LOGINZea punya kondisi tubuh yang tak wajar. Usianya baru 22 tahun, belum menikah ataupun mengandung, tapi bisa memproduksi ASI. Keadaannya semakin rumit ketika Zea tidak sengaja membuat Marco, atlet renang didikan kakaknya, meminum ASI-nya. Anehnya, sejak meminum itu, performa Marco di kolam renang meningkat drastis! Sekarang, setiap sebelum perlombaan, Marco membutuhkan Zea. “Kamu bilang rasanya nyeri setiap dadamu penuh, kan?” bisik Marco sambil menatapnya dengan mata membara. “Aku bisa bantu meminumnya langsung dari tubuhmu sekarang juga.”
View More"Aduh … dadaku ngilu banget," rintih Zea pelan. Ia sedang duduk sendirian di tepi ranjang sambil menekan alat pompa ASI ke dadanya.
Setiap kali melakukan rutinitas itu, rasa malu dan bingung yang menjalar di tubuhnya. Ini tidak masuk akal, bahkan sungguh di luar logika dan nalar manusia! Padahal gadis itu belum pernah menikah. Seumur hidupnya pun belum pernah merasakan hamil. Tidak ada janin yang ia kandung, tidak ada pula bayi yang ia susui. Ini semua dimulai dua minggu lalu ketika dadanya tiba-tiba terasa berat dan penuh, sampai akhirnya ia dan ibunya panik dan langsung dibawa ke dokter. Hasilnya, dokter hanya menyebutnya sebagai gangguan hormon yang langka, tapi tidak berbahaya. Jadi tak perlu dikhawatirkan. Tidak perlu khawatir? Mudah sekali Dokter itu mengatakannya! Zea masih dua puluh dua tahun! Belum setahun ia lulus kuliah di jurusan Psikologi, belum ada pemikiran untuk menikah, atau melahirkan anak dan menyusui. Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dua kali sebelum langsung terbuka. "Zea, Mama bawain bra baru." Donna masuk sambil memegang tas belanjaan, lalu berhenti sejenak melihat anaknya. "Oh, lagi pumping. Ya sudah, Mama taruh di sini dulu." Ia meletakkan tas itu di atas kasur. Dari dalamnya terlihat beberapa kotak bra baru dengan ukuran yang jelas lebih besar dari ukuran dada Zea sebelumnya. "Mama beli berapa bra?" tanya Zea. "Jangan tanya." Donna menjatuhkan diri di sisi kasur dengan ekspresi seorang ibu yang dompetnya baru saja mengalami musibah. "Enam, karena semua bra lamamu sudah nggak muat." Zea meringis. "Maaf, Ma." "Kamu ini. Baru lulus kuliah, belum kerja, eh malah bikin Mama keluar uang buat bra, alat pompa, botol, storage bag …." Ia menghitung dengan jari sambil mendengus. "Harusnya kamu sekalian punya bayi sekarang, Zea. Kasih Mama cucu!" Zea hanya mendengus kesal. Ia tahu ibunya hanya bercanda, tapi tidak dipungkiri, Zea merasa bersalah karena kondisi tubuhnya merepotkan orang lain. Beberapa menit kemudian setelah selesai pumping dan berganti baju, Zea pun keluar kamar untuk bergabung di meja makan untuk sarapan. “Zea, kamu masih nganggur kan?” Ucapan Zavian, kakak laki-laki Zea, membuat gadis itu mendongak dengan sedikit kaku. “Iya, Kak. Tapi aku lagi cari kerja, kok.” “Bagus. Kamu nggak ada kegiatan hari ini, kan? Ikut Kakak ke pusat pelatihan. Bantu Kakak di sana, Kakak butuh asisten.” Zea tercengang sejenak. Zavian adalah mantan atlet renang yang pernah meraih gelar juara nasional saat masih aktif. Sekarang, ia berprofesi sebagai pelatih renang yang menangani sebuah klub renang elit. Lalu tiba-tiba, ia merekrut adiknya menjadi asisten? Zea menoleh ke arah Donna yang muncul dari arah dapur. "Iya tuh. Kamu ikut Kakakmu saja. Daripada di rumah, pumping terus." Tentu saja mamanya setuju dengan kakaknya! Zavian mengangguk. "Kita akan berangkat sepuluh menit lagi. Kamu siap-siap." Beberapa saat kemudian, perjalanan ke pusat pelatihan ditempuh kurang dari dua puluh menit. Pusat pelatihan renang itu ternyata lebih besar dari yang Zea bayangkan. Gedung indoor dengan langit-langit tinggi, kolam berukuran olimpik, dan bau klorin yang langsung menusuk begitu pintu dibuka. Tapi, yang tidak Zea bayangkan adalah betapa banyaknya laki-laki di dalam sana. Para atlet yang sedang berlatih, staf pendamping, pelatih-pelatih lain … semuanya laki-laki! Zea berjalan di belakang Zavian, berusaha sembunyi di balik punggung lebar kakaknya. Ia sedikit malu karena ia satu-satunya perempuan di sini. Mata Zea melirik ke ujung kolam. Seorang pria yang baru saja berenang, dan naik ke tepi kolam. Air menetes dari rambut basahnya, mengalir deras melewati dada bidang dan otot perut yang terpahat sempurna. Pria itu berhenti di depan Zavian. "Coach. Pagi," sapa pria itu. Suaranya terdengar dalam. Lalu tatapan tajamnya berpindah ke perempuan yang berdiri di sisi pelatihnya. "Pagi," jawab Zavian singkat. "Ini Zea, hari ini dia ikut dan jadi asisten saya." Zea menelah ludah saat iris mata gelap atlet itu menyorot ke arahnya. Zea kenal pria ini. Wajah pria itu terlihat lebih dewasa, lebih tajam, dan lebih tegas. Tubuhnya juga lebih tinggi dan menjulang dari yang Zea ingat. “Marco…?”Setelah wanita itu pergi meninggalkan gedung pelatihan dengan mobil mewahnya, Marco berjalan masuk dan mulai bergabung dengan para atlet lainnya.Kenji, Dimas, maupun Rafi mulai mengerumuni Marco dengan ekspresi penasaran dan senyum-senyum jahil yang sangat ketara.“Bro, tumben dianter Selena? Lagi sayang-sayangnya, ya?” tanya Kenji sambil merangkul Marco. “Jadi, kalian udah official?”Dimas tampak menyikut Kenji. “Kemarin main di loker sama adiknya Coach. Eh, sekarang kamu di anter sama Selena. Sisain dikit cewek buat kita dong, Marco.”Marco hanya melirik mereka sekilas dengan ekspresi acuh tak acuh. Ia melepas tas olahraga yang ia tenteng dan melemparnya ke bangku tanpa berkata apa-apa, seolah obrolan itu tidak menarik perhatiannya sama sekali.Kenji tidak menyerah, “Eh, jangan diem dong. Cerita dikit lah. Hubungan kalian udah sejauh mana, sih?”Marco hanya mendengus pelan, lalu tersenyum miring sambil melepaskan rangkulan tangan Kenji dari pundaknya. “Pik
Mata Zea tak bisa lepas dari pesan Marco yang terpampang di layar. Apa pria itu sudah benar-benar gila?! Begitu berani dan bernafsu memintanya seolah pemberian ASI adalah kewajiban yang harus dituruti.Ia hendak mengetik balasan dengan tangan gemetar ketika ponselnya bergetar keras. Panggilan masuk dari nomor Marco.Sial! Tanpa sempat berpikir panjang, ia mengangkat telepon itu.“Apa lagi, Marco?” seru Zea, suaranya bergetar antara amarah dan kebingungan. “Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak pernah sepakat dengan permintaan gila kamu! Ini salah … ini benar-benar keterlaluan!”“Keterlaluan?” ulangnya. “Aku sudah berbaik hati membantu kamu meredakan nyeri di dada kamu. Harusnya kamu bilang ‘terima kasih’.”Zea menggenggam ponsel lebih erat. “Kamu nggak ngerti juga ya? Kalau Kak Zavian dan lainnya sampai tahu apa yang kita lakukan, kamu bisa kena sanksi! Bahkan bisa diberhentikan dari klub!”Zea memijat pangkal hidungnya sejenak. “Kamu atlet, Marc
Zea merasa wajahnya panas lagi. Ia menarik resleting jaket Marco lebih tinggi sambil berusaha menyembunyikan noda yang masih samar di kaus dalamnya.“Ini … aku cuma pinjem, Ma. Bajuku basah tadi pas bantu-bantu.”Donna mendekat dengan mata yang berbinar. “Wangi sih … wangi parfum maskulin. Siapa cowoknya? Ganteng?”Zavian yang baru masuk melirik Zea sekilas. “Itu punya Marco, Ma. Mama masih ingat Marco Yozefa, kan?”Donna langsung terperangah dan matanya membulat semangat.“Marco Yozefa? Yang dulu anak tetangga sebelah rumah kita itu?”Zea mengangguk kikuk. “I–iya ….”“Anak yang pendiam itu dan suka ngekorin kamu kemana-mana? Dulu kalian sering main bareng di kolam renang waktu Zavian les renang, kan?”“Mama ingat?” Zea mengerjap kaget.Donna tertawa kecil. “ Ingat, dong! Sayang banget setelah lulus SMP, dia ikut orang tuanya pindah keluar kota.”Zavian mengangguk. “Dia sudah pindah lagi ke kota ini sejak beberapa bulan lalu, akhirnya sek
Semua kepala langsung menoleh ke arah Zea yang berdiri terpaku. Rafi, Dimas, Kenji, bahkan Zavian menatapnya dengan ekspresi berbeda.Zea merasa ingin mati sekarang juga. Jaket Marco yang kebesaran masih menempel di tubuhnya, menutupi noda basah di kausnya. Aroma pria itu terlalu kuat, seolah menandai kepemilikan.“Wah wah wah,” Dimas nyengir lebar. “Kalian berdua tadi di loker lama banget. Jaketnya sampe dipake segala?”Kenji menimpali sambil tertawa. “Tadi juga bau vanila kemana-mana. Ada yang lagi nyemil apa di situ?”Zea merasa wajahnya panas seperti terbakar. Jaket Marco yang kebesaran menutupi noda basah di kausnya, tapi aroma pria itu justru semakin kuat menyelimuti tubuhnya.Zavian mengerutkan kening dalam. Tatapannya berpindah tajam dari Zea ke Marco.“Marco,” suaranya datar tapi penuh wibawa. “Kenapa adik saya pakai jaketmu?”Marco menjawab dengan tenang, tanpa ada keraguan. “Bajunya basah kena air. Jadi saya pinjami jaket dulu, Coach.”Zavian menyipitkan mata. Ia memanggil












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews