Masuk"Tiga bulan, Zara. Jadi aku di depan Arham, dan seluruh biaya rumah sakit nenek kamu akan aku jamin." Terjebak dalam konspirasi licik kembarannya, Zara terpaksa masuk ke dalam mansion megah milik Denandra Arham Tawfeeq. Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Gina, tunangan Arham yang materialistis dan kasar. Namun, hidup satu atap dengan duda kaya berusia 40 tahun yang berwibawa dan dingin ternyata tidak mudah. Arham yang awalnya jijik pada "Gina", mulai mencium aroma tubuh yang berbeda, melihat tatapan polos yang asing, dan mendapati gairahnya tersulut setiap kali berada dekat dengan tunangannya yang mendadak jadi pandai menolak. Ketika ketulusan Zara berhasil menjinakkan anak tiri dan menyembuhkan sang mertua, Arham jatuh cinta seutuhnya. Gairah panas tak terbendung pun meledak di antara mereka. Zara menyerahkan segalanya karena cinta, sembari menangis tertahan karena tahu Arham mendesah memanggil nama wanita lain. Kini, badai kebenaran siap menghantam. Gina asli kembali untuk merebut posisinya, mengancam Zara dengan hukum dan penjara. Saat topeng itu terkelupas, apakah sang Alpha akan mengusir Zara sebagai penipu, atau justru memburu sang istri pengganti demi mempertahankan cinta tulus yang sesungguhnya?
Lihat lebih banyak"Satu lagu lagi, Zara. Tolonglah, malam ini pengunjung kafe sedang ramai-ramainya. Sisa tips dari meja depan bakal aku bagi dua buat kamu," ucap Hendra, pemilik kafe remang-remang di sudut jalanan kota itu, sembari menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Zara.
Zara menghela napas panjang, mengusap peluh tipis yang membasahi dahi indahnya dengan selembar tisu usang. Jam dinding di sudut ruangan kecil di belakang panggung sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit. Tubuhnya sangat lelah, tenggorokannya mulai terasa perih setelah menyanyikan hampir sepuluh lagu bergenre melankolis sejak petang tadi. Namun, mendengar kata "tips," bayangan wajah Nenek Ajeng yang sedang terbaring lemah di kasur tipis rumah mereka langsung terlintas di benaknya. Uang obat neneknya sudah habis sejak dua hari yang lalu, dan upah reguler malam ini saja tidak akan cukup untuk menebus resep dokter esok pagi.
"Baiklah, Mas Hendra. Hanya satu lagu saja, ya? Setelah itu aku harus benar-benar pulang. Angkutan umum terakhir menuju pinggiran kota tidak akan menunggu lebih lama," sahut Zara dengan nada suara yang terdengar agak serak namun tetap lembut didengar.
"Siap, Zara. Kamu memang penyelamat kafe ini. Silakan naik panggung lagi, pemusik sudah siap," kata Hendra dengan senyum lebar penuh rasa lega.
Zara bangkit dari kursi plastiknya, merapikan gaun rajut sederhana berwarna krem yang sudah mulai pudar warnanya. Gaun itu tidak memiliki potongan yang terbuka atau glamour seperti pakaian para pemandu lagu di ruangan privat, namun keanggunan alami yang memancar dari lekuk tubuh Zara berumur dua puluh tiga tahun itu tetap saja mampu menarik perhatian siapa pun yang memandangnya. Ia berjalan perlahan melewati lorong sempit menuju panggung kecil yang hanya diterangi lampu sorot temaram berwarna kekuningan. Aroma asap rokok yang pekat bercampur dengan wewangian alkohol murahan langsung menyengat indra penciumannya begitu ia melangkah keluar dari ruang tunggu. Zara sudah terbiasa dengan atmosfer ini selama setahun terakhir, sebuah lingkungan yang sebenarnya sangat ia benci, namun terpaksa iaakrab demi menyambung hidup bersama sang nenek yang membesarkannya seorang diri semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia karena sakit.
Ia memposisikan diri di depan mikrofon, memberikan isyarat anggukan kecil kepada sang pemain kibor tua di sudut kiri panggung. Alunan nada melow mulai mengalir memenuhi ruangan kafe yang dipadati oleh pria-pria berwajah penat sehabis bekerja atau mereka yang sengaja mencari pelampiasan malam. Zara memejamkan kedua mata indahnya, mulai mengalunkan bait demi bait lagu tentang kerinduan yang mendalam. Suaranya murni, merdu, dan memiliki getaran emosional yang kuat, membuat beberapa pengunjung yang awalnya gaduh berbincang perlahan mulai terdiam untuk mendengarkan. Bagi Zara, bernyanyi bukan lagi soal menyalurkan bakat atau hobi, melainkan sebuah perjuangan emosional untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi bertahan hidup dari kerasnya dunia.
Di salah satu meja sudut VIP yang remang, sepasang mata merah karena pengaruh alkohol pekat sejak tadi tidak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Zara di atas panggung. Pria paruh baya bertubuh gempal dengan kemeja satin hitam yang kancing atasnya sengaja dibuka itu tersenyum menjijikkan, membisikkan sesuatu kepada rekannya sembari menunjuk ke arah panggung dengan sebatang rokok yang menyala. Zara yang sempat membuka mata tidak sengaja menangkap tatapan lapar pria itu, membuat bulu kuduknya meremang seketika, namun ia tetap berusaha profesional menyelesaikan lagu hingga bait terakhir. Begitu nada instrumen penutup mereda, tepuk tangan bergemuruh dari beberapa sudut ruangan, menemani langkah kaki Zara yang terburu-buru turun dari panggung tanpa berniat membungkuk memberi penghormatan seperti biasa.
"Ini bagianmu, Zara. Terima kasih banyak untuk malam ini. Kamu benar-benar luar biasa," ujar Hendra di balik meja kasir, menyodorkan beberapa lembar uang kertas ratusan ribu yang langsung diterima Zara dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelelahan.
"Terima kasih kembali, Mas Hendra. Aku pamit pulang dulu," ucap Zara singkat, langsung memasukkan uang itu ke dalam tas kain lusuhnya.
"Hei, manis! Mau ke mana buru-buru sekali? Pertunjukan malam ini baru saja dimulai, jangan biarkan abang menunggu di meja pojok sana," sebuah suara berat dan serak tiba-tiba menginterupsi langkah Zara tepat di dekat pintu keluar lorong belakang.
Zara menoleh, dan jantungnya langsung mencelos melihat pria bertubuh gempal dari meja sudut VIP tadi sudah berdiri menghalangi jalan keluarnya dengan senyum menyeringai. Bau menyengat alkohol jenis wiski murahan menguar kuat dari napas pria itu, membuat Zara reflek melangkah mundur satu langkah untuk menjaga jarak aman.
"Permisi, Pak. Saya sudah selesai bekerja dan harus segera pulang ke rumah," kata Zara mencoba bersikap sefirasat mungkin, menyembunyikan rasa takut yang mulai merayapi dadanya.
"Pulang? Jangan munafik, gadis cantik yang menyanyi di kafe malam seperti ini mana ada yang langsung pulang ke rumah sesore ini. Berapa tarifmu untuk satu malam menemani abang di hotel seberang jalan? Sebut saja angkanya, uang bukan masalah untuk abang," ujar pria hidung belang itu sembari merogoh dompet tebalnya, memamerkan tumpukan uang lembaran merah di depan wajah Zara dengan gestur yang sangat merendahkan.
"Maaf, Pak. Anda salah orang. Saya di sini murni hanya bekerja sebagai penyanyi panggung, bukan wanita penghibur atau gadis nakal yang bisa Anda beli dengan uang Anda. Tolong minggir, jalan saya tersumbat," tegas Zara dengan nada suara yang meninggi, matanya menatap lurus penuh keberanian meskipun tangannya mencengkeram erat tali tas kainnya.
Pria itu terkekeh sinis, merasa harga dirinya tercoreng karena penolakan mentah-mentah dari seorang penyanyi kafe yang berpenampilan sederhana. Langkah kakinya semakin maju mendekati Zara, menyudutkan tubuh gadis itu ke dinding lorong yang berdebu.
"Jangan sok suci, jalang cilik! Pakaianmu saja murahan begini, pura-pura menolak hanya untuk menaikkan harga, kan? Sini ikut abang!" bentak pria itu kasar, tangan kekarnya yang dipenuhi bulu-bulu lebat langsung mencengkeram pergelangan tangan Zara dengan sangat kuat hingga memerah.
"Lepaskan saya! Tolong! Mas Hendra! Siapa pun tolong!" teriak Zara histeris, berusaha meronta membebaskan tangannya yang terasa seperti dijepit oleh tang besi.
Namun, suasana lorong belakang yang sepi dan kebisingan musik kafe yang kembali berdentum membuat teriakan Zara tenggelam begitu saja tanpa ada yang mendengar. Pria hidung belang itu tertawa puas melihat kepanikan Zara, wajahnya yang berminyak mulai mendekat ke leher Zara, mencoba mengendus paksa aroma tubuh gadis itu. Rasa jijik dan amarah yang luar biasa seketika membakar seluruh kesadaran Zara. Menggunakan seluruh sisa tenaga yang ia miliki, Zara menghentakkan tangan kirinya yang bebas dan mengayunkannya dengan sangat kencang ke arah wajah pria itu.
Plakkk!
Zara mengulurkan tangannya, mengusap pipi lembut Sean dengan rasa kasih sayang yang tulus murni dari dalam dadanya. Terlepas dari penyamarannya, cintanya pada Sean adalah hal paling nyata yang ia rasakan."Mama akan selalu ada untuk Sean ... selama Sean membutuhkan Mama," jawab Zara dengan nada suara yang sedikit bergetar menahan gejolak emosi."Sean butuh Mama selamanya!" balas Sean cepat tanpa ragu sedikit pun. Anak itu langsung memeluk lengan kiri Zara erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahu Zara.Arham memperhatikan pemandangan itu dengan sepasang mata yang melembut. Ketulusan Zara dalam menyayangi Sean adalah alasan utama mengapa hatinya yang sekeras batu bisa luluh total pada wanita ini. Bagi Arham, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi wanita ini di dalam hidupnya dan hidup anak semata bakalnya."Makan sarapanmu dulu, Sean. Nanti kita terlambat ke sekolah," tegur Arham halus namun tegas."Siap, Papa!" Sean melepaskan pelukannya, lalu kembali melahap sarapa
Arham sama sekali tidak terlihat panik atau terganggu dengan celetukan polos anaknya. Sebaliknya, pria matang itu justru tertawa rendah, suara tawanya yang hangat dan seksi memecah heningnya ruang makan. Ia bangkit dari kursinya, melangkah santai mengitari meja makan hingga berdiri tepat di samping kursi Zara."Papa cuma memastikan Mama tidur dengan nyenyak, Sean," ujar Arham tenang.Sebelum Zara sempat bereaksi atau menjauhkan tubuhnya, Arham membungkukkan badannya. Pria itu mendaratkan ciuman yang cukup lama dan hangat tepat di pipi mulus Zara. Aroma parfum maskulin Arham yang khas bercampur aroma sabun mandi langsung menyergap indra penciuman Zara dari jarak semeter."A-Arham! Ada Mama sama Sean ...," bisik Zara panik dengan mata membelalak, mencoba mendorong dada Arham pelan.Arham tidak peduli. Ia justru makin menegakkan tubuhnya dengan santai, membelai puncak kepala Zara dengan penuh rasa kasih sayang yang terang-terangan di depan semua orang."Kenapa? Ini rumahku, kamu ca
Suara denting sendok yang bertabrakan pelan dengan piring porselen terdengar mengalun lembut dari arah meja makan. Aroma harum nasi goreng mentega, telur mata sapi, dan seduhan kopi hitam pekat menyergap indra penciuman Zara begitu kakinya menapak di lantai dasar. Cahaya pagi menyirami ruang makan yang luas lewat jendela-jendela kaca besar, memantulkan pendar hangat di atas meja kayu jati yang mengilap.Di sana, Arham duduk santai di kepala meja dengan kemeja biru gelap yang bagian lengan kemejanya digulung rapi hingga ke siku. Rambutnya masih sedikit basah, tertata acak-acakan namun justru menambah pesona pria matang yang amat memikat. Di samping kirinya, Sean duduk di atas kursi tingginya sembari mengayun-ayunkan kedua kaki kecilnya dengan riang. Sementara Lusi duduk berhadapan dengan Sean, tersenyum lembut sembari menyesap teh hangatnya."Pagi, Mama!" seru Sean nyaring begitu matanya menangkap sosok Zara yang baru saja melangkah mendekat.Panggilan itu seketika membuat Arham me
Pilihan Zara jatuh pada sebuah gaun kasual bermotif bunga halus dengan kerah tinggi yang menutupi leher hingga ke bawah dagu, serta lengan panjang yang menutupi seluruh tangannya. Pakaian ini memang sedikit terlalu tertutup untuk suasana pagi hari di dalam rumah, tetapi Zara tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin Ibu Lusi atau para pelayan di rumah ini melihat jejak-jejak merah di lehernya.Zara mengenakan gaun itu dengan hati-hati. Setelah pakaian terpasang rapi, ia duduk di depan meja rias untuk merias wajahnya.Zara mengoleskan bedak tipis untuk menyamarkan lingkaran hitam dan rona sembap di sekitar matanya. Ia juga memoleskan pelembab bibir untuk merawat bibirnya yang kering. Di cermin, ia berusaha mengukir senyum terbaiknya. Ia harus bersikap wajar di depan semua orang, terutama di depan Sean.Anak kecil itu tidak boleh tahu apa pun tentang kekacauan emosi yang sedang melanda dirinya. Sean sangat menyayanginya, dan Zara tidak ingin membuat anak itu cemas atau curiga.Setel
Sean menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zara dengan sepasang mata yang berkilat menantang, menanti ledakan amarah yang ia harapkan akan keluar dari mulut wanita yang paling ia benci di dalam mansion ini. Bocah i
Sentuhan bibir Arham bergerak makin menuntut, membelenggu seluruh kesadaran Zara di dalam ruang kabin yang sempit dan remang. Pria matang itu tahu benar bagaimana cara mendominasi setiap jengkal pertahanan wanita melalui ritme ciuman yang sarat pengalaman hidup selama empat dekade. Zara merasakan
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang
"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan