Home / Romansa / MAS IT & MBAK SECRETARY / Bab 3: Cincin Akmal?

Share

Bab 3: Cincin Akmal?

last update publish date: 2026-07-21 10:59:28

“Akmal Lucius Winarto.”

Erina membaca nama pada label alamat, lalu meletakkan paket plastik hitam seukuran kotak sepatu itu di meja Akmal.

Lelaki itu membuka sebelah headphone-nya, “Kenapa lo bawain ke sini?”

“Sekalian naik aja.” Erina tersenyum.

“Oh. Thank you.” Akmal meletakkan paket itu ke kolong meja, memakai kembali headphone-nya, lalu menatap komputer seolah Erina sudah tak ada di depannya.

“Anytime, Mas Akmal.” Erina tak peduli Akmal tak meliriknya lagi. Sejujurnya dia sedang mencari alasan untuk menyebut nama itu. Nama yang akhir-akhir ini muncul di otaknya, sesering wajah Akmal yang tak bisa lepas dari mimpi di tidurnya.

Di ruangan pengap yang hanya menjadi hunian bagi Erina, kursi putarnya yang sering macet dan meja besar yang berhimpitan dengan lemari arsip, dia hanya bisa memperhatikan keramaian di luar ruangan dari suara-suara yang terdengar. Pintunya memang tipis, jadi ruangannya tak kedap suara sama sekali.

Minimal dua jam sekali pasti nama Akmal disebut.

Ketika mendadak ada pemadaman listrik, semua orang serentak memanggil namanya. Dan Erina tersenyum mendengar geraman Akmal yang kesal.

"Sabar, anjrit!"

"Punya gue mati ni, Mas Akmal!" Suara cempreng lainnya berteriak.

"Ah elah, lo lagi!"

Sudah satu minggu berlalu sejak perlakuan manis Akmal padanya.

Yang mirisnya, setelah Erina pikir-pikir, tindakan Akmal yang menegur pelaku pelecehan itu sebenarnya sikap normal seorang manusia waras. Tapi karena saking seringnya dibecandai seperti itu, Erina malah merasa yang waras ini yang langka.

Setelah kejadian itu, Akmal bersikap seolah mereka tak saling kenal. Tak ada satu pun senyum Erina yang dia balas.

Kenapa ya?

Atau jangan-jangan Akmal sudah punya istri?

Kalau dia beneran sudah menikah, Erina tak heran sih. Akmal tampaknya sudah dewasa.

Erina sempat mencari profil Akmal. Ada postingannya di LinkedIn di mana dia membagikan portofolio hasil pelatihan design dan lengkap bersama tanggal lahirnya. Akmal berusia tiga puluh lima tahun, zodiaknya gemini. Pantas membingungkan dan menarik di saat yang bersamaan.

Tapi bagaimana caranya Erina bisa tahu ya apakah cowok itu single atau tidak? Siapa yang harus dia tanya? Kan satu kantor itu sinis padanya. Kalau dia keceplosan, bisa-bisa gosip menyebar secepat kilat kalau Erina menyukai Akmal.

Eh tapi, apakah benar Erina menyukai Akmal.

Gadis itu tersenyum sendiri pada pikirannya.

Dia tak pernah mau ribet soal perasaan. Kalau dia suka, dia akan bilang. Kalau dia mau, dia pasti berhasil mengajak seorang lelaki untuk jalan. Yang penting Erina harus pastikan dulu, apakah legal atau tidak mendekati Akmal?

"Akmal! Spreadsheet gue beku!"

"Apa lagi sih, Bambang?"

Sahutan kembali terdengar.

Hmm, sepertinya Erina bisa mencari tahu sendiri.

Gadis itu melihat PC-nya, kabel-kabel yang bertautan, CPU-nya.

Dia segera bangun. Menelusuri kabel adapter monitor ke bagian belakang PC, menggoyang kabelnya sambil memperhatikan layar.

Dan setelah tiga kali dia menggoyangkannya dengan keras, berhasil! Layarnya berubah biru dengan garis statis yang memanjang ke bawah.

Yes!

Dia segera merapikan rambutnya, menyisir dengan jari, mengusap-usap kemeja ketatnya dan menarik ujung rok span mininya. Apa benar ya dia terlalu vulgar? Ah, bodo lah. Yang penting cantik!

Mari kita panggil dia!

Erina merapat ke dekat pintu, membuka pintu itu sepenuhnya. "Mas Akmaalll, bantuin dong!"

Gadis itu buru-buru berlari ke dekat PC. Dia diam menguping respons.

Tidak ada balasan seruan, tapi ada bisik-bisik yang perlahan makin kencang.

"Panggilannya dari Mbak Erin itu mah!"

"Masa sih?"

"Ya. Sana gih!"

Oke, ini dia. Erina dengan tegak menunggu. Dia memperhatikan sekali bayangan yang pelan-pelan mendekati ruangannya.

"Manggil?" Lelaki itu mengetuk pintu dua kali walaupun sudah terbuka. Kepalanya melongok.

"Iya nih, Mas Akmal, tiba-tiba layar gue biru."

"Restart aja."

"Udah!" balas Erina cepat. Padahal belum. Ya, Erina juga paham ini kan error karena kabelnya dia acak-acak.

Ucapan itu berhasil membuat si jangkung masuk ke ruangan Erina.

"Kegigit tikus kali." Akmal mengutak-atik kabelnya, memastikan tak ada yang terbuka.

"Mana gue tahu?” jawab Erina sok ketus.

Erina susah payah mencari celah melihat jari Akmal. Tapi tangan lelaki itu begitu lincah menelusuri kusutnya kabel. Setelah Erina bergeser ke kiri sedikit melewati punggung lebar Akmal, Erina berhasil melihat jemari panjang Akmal yang polos tanpa cincin.

Hmm, jarinya juga sudah panjang. Apalagi ...

Erina menggeleng, mengembalikan fokusnya. 

Yes! Setidaknya sampai sini, Erina sudah bisa memastikan bahwa Akmal belum punya cincin kawin. Artinya, Akmal belum menikah. Artinya, dia masih punya kesempatan! 

Sebenarnya masih ada sih kemungkinan kalau Akmal tipe cowok yang melepas cincin kawinnya, atau justru memang sengaja tak pakai. Tapi setidaknya sejauh yang Erina tahu, Akmal tak memakai cincin kawin. Kalau ternyata Akmal beristri, ya suruh siapa dia tak memakai cincinnya!

"Astaga, gini doang. Lain kali kalo gini lagi, lo puter-puter aja nih kabel belakang sini."

"Yang mana?" Erina sengaja mendekat ke Akmal. Dekat sekali. Dia mendorong-dorong lengan lelaki itu dengan bahunya, berpura-pura fokus ke kabel.

"Ini, sambungan ini," terangnya, tak sadar Erina hanya modus.

"Oh, ini. Oke deh. Ini bener ya?"

"Iya. Udah kan?"

"Udah," Erina meringis jahil.

Baru ketika Akmal melihat wajah gadis itu, dia tersadar dia sudah terpojok ke lemari. "Mundur."

"Iya, sorry, sorry. Makasih ya." Erina beringsut kembali ke dekat pintu.

Namun tanpa respons yang dia harapkan, Akmal hanya melengos keluar ruangan. Tidak sekali pun meliriknya lagi.

Ah, sudah lah. Yang penting Akmal ternyata single, available. Sisanya, biar Erina lanjut beraksi!

Gadis itu tersenyum sambil menutup pintunya.

Namun senyumnya lenyap saat dia melihat sesuatu berkilau di lantai di pojok dekat CPU.

Sebuah cincin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 7: Kebab Untuk Erina

    "Mari kita deketin cowok itu."Erina membisikkan kalimat tersebut pada bayangannya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kantor sepi, hanya suara langkah Akmal yang sesekali terdengar naik turun tangga.Dalam proses menunggu, Erina mulai ragu.Kok dia harus sampai segininya hanya untuk mendapatkan perhatian seorang lelaki? Biasanya satu kedipan saja sudah cukup membuat lelaki rela diseret ke kasur. Jangan-jangan semesta sedang memberitahunya bahwa Akmal memang tidak layak diperjuangkan.Ah, sudahlah.Semuanya harus dibuktikan terlebih dahulu.Erina berdiri dari kursinya lalu memeriksa penampilannya melalui pantulan monitor yang sudah mati. Dia mengenakan kemeja floral berlengan panjang dan rok merah gelap yang nyaris ungu. Kebetulan, warna kemeja Akmal hari itu hampir senada dengan roknya.Bisa jadi pertanda mereka memang serasi.Selalu ada kemungkinan.Erina berkaca melalui layar iPhone 13 pro max miliknya. Riasannya masih bagus, bulu mata ekstensi tetap rapi,

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 6: Si Rajin Erina

    "Pantri untuk apa?" seru Bu Berta."Makan, Bu ... " jawab semuanya serentak.Erina juga ikut menjawab. Dia menunduk sok patuh. Padahal dalam hatinya ngakak, karena dia tahu tantenya itu penggila sambal terasi. Jangan-jangan, dia ngamuk mencium sambal terasi di area kantor karena tidak ditawari."Kantor untuk apa?""Bekerja, Bu.""Kalau makan di mana?""Di pantri, Bu.""Kalian mau ulangi seperti ini gak?""Tidak, Bu."Bu Berta memperhatikan wajah karyawan-karyawannya seolah bisa membaca ekspresi siapa yang kurang meyakinkan. Namun akhirnya ia mengangguk, "Erina dan Kia, buat klasifikasi makanan yang diperbolehkan dimakan di area kerja dan yang tidak. Saya tunggu laporannya hari ini.""Baik, Bu," Erina dan Kia menjawab hampir bersamaan."Xavier, tolong pantau lantai dua. Pastikan gak ada yang mukbang juga di studio."Lelaki sipit berkacamata itu mengangguk patuh, "siap, Bu.""Silakan kembali bekerja." Bu Berta kemudian menuju tangga turun, disusul Xavier yang selalu jadi buntutnya.Erin

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 5: Misi Mengenal Akmal

    “Lo lagi bikin sekte, Mas?”Mata Erina menatap tajam ke Akmal. Mereka berdua berdiri di depan pintu studio enam lantai dua yang terbuka. Studio itu dibilang kosong karena memang tak digunakan untuk shooting keperluan e-learning perusahaan edukasi ini. Namun Erina tak menyangka ajakan Akmal adalah untuk meeting bersama tim IT enam orang yang semuanya lelaki.“Itu anggota sekte pengabdi Erina katanya. Buruan masuk, mereka butuh bantuan susun proposal pengajuan tambahan manpower ke Bu Berta,” jawab Akmal datar.“Emang urusan gue? Penambahan karyawan tuh urusan Mbak Kia.” Erina melirik ke para lelaki yang sudah senyum-senyum menunggunya.“Kia aja angkat tangan. Cuma lo yang diharapkan bisa bujuk Bu Berta. Lo kan karyawan kesayangannya.”Hanya karena Erina tak terlihat sibuk dan punya ruangan sendiri, itulah yang orang pikirkan. Tak ada yang tahu bahwa ini karena Erina memang punya ikatan keluarga dengan Bu Berta.“Gak mau! Masa gue cewek sendiri?” bisik Erina kesal.“Ya gimana lagi? Ini m

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 4: Dialog Kakak Beradik

    "Aduh, si Non ...."Malam hari di tengah kompleks perumahan mewah, sopir berseragam hitam-hitam itu kelimpungan. Badan kecilnya agak susah kalau harus membopong tubuh Erina.Dia menelepon Nathan, adik Erina. Yang harusnya malam ini menemani Erina, tapi memutuskan berduaan bersama pacarnya di rumah mumpung kedua orang tua mereka sedang staycation di Bogor.Pemuda itu masih mengucek-ngucek mata waktu melihat kakaknya dibiarkan tergeletak."Padahal masukin aja, Pak.""Ah, gak berani, Mas."Nathan berjongkok, menepuk-nepuk pipi kakaknya. "Kak Erin! Bangun dong! Lo janji loh gak keterlaluan mabuknya. Heh!"Dengan sekali guncangan di bahu, gadis itu membuka mata. Dia menyingkirkan rambut tebalnya yang menghalangi pandangan. Saat melihat Nathan, dia tersenyum lebar. “Dikit kok, Nate.""Tai lah, ganggu aja. Ayo bangun!"Dari halaman luas keluarga Rudolf yang bisa menampung enam mobil, mereka masuk ke ruang tengah raksasa dengan lampu kuning menggantung tinggi dari lantai tiga. Harum kayu dan

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 3: Cincin Akmal?

    “Akmal Lucius Winarto.”Erina membaca nama pada label alamat, lalu meletakkan paket plastik hitam seukuran kotak sepatu itu di meja Akmal.Lelaki itu membuka sebelah headphone-nya, “Kenapa lo bawain ke sini?”“Sekalian naik aja.” Erina tersenyum.“Oh. Thank you.” Akmal meletakkan paket itu ke kolong meja, memakai kembali headphone-nya, lalu menatap komputer seolah Erina sudah tak ada di depannya.“Anytime, Mas Akmal.” Erina tak peduli Akmal tak meliriknya lagi. Sejujurnya dia sedang mencari alasan untuk menyebut nama itu. Nama yang akhir-akhir ini muncul di otaknya, sesering wajah Akmal yang tak bisa lepas dari mimpi di tidurnya.Di ruangan pengap yang hanya menjadi hunian bagi Erina, kursi putarnya yang sering macet dan meja besar yang berhimpitan dengan lemari arsip, dia hanya bisa memperhatikan keramaian di luar ruangan dari suara-suara yang terdengar. Pintunya memang tipis, jadi ruangannya tak kedap suara sama sekali.Minimal dua jam sekali pasti nama Akmal disebut.Ketika mendada

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 2: Pahlawan Baju Kusut

    "Hi, guys. Udah pada makan?"Erina mengangkat sebelah tangannya menyapa tiga pemuda yang baru masuk ke pantri lantai satu. Mereka memakai seragam putih-hitam, kemungkinan karyawan baru yang butuh sekitar tiga hari lagi untuk diperbolehkan pakai pakaian formal bebas."Udah, Mbak. Mbak Erin baru mau makan?" Pemuda berambut cepak menjawab. Dia duduk di kursi dekat pintu. Kedua temannya saling menyikut, jelas salah tingkah disapa wanita seksi paling populer di kantor ini."Iya nih."Erina meletakkan pisang Sunpride dan satu bungkus kopi di atas meja keramik. Entah kenapa sejak masuk ke kantor ini dia justru jatuh cinta pada kopi sachet yang rasanya terlalu manis. Makan siang berat hampir tidak pernah menjadi pilihannya."Makan apa kalian tadi?""Nasi kotak, Mbak.” Kini pemuda berkacamata yang menjawab. Dia terkikik sendiri setelah berhasil bicara tanpa gemetar."Emangnya Mbak Erin nggak pernah makan katering?" Si rambut cepak bertanya lagi, tak ingin kalah.Erina menunjukkan pisangnya. "S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status