MasukTiga tahun lalu, Aurora Lilian meninggalkan cinta pertamanya tanpa pernah menyangka akan bertemu lagi dengannya. Kini, saat Aurora memulai karier sebagai perawat, takdir mempertemukannya kembali dengan Leon Rosmarin—mantan kekasih yang kini menjadi dokter bedah terkenal sekaligus direktur muda rumah sakit tempatnya bekerja. Leon masih sama: dingin, tegas, dan galak. Namun di balik tatapan tajamnya, tersimpan luka masa lalu yang belum benar-benar sembuh. Sementara Aurora berusaha menjaga jarak, Leon justru terus muncul dalam setiap langkahnya. Bekerja di bawah mantan yang belum melupakannya adalah mimpi buruk. Terlebih ketika perlahan Aurora menyadari bahwa di balik sikap keras Leon, masih ada perasaan yang belum berakhir. Akankah cinta yang pernah hancur menemukan jalan pulang, atau justru meninggalkan luka yang lebih dalam? "Kalau memang sudah tidak mencintaiku, kenapa matamu masih mencariku, Aurora?" ❤️🩹👨⚕️👩⚕️
Lihat lebih banyakAurora Lilian tidak pernah menyangka jika mantan pacarnya selama 3 tahun di universitas itu, kini menjadi kepala dokter bedah sekaligus atasannya di rumah sakit tempatnya bekerja.
“Aku dengar, Dr. Leon Rosmarin dulu bekerja di cabang rumah sakit yang ada di luar negeri dan dia sangat terkenal di sana.” “Ya, ya! Katanya rate keberhasilan operasi beliau hampir mencapai sempurna. Para pasien selalu mengandalkannya.” “Tidak heran kalau sekarang dia diangkat menjadi direktur di rumah sakit pusat ini menggantikan ayahnya.” Bisik-bisik gerombolan perawat di sebelahnya membuat Aurora menahan napas. Di depan mereka, berdiri sosok pria kini tengah dikenalkan oleh sang direktur sendiri. Leon Rosmarin. Nama itu tidak asing bagi Aurora. Bagaimana tidak? Mereka adalah mantan kekasih. Sebelum itu, Leon adalah seniornya di kampus. Mereka juga tinggal di area yang sama sebagai tetangga, sebelum Aurora pindah rumah setelah putus dengan Leon. Itu kenangan masa lalu yang sudah ia lupakan. Berharap tidak akan bertemu lagi dengan pria itu untuk selamanya. Tapi, sekarang Leon justru ada di depan matanya. Menjadi kepala dokter bedah sekaligus atasannya. Setelah bertahun-tahun berpisah, mereka bertemu kembali di satu tempat. Takdir ini benar-benar lucu. Aurora berjengit pelan ketika tatapan Leon tiba-tiba berhenti padanya, entah hanya perasaannya atau bukan. Tatapan pria itu begitu tajam, masih sama dengan di ingatan Aurora sebelum mereka putus dulu. Aurora menundukkan kepala. Menghindari tatapan itu dan meremas-remas celana seragamnya resah. Tidak lama kemudian setelah perkenalan singkat itu selesai, dan direktur membubarkan para perawat dan dokter untuk kembali bekerja. Aurora segera melangkah cepat ke arah yang berlawanan di lorong. Ia masuk ke ruangan perawat, ingin segera bersembunyi di sana sebelum jam kerjanya dimulai. Tapi, Florina Bilboba, kepala perawat, tiba-tiba menahannya. “Aurora, kamu masuk tim Dokter Leon sekarang, asisten instrumen operasi.” Aurora menghentikan langkahnya dan menoleh kaget ke Florina. “O-operasi?” gagap Aurora, “Mendadak sekali, Bu?” Florina berdecak. Dia memang bukan kepala perawat yang ramah. Aurora selalu menemukannya dengan wajah mengerut. Dan tiap seperti itu, ia selalu ketakutan. “Jangan banyak protes! Cepat sana pergi ke ruangan operasi sebelum kena tegur!” “B-baik, Bu!” Aurora segera meninggalkan Florina. Sebelum makin jauh, ia sempat mendengar Florina berdecak tajam, “Sudah beberapa bulan jadi perawat, masih saja kaget dengan operasi dadakan. Heran!” Setelah berganti baju dengan scrub, Aurora segera menuju lorong ruang operasi. Ia menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Ia berdiri di depan bak scrub, mencuci tangannya agar steril sebelum masuk ke area operasi. Bertepatan dengan itu, Leon tiba-tiba datang. Aurora terlonjak kaget melihat pria itu melewati dirinya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dari tatapan tajam pria itu dan fokus mencuci tangan. Sialnya, pria itu justru ikut mencuci tangan di sebelahnya. Aurora seketika tidak fokus. Ia mengulang-ulang pergerakan tangannya tanpa sengaja karena terlalu gugup. “Tanganmu tidak tercuci dengan benar. Bagaimana bisa steril kalau seperti itu?” tegur Leon tajam tiba-tiba, mengejutkan Aurora. “Ma-maaf, Dokter!” Leon berdecak. Itu decakan yang terdengar familiar, tiap Leon merasa Aurora menyusahkan baginya. Aurora masih sangat mengingatnya sehingga dia semakin menundukkan kepalanya. Menahan sesak di dadanya. “Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?” “Y-ya?” Aurora sontak menoleh ke Leon dan ia segera menyesalinya karena sekarang terperangkap dengan tatapan tajam Leon. Wajah pria itu masih sama rupawannya seperti dulu. Tapi, badannya sepertinya semakin kekar. Aurora bisa melihat otot lengannya mengintip karena Leon menggunakan scrub lengan pendek. “Sudah lama kita tidak bertemu, dan kamu sama sekali tidak menyapa saya.” Leon tersenyum tipis, membuat Aurora seketika tidak nyaman. Ia bisa merasakan tubuhnya mulai bergetar pelan. “Tampaknya, kamu mudah sekali melupakan seseorang yang tidak berarti apa-apa bagimu, bahkan setelah 3 tahun berhubungan.” Aurora membeku, tidak tahu harus berkata apa. Pada akhirnya, dia memilih untuk menundukkan kepala. Menatap lantai yang menampilkan wajah gelisahnya. Leon mendengus tipis, membuat Aurora mengkerut ketakutan. Pria itu lalu berbalik badan. “Segera masuk ruang operasi,” titahnya tajam. “Baik, Dokter.” Leon segera meninggalkannya, masuk ke ruang operasi. Tubuh Aurora seketika melemas.Aurora maduh membeku di depan lift.Pesan anonim itu masih terpampang jelas di layar ponselnya.Kalau kamu pikir Leon bisa melindungimu, kamu salah besar.Karena orang yang sedang kalian cari... berada jauh lebih dekat daripada yang kalian kira.Jantung Aurora berdegup keras. Siapa sebenarnya orang ini?Kenapa seolah mengetahui setiap langkahnya?Dan yang paling membuatnya takut... Bagaimana orang itu bisa tahu soal Leon?Pintu lift kembali tertutup.Aurora buru-buru mematikan layar ponselnya.Ia tidak ingin memikirkannya lagi malam ini.Ia sudah terlalu lelah.Sementara itu.Di ruang direktur.Leon masih menatap layar tablet di tangannya."Dokter?" Florina berdiri di depannya. "Masih ada yang ingin diperiksa?"Leon mengalihkan pandangan. "Akun yang mengakses laporan pasien 307."Florina mengangguk. "Masih kami telusuri."Leon menyimpan tablet itu. "Saya ingin hasil lengkapnya besok.""Baik."Florina berbalik.Namun sebelum keluar, wanita itu tiba-tiba berhenti. "Dokter.""Hm?"Florin
"Ada yang menghapus laporan lama pasien 307."Kalimat itu membuat ruang komite etik langsung hening.Aurora yang duduk di kursinya perlahan mengangkat kepala."Laporan lama?" tanyanya pelan.Salah satu anggota komite mengangguk."Pasien 307 pernah terlibat insiden dengan tenaga medis sebelumnya."Aurora membeku.Jadi dugaan para perawat kemarin benar.Pasien itu memang pernah bermasalah."Lalu kenapa dia masih menjadi pasien VIP?" tanya Leon dingin.Tak ada yang langsung menjawab.Ketua komite terlihat tidak nyaman. "Itulah yang sedang kami selidiki."Leon menyandarkan tubuhnya. "Saya ingin melihat seluruh laporannya."Pria itu menghela napas. "Itu masalahnya.""Apa?""Berkasnya hilang."Ruangan langsung menjadi tegang."Hilang?" ulang Leon."Bukan hanya berkas fisik."Pria itu menunjuk layar komputer. "Data digitalnya juga ikut terhapus."Aurora langsung menggenggam jemarinya.Karena semua orang tahu.Data rumah sakit tidak mungkin hilang begitu saja.Seseorang sengaja menghapusnya.
Koridor lantai tiga mendadak sunyi.Tatapan semua orang tertuju pada Viona.Sementara itu, wajah wanita tersebut perlahan memucat."Aneh sekali."Leon menyimpan ponselnya."Karena unggahan itu dibuat dari jaringan internal rumah sakit."Viona tertawa kecil. "Itu tidak membuktikan apa-apa, Dokter.""Tentu."Leon mengangguk. "Saya juga tidak mengatakan Anda pelakunya."Wajah Viona sedikit melunak. Namun hanya sesaat."Makanya saya sudah meminta tim IT melakukan penyelidikan lebih lanjut."Jantung Viona langsung berdegup."Dan sampai penyelidikan selesai, saya tidak ingin ada yang menyebarkan rumor lagi."Tatapan Leon menyapu seluruh koridor. "Termasuk kalian."Semua orang langsung menunduk.Tidak ada yang berani membantah.Leon lalu menoleh ke Aurora. "Ikut saya."Aurora yang masih memegang ponsel buru-buru mengangguk.Namun sebelum ia sempat melangkah, suara Viona terdengar."Dokter."Leon berhenti. "Ada masalah?"Viona menggigit bibir. "Lalu bagaimana dengan hubungan pribadi antara Do
"Kak Aurora!"Aurora menoleh.Perawat junior berlari menghampirinya sambil membawa ponsel. "Waduh, Kak... masalah besar.""Ada apa?""Coba lihat forum staf."Aurora langsung membuka aplikasi internal rumah sakit.Begitu melihat layar, wajahnya seketika memucat.Foto dirinya dan Leon saat masih kuliah terpampang jelas.Di bawahnya puluhan komentar terus bertambah."Jadi mereka memang pernah dekat?""Pantas saja Dokter Leon membelanya.""Aku sudah curiga dari awal.""Perawat baru bisa masuk tim operasi direktur? Sekarang masuk akal."Aurora menggenggam ponselnya erat. "Siapa yang unggah ini?""Tidak tahu. Akunnya anonim."Belum sempat Aurora berpikir lebih jauh, suara lain terdengar."Wah, ternyata benar."Aurora mengangkat kepala.Viona berjalan mendekat bersama dua perawat senior.Ekspresinya terlihat terkejut.Terlalu terkejut."Jadi kamu memang punya hubungan dengan Dokter Leon?""Kak Viona, saya—""Kok bisa disembunyikan selama ini?" potong Viona. "Kalau memang mantan pacar, kenapa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan