LOGIN---- Tiara hanya ingin menari untuk sesuap nasi, tapi kecantikannya membuat Bonar si juragan sawit yang berkuasa terobsesi ingin memilikinya. ---- Saat ayah Tiara ditangkap polisi karena ulah mabuk dan judinya, Bonar pun memasang jerat. Dia akan membebaskan sang ayah, asalkan Tiara mau jadi istri keduanya. ---- Terjepit antara nyawa keluarga dan kehormatan, Tiara terpaksa masuk ke dalam sangkar emas sang Juragan. Di sana, dia bukan lagi menari untuk seni, tapi untuk melayani nafsu pria yang telah membeli hidupnya. ---- Novel ini mengandung adegan dewasa yang intens. Bacalah dengan bijak dan pastikan kamu merasa nyaman mengikuti setiap alur ceritanya. Semoga kisah ini bisa membawamu larut dalam emosi, ketegangan, dan dinamika para tokohnya.
View MoreSelesai urusan di KUA, aku tidak membawa Tiara pulang ke rumah utama. Aku justru mengarahkan kemudi masuk lebih dalam ke area perkebunan sawit yang luasnya mencapai ratusan hektar. "Kita tidak pulang ke rumah, Bang?" tanya Tiara sambil menatap deretan pohon sawit yang mulai rapat dan menggelapkan cahaya matahari. "Rumah itu untuk istri tua, Tiara. Di sini, di tengah hutan ini, kau hanya akan menjadi milikku seutuhnya," jawabku tenang. Aku menghentikan mobil di depan sebuah gubuk kayu tua yang berdiri terpencil di pinggir telaga sunyi. Gubuk itu adalah tempat pelarianku jika sedang muak dengan urusan bisnis. Di dalamnya hanya ada ranjang kayu tua dengan kasur kapuk tipis yang ditutupi kelambu kusam, tapi suasananya sangat tenang—hanya ada suara serangga malam dan gemericik air telaga. "Abang serius kita tidur di sini? Ini benar-benar di tengah hutan," gumam Tiara, ada nada ngeri s
Pagi itu, seorang MUA mendandani Tiara dengan sentuhan make up flawless dan kebaya yang simpel namun memancarkan keanggunan Tiara. Di sela merias, mulut usil perias pria gemulai itu mulai mengomentari Tiara. "Eh Tiara, aku nggak nyangka lho kamu diperistri Juragan Bonar, pria paling kaya di desa kita." Tiara hanya ingin menanggapi seperlunya supaya pria bermulut lemes itu diam. Namun nyatanya dia melanjutkan aksinya, membuat Tiara mengangkat alis. "Yah, walaupun istri kedua sih, tapi setidaknya lumayan daripada harus menari menggeal-geolkan perut di depan banyak laki-laki, sekarang cuma sama Juragan saja," ucapnya sambil terkikik dan merapikan sanggul Tiara. "Oya, kata Bang Bonar, jika aku jadi istrinya, siapa pun yang merendahkanku akan berhadapan dengan dia lho, Om Lia. Eh, Tante Lia," balas Tiara sengaja pura-pura bingung karena gendernya yang tidak jelas. Lia seketika pucat, tang
"Apa kau bilang? Aku disuruh kerja di kebunnya? Apa gunanya Tiara punya suami kaya kalau dia tidak bisa memberiku uang secara cuma-cuma?" Dikin mencebik kesal "Juragan tidak suka memelihara parasit. Kalau kau membangkang, Tiara mungkin tetap di kasurnya, tapi kau akan membusuk di dasar parit kebun. Selama ini apa kau mengurus Tiara dengan baik sebagai tanggung jawabmu, tidakkan? dan sakarang tanggung jawabmu telah diambil alih oleh Juragan. Dia tidak hanya menikahi tapi juga menyelesaikan masalahmu." "Jangan coba-coba merongrong putrimu. Jika tidak karena Juragan, Tiara sudah disantap Marbun, Asep, Togar dan Mahmud si tua bangka karena utangmu yang berceceran. Kerja yang benar, rumahmu akan direnovasi oleh Jurahan. Cepat bersiaplah, Rully." Dikin menyodorkan tas kertas berisi baju baru untuk pernikahan Tiara. **** Di ruang makan, Sari dan Bonar tengah sarapan. Seperti biasa, meski berengsek, Bonar
Setelah pergumulan panas itu, Tiara merasa tak perlu canggung lagi; toh, ia akan dinikahi besok. Bang Bonar bukan orang sembarangan, dia juragan sawit yang menguasai hampir 60% wilayah ini. Lagipula, fisiknya tidak buruk—masih muda dibanding kakek-kakek yang ingin melahapnya semalam. Pintu kamar mandi terbuka saat Tiara sedang duduk melamun di atas kloset. "Abang mengagetkan saja!" refleks ia menutupi dada dan bagian bawahnya dengan tangan. "Buruan, aku juga mau pakai. Minggir, Tiara," ucapku dengan gaya khas orang Sumatra. "Kenapa ditutup-tutupi? Kan, tadi aku sudah lihat semuanya," sambungku santai sambil memperhatikan Tiara membilas badannya. "Ya, belum biasa, Bang," jawabnya sambil melirik dengan bibir mengerucut. "Cepat tidur, Tiara. Besok bapakmu akan datang sebagai wali nikahmu. Seperti permintaanmu, aku akan memberi Rully pekerjaan dan inisiatifku sendiri untuk memperbaiki rumahmu yang sudah seperti kanda


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore