Suami Pengganti: Petarung Jalanan di Ranjang Nyonya Besar
Bumi Ganendra mengira wanita anggun yang menginjak wajah hancurnya di sebuah gang kumuh, sedang menginginkan nyawa seseorang. Namun, tawaran yang dilemparkan Vania Valerine jauh lebih gila: menjadi suami pengganti di ranjangnya!
.
Demi menyelamatkan nyawa adiknya, Bumi terpaksa membuang identitasnya sebagai petarung jalanan, dan menjelma menjadi Aksa Valerine—konglomerat paling kejam di Jakarta—dengan satu tugas: menghamili Sang Nyonya Besar, dalam waktu satu tahun!
.
Bumi tak pernah mengira, di malam pertama sandiwara dimulai, ia akan menemukan rahasia mengejutkan: Wanita itu masih perawan!
.
Saat transaksi fisik berubah menjadi obsesi yang membakar, seseorang justru mengintai dari balik bayang-bayang, memastikan rahim Vania tidak akan pernah melahirkan seorang pewaris!
.
Ketika konspirasi berdarah mulai terkelupas, apakah Bumi—Aksa Valerine palsu—dapat keluar hidup-hidup dari kediaman Valerine?
Read
Chapter: Bab 62: Rencana Gila (ft. Satu-Satunya Sekutu!)"Sekarang kita harus memanggil tim hukum utama Valerine Group. Kita harus menyusun alibi bahwa semalam, aku langsung pulang ke mansion dan tidak pernah mengancam wanita itu!"Vania kembali meraih ponselnya untuk menghubungi pengacaranya. Namun, Bumi tidak membiarkan wanita itu melangkah lebih jauh ke dalam jurang kesalahan."JANGAN!"Grep!Bumi menarik tubuh ramping Vania ke dalam kungkungan fisiknya yang masif, memojokkan wanita itu di sudut jok kulit belakang Rolls-Royce yang sempit. Tubuh bertelanjang dadanya yang panas menempel ketat, mengunci pergelangan tangan lentik Vania, tepat satu senti sebelum jarinya menyentuh nomor sang pengacara."Bumi, lepas! Kita tidak punya waktu—""Buka matamu, Vania! Gunakan otak cerdasmu! Jangan biarkan kepanikan membuatmu bertindak bodoh..." Sentakan vokal bariton Bumi yang penuh tekanan, langsung memotong paksa protes Vania, bergema berat di dalam kabin yang sempit.Bumi segera merampas ponsel di tangan Vania dengan satu hentakan kuat, mengikis
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 61: Kejutan Ganda"Pagi ini... Saudari Rachel ditemukan tewas mengenaskan di apartemen pribadinya dengan indikasi bunuh diri. Dan Anda termasuk salah satu orang terakhir yang terlibat kontak dengan korban... Kami meminta kesediaan Anda, Tuan Valerine, untuk datang ke markas kepolisian, sebagai saksi utama."Hening seketika mencekik udara tebing pantai selatan. Di sela deru angin fajar yang menusuk kulit telanjang dadanya, Bumi Ganendra memejamkan mata kelabunya sefraksi detik. Menggunakan seluruh disiplin mental yang ia pelajari dari pertarungan bawah tanah, ia memaksa jalinan sarafnya yang menegang untuk kembali rileks.Saat ia membuka suara, vokal baritonnya meluncur dengan kestabilan yang teramat mutlak, seutuhnya meniru arogansi dingin Aksa Valerine yang tidak tersentuh."Bunuh diri, Detektif?" Bumi terkekeh hambar, sebuah suara parau yang dirancang dengan nada meremehkan yang sempurna. "Semalam kami baru saja bertemu dan kondisinya baik-baik saja. Tapi apa tadi? Kau bilang dia mati? Lucu sekali."
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 60: (21+++++) Bumi yang Tak Pernah Puas (ft.) Badai Baru"Boleh aku coba gaya lainnya, Nyonya?" bisik Bumi dengan suara bariton yang berat dan sarat akan ancaman, tepat di telinga Vania.Tanpa menunggu persetujuan, Bumi memutar tubuh Vania yang masih lunglai. Ia memposisikan Vania membelakanginya di depan kap mobil, membiarkan tubuh wanita itu menumpukan tangannya di kap mobil dan menjadi pemuas gairahnya yang belum juga padam. Bumi mencengkeram pinggul Vania yang sempit, memaksanya menungging dengan posisi yang begitu vulgar, mengekspos lekuk tubuhnya yang sempurna di bawah bias cahaya fajar."Seperti ini..." geram Bumi. Ia menyatukan diri kembali dalam satu hentakan yang sangat dalam, membenamkan seluruh kejantanannya hingga menyentuh dasar rahim Vania.Jleb!"Ahhh! Bumi...! Cukup!!" Vania melenguh panjang. Suaranya pecah di udara pantai yang dingin. Bumi mulai menghantam dari belakang dengan ritme yang liar. Setiap dorongan Bumi membuat tubuh Vania terayun maju mundur, sepasang bukitnya yang besar dan berat bergoyang hebat, memantul me
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 59 (21+++): "Bisakah Kita Coba Gaya Lain?""Kau tidak perlu lagi meragukan kesetiaanku, karena seluruh raga dan insting petarungku malam ini... berada mutlak di bawah perintahmu."Vania tercekat seutuhnya. Namun, ia menolak untuk menundukkan kepala. Di bawah tatapan kelabu badai Bumi yang menuntut, sepasang mata elang Vania justru berkilat beringas, membalas intimidasi itu dengan sisa-sisa keangkuhan seorang Valerine yang enggan dijinakkan."Kau hanya bidak sewaan, Bumi," desis Vania parau, napasnya memburu pendek di depan bibir Bumi. "Tugasmu hanya menghamiliku dan pergi setelah kontrak kita selesai. Aku tidak butuh kalimat penghiburan darim—"Kalimat angkuh itu tidak pernah selesai. Bumi tidak sudi mendengarkan draf korporat dari bibir wanita yang baru saja menangisi hidupnya.Pria jalanan itu menunduk dalam, membungkam bibir ranum Vania dengan satu ciuman brutal yang teramat pekat, dalam, dan menuntut kepatuhan mutlak.Ciuman ini bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukkan wilayah. "Mmph..." Vania melenguh saat lida
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: Bab 58: Isi Hati Vania"Pada siapa sebenarnya kamu cemburu semalam, Nyonya Besar? Pada Aksa yang aku perankan karena disentuh jalang itu... atau.. padaku, Bumi Ganendra?"Vania membuang wajahnya dengan beringas, menolak mati-matian intensitas tatapan yang sanggup menelanjangi sisa harga dirinya tersebut."Jangan konyol, Bumi! Aku tidak pernah cemburu," bantah Vania ketus, walau dadanya naik-turun ekstrem di balik gaun sutranya. "Aku hanya muak melihat jalang itu begitu angkuh karena menyombongkan diri berhasil mendapatkan Aksa di hadapanku! Hanya... itu saja!"Bumi menyunggingkan sebuah senyuman kecut yang teramat tipis. Ada rasa perih tak kasat mata yang mendadak menggores ulu hatinya mendengar pembelaan tersebut."Ah... Aksa rupanya," bisik Bumi lirih, suaranya mendadak berubah dingin. "Kau... ternyata begitu mencintai Aksa, ya, Nyonya?""Jaga mulutmu sebelum kurobek di tempat ini, Bumi!" desis Vania beringas, mata elangnya kembali menghunus tajam penuh kilat ancaman."Kalau kau tidak mencintainya... lalu
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: Bab 57: Cemburu?! Really?!Pertanyaan ketus yang sarat akan racun itu berdesing membelah gemuruh angin pantai selatan, menghantam tepat di atas dada telanjang Bumi Ganendra.Keheningan fajar di tepian tebing mendadak terasa jauh lebih mencekam daripada gemercik ombak yang berhantam beringas di bawah sana.Bumi tidak langsung mundur. Pria jalanan itu berdiri kokoh laksana batu karang, membiarkan embusan angin laut yang membekukan menusuk kulit sawo matangnya yang masih basah oleh sisa keringat pias semalam. Sepasang manik mata kelabu badainya menggelap, mengunci mati paras sembab Vania yang masih memasang topeng kemarahan yang luar biasa angkuh."Sentuhan binal?" Bumi mengulang kalimat itu dengan vokal baritonnya yang terdengar begitu parau, berat, dan pecah akibat sisa penolakan alkohol di tenggorokannya.Sebuah seringai tipis yang teramat kaku terukir di sudut bibirnya—bukan seringai provokasi Aksa Valerine yang manipulatif, melainkan senyum getir seorang petarung yang mendadak sadar bahwa seluruh pertaruhan
Last Updated: 2026-07-01

Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan
"Kau tahu apa artinya, Amira? Mulai detik ini... Jika aku menyuruhmu membuat roti di dapur ini, kau harus membuat roti dengan kualitas terbaik. Dan... jika aku menyuruhmu untuk membuka lebar-lebar kedua kakimu untukku, di atas ranjangku... Kau juga harus melakukannya tanpa ragu. Persis seperti seekor anjing yang jinak, di hadapan tuannya. Kau paham?!"
Sultan Rayyan Al-Fariz—penguasa tiran yang dingin dan angkuh—hidup dalam kegelapan yang hambar. Trauma masa lalu membuatnya membenci wanita dan kehilangan selera makannya akibat penyakit anoreksia yang dideritanya. Baginya, dunia ini hanyalah tempat yang penuh racun. Sampai ia mencicipi roti buatan Amira—dan merasakan gairah liar saat menatap bibir gadis itu...
.
Amira, seorang pembuat roti yang hancur karena terlilit utang dan dikhianati, tidak punya pilihan selain menandatangani kontrak "berdarah".
Sultan Rayyan menawarkan kebebasan finansial, dengan satu syarat mutlak: Amira harus melayani apa pun yang ia minta, kapan pun ia mau!
.
Kesepakatan itu segera berubah menjadi permainan dominasi yang berbahaya!
Di siang hari, Amira adalah koki pribadi yang memberikan kehangatan lewat masakannya. Namun di malam hari, di atas ranjang sutra hitam yang panas, Rayyan terus menuntut "menu tambahan" , untuk memenuhi nafsu dan obsesinya.
.
Saat Amira mulai terjebak dalam pesona pria yang memujanya di atas ranjang, Ibu tiri Sultan malah berusaha menyingkirkannya dengan berbagai cara!
Di tengah intrik istana dengan segala kebusukannya, haruskah Amira pergi dan kembali ke kehidupannya sebagai rakyat biasa, atau menetap di istana megah itu dan melawan musuh-musuh mereka?
Read
Chapter: Bab 11: (21+) Panggil Selir Ter-seksi!"Dengar baik-baik, Amira," Rayyan merendahkan suaranya, mencengkeram kembali rahang Amira dengan satu tangan hingga gadis itu meringis perih. Tatapan Rayyan begitu dingin, memandang Amira tak ubahnya seperti setitik debu yang tidak berharga di bawah injakan kakinya. "Lagi-lagi kau selamat karena makan siang buatanmu hari ini cocok dengan selera lambungku. TAPI!! Ketahuilah... itu adalah satu-satunya alasan mengapa kepalamu masih melekat di lehermu saat ini."Rayyan mencondongkan wajah, hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan, mengunci pasokan oksigen Amira dengan intimasi yang mencekik."Maka dari itu, pertahankan kerja bagusmu, Amira. Jika aku sampai dengar, kau mencoba kabur... Kau tahu sendiri ke mana tubuhmu akan kulempar, jika itu sampai terjadi."Sultan melepaskan cengkeramannya di rahang Amira dengan satu sentakan kasar, membuat tubuh mungil gadis itu terhuyung mundur, jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin.Rayyan menegakkan tubuhnya, kembali mengenakan topen
Last Updated: 2026-07-04
Chapter: Bab 10: Dengar Baik-Baik, Jalang...Satu jam kemudian, Aroma gurih nan lembut dari Creamy Mushroom Soup yang mengepul tipis perlahan menembus keheningan dingin lantai tertinggi menara barat. Pintu ganda Royal Suite terbuka lambat, menampilkan Tuan Malik yang melangkah dengan membawa nampan perak berisi mangkuk porselen. Di belakangnya, Amira Nabila mengekor dengan kepala tertunduk dalam, tangannya meremas kuat kerah blus pelayannya yang robek demi menyembunyikan tanda kemerahan yang menjadi bahan gunjingan di dapur umum tadi.Di ujung ruangan yang luas dan temaram, Sultan Rayyan Al-Fariz duduk bersandar di kursinya yang megah. Jubah sutra hitamnya terurai longgar, memancarkan aura dominasi mutlak yang sanggup menghentikan detak jantung siapa saja. Matanya yang tajam menatap, melirik sekilas pada mangkuk sup sederhana yang dua detik lalu disajikan di atas meja marmer di hadapannya.Bukannya menyentuh makanannya, Rayyan justru melipat tangan di depan dada. Ia menatap sup jamur liar itu dengan pandangan menghina, seolah
Last Updated: 2026-07-04
Chapter: Bab 9: Jal*ng Kecil nan Malang"Jadi... ini tikus jalanan yang semalam mendadak menjadi pahlawan?!" suara sinis dari Kepala Koki Utama, seorang pria paruh baya berwajah angkuh bernama Chef Gibran, memecah keheningan dengan nada merendah yang kentara.Chef Gibran melangkah mendekati Amira, diikuti oleh beberapa asisten koki yang menatap Amira dengan pandangan jijik. Setelah berjarak kurang lebih tiga jengkal dari Amira, Chef Gibran mengangkat tangannya, lalu menggunakan ujung sebilah pisau dapur panjang yang berkilat tajam untuk menyentak kerah blus tinggi Amira secara kasar, dalam gerakan secepat kilat. Bahkan sebelum Amira selesai berkedip.SRETT!!Kancing teratas blus Amira terlepas, memaksa kerah kain itu terbuka lebar. Seluruh pasang mata di dapur umum seketika terbelalak sempurna, disusul oleh suara kasak-kusuk penuh dengki yang meledak di ruangan. Di atas kulit leher Amira yang putih, jejak-jejak kemerahan pekat bekas gigitan binal yang ditinggalkan Sultan Rayyan subuh tadi, terpampang nyata di bawah sorota
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 8: Pel*cur Istana vs. Koki Elite"Baru masuk satu malam, tapi sudah tahu cara menggunakan tubuhnya untuk merayu tiran di menara barat. Hebat sekali caramu bermain!" sindir Zurie, suaranya terdengar begitu sinis memotong keheningan kamar."S-saya tidak merayu siapa pun! Tolong jangan asal bicara... Keluar dari kamar saya!" seru Amira parau dengan wajah pucat pasi, mencoba menyambar blus bersih untuk menutupi tubuhnya.Namun, Zurie justru melangkah masuk dengan angkuh, memberi isyarat pada para pelayan junior untuk merangsek maju. Tanpa belas kasihan, tubuh mungil Amira didorong kasar hingga keluar dari bilik kamarnya, diseret paksa ke tengah koridor asrama yang dingin di mana belasan pelayan lain kini berkumpul untuk menonton kelantangannya."Jangan berlagak suci di depan kami, Jalang!" bentak Zurie sembari menyentak apron linen putih milik Amira yang baru saja hendak ia kenakan, merobek jahitannya hingga terlepas tak bersisa. "Tuan Malik memecat puluhan koki profesional karena makanan mereka membuat Sultan murka. T
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 7: Sisa Kehangatan SultanPagutan brutal di bibir Amira Nabila kian memabukkan, merenggut paksa sisa oksigen yang tersisa di dalam paru-parunya. Ciuman Sultan Rayyan Al-Fariz tidak lagi sekadar tuntutan rasa lapar lambungnya yang rusak, melainkan telah menjelma menjadi sebuah keliaran impulsif yang berbahaya.Di atas meja marmer dapur privat yang dingin, tubuh Amira gemetar hebat di bawah himpitan raga kokoh sang tiran. Di tengah ciumannya yang kian beringas menyesap sisa air mata dan anyir darah di bibir Amira, tangan besar Rayyan bergerak semakin gila. Dengan sentakan yang tidak sabaran, jemari panjang pria itu mulai membuka satu demi satu kancing blus putih pelayan tipis yang Amira gunakan. Kain tipis itu terbelah, mengizinkan hawa dingin subuh menyentuh langsung kulit polos Amira yang mendadak meremang hebat.Payudara Amira yang sintal dan besar yang terbungkus bra berwarna nude langsung terekspos sempurna di bawah temaram lampu dapur.Pemandangan sensual tersebut membuat pertahanan Rayyan semakin mengg
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 6: Tubuh Amira sebagai Makanan Penutup Terlezat"Katakan padaku, Amira... apa kau sengaja memakai parfum murahan untuk merayuku, agar bisa naik ke ranjangku?" "TIDAK YANG MULIA!!" Amira memekik histeris. "Saya tidak pernah memakai apa pun untuk merayu atau apa pun, Yang Mulia! Saya bersumpah!" Amira menunduk cepat, mencoba memalingkan wajahnya dari intimasi yang mengubur kesadarannya.Rayyan bergerak kasar, ibu jarinya mengusap bibir ranum Amira dengan penekanan yang menyakitkan untuk memaksa wajah wanita ini menghadapnya. "Hey, hey... tenanglah, Pelayan. Baiklah. Jika kau menolak mengakuinya, kita tinggal membuktikannya saja sekarang, bukan? Apakah kau memakai parfum atau tidak?"Sebelum Amira sempat memproses kalimat tersebut, Rayyan sudah memajukan wajahnya dengan brutal. Pria itu menyerbu leher jenjang Amira, menenggelamkan wajahnya di sana dan memberikan ciuman serta gigitan yang kasar, menghisap kulit sensitif gadis itu tanpa belas kasihan."Nnghh... l-lepaskan..." Amira memberontak, tangan kecilnya memukul dada Rayyan deng
Last Updated: 2026-06-09