Se connecter"Aduh, si Non ...."
Malam hari di tengah kompleks perumahan mewah, sopir berseragam hitam-hitam itu kelimpungan. Badan kecilnya agak susah kalau harus membopong tubuh Erina.
Dia menelepon Nathan, adik Erina. Yang harusnya malam ini menemani Erina, tapi memutuskan berduaan bersama pacarnya di rumah mumpung kedua orang tua mereka sedang staycation di Bogor.
Pemuda itu masih mengucek-ngucek mata waktu melihat kakaknya dibiarkan tergeletak.
"Padahal masukin aja, Pak."
"Ah, gak berani, Mas."
Nathan berjongkok, menepuk-nepuk pipi kakaknya. "Kak Erin! Bangun dong! Lo janji loh gak keterlaluan mabuknya. Heh!"
Dengan sekali guncangan di bahu, gadis itu membuka mata. Dia menyingkirkan rambut tebalnya yang menghalangi pandangan. Saat melihat Nathan, dia tersenyum lebar. “Dikit kok, Nate."
"Tai lah, ganggu aja. Ayo bangun!"
Dari halaman luas keluarga Rudolf yang bisa menampung enam mobil, mereka masuk ke ruang tengah raksasa dengan lampu kuning menggantung tinggi dari lantai tiga. Harum kayu dan jasmine menyebar di setiap sudut ruangan, wangi kesukaan Mama Christy yang tak boleh diusik oleh siapa pun.
Nathan meletakkan kakaknya ke sofa putih. Erina membuka mata lagi, berpura-pura sadar. "Sama siapa lo, Kak? Sendiri?"
Erina membenarkan posisi duduknya sehingga dia bisa bersandar dengan nyaman, menaikkan kedua kakinya ke meja kaca. "Sendiri dong. Kakak lo ini jomblo ngenes tau."
"Astaga, Kak. Lo tuh baru jomblo tiga bulan doang."
"Lo tau, Nate, gue ini anaknya physical touch abis. Gue gak bisa tanpa sandaran," rengek Erina berlebihan.
"Halah, kemakan label lo! Dulu ngakunya words of affirmation, terus receiving gifts, sekarang ganti lagi?"
"Lo jangan salah ya!" Erina menoyor dahi Nathan dengan telunjuknya. "Erina ini dewi cinta. Semua bahasa cinta itu ada di diri gue. Tapi masalahnya gue gak punya pasangan dewa cintanyaaaa!"
"Berisik!" Nathan kali ini membekap pelan mulut kakaknya dengan bantal. Erina merebut bantal itu dan mendekapnya sambil memelototi Nathan.
"Lo main dating apps lagi aja, Kak. Biasanya juga lo main di situ."
"Bosen, Nate. Mereka cuma ada maunya doang!"
"Kan lo juga sama cuma ada maunya doang!"
"Iya ya, hehe. Tapi gue lagi naksir orang." Erina menggigit bibirnya. Matanya melirik ke atas seolah membayangkan sesuatu. Yang membuat Nathan merinding, mendadak pipi kakaknya itu memerah.
"Siapa itu?”
"IT guy di kantor gue," jawab Erina. Pandangannya muram waktu mengingat cincin di kolong mejanya.
"Tunggu, temen kantor lo?" Nathan hampir tak percaya mendengarnya. Pasalnya, setahu Nathan pacar Erina selalu seseorang yang berasal dari club malam yang sama dengannya.
Erina mengangguk. "Kayaknya dada gue mau meledak cuma dengan nyebut namanya aja."
"Hiperbola, anying. Kalau gue lihat lo ke club sendirian malam ini, kayaknya dia gak naksir lo deh. Iya gak?"
"Jangan gegabah! Gue cuma belum kenal dekat sama dia. Kecuali kalo dia beneran udah kawin maka mundur lah gue."
“Lo kan stalker handal. Masa beginian aja bingung?”
“Susaaah. Masalahnya gue nemuin cincin itu di deket CPU setelah dia benerin kabel komputer gue. Pasti punya dia kan?” Semakin ujung kalimatnya, Erina semakin lirih. Nathan mengernyit bingung melihat kakaknya betulan menitikkan air mata.
“Cincin itu tulisannya apa?”
“Gak tau. Gue langsung tendang.”
“Setidaknya kan lo bisa make sure, Kak. Ada ukiran nama siapa? Tanggal berapa?”
“Nathan, mana ada orang pakai cincin kawin orang lain?!” sentak Erina.
“Masalahnye, itu cincin kawin beneran bukan?!” sentak Nathan balik.
Erina cemberut. Rasanya tak kuasa kalau dia musti memeriksa cincin itu.
Ia merasa sudah berekspektasi jauh soal Akmal.
Kapan lagi dia bisa mendapatkan kombinasi lelaki hot, cuek perhatian, di saat yang bersamaan?
Namun Nathan benar.
Mau tak mau dia harus melihatnya.
Keesokan harinya, Erina berjongkok. Dia mengatur napas sambil merogoh ke bawah meja. Mengambil benda kecil yang dingin, menariknya sambil gemetar.
Matanya melihat langsung ke cincin itu. Emas, tebal, minimalis. Memang model yang suka dipakai lelaki. Tapi saat Erina putar, rupanya ada bagian bulat seperti batu yang memiliki ukiran-ukiran kecil.
Bukan nama, bukan tanggal. Tapi seperti memiliki energi magis yang menghipnotis.
“Mbak Erin?”
Langkah sepatu pantofel membuat Erina bergegas bangun sampai terantuk meja.
Kia, HRD berkacamata dengan rambut sebahu dan poni membingkai wajah mungilnya itu menatap bingung. “Ngapain jongkok?”
“Oh, ini.”
“Cincin Akmal ya?” Kia menatap cincin di tangan Erina.
“Kok tau?” Erina kembali meneliti cincinnya.
“Itu emang cincin keluarganya Akmal, Mbak. Gak akan ada cincin yang sama lagi.”
“Maksudnya cincin keluarga?” Erina bertanya hati-hati. Khawatir yang dimaksud Kia adalah pernikahan atau apa.
“Akmal itu keluarganya masih pegang tradisi. Dia keturunan Lebanon dari kakek buyutnya. Dia dulu dipaksa pakai cincin itu buat perlindungan dari kesialan, Mbak.”
Bibir Erina membulat seolah mengeluarkan beban sesak di dadanya. “Bukan cincin kawin?”
“Hah? Nggak lah!” Respons Kia begitu kaget hingga seperti membentak.
Erina melihat cincin itu lagi. Dia mengeluarkan kekhawatirannya dengan tawa yang lepas.
“Sini saya balikin aja. Tadi saya ke sini mau tanya soal Xavier aspri Bu Berta, katanya dia titip dokumen ke Mbak Erin.”
Erina memberikan cincin itu ke Kia, dia mendesah lega. “Bohong dia, gak ada dokumen apa-apa di sini. Nanti kalau si Xavier nyebelin itu datang, titip tolong tendang kakinya, Mbak.”
Kia melipat bibirnya. Dia menggenggam cincin Akmal. “Kayaknya itu orang sekali-kali emang harus ditendang.”
Selepas kepergian Kia, Erina duduk santai di kursinya. Otaknya baru saja menerima fakta baru. Akmal ternyata ada keturunan Lebanon, tak heran kenapa pesonanya itu betul-betul unik dan menarik.
Yang penting kini sudah jelas lelaki itu single. Pintu emas yang megah resmi kembali terbuka di depan Erina.
Melamunnya Erina dipecahkan karena sebuah notifikasi muncul di pojok kanan layar komputernya.
W******p dari kontak bernama AKMAL L WINARTO memberikan pesan singkat yang menghentikan detak jantung Erina.
“Erina, ditunggu di studio kosong lantai 2.”
"Mari kita deketin cowok itu."Erina membisikkan kalimat tersebut pada bayangannya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kantor sepi, hanya suara langkah Akmal yang sesekali terdengar naik turun tangga.Dalam proses menunggu, Erina mulai ragu.Kok dia harus sampai segininya hanya untuk mendapatkan perhatian seorang lelaki? Biasanya satu kedipan saja sudah cukup membuat lelaki rela diseret ke kasur. Jangan-jangan semesta sedang memberitahunya bahwa Akmal memang tidak layak diperjuangkan.Ah, sudahlah.Semuanya harus dibuktikan terlebih dahulu.Erina berdiri dari kursinya lalu memeriksa penampilannya melalui pantulan monitor yang sudah mati. Dia mengenakan kemeja floral berlengan panjang dan rok merah gelap yang nyaris ungu. Kebetulan, warna kemeja Akmal hari itu hampir senada dengan roknya.Bisa jadi pertanda mereka memang serasi.Selalu ada kemungkinan.Erina berkaca melalui layar iPhone 13 pro max miliknya. Riasannya masih bagus, bulu mata ekstensi tetap rapi,
"Pantri untuk apa?" seru Bu Berta."Makan, Bu ... " jawab semuanya serentak.Erina juga ikut menjawab. Dia menunduk sok patuh. Padahal dalam hatinya ngakak, karena dia tahu tantenya itu penggila sambal terasi. Jangan-jangan, dia ngamuk mencium sambal terasi di area kantor karena tidak ditawari."Kantor untuk apa?""Bekerja, Bu.""Kalau makan di mana?""Di pantri, Bu.""Kalian mau ulangi seperti ini gak?""Tidak, Bu."Bu Berta memperhatikan wajah karyawan-karyawannya seolah bisa membaca ekspresi siapa yang kurang meyakinkan. Namun akhirnya ia mengangguk, "Erina dan Kia, buat klasifikasi makanan yang diperbolehkan dimakan di area kerja dan yang tidak. Saya tunggu laporannya hari ini.""Baik, Bu," Erina dan Kia menjawab hampir bersamaan."Xavier, tolong pantau lantai dua. Pastikan gak ada yang mukbang juga di studio."Lelaki sipit berkacamata itu mengangguk patuh, "siap, Bu.""Silakan kembali bekerja." Bu Berta kemudian menuju tangga turun, disusul Xavier yang selalu jadi buntutnya.Erin
“Lo lagi bikin sekte, Mas?”Mata Erina menatap tajam ke Akmal. Mereka berdua berdiri di depan pintu studio enam lantai dua yang terbuka. Studio itu dibilang kosong karena memang tak digunakan untuk shooting keperluan e-learning perusahaan edukasi ini. Namun Erina tak menyangka ajakan Akmal adalah untuk meeting bersama tim IT enam orang yang semuanya lelaki.“Itu anggota sekte pengabdi Erina katanya. Buruan masuk, mereka butuh bantuan susun proposal pengajuan tambahan manpower ke Bu Berta,” jawab Akmal datar.“Emang urusan gue? Penambahan karyawan tuh urusan Mbak Kia.” Erina melirik ke para lelaki yang sudah senyum-senyum menunggunya.“Kia aja angkat tangan. Cuma lo yang diharapkan bisa bujuk Bu Berta. Lo kan karyawan kesayangannya.”Hanya karena Erina tak terlihat sibuk dan punya ruangan sendiri, itulah yang orang pikirkan. Tak ada yang tahu bahwa ini karena Erina memang punya ikatan keluarga dengan Bu Berta.“Gak mau! Masa gue cewek sendiri?” bisik Erina kesal.“Ya gimana lagi? Ini m
"Aduh, si Non ...."Malam hari di tengah kompleks perumahan mewah, sopir berseragam hitam-hitam itu kelimpungan. Badan kecilnya agak susah kalau harus membopong tubuh Erina.Dia menelepon Nathan, adik Erina. Yang harusnya malam ini menemani Erina, tapi memutuskan berduaan bersama pacarnya di rumah mumpung kedua orang tua mereka sedang staycation di Bogor.Pemuda itu masih mengucek-ngucek mata waktu melihat kakaknya dibiarkan tergeletak."Padahal masukin aja, Pak.""Ah, gak berani, Mas."Nathan berjongkok, menepuk-nepuk pipi kakaknya. "Kak Erin! Bangun dong! Lo janji loh gak keterlaluan mabuknya. Heh!"Dengan sekali guncangan di bahu, gadis itu membuka mata. Dia menyingkirkan rambut tebalnya yang menghalangi pandangan. Saat melihat Nathan, dia tersenyum lebar. “Dikit kok, Nate.""Tai lah, ganggu aja. Ayo bangun!"Dari halaman luas keluarga Rudolf yang bisa menampung enam mobil, mereka masuk ke ruang tengah raksasa dengan lampu kuning menggantung tinggi dari lantai tiga. Harum kayu dan
“Akmal Lucius Winarto.”Erina membaca nama pada label alamat, lalu meletakkan paket plastik hitam seukuran kotak sepatu itu di meja Akmal.Lelaki itu membuka sebelah headphone-nya, “Kenapa lo bawain ke sini?”“Sekalian naik aja.” Erina tersenyum.“Oh. Thank you.” Akmal meletakkan paket itu ke kolong meja, memakai kembali headphone-nya, lalu menatap komputer seolah Erina sudah tak ada di depannya.“Anytime, Mas Akmal.” Erina tak peduli Akmal tak meliriknya lagi. Sejujurnya dia sedang mencari alasan untuk menyebut nama itu. Nama yang akhir-akhir ini muncul di otaknya, sesering wajah Akmal yang tak bisa lepas dari mimpi di tidurnya.Di ruangan pengap yang hanya menjadi hunian bagi Erina, kursi putarnya yang sering macet dan meja besar yang berhimpitan dengan lemari arsip, dia hanya bisa memperhatikan keramaian di luar ruangan dari suara-suara yang terdengar. Pintunya memang tipis, jadi ruangannya tak kedap suara sama sekali.Minimal dua jam sekali pasti nama Akmal disebut.Ketika mendada
"Hi, guys. Udah pada makan?"Erina mengangkat sebelah tangannya menyapa tiga pemuda yang baru masuk ke pantri lantai satu. Mereka memakai seragam putih-hitam, kemungkinan karyawan baru yang butuh sekitar tiga hari lagi untuk diperbolehkan pakai pakaian formal bebas."Udah, Mbak. Mbak Erin baru mau makan?" Pemuda berambut cepak menjawab. Dia duduk di kursi dekat pintu. Kedua temannya saling menyikut, jelas salah tingkah disapa wanita seksi paling populer di kantor ini."Iya nih."Erina meletakkan pisang Sunpride dan satu bungkus kopi di atas meja keramik. Entah kenapa sejak masuk ke kantor ini dia justru jatuh cinta pada kopi sachet yang rasanya terlalu manis. Makan siang berat hampir tidak pernah menjadi pilihannya."Makan apa kalian tadi?""Nasi kotak, Mbak.” Kini pemuda berkacamata yang menjawab. Dia terkikik sendiri setelah berhasil bicara tanpa gemetar."Emangnya Mbak Erin nggak pernah makan katering?" Si rambut cepak bertanya lagi, tak ingin kalah.Erina menunjukkan pisangnya. "S







