LOGINGoyahnya perusahaan milik sang ayah, membuat Jia Li terpaksa untuk menikah dengan putra dari konglomerat yang sangat posesif dan kejam padanya. Naasnya, satu minggu sebelum hari pernikahannya, Jia Li dinyatakan menghilang. Namun hal aneh terjadi pada Jia Li. Dia yang merasa dirinya sudah mati, justru memiliki kehidupan baru yang sangat berbeda dari kehidupan modern. Jia Li bereinkarnasi menjadi seorang gadis desa pada masa Dinasti Xang Hao. Rupanya kehidupan baru yang dia rasa tampak biasa saja, justru sangat berbahaya jika dia salah mengambil keputusan. Siapakah sebenarnya gadis desa yang kini menjadi kehidupan baru bagi Jia Li? Akankah kali ini Jia Li bernasib sama seperti kehidupannya di masa modern?
View MoreAku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!
Siapapun, tolong aku!
Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan aliran darahku, sementara tekanan air yang mahabesar terus mendorong tubuhku semakin dalam, tenggelam ke dasar samudera yang tak berdasar. Paru-paruku berdenyut menyakitkan, menjerit mendambakan setitik oksigen yang mustahil kuraih. Setiap kali aku mencoba membuka mulut untuk berteriak, yang masuk hanyalah cairan asin yang mencekik tenggorokanku.
Tolong!
Inikah akhir dari semua perjuanganku? Akhir dari hidup seorang Jia Li?
Sinar rembulan di atas permukaan laut perlahan menjauh, meredup hingga akhirnya lenyap sama sekali dari pandanganku. Kesadaranku mulai timbul dan tenggelam, digerogoti oleh rasa putus asa yang dingin. Namun, jauh di lubuk hatiku, sebuah penolakan keras menolak untuk padam.
Tidak! Aku bahkan belum memulai satupun pertarungan!
Bagaimana bisa aku mati di sini secara konyol? Mati sebagai korban dari pengkhianatan keji orang yang paling kupercaya? Aku belum membebaskan diriku dari jeruji takdir yang dipaksakan. Aku belum membuktikan bahwa aku bisa berdiri tegak. Dan yang paling membuat jiwaku menjerit adalah Ayah. Jika aku mati sekarang, maka rubah-rubah serakah di luar sana akan menang dan menertawakan kehancuranku.
Aku harus menyelamatkan semuanya! Aku… harus hidup!
Rasa sakit fisik akibat kehabisan napas mendadak kalah oleh amarah dan tekad yang membakar jiwaku. Dalam kegelapan mutlak air laut, jiwaku bersujud dan berdoa dengan sisa-sisa kekuatan terakhir.
Tuhan—atau siapapun itu, entah kekuatan apa pun yang mengatur semesta ini—jika saja aku diberi kesempatan sekali lagi untuk bernapas, aku bersumpah akan mengembalikan semuanya seperti semula. Aku akan merebut kembali harga diriku. Bahkan jika pada akhirnya aku harus mati lagi, setidaknya matikan aku dalam keadaan sudah memulai memperjuangkan segalanya! Jangan biarkan aku mati sebagai seorang pecundang yang malang!
Perlahan, keheningan total mulai mengunci segalanya. Wanita itu tidak lagi merasakan detak jantungnya sendiri. Tubuhnya terasa sangat penuh, berat, dan sesak. Rasa dingin akhirnya menyelimuti seluruh tubuhnya, membawa jiwanya terbang menjauh dari raga yang kini terombang-ambing di dalam gelapnya arus laut dalam.
********
-Tiga bulan kemudian-
"Sudah tiga bulan Nona Jia Li belum ditemukan, Tuan. Pihak kepolisian baru saja mengirimkan laporan resmi terakhir mereka pagi ini. Mereka... menduga bahwa Nona Jia Li telah meninggal dunia akibat tenggelam, mengingat batas waktu pencarian yang sudah terlalu lama. Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan?"
Pertanyaan itu meluncur dari bibir seorang pria muda berpostur tegap yang memakai setelan jas hitam yang sangat rapi. Dia adalah asisten pribadi kepercayaan keluarga, berdiri dengan kepala tertunduk, memegang map dokumen tebal dengan tangan yang kaku.
Pria paruh baya yang diajaknya bicara tidak langsung menjawab. Sejak pagi buta hingga petang mulai merayap naik menggantikan senja, pria itu masih setia berdiri diam, melihat ke luar jendela kaca besar yang menampilkan lampu-lampu kota. Wajahnya yang dulu berwibawa kini tampak begitu tirus, dipenuhi gumpalan kesedihan dan rasa pilu yang teramat sangat. Kehilangan putri tunggalnya adalah hantaman yang jauh lebih menghancurkan daripada kebangkrutan bisnisnya.
Setelah keheningan yang panjang dan menyakitkan, pria paruh baya itu akhirnya mengembuskan napas berat. Bahunya merosot turun.
"Sampaikan kabar tersebut kepada media," jawabnya dengan suara yang parau, nyaris berbisik namun sarat akan kepasrahan. Dia tidak menoleh sedikit pun dari jendela. "Sudah saatnya publik tahu apa yang terjadi selama ini kepada putriku yang malang. Semoga saja... semuanya berjalan lancar setelah ini."
Dia memejamkan mata, membayangkan wajah senyum putrinya untuk yang terakhir kali, tanpa pernah tahu bahwa di belahan dimensi lain yang terpisahkan oleh ribuan tahun sejarah, sebuah takdir baru yang jauh lebih berbahaya justru baru saja dimulai untuk Jia Li.
Tidak ada yang mengajarkan Yi Fang bahwa ketenangan bisa terasa seperti ancaman.Seminggu di lembah ini, dan justru ketenangannya yang paling mengusik. Tidak ada suara langkah kuda di kejauhan. Tidak ada gemerincing senjata yang terbawa angin. Tidak ada bayangan yang melintas terlalu cepat di luar batas penglihatan ketika ia mengintip lewat celah dinding rami. Hanya suara air dari ceruk batu, suara angin yang membelah barisan pinus, dan suara Hao Yu yang sesekali memukul kayu di sudut lembah sambil memperbaiki sesuatu yang selalu saja menurutnya perlu diperbaiki.Terlalu sunyi.Dan kesunyian, Yi Fang sudah cukup belajar sejak pertama kali terlempar ke dunia ini, tidak pernah benar-benar berarti aman. Kesunyian hanya berarti bahwa ancaman belum tiba. Dua hal yang sangat berbeda.Namun tubuhnya memaksa kedamaian itu diterima, karena tidak ada pilihan lain. Memar-memar di lengan dan tulang rusuknya sudah menguning di tepi—tanda pemulihan yang lambat namun nyata. Linu di persendian mulai
Suara gemercik air dari ceruk batu terdengar konstan, menjadi satu-satunya ritme yang memecah keheningan lembah belakang Canglan. Uap hangat yang tipis membubung dari permukaan air, membawa bau belerang ringan yang samar, sedikit mengusir hawa beku yang mengepung pondok rami mereka sejak sore tadi. Lembah ini tersembunyi dengan baik, diapit oleh dinding-dinding batu cadas yang curam dan pohon-pohon pinus purba yang dahan-dahannya saling bertautan seolah sengaja menutupi keberadaan tempat ini dari pandangan dunia luar. Di sinilah mereka mendarat setelah gulungan arus jeram es melemparkan tubuh mereka ke tepian yang dangkal. Sebuah keajaiban yang tipis, atau mungkin takdir yang belum merelakan keduanya mati.Yi Fang duduk di atas sebatang kayu lapuk di sudut ceruk. Tubuhnya masih bergetar kecil, bukan lagi karena demam tinggi yang sempat merenggut kesadarannya semalam, melainkan karena rasa linu yang luar biasa setiap kali ia mencoba menggerakkan persendiannya. Jatuh dari tebing tinggi
Dingin yang tersisa di dinding batu pondok rami itu perlahan mulai kalah oleh uap hangat dari rebusan akar salju yang mendidih di atas perapian. Namun, kehangatan itu tidak mampu mengusir kabut kelabu yang kini bergelayut di pelupuk mata Yi Fang.Napasnya masih terasa berat, sisa dari demam tinggi yang nyaris merenggut kesadarannya semalam. Setiap kali memejamkan mata, kalimat pertapa buta itu kembali terngiang di kepalanya seperti ketukan lonceng kematian yang dipalu berulang kali. Jiwa yang menumpang dua langit akan ditagih oleh keduanya. Yi Fang menatap telapak tangannya yang pucat dan dihiasi memar kebiruan. Di dunia ini, dia adalah Yi Fang, wanita pelarian yang jiwanya terikat pada kehangatan pria di sisinya. Namun di dunia yang lain, di dalam ruang ICU yang dingin dan steril, dia adalah Jia Li yang ra
Batas antara hidup dan mati sering kali hanya selembar benang tipis yang ditenun oleh ketidaksadaran. Bagi Yi Fang, benang itu kini sedang kusut, saling silang, dan menarik jiwanya ke dua arah yang berlawanan dengan kekuatan yang sanggup merobek kesadaran.Pip... pip... pip...Bunyi itu begitu monoton, ritmis, dan dingin. Suara elektronik yang asing namun terasa sangat akrab di suatu sudut ingatan Yi Fang yang paling dalam. Ia ingin membuka mata, tetapi kelopak matanya seolah telah direkat oleh timah panas. Pandangannya gelap, namun anehnya, ia bisa merasakan kilatan cahaya putih yang menyengat dari atas. Cahaya neon yang steril, bau antiseptik yang menusuk hidung, dan desau halus dari mesin ventilator yang memompa udara buatan ke dalam paru-parunya."D
Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya
Wang Jun terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan dan sarat akan keangkuhan, seolah pertanyaan defensif yang kuajukan adalah hal paling konyol dan naif yang pernah dia dengar dari seorang wanita paruh bangkrut."Seorang wanita yang menyandang nama belakang Marga Wang tidak perlu
Suara ketukan ujung sepatu pantofel di atas lantai marmer Italia butikku terdengar bagaikan detak jam pasir yang sedang menghitung mundur sisa-sisa kejayaanku. Setiap ketukan membawa gaung yang berat, memantul di antara dinding-dinding kaca yang memajang mahakarya terbaikku. Pagi ini, atmosfer di d
Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!Siapapun, tolong aku!Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan alir


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews