LOGINJemima Harsa adalah supermodel terkenal yang diam-diam menyimpan gangguan makan berbahaya. Karier dan reputasinya seketika hancur total setelah sebuah skandal pecah akibat kesalahpahaman fatal yang membuat Chef Nathan sangat membencinya. Demi menyelamatkan masa depan masing-masing, keduanya kini terpaksa harus bekerja sama kembali dalam sebuah proyek profesional. Apakah kolaborasi penuh ketegangan ini akan menyelamatkan karier mereka, atau justru menguliti habis rahasia paling kelam yang selama ini mati-matian Jemima sembunyikan?
View MoreAku siap. Namun karena target kita sekarang adalah versi final yang akan menjadi fondasi 600 chapter, aku akan menulisnya dengan kualitas yang benar-benar lebih tinggi: lebih sinematik, lebih emosional, dan mengikuti standar GoodNovel.
"Dan... aksi!"
Suara sutradara menggema di seluruh studio.
Puluhan lampu sorot langsung menyala bersamaan, menghapus bayangan sekecil apa pun di wajah Jemima Harsa. Kamera utama bergerak perlahan mendekat, menangkap setiap detail senyumnya yang selama bertahun-tahun telah menjadi salah satu wajah paling dikenal di Indonesia.
Di hadapannya, sepotong kecil kue cokelat berada di atas piring porselen putih.
"Ambil sendoknya, Kak," bisik fotografer dari balik kamera.
Jemima mengangguk nyaris tak terlihat.
Dengan gerakan anggun yang sudah dilatih ratusan kali, ia mengambil sendok kecil berlapis emas, memotong sedikit bagian kue, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Cokelat pekat itu langsung meleleh di lidahnya.
Lembut.
Manis.
Hangat.
Persis seperti yang diinginkan klien.
Senyumnya mengembang sempurna.
"Lezat sekali," ucapnya lembut ke arah kamera. "Teksturnya ringan, cokelatnya kaya rasa, tapi tidak membuat enek. Ini salah satu dessert favoritku."
"Bagus!" seru sutradara. "Tahan senyumnya... tiga... dua... satu... Cut!"
Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa kru.
"As always, perfect."
"Kita cuma butuh satu take."
"Makanya klien suka kerja sama sama Kak Jemima."
Jemima membalas semua pujian itu dengan senyum ramah.
"Terima kasih. Kalian juga hebat."
Begitu kamera dimatikan, ia menyerahkan piring kepada seorang asisten.
"Aku ke toilet sebentar."
"Asistennya ikut, Kak?" tanya gadis itu.
"Tidak usah."
Langkah Jemima cepat.
Semakin jauh dari studio, senyum di wajahnya semakin menghilang.
Lorong menuju toilet terasa sunyi.
Hanya suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer.
Begitu pintu toilet tertutup, napasnya berubah tidak beraturan.
Klik.
Pintu bilik terkunci.
Ia mencengkeram wastafel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Bayangan potongan kue tadi terus memenuhi pikirannya.
Mentega.
Gula.
Krim.
Kalori.
"Cuma satu suap."
Suara itu terdengar begitu jelas di kepalanya.
"Satu suap tidak akan membuatmu gemuk."
Namun suara lain segera menyahut.
"Satu suap hari ini. Besok dua. Minggu depan kamu kehilangan pekerjaan."
Jemima memejamkan mata.
Dadanya naik turun.
Rasa bersalah jauh lebih menyakitkan daripada rasa lapar.
Beberapa menit kemudian, ia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali.
Air menetes dari dagunya.
Perlahan ia mengangkat kepala.
Pantulan perempuan di cermin tampak nyaris sempurna.
Kulit bersih.
Rahang tegas.
Tubuh langsing yang selama ini dipuji jutaan pengikutnya.
Namun di balik semua itu...
Ia hanya melihat seseorang yang masih belum cukup kurus.
Belum cukup baik.
Belum cukup pantas.
Jemima membuka tas kecilnya.
Bedak.
Lipstik.
Concealer.
Dalam hitungan detik, wajah pucat itu kembali berubah menjadi wajah ceria yang dikenal semua orang.
Topengnya kembali terpasang.
Ketukan pelan terdengar dari luar.
"Jem?"
Suara Jane.
"Kamu di dalam?"
Jemima menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
Jane berdiri di sana dengan ekspresi yang terlalu akrab.
Khawatir.
"Kamu muntah lagi?"
Pertanyaan itu membuat Jemima membeku sesaat.
"Aku cuma cuci muka."
Jane menatap wastafel yang masih basah.
"Lalu kenapa matamu merah?"
"Aku kurang tidur."
"Itu jawabanmu setiap minggu."
Jemima mengambil tisu dan mengeringkan tangannya.
"Aku baik-baik saja."
Jane menghela napas.
"Kamu tahu aku sudah jadi manajermu hampir delapan tahun."
"Terus?"
"Aku juga tahu kapan kamu bohong."
Jemima tersenyum tipis.
Senyum yang sama seperti di depan kamera.
Namun kali ini tidak sampai ke matanya.
"Kalau kita selesai membahas hidupku..."
Ia mengambil tasnya.
"...klien berikutnya pasti sudah menunggu."
Jane tahu percakapan itu tidak akan ke mana-mana.
Ia menyerah.
"Mobil sudah siap."
Satu jam kemudian, mobil mereka memasuki pelataran kantor pusat Soura Group.
Gedung kaca itu menjulang tinggi di tengah kawasan bisnis.
Hari ini mereka akan membahas kampanye nasional untuk produk gelato premium terbaru.
Nilai kontraknya mencapai miliaran rupiah.
"Kliennya siapa?" tanya Jemima sambil merapikan blazer putihnya.
Jane melirik tablet di tangannya.
"Chef Nathaniel Wong."
Jemima mengernyit.
"Chef yang itu?"
Jane mengangguk.
"Pemilik Sweetphoria."
Nama itu tidak asing.
Nathaniel Wong dikenal sebagai salah satu pastry chef paling berbakat di Indonesia.
Perfeksionis.
Sulit diajak kompromi.
Dan hampir tidak pernah muncul di media.
"Semoga dia tidak semenakutkan reputasinya."
Jane terkekeh kecil.
"Katanya banyak koki resign gara-gara diminta mengulang plating sampai belasan kali."
"Itu berlebihan."
"Katanya begitu."
Lift berhenti di lantai dua puluh tiga.
Begitu pintu terbuka, beberapa staf Soura Group langsung menyambut mereka.
"Selamat siang, Nona Jemima."
"Selamat siang."
Mereka memasuki ruang rapat yang luas.
Di ujung ruangan, seorang pria tinggi berdiri membelakangi pintu sambil memperhatikan beberapa sampel produk di atas meja.
Kemeja putih dengan lengan digulung rapi.
Jas hitam disampirkan di kursi.
Rambut hitamnya tersisir sederhana.
Tanpa perlu diperkenalkan pun, Jemima tahu siapa pria itu.
Nathaniel Wong.
Saat mendengar langkah kaki memasuki ruangan, Nathan berbalik.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya beberapa detik.
Namun entah mengapa...
Jemima merasa pria itu sedang menilai dirinya seperti seorang koki menilai bahan makanan yang belum tentu layak digunakan.
Tidak ada senyum.
Nathan hanya mengangguk singkat.
"Selamat siang."
"Selamat siang, Chef."
Jemima membalas dengan senyum profesional.
Ia sama sekali tidak menyadari...
Bahwa pertemuan pertama mereka akan menjadi awal dari kesalahpahaman yang menghancurkan hidupnya.
Sweetphoria lebih sepi dari biasanya. Hujan rintik-rintik membuat orang memilih tetap berada di rumah. Hanya beberapa meja yang terisi. Musik jazz mengalun pelan dari speaker di sudut ruangan. Jemima sedang menyusun kotak pastry di dekat etalase ketika ponselnya bergetar. Jane Calling. Perasaannya langsung tidak tenang. Ia melirik ke arah Nathan yang sedang menghias éclair. "Chef, saya boleh angkat telepon sebentar?" Nathan bahkan tidak mengangkat kepala. "Dua menit." Jemima berjalan ke lorong belakang. Udara malam terasa dingin setelah hujan. "Halo?" "Jem." Suara Jane terdengar lebih ringan daripada beberapa hari terakhir. "Kamu lagi di Sweetphoria?" "Iya." "Aku baru selesai telepon dengan Pak Tanto." Jemima menunggu. "Soura Group memberi jawaban." Tangannya otomatis mencengkeram ponsel lebih erat. "Mereka menolak?" "Aku belum selesai bicara." Jemima menutup mata sejenak. Jane tertawa kecil. "Mereka memberi kesempatan kedua." Ia membuka mata. "Benarkah?" "Iy
Jemima tiba di Sweetphoria pukul enam lewat lima puluh. Ia berdiri beberapa saat di depan pintu belakang, jemarinya masih memegang tali tas. Langit Jakarta sudah gelap. Udara setelah hujan semalam terasa lebih sejuk. Ia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat wajah Nathan di ruang IGD. "Kamu takut makan?" Pertanyaan itu terus terngiang. Beruntung, ia berhasil mengelak. Kalau tidak... Ia tidak ingin membayangkan apa yang mungkin terjadi. Pintu belakang terbuka. Nathan keluar sambil membawa sekotak susu segar. Langkahnya terhenti ketika melihat Jemima. "Kamu datang." Jemima mengangguk. "Aku bilang akan menyelesaikan lima hari." Nathan tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sesaat. Wajah Jemima masih pucat. Ada lingkar samar di bawah matanya. "Kamu seharusnya istirahat." "Aku sudah istirahat." Itu bohong. Nathan bisa melihatnya. Namun ia tidak membantah. Ia hanya menggeser tubuhnya. "Masuk." --- Suasana dapur lebih tenang dibandin
"Jemima!" Suara Rani terdengar panik. Nathan menahan tubuh Jemima sebelum kepalanya membentur lantai. Perempuan itu terkulai di pelukannya, sama sekali tidak bereaksi. Wajahnya pucat. Bahkan bibirnya hampir kehilangan warna. "Chef..." suara Leo terdengar kecil. Nathan mengangkat wajah. "Ambil tasnya." Leo seperti baru tersadar. "Iya." Rani sudah mengambil jaket dari sandaran kursi. "Rumah sakit?" Nathan mengangguk singkat. Ia menyelipkan satu tangan di belakang lutut Jemima, lalu mengangkat tubuhnya. Tubuh itu terlalu ringan. Nyaris tidak ada beban. Seketika sebuah ingatan lama muncul begitu saja. Seorang perempuan duduk di meja makan. Sepiring pasta di depannya masih utuh. Wajahnya pucat. Saat berdiri, tubuhnya limbung. "Mama!" Nathan kecil berlari menghampiri. Ibunya tersenyum. "Mama cuma sedikit pusing." Namun beberapa detik kemudian, tubuh perempuan itu ambruk ke lantai. "Chef?" Suara Leo menariknya kembali. Mobil sudah berhenti
Nathan tidak pernah menyukai prasangka. Selama bertahun-tahun membangun Sweetphoria, ia belajar satu hal—kesalahan kecil bisa diperbaiki, tetapi asumsi yang salah sering kali menghancurkan segalanya. Namun pagi itu, untuk pertama kalinya setelah kejadian di toilet Soura Group, ia mulai mempertanyakan penilaiannya sendiri terhadap Jemima Harsa. Ia kembali teringat wajah perempuan itu semalam. Pucat. Napas tidak teratur. Tatapan kosong ketika berdiri di depan rak berisi mentega. Itu bukan ekspresi seseorang yang sedang jijik pada makanan. Lebih mirip... Seseorang yang ketakutan. Nathan menggeleng pelan. "Mungkin aku terlalu banyak berpikir." Ia kembali menyalakan oven. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tepat pukul tujuh malam, pintu belakang Sweetphoria terbuka. Jemima datang lima menit lebih awal. Hari ini ia mengenakan kaus putih polos dan celana hitam sederhana. Rambutnya diikat rendah, tanpa riasan tebal yang biasanya selalu menghiasi waj


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.