sangat dingin, seolah tidak ada lagi ruang untuk negosiasi. "Arga, plis... aku gak bisa diginiin!" ratap wanita itu lagi, nadanya mulai terdengar histeris dan memelas. "Kamu pikir aku bisa diginiin juga?" Suara Arga meninggi satu oktav, memotong kalimat wanita itu dengan tajam. Dari celah kerumunan, Nayra bisa merasakan aura intimidasi yang pekat. Arga mengembuskan napasnya dengan kasar, sebuah helaan napas penuh frustrasi yang membuat dadanya yang memar terasa semakin nyeri. Tubuhnya malam ini benar-benar terasa remuk redam akibat pengeroyokan semalam, namun emosi yang bergejolak di dadanya seperti enggan untuk dia tahan lagi. "Kamu tahu gimana paniknya aku semalam setelah menerima telepon darimu? Dan sekarang, kamu lihat kondisi aku sekarang?" tanya Arga dengan suara bergetar menahan amarah, tangan kirinya mengepal erat di atas seprai kasur hingga buku-buku jarinya memutih. ‘’Ar, aku bisa jelasin semuanya.’’ ‘’Gak perlu, aku gak mau denger apapun lagi. Aku Cuma mau minta tolong, pergilah! Jangan menghubungiku lagi !’’ ‘’Tapi Ar—‘’ ‘’Plis Shil, jaga perasaan pacar ku!’’ ‘’What! Pacar? Kamu sudah punya pacar Ga?’’ ‘’Iya, jadi kamu pergilah dan jangan menggangguku lagi. Ini kali terakhir aku terlibat sama kamu!’’ ‘’Gak mungkin, kamu bohong sama aku kan Ga? Gak mungkin kamu punya pacar hahaha, bohong, gak mungkin!’’ ‘’Kamu gak percaya ? Itu pacar aku!’’ Seketika itu juga, Shila memutar tubuhnya dengan cepat. Pandangan matanya yang tajam dan sarat akan rasa permusuhan langsung menembus celah pintu, mengikuti arah telunjuk Arga. Matanya tertuju pada seorang gadis yang masih mengenakan seragam kerja lengkap blazer hitam dan celana formal, sembari menenteng kantong plastik berisi bubur ayam dan sebuah kantong buah di tangan kirinya.Beberapa hari kemudian, aroma antiseptik dan hawa dingin ruangan rumah sakit yang membayangi kehidupan keluarga kecil itu selama bertahun-tahun akhirnya berganti. Kondisi fisik Nayra menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan intensif, terapi fisik awal untuk mengembalikan kekuatan otot-otot kakinya yang kaku, serta evaluasi menyeluruh dari tim dokter, Nayra akhirnya secara resmi diperbolehkan pulang. Siang itu, udara luar terasa begitu hangat menyapu kulitnya. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap telah bersiap di area lobi rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Nayra tak henti-hentinya menatap keluar jendela. Tatapannya dipenuhi binar takjub sekaligus rasa asing melihat deretan gedung-gedung baru dan tatanan kota yang terasa banyak berubah dari ingatan terakhirnya lima tahun lalu. Mobil perlahan melambat, lalu membelok memasuki sebuah kawasan perumahan elit dengan pengawasan
Deg!Seketika itu juga, dunia di sekitar Nayra terasa berhenti berputar. Kalimat itu menghantam kepalanya bagaikan palu godam raksasa. Sekelebat kesadaran menyengat otaknya secara paksa.Dengan gerakan panik, Nayra menundukkan pandangannya. Ia meraba-raba perutnya sendiri yang kini sudah terasa rata di balik selimut rumah sakit."Bayiku...? Bayiku di mana, Mas?!" tanya Nayra panik setengah mati. Ia mencengkeram seprai rumah sakit dengan jemari gemetar, air matanya semakin tumpah ruah. "Mana perutku? Kenapa aku gak hamil lagi?! Di mana bayi kita, Mas?!"Melihat kepanikan luar biasa di wajah istrinya, Arga menghela napas berat. Pria itu merengkuh tangan Nayra, menggenggamnya erat-erat untuk menyalurkan ketenangan."Bayi kita... sudah besar, Nay," jawab Arga lirih, suaranya nyaris berbisik menahan haru. "Dia ada di sana... Dia sabar menunggu kamu bangun selama bertahun-tahun. Dan sekarang, dia ketakutan melihat ibunya sendiri kebingungan dan tidak mau mengakui keberadaannya."Deg!Jant
"Eughhhh!"Lenguhan berat itu lolos dari bibir Nayra. Kedua kelopak matanya mengerjap pelan, menyesuaikan diri dengan bias cahaya lampu ruangan yang menyilaukan indra penglihatannya. Pandangan pertamanya menangkap siluet seorang pria berbalut pakaian formal yang sangat rapi. Kemeja abu-abu tua yang melapisi tubuh tegapnya dipadu dengan jas hitam elegan, serta aroma parfum khas yang begitu lekat dalam ingatan Nayra aroma yang sama yang selalu ia hiraukan setiap kali suaminya pulang bekerja."Sayang... akhirnya kamu bangun," gumam Arga terharu. Suaranya pecah, bergetar hebat menahan gelombang emosi yang membuncah di dalam dadanya. Air mata kebahagiaan yang bertahun-tahun ia tahan akhirnya luruh begitu saja membasahi pipinya.Tanpa bisa dicegah lagi, Arga langsung merangsek maju dan memeluk tubuh istrinya sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Nayra, menyalurkan seluruh rindu, ketakutan, dan rasa syukur yang teramat dalam.Namu
Sore harinya, langit Jakarta berhias rona jingga yang hangat. Mobil sedan hitam milik Arga membelah jalanan ibu kota menuju ke Rumah Sakit Medika Utama. Di kursi samping pengemudi, Naka duduk dengan rapi lengkap dengan seragam sekolahnya. Tangan kecil bocah lima tahun itu memeluk erat seikat bunga mawar merah segar yang sengaja mereka beli di toko bunga langganan tadi."Ayah, Naka mau yang pegang bunganya ya nanti saat masuk ke kamar Bunda," ujar Naka dengan binar mata polos yang memancarkan kebahagiaan."Iya, Jagoan. Naka yang kasih langsung ke Bunda," jawab Arga seraya menyunggingkan senyum hangat. Ia membelokkan setir memasuki area parkir VIP rumah sakit.Meski bertahun-tahun telah berlalu dan kariernya melesat hingga menjabat sebagai Wakil Direktur, rutinitas Arga tidak pernah berubah. Setiap sore setelah bekerja dan menjemput Naka, tempat tujuannya selalu sama: kamar rawat inap nomor 304. Tempat di mana belahan jiwanya terbaring menunggu waktu untuk terbangun.Langkah kaki k
Hari demi hari berganti menjadi minggu, minggu merayap menjadi bulan, hingga tak terasa roda waktu berputar melewati beberapa tahun. Dunia terus bergerak maju, meninggalkan puing-puing trauma masa lalu, sementara takdir kehidupan orang-orang di dalamnya mengalami pergeseran yang sangat drastis.Di tempat yang berbeda, badai hukum dan kehancuran rumah tangga Hary telah usai. Berbekal dokumen pernyataan pengakuan dosa di atas meterai yang ditandatangani Anna di rumah sakit waktu itu, Hanna melancarkan serangan hukum yang sangat rapi dan tanpa cela. Di persidangan cerai, Hary tak berkutik sedikit pun. Seluruh bukti perselingkuhan dan penyalahgunaan dana perusahaan dibeberkan secara terbuka.Hanna berhasil menceraikan Hary secara sah. Hary resmi didepak keluar dari rumah mewahnya tanpa membawa sepeser pun harta gono-gini. Bahkan, perusahaan tempat Hary bernaung, yang sebenarnya dirintis dan dibesarkan menggunakan modal utama dari keluarga Hanna kini sepe
Keheningan di kamar rawat Anna terasa kian menjepit. Lembaran kertas ber-kop hukum itu masih terhampar di atas selimut Anna, menatapnya laksana cermin yang memantulkan seluruh dosa dan kebodohannya. Pen berujung hitam yang disodorkan Hanna berada tegap di jemarinya yang bergetar hebat.Di hadapannya, Hanna berdiri tegak dengan sepasang mata tajam yang menuntut kepastian. Tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan. Hanya ada kalkulasi dingin seorang wanita elegan yang siap meruntuhkan kehidupan suami yang telah mengkhianatinya.Anna menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Pelipisnya dibasahi keringat dingin. Di dalam benaknya, dua bayangan masa depan berputar dengan begitu mengerikan, dinding penjara yang dingin serta kehancuran nama baiknya secara total, atau menyerahkan seluruh sisa harga dirinya ke dalam dokumen pengakuan dosa ini demi sebuah kebebasan bersyarat."Aku tidak punya waktu seharian untuk menunggumu berfikir," tekan Hanna dengan suara rendah yang amat mematika
Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke
Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-
"Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber
Krieeet... krieeet..."Eughhh!""Sshhhh..."Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, buk







