LOGINAlika terpaksa bersanding dengan pewaris konglomerat yang bernama, Arkana lewat pernikahan kontrak satu tahun demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, padahal hati pria itu utuh milik cinta pertamanya, Nadia dan tak pernah memandang Alika sebagai istri sungguhan. Di penghujung perjanjian, Alika memberanikan diri meminta satu malam kebersamaan sebagai hak terakhirnya, lalu pergi tanpa menoleh saat status mereka resmi berakhir. Belum jauh melangkah, Alika menyadari dirinya mengandung darah daging Arkana dan memilih menyembunyikan rahasia itu demi melindungi anaknya, didukung penuh oleh sahabat setianya, Satria. Tiga tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Alika bekerja sebagai sekretaris pribadi di bawah pimpinan Arkana, hingga benih cinta yang sempat disembunyikan perlahan mengungkap kebenaran yang mengguncang segalanya.
View MoreSurabaya, 2022.
Suasana ruang kerja pengacara terasa dingin, meski kipas angin gantung sudah berputar kencang. Di atas meja kayu gelap yang mengilap, terbentang selembar dokumen tebal dengan segel merah di setiap sudutnya. Dokumen tebal itu berisi surat Perjanjian Pernikahan Berjangka. Alika Adhistya Maheswari, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu, menatap lembar demi lembar tulisan itu. Tangannya yang memegang pulpen sedikit gemetar. Di sampingnya terlihat seorang pria yang sedang duduk. Pria paruh baya itu adalah ayahnya yang menunduk lesu, matanya penuh rasa bersalah. Perusahaan keluarga hampir bangkrut, dan satu-satunya jalan keluar adalah dengan pernikahan ini, yaitu menikah dengan Arkana Zayyan Adhiraga, pria berusia tiga puluh tahun, seorang pewaris tunggal dari perusahaan ternama yaitu PT Adhiraga Corp. Group. Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang pria melangkah masuk. Posturnya tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam yang mempertegas garis rahangnya yang tegas. Wajahnya tampan, tapi matanya sedingin es. Pria itu adalah Arkana. Ia duduk di kursi seberang, menatap dokumen tanpa melirik sekilas ke arah Alika. "Gimana? Apa kamu sudah baca semuanya?" Suaranya berat, tenang, tapi tak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Alika mengangguk pelan. "Sudah." "Bagus. Kamu sudah paham syarat utamanya, kan? Kalau kita menikah hanya satu tahun. Setelah itu, bercerai dengan cara baik-baik. Selama masa pernikahan, hanya aku yang berhak mengatur hidupku sendiri. Aku juga tidak akan menyentuhmu, tidak akan tidur sekamar denganmu, dan tidak akan pernah ada ikatan hati di antara kita." Arkana akhirnya menoleh, menatap tajam ke manik mata Alika. "Karena hatiku sudah jadi milik orang lain. Dan itu selamanya," ucap Arkana tegas tanpa keraguan. Deg! Kata-kata itu seperti jarum halus yang menusuk dada Alika. Ia menelan ludah, berusaha rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Ia tahu ini bukan pernikahan atas dasar cinta, tapi mendengarnya diucapkan langsung begitu dingin tetap saja terasa menyakitkan. "Saya mengerti," jawabnya lirih. "Uang untuk menyelamatkan perusahaan ayahmu akan cair setelah tanda tangan ini selesai." Arkana mengambil pulpen, lalu dengan santai menuliskan namanya di kolom yang tersedia. Tulisannya tegak, tegas, tak ada keraguan sedikit pun. Alika menarik napas panjang. Ia mengingat wajah ibunya yang sudah tiada, mengingat usaha ayahnya yang hancur perlahan. Demi mereka, demi nama keluarga yang harus diselamatkan. Ia menekan pulpen ke kertas, menuliskan namanya dengan tangan yang kini berhenti gemetar. Alika Adhistya Maheswari. Tinta hitam meresap ke kertas. Selesai. Hidupnya kini terikat perjanjian dengan pria yang tak pernah memandangnya sebagai wanita. "Sudah?" tanya Arkana memastikan wanita di depannya itu menandatangani surat kontrak perjanjian. Alika hanya membalas dengan anggukan kepala, sedangkan Arkana mengukir senyum tipis saja. Sore itu juga, Alika pindah ke kediaman utama keluarga Adhiraga. Sebuah rumah besar bergaya modern klasik di kawasan perumahan elite Surabaya, yang terlihat megah dari luar tapi terasa kosong dan sunyi di dalamnya. Arkana menyerahkan kunci kamar tamu utama di sayap kanan rumah. "Ini kamarmu. Kamar sebelah di sayap kiri adalah kamar milikku. Kita tinggal satu atap, tapi jangan pernah berharap aku akan menganggapmu lebih dari sekadar tamu atau perjanjian bisnis," ucap Arkana dengan penuh penekanan. Ia berbalik hendak pergi, tapi Alika memberanikan diri bertanya. "Siapa wanita itu? Maksud saya, wanita yang Anda maksud milik Anda selamanya?" Langkah Arkana terhenti sejenak. Ia menoleh sedikit, senyum tipis yang menyimpan rindu mengembang di bibirnya. "Nadia. Dia cinta pertamaku. Dan satu-satunya wanita yang akan kucintai seumur hidupku," balas Arkana dengan tegas. Tanpa menunggu jawaban Alika, ia berjalan pergi, menghilang di balik pintu kamarnya. Alika berdiri sendirian di lorong yang panjang. Hanya menyisakan suara langkah kaki Arkana yang bergema pelan lalu menghilang. Ia menatap bayangannya sendiri di pantulan kaca jendela. "Baiklah Arkana, satu tahun. Aku akan bertahan satu tahun ini. Setelah itu aku akan pergi, dan tidak akan pernah mengganggu kamu dan Nadia lagi," bisiknya pelan pada diri sendiri. Malam itu, hujan turun membasahi kota Surabaya. Alika terbaring di kasur empuk yang sepi. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha menahan dingin yang bukan hanya datang dari cuaca, tapi juga dari hati pria yang kini resmi menjadi suaminya di atas kertas. Di kamar seberang, Arkana justru sedang menatap foto lama di meja samping tempat tidurnya, foto dirinya berpelukan erat dengan seorang wanita cantik berambut panjang. Foto itu milik Nadia, cinta pertama Arkana, wanita yang dia puja-puja selama ini. "Sebentar lagi, Sayang. Sabar, ya," bisiknya lembut pada foto itu. "Cuma satu tahun saja. Lalu setelah itu aku bebas kembali padamu." Tak ada yang tahu, di antara dinding rumah mewah itu, dua hati sedang berjalan di jalan yang berbeda, terikat tali pernikahan yang seharusnya menyatukan, tapi justru memisahkan lebih jauh dari sebelumnya.Lampu utama kamar itu dimatikan, menyisakan cahaya lembut dari lampu tidur berwarna keemasan yang menciptakan bayang-bayang lunak di setiap sudut ruangan. Suasana yang biasanya terasa dingin dan kaku, malam ini berubah menjadi hangat dengan keheningan yang menyimpan ribuan perasaan yang tak terucapkan. Arkana berdiri diam beberapa langkah di hadapan Alika, napasnya terlihat tak beraturan—sesuatu yang jarang sekali terjadi pada pria yang selalu tenang dan terkendali itu. Matanya menatap wanita di depannya lekat-lekat, ada sorot keraguan, ketakutan, namun juga keinginan mendalam yang tak bisa lagi ia sembunyikan di balik topeng ketidakpeduliannya. "Kamu yakin benar-benar mau melangkah sejauh ini?" tanyanya sekali lagi, suaranya terdengar parau dan berat, pelan namun sangat jelas terdengar di telinga Alika. "Sekali kita melangkah ke depan, tak ada jalan kembali. Besok pagi kita tetap akan berangkat ke kantor catatan sipil. Kamu paham kan konsekuensinya? Jangan samp
Malam itu hening mencekam, sunyi sepi menyelimuti setiap sudut rumah mewah yang selama satu tahun ini menjadi tempat tinggal mereka. Angin malam berhembus pelan menerpa jendela kaca, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Suara detak jarum jam dinding di ruang tengah terdengar begitu nyaring, seolah berirama mengikuti detak jantung Alika yang berpacu tak karuan. Besok pagi, tepat setelah matahari terbit, mereka akan berangkat ke kantor catatan sipil untuk meresmikan perpisahan. Satu tahun pernikahan kontrak itu akan berakhir, dan tak ada lagi ikatan yang menyatukan mereka. Alika berdiri terpaku di ambang pintu kaca menuju teras belakang. Matanya menatap punggung tegap pria yang berdiri membelakanginya di sana. Arkana berdiri diam menatap langit malam yang gelap tanpa bintang, bahunya yang biasanya tegap kini tampak kaku dan tegang seolah memikul beban berat yang tak terucapkan. Alika menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa keberan
Alika melipat baju terakhirnya dan menyusunnya rapi di dalam koper besar itu. Jari-jarinya bergerak perlahan, seolah setiap helai kain yang ia pegang menyimpan ribuan kenangan yang tak siap ia tinggalkan. Di atas meja rias, kalender dinding menatapnya polos—lingkaran merah yang ia buat tepat di tanggal jatuh tempo perjanjian mereka tinggal tiga hari lagi. Tepat satu tahun sejak hari ia melangkah masuk ke rumah ini dengan perasaan gugup dan takut. Satu tahun. Rasanya baru kemarin ia menandatangani perjanjian itu, dan sekarang... saatnya benar-benar berakhir. Hatinya terasa campur aduk. Ada rasa lega yang perlahan menyelinap, akhirnya ia bebas dari sandera janji dan tanggung jawab yang membebani. Namun di sela kelegaan itu, ada perih tajam yang menyusup ke dada, sesak yang tak bisa ia usir atau abaikan begitu saja. Terdengar suara langkah kaki berat mendekat dari lorong, berhenti tepat di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Alika me
Jam di dinding baru saja menunjukkan pukul sebelas malam. saat suara pintu depan terbuka terdengar memecah keheningan rumah besar itu. Arkana melangkah masuk dengan langkah berat, dasi sudah longgar tergantung di leher, kemejanya sedikit kusut, dan kantung matanya terlihat jelas menandakan kelelahan yang menumpuk seharian. Namun langkahnya seketika kaku saat melihat sosok yang sudah menunggunya di ruang tengah. Nadia duduk tegak di sofa utama, punggungnya lurus sempurna, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran sofa dengan ritme yang menunjukkan ketidaksabaran. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya yang menatap ke arah Arkana memancarkan keinginan yang tak bisa dibendung. Seolah-olah rumah ini memang miliknya, dan wanita yang statusnya sah berdiri di samping Arkana hanyalah tamu tak diundang yang tinggal menunggu waktu kapan saja untuk pergi. "Kamu pulangnya lama banget sih?," tegur Nadia pelan namun tajam, lalu ia berdiri dan melangkah cepat menghampiri Arkana.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.