Share

7-2 Menuju Pagi

last update Tanggal publikasi: 2026-06-13 10:52:26

Tiara melenguh panjang, jemarinya meremas seprai sutra di bawah tubuhnya saat ia merasakan sensasi panas yang menjalar. "Abang... pelan-pelan," rintihnya dengan napas yang mulai terputus-putus, membiarkan tubuhnya sepenuhnya pasrah.

"Siapa saja laki-laki yang pernah merasakan dadamu, Tiara?" tanyaku dengan mulut tersumpal daging kenyal yang mulai terangsang; ukurannya seolah naik satu tingkat lebih besar.

Tiara menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca menahan gejol
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   11. Gubug Tua

    Selesai urusan di KUA, aku tidak membawa Tiara pulang ke rumah utama. Aku justru mengarahkan kemudi masuk lebih dalam ke area perkebunan sawit yang luasnya mencapai ratusan hektar. ​"Kita tidak pulang ke rumah, Bang?" tanya Tiara sambil menatap deretan pohon sawit yang mulai rapat dan menggelapkan cahaya matahari. ​"Rumah itu untuk istri tua, Tiara. Di sini, di tengah hutan ini, kau hanya akan menjadi milikku seutuhnya," jawabku tenang. ​Aku menghentikan mobil di depan sebuah gubuk kayu tua yang berdiri terpencil di pinggir telaga sunyi. Gubuk itu adalah tempat pelarianku jika sedang muak dengan urusan bisnis. Di dalamnya hanya ada ranjang kayu tua dengan kasur kapuk tipis yang ditutupi kelambu kusam, tapi suasananya sangat tenang—hanya ada suara serangga malam dan gemericik air telaga. ​"Abang serius kita tidur di sini? Ini benar-benar di tengah hutan," gumam Tiara, ada nada ngeri s

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   10. Akhirnya, Sah

    Pagi itu, seorang MUA mendandani Tiara dengan sentuhan make up flawless dan kebaya yang simpel namun memancarkan keanggunan Tiara. Di sela merias, mulut usil perias pria gemulai itu mulai mengomentari Tiara. "Eh Tiara, aku nggak nyangka lho kamu diperistri Juragan Bonar, pria paling kaya di desa kita." Tiara hanya ingin menanggapi seperlunya supaya pria bermulut lemes itu diam. Namun nyatanya dia melanjutkan aksinya, membuat Tiara mengangkat alis. "Yah, walaupun istri kedua sih, tapi setidaknya lumayan daripada harus menari menggeal-geolkan perut di depan banyak laki-laki, sekarang cuma sama Juragan saja," ucapnya sambil terkikik dan merapikan sanggul Tiara. "Oya, kata Bang Bonar, jika aku jadi istrinya, siapa pun yang merendahkanku akan berhadapan dengan dia lho, Om Lia. Eh, Tante Lia," balas Tiara sengaja pura-pura bingung karena gendernya yang tidak jelas. Lia seketika pucat, tang

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   9. Masalah Nyamuk

    "Apa kau bilang? Aku disuruh kerja di kebunnya? Apa gunanya Tiara punya suami kaya kalau dia tidak bisa memberiku uang secara cuma-cuma?" Dikin mencebik kesal "Juragan tidak suka memelihara parasit. Kalau kau membangkang, Tiara mungkin tetap di kasurnya, tapi kau akan membusuk di dasar parit kebun. Selama ini apa kau mengurus Tiara dengan baik sebagai tanggung jawabmu, tidakkan? dan sakarang tanggung jawabmu telah diambil alih oleh Juragan. Dia tidak hanya menikahi tapi juga menyelesaikan masalahmu." "Jangan coba-coba merongrong putrimu. Jika tidak karena Juragan, Tiara sudah disantap Marbun, Asep, Togar dan Mahmud si tua bangka karena utangmu yang berceceran. Kerja yang benar, rumahmu akan direnovasi oleh Jurahan. Cepat bersiaplah, Rully." Dikin menyodorkan tas kertas berisi baju baru untuk pernikahan Tiara. **** Di ruang makan, Sari dan Bonar tengah sarapan. Seperti biasa, meski berengsek, Bonar

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   8. Cooling Down

    Setelah pergumulan panas itu, Tiara merasa tak perlu canggung lagi; toh, ia akan dinikahi besok. Bang Bonar bukan orang sembarangan, dia juragan sawit yang menguasai hampir 60% wilayah ini. Lagipula, fisiknya tidak buruk—masih muda dibanding kakek-kakek yang ingin melahapnya semalam. Pintu kamar mandi terbuka saat Tiara sedang duduk melamun di atas kloset. "Abang mengagetkan saja!" refleks ia menutupi dada dan bagian bawahnya dengan tangan. "Buruan, aku juga mau pakai. Minggir, Tiara," ucapku dengan gaya khas orang Sumatra. "Kenapa ditutup-tutupi? Kan, tadi aku sudah lihat semuanya," sambungku santai sambil memperhatikan Tiara membilas badannya. "Ya, belum biasa, Bang," jawabnya sambil melirik dengan bibir mengerucut. "Cepat tidur, Tiara. Besok bapakmu akan datang sebagai wali nikahmu. Seperti permintaanmu, aku akan memberi Rully pekerjaan dan inisiatifku sendiri untuk memperbaiki rumahmu yang sudah seperti kanda

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   7-3. Menuju Pagi

    Aku memposisikan diriku di antara kedua kaki Tiara yang gemetar. Kupastikan seluruh berat tubuhku tertumpu pada kedua lenganku agar tidak menghimpitnya terlalu keras. Kutatap matanya yang membulat penuh kecemasan; aku tahu, di balik gairah yang mulai bangkit, ada ketakutan besar akan rasa sakit yang membayangi pikirannya. "Bernapaslah, Tiara. Ikuti iramaku," bisikku serak. Aku tidak langsung menghujam. Kutempelkan ujung milikku yang berdenyut panas di gerbangnya yang masih basah sisa pergulatan tadi. Aku mulai menggeseknya perlahan, naik dan turun, memberikan stimulasi luar yang membuatnya melenguh. Di saat yang sama, aku membungkam bibirnya dengan ciuman yang lembut namun dalam, menyesap lidahnya untuk mengalihkan fokusnya dari rasa tegang di bawah sana. Tanganku tidak tinggal diam. Sambil terus mencumbunya, aku kembali meremas dadanya yang kini terasa jauh lebih penuh. Mengepalkan tanganku di atas gundukan kenyal itu, aku kembali menguk

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   7-2 Menuju Pagi

    Tiara melenguh panjang, jemarinya meremas seprai sutra di bawah tubuhnya saat ia merasakan sensasi panas yang menjalar. "Abang... pelan-pelan," rintihnya dengan napas yang mulai terputus-putus, membiarkan tubuhnya sepenuhnya pasrah. "Siapa saja laki-laki yang pernah merasakan dadamu, Tiara?" tanyaku dengan mulut tersumpal daging kenyal yang mulai terangsang; ukurannya seolah naik satu tingkat lebih besar. Tiara menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca menahan gejolak yang asing baginya. "Tidak ada, Abang... demi Tuhan, baru Abang laki-laki yang berani menyentuh sejauh ini," isaknya dengan napas memburu. Aku tertawa rendah, suara yang lebih mirip geraman puas di balik dadanya. "Bagus kalau begitu," bisikku serak. Tanganku meluncur turun melewati perutnya yang rata, menyusup ke pangkal pahanya yang masih tertutup rapat. "Berarti ini juga baru aku yang menyentuhnya?" tanyaku sambil mulai mempermainkan bagian sensitif di balik lipatan daging di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status