LOGINSeraaaaaang!”Teriakan itu memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.Prajurit Raiver bergerak lebih dulu. Derap kaki memenuhi halaman batu, pedang dan tombak terangkat bersamaan. Sorak perang menggema, membuat beberapa pelayan yang masih berada di sekitar balai menjerit ketakutan dan berlari menjauh.“Lindungi tetua!” teriak salah satu pengawal Onyx.Raynard tidak mundur. Begitu prajurit pertama menerjang, ia menyambar tombak yang mengarah ke dadanya, memutarnya, lalu menghantamkan gagang tombak itu ke rahang lawan. Tubuh pria itu terpelanting dan menabrak dua prajurit di belakangnya.Diego langsung maju dengan pedang panjang berlapis cahaya merah. Tebasannya cepat dan berat. Raynard menahan dengan pedangnya sendiri, benturan keduanya memercikkan cahaya biru dan merah yang membuat udara berdesis.“Masih sempat melindungi manusia itu?” sindir Diego sambil menekan pedangnya.Raynard mendorong balik hingga Diego mundur setengah langkah. “Aku selalu sempat.”Di sisi lain ha
Langkah Raynard mantap menuju ke balai. Terdengar keributan. Beberapa orang berkumpul di sana. Termasuk ayahnya dan juga para tetua.“Tuan Muda, Diego River datang dengan para prajurit mereka!” Salah satu pengawal tergopoh menghampiri Raynard, wajahnya penuh dengan ketakutan.“Sial! Dia justru datang terlebih dahulu.” Raynard menghentikan langkah, kepalannya semakin kuat. Mengingat Emma sedang mengandung, jiwa protektifnya kembali muncul.“Tambah lagi keamanan di ruangan itu. Jangan ada satu pun yang boleh masuk. Siapa pun itu, termasuk pelayan, sebelum aku kembali.”Pengawal itu memberikan anggukan. “Semuanya, bersiap!” teriak Raynard. Para prajuritnya mengikuti di belakang.Sorak sorai terdengar keras dari kejauhan. Para prajurit klan Raiver mulai meneriaki slogan mereka.Saat Raynard keluar, suasana jadi hening. Edrick sudah nyaris putus asa.“Tenang!” Diego maju selangkah, senyum smirknya membuat Raynard muak. Pria itu menatap sinis Raynard.“Ada apa? Bukankah duel itu akan dilak
Raynard tetap menggenggam tangan Emma saat mereka berjalan menyusuri lorong batu. Langkahnya sengaja diperlambat, menyesuaikan dengan Emma yang masih terlihat sedikit lemas.“Kita mau ke mana?” tanya Emma penasaran.“Sebentar lagi kamu juga tahu,” jawab Raynard dengan senyum tipis.Mereka melewati beberapa taman kecil, lalu sebuah gerbang kayu berukir terbuka perlahan. Begitu melangkah masuk, Emma sontak menghentikan langkahnya.“Ray….”Di hadapannya terbentang hamparan bunga berwarna-warni yang seolah tak berujung. Kupu-kupu dengan berbagai warna beterbangan bebas di antara kelopak-kelopak bunga. Sebagian bahkan memancarkan cahaya lembut saat sayapnya mengepak, membuat taman itu tampak seperti lukisan hidup.Angin berembus pelan, membawa aroma bunga yang segar dan menenangkan.“Cantik sekali, aku suka sama wangi bunganya juga,” gumam Emma tanpa mengalihkan pandangannya.Raynard tersenyum melihat kekaguman di wajah istrinya.“Ini Taman Aravelle,” ujarnya. “Tempat ini hanya dibuka untu
Emma baru saja benar-benar terjaga ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia menyibak selimut, lalu berjalan membuka pintu dengan rambut masih terurai.Di ambang pintu, dua pelayan perempuan berdiri rapi. Salah satunya membawa nampan berisi gaun berwarna pucat dengan sulaman perak halus, yang lain membawa perhiasan sederhana.Emma refleks tertegun.“Uh… ini untuk apa?”Pelayan yang lebih tua menunduk sopan. “Ini gaun yang harus dikenakan hari ini, Nyonya.”Nada suaranya datar, seolah itu bukan permintaan, melainkan ketetapan.Emma ragu sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. “Baik.”Ia membiarkan mereka masuk dan mulai membantu melepas pakaian tidurnya, merapikan rambutnya, mengenakan gaun itu dengan cekatan. Kainnya ringan, dingin di kulit, jatuh pas di tubuh Emma tanpa terasa berlebihan.Saat pelayan terakhir mengencangkan ikatannya, Emma bertanya, seolah baru teringat sesuatu, “Raynard di mana?”Kedua pelayan itu saling pandang singkat sebelum
Ketukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk memecah suasana.Tok. Tok.Emma membuka mata lebar. Raynard menghela napas panjang, jelas tidak berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.“Serius?” gumamnya lirih.Ketukan kedua menyusul, lebih ragu. “Tuan, maaf mengganggu.”Raynard mendecak pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut dengan satu gerakan singkat. Memakai kembali celananya. Begitu juga Emma yang langsung memakai jubah tidurnya.Pintu terbuka perlahan. Oliver berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya canggung, jelas menyadari ia datang di waktu yang sangat tidak tepat.“Ah… saya kira Anda belum beristirahat,” katanya, suaranya menurun di akhir kalimat.Emma ikut duduk, membenarkan posisi bantal. “Gak apa-apa, Oliver. Ada apa?”Oliver melirik Raynard sekilas, lalu kembali ke Emma. “Para tetua meminta Tuan Muda segera ke balai tengah. Katanya ada perubahan keputusan.”Raynard langsung menegang. “Perubahan apa?”Oliver menarik napas. “Tentang penjagaan.
Acara peresmian itu telah usai.Segala tatapan sinis dan bisik-bisik yang sempat diarahkan pada Emma perlahan mereda, seolah kalah oleh kenyataan bahwa ritual telah diterima para tetua. Tidak ada kekacauan. Tidak ada penolakan terbuka. Semuanya berjalan lancar.Justru itulah yang membuat Emma merasa asing.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka, punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang hangat. Tangannya refleks menyentuh perutnya, masih rata, nyaris tak ada perubahan. Emma mengusapnya pelan, seolah takut menekan terlalu keras.“Ada kehidupan di sini,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Perasaan itu aneh. Bukan takut. Bukan juga sepenuhnya bahagia. Lebih seperti tidak percaya.Pintu kamar terbuka. Raynard keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, aroma sabun tipis menguar. Ia mengenakan pakaian sederhana khas dunia rubah, jauh dari kesan penguasa, lebih seperti pria biasa yang baru saja selesai mandi.Raynard duduk di samping Emma, jaraknya dekat, bahunya hampir bersent
Raynard menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah dingin, tajam dengan keyakinan yang tak ingin ia ucapkan sembarangan.“Bukan ayahku,” katanya akhirnya. “Dan bukan pendeta itu.”Emma terdiam. Dadanya berdebar, firasat buruk merambat naik. “Lalu siapa?”“Oliver,” jawab Raynard lir
“Siapa kamu?” geram Lee dengan muka merah padam, napasnya menderu dengan kedua tangan yang mengepal.Emma menelan ludah. Napasnya tercekat di tenggorokan. “Ray, kenapa kamu di sini?”Raynard hanya tersenyum tipis. Setiap langkahnya menjadi pusat perhatian. Pria dengan wajah datar itu mendekat, sant
“Tolong ….”Emma ternganga, nyaris memuntahkan napasnya, dan detik berikutnya ia justru tersenyum pongah. Tetapi tidak pada Iris dan kubu-nya. Mereka diam, dengan wajah memucat.“Nona Iris, tolong.” Pria bertubuh kekar bersimpuh dengan tangan yang diborgol, di belakang beberapa polisi dan Frans ber
Emma dan Oliver baru saja turun dari mobil. Suasana rumah keluarga Azzure sudah tampak ramai. Mobil berderet di car port. Emma berjalan dengan anggun menuju gerbang, seorang satpam yang berjaga mendelik sempurna.“No-nona Muda? An-anda masih hidup?” tanya satpam itu dengan tergagap.Emma mengulas s







