author-banner
Amaleo
Amaleo
Author

Novelas de Amaleo

Partner Pemanasan Sang Atlet

Partner Pemanasan Sang Atlet

Zea punya kondisi tubuh yang tak wajar. Usianya baru 22 tahun, belum menikah ataupun mengandung, tapi bisa memproduksi ASI. Keadaannya semakin rumit ketika Zea tidak sengaja membuat Marco, atlet renang didikan kakaknya, meminum ASI-nya. Anehnya, sejak meminum itu, performa Marco di kolam renang meningkat drastis! Sekarang, setiap sebelum perlombaan, Marco membutuhkan Zea. “Kamu bilang rasanya nyeri setiap dadamu penuh, kan?” bisik Marco sambil menatapnya dengan mata membara. “Aku bisa bantu meminumnya langsung dari tubuhmu sekarang juga.”
Leer
Chapter: 70. Rasakan Betapa Manisnya Cairanmu…
Zea menelan ludah. Di balik kain tipis celana renang itu, kejantanan Marco terasa panas, keras, dan berdenyut pelan di telapak tangannya. “M–Marco …” suaranya bergetar. Wajahnya memerah hebat. “Aku … aku belum pernah .…” Ia mencoba menarik tangannya, tapi Marco menahan pergelangan tangannya dengan lembut namun tegas. “Nggak apa-apa,” bisik Marco serak di telinganya. “Sentuh aku lagi. Aku janji nggak akan maksa. Cuma … biar kamu tahu seberapa aku butuh kamu.” Zea menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdegup kencang. Setelah beberapa detik penuh keraguan, ia mengangguk kecil. Marco menuntunnya berbaring di bangku kayu panjang di tengah ruang loker. Ia duduk di samping Zea dan tubuhnya setengah menindih. Satu tangan masih menahan pinggang gadis itu agar tidak mundur. Dengan gerakan yang hati-hati, Marco menarik turun celana renangnya. Kejantanan yang sudah tegang sepenuhnya langsung terbebas di udara dingin loker. Batangnya begitu panjang, tebal, urat-uratnya menonjol, dan ujungnya
Última actualización: 2026-07-30
Chapter: 69. Kamu Keras Sekali...
Zavian terdiam sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Ya sudah. Zea boleh ikut Mama,” ucapnya singkat. “Asal dia bisa jaga diri.” Donna langsung berseru riang. “Bagus! Nanti lusa kita pergi bareng, ya. Siap-siap aja dari sekarang.” Zea hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, lalu melanjutkan sarapannya. Di benaknya, perasaannya masih campur aduk. Ia penasaran apa yang akan dibahas kedua wanita itu nanti. Terlebih lagi, ia takut Ibunya tak sengaja bicara terang-terangan mengenai kondisi tubuhnya ke mantan tetangganya. Beberapa menit kemudian, perjalanan menuju pusat pelatihan terasa canggung. Zavian sesekali melirik ke arah Zea tanpa banyak bicara. Insiden aroma parfum pagi tadi masih menggantung di antara mereka, meski tidak ada yang membuka topik itu lagi. Begitu tiba, Zea langsung menjalankan tugasnya seperti biasa. Ia menyiapkan handuk dan membantu para atlet. Namun setiap kali ia merasa sorot mata Zavian tertuju padanya, tubuhnya otomatis menegang. Ia masih waspada. Me
Última actualización: 2026-07-30
Chapter: 68. Donna Janjian Bertemu dengan Moara.
Zea membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang. Rupanya aroma khas Marco masih samar tertinggal di udara kamarnya."Eh ... itu ..." Zea terkekeh canggung, berusaha terdengar santai. "Aku coba parfum baru, Kak.""Parfum?" Zavian mengernyit."Iya. Semalam baru nyoba."Zavian langsung berjalan mendekat, tubuhnya condong sedikit ke arah Zea. Ia mengendus-endus pelan ke sekitar leher dan bahu adiknya, membuat Zea refleks mundur setengah langkah dengan jantung berdebar kencang."Kak, ngapain sih?!" Zea buru-buru mundur lebih jauh, tangannya reflek melindungi dirinya sendiri.Zavian tidak menjawab. Dahinya malah semakin berkerut."Aneh ..." gumamnya pelan, tatapannya turun sekilas ke piyama yang dikenakan Zea. "Ini bukan cuma bau parfum."Zea menelan ludah."Badan kamu ... kok bau aroma cowok?"Kalimat itu membuat Zea membeku sesaat. Ia refleks mengangkat lengan piyamanya sendiri dan mengendus pelan. Dan benar saja, aroma Marco masih sangat samar
Última actualización: 2026-07-30
Chapter: 67. Aroma Parfum Pria di Kamar Zea.
Marco terdiam sejenak. Sorot matanya melembut di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. “Nggak akan,” jawabnya pelan, suaranya serak tapi tegas. “Aku nggak akan pergi sekarang. Aku bisa temani kamu sampai kamu tidur nyenyak.” Ia mengusap pelan rambut Zea yang berantakan. “Tapi nanti subuh, aku harus pergi. Sebelum orang rumah bangun. Oke?” Zea terdiam. Pipinya memanas, tapi ada rasa lega yang menyelinap di dadanya. Marco mau menemaninya sampai ia tertidur. Bukan hanya datang untuk mengambil apa yang ia butuhkan, lalu pergi. “Oke …” bisiknya pelan yang masih malu. Marco mengangguk. Lalu dengan gerakan hati-hati, ia menyingkap baju tidur Zea ke atas. Zea membantu membuka bra-nya pelan dengan tangan gemetar. Kedua payudaranya yang sudah penuh dan sedikit bengkak terbebas di udara malam yang sejuk. Marco berbaring di sampingnya, tubuh mereka saling berhadapan. Ia menarik Zea lebih dekat hingga dada gadis itu menempel di wajah pria itu. Lalu ia mulai menghisap puting kiri Zea denga
Última actualización: 2026-07-29
Chapter: 66. Kamu Nggak Akan Pergi, Kan?
Marco melonggarkan pelukannya perlahan, tapi tangannya masih bertahan di pinggang Zea, seolah enggan melepaskan sepenuhnya. Pria itu memandang wajah gadis itu lekat-lekat di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Matanya berhenti pada jejak sembab di sekitar mata Zea. Rahangnya langsung mengeras. "Tadi kamu abis nangis," katanya datar. Bukan pertanyaan. Zea buru-buru menggeleng dan mengusap pipinya sendiri, meski air matanya sudah lama kering. "Nggak, kok." Marco tidak menjawab. Ia hanya menatap Zea lama, seolah tidak percaya, lalu tangannya terangkat mengusap kasar pipi gadis itu dengan ibu jari, seperti mencoba menghapus sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada. "Aku benci lihat kamu kayak gini," gumamnya akhirnya, suaranya rendah dan sedikit kaku, seperti kalimat itu susah payah keluar dari mulutnya. Zea mengerjap. "Kayak gini gimana?" Marco tidak menjawab langsung. Ia malah mendengus pelan dan mengalihkan pandangan ke jendela, seolah kalimatnya barusan sudah lebih dari cukup
Última actualización: 2026-07-29
Chapter: 65. Nggak Akan Aku Biarin Kamu Sendirian Malam Ini.
Zea meremas ujung serbet di pangkuannya. "Tadi ketemu tetangga lama, Kak." "Siapa?" Zavian langsung menyahut cepat, alisnya terangkat. "Tante Moara," jawab Zea akhirnya, berusaha terdengar sewajar mungkin. "Ketemunya di toilet tadi, nggak sengaja." Mendengar nama itu, Zavian tampak sedikit terkejut. "Tante Moara?" Alisnya terangkat heran. "Bukannya waktu pesta ulang tahun Selena kemarin, orang tua Marco lagi di luar kota, ya? Makanya pas Kakak ngobrol sama para sponsor, Kakak nggak lihat mereka." Zea sempat terdiam. Baru saat itu ia ikut teringat. Benar juga. Saat pesta ulang tahun Selena beberapa hari lalu, yang hadir memang hanya Marco seorang diri. "Iya, ya ..." gumamnya pelan sambil mengangguk kecil. "Tadi aku juga nggak kepikiran. Nggak sengaja aja ketemu.” "Oh ..." Zavian mengangguk pelan, raut wajahnya mulai mengendur. "Udah lama juga nggak denger kabarnya, sih. Gimana keadaan Tante?” "Baik, Kak. Katanya kangen sama Mama, pengin ketemu lagi kapan-kapan." Zavian mengang
Última actualización: 2026-07-29
Obsesi Dosen Tampan

Obsesi Dosen Tampan

(18+ NOT FOR TEENAGER!) Satu malam impulsif mengubah segalanya. Zelda Lynn hanya ingin melupakan pria asing yang pernah bersamanya di kamar hotel usai gemerlap perayaan ulang tahun nya. Tapi dua bulan kemudian, pria yang diketahui bernama Noah Grimm, muncul lagi—sebagai dosen baru di Universitas. Kini, rahasia masa lalu berubah menjadi permainan berbahaya antara rasa bersalah, godaan, dan obsesi.
Leer
Chapter: S2-173. Happy Ending. (+21)
Suite honeymoon di lantai tertinggi hotel mewah Paris menyambut mereka dengan cahaya kota yang berkelip lembut melalui jendela kaca besar. Menara Eiffel terlihat jelas di kejauhan, menyala keemasan di malam musim semi. Zelda berdiri di depan jendela, gaun malam sutra putih tipis yang ia pakai setelah mandi menempel lembut di kulitnya. Rambutnya masih agak basah, jatuh di bahu. Noah mendekat dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya, dagunya bertumpu di bahu Zelda. “Kau cantik sekali malam ini, istriku,” bisiknya di telinga Zelda, suaranya sudah rendah dan berat. Zelda tersenyum malu, pipinya memerah. “Kau juga tampan, suamiku.” Noah membalik tubuh Zelda perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya gelap penuh hasrat yang sudah lama ditahan. Ia menunduk, mencium bibir istrinya dengan lembut di awal, lalu semakin dalam, lidahnya menyusup pelan, mengeksplorasi dengan penuh penyembahan. “Hmm …,” desah Zelda kecil di bibirnya, tangannya naik ke dada Noah, merasakan otot y
Última actualización: 2026-02-23
Chapter: S2-172. Pernikahan dan Janji Selamanya.
Zelda berdiri membeku di balkon penthouse, angin malam menyapu rambutnya dengan lembut. Noah masih berlutut di hadapannya, kotak cincin terbuka di tangannya, cincin sederhana dengan berlian kecil itu berkilau pelan di bawah lampu temaram. Mata Zelda berkaca-kaca. Air matanya jatuh tanpa suara, satu per satu, membasahi pipinya. Tangan kanannya menutup mulut, seolah takut suara yang keluar nanti akan pecah. “Noah …” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Noah menatapnya tanpa berkedip. Matanya penuh kepastian, penuh cinta, dan sedikit gugup yang jarang sekali terlihat pada pria seperti dirinya. “Aku tidak butuh jawaban sekarang kalau kau belum siap,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Aku akan menunggu. Selama yang kau butuhkan. Tapi aku ingin kau tahu … aku sudah memilihmu sejak lama. Dan aku tidak akan berubah pikiran.” Zelda menggeleng pelan. Air matanya semakin deras, tapi senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya—senyum yang gemetar, tapi tulus. “Dasar … bodo
Última actualización: 2026-02-23
Chapter: S2-171. Lamaran.
Zelda tercekat. Kedua matanya berair hingga air matanya terjatuh pelan setelah mendengar semua ungkapan yang Noelle lontarkan kepadanya. Sebuah pengakuan yang kini tak didasari oleh kebencian lagi. “Kau … benar-benar merestui hubungan Noah denganku?” tanyanya, masih tak menyangka. Noelle mendengus pelan. “Tentu saja! Kenapa kau terkejut begitu? Bukannya ini yang kalian tunggu-tunggu?” Noah menegang di sofa sebelum ia bangkit berdiri perlahan. Wajah pria itu masih terkejut sekaligus bangga pada adiknya. Noelle masih menatap Zelda lama, kali ini matanya berkaca-kaca tapi tidak lagi penuh rasa bersalah yang berat. Ada kelegaan di sana, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun ia pikul. Tanpa kata lagi, Noelle berjalan maju dan memeluk Zelda. Pelukan itu lembut, ragu di awal, tapi kemudian semakin erat. Noelle menempelkan pipinya di bahu Zelda, bahunya bergetar pelan. Zelda membeku sepersekian detik, lalu tangannya naik pelan, membalas peluka
Última actualización: 2026-02-21
Chapter: S2-170. Pengakuan dan Restu Noelle Grimm.
Zelda menatap Noah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk kecil. Noah tersenyum tipis ke ponsel. “Kami tunggu kau besok, Noelle. Pulanglah.” Telepon ditutup. Di meja makan itu, empat orang saling pandang. Ada air mata yang hampir jatuh, ada senyum yang mulai terbentuk, ada harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali. Zelda akhirnya membuka suara, dengan nada penuh haru. "Akhirnya, keluargamu kembali utuh, Noah.” Noah tak menjawab. Tangannya meraih tangan Zelda disampingnya, dan menggenggamnya lebih erat. Gestur kecil itu lebih penuh arti daripada hanya sekadar kata-kata malam itu. *** Pagi di akhir pekan yang cerah, namun udara di depan gerbang rumah tahanan masih terasa dingin. Michael Grimm berdiri paling depan, tangan di saku jas hitamnya. Di sampingnya, Noah berdiri tegak, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya sesekali mengepal pelan—tanda kecil bahwa ia juga gugup. Zelda berdiri di sebelah Noah, tangannya menggenggam lengan pria itu erat. Zara berdiri p
Última actualización: 2026-02-21
Chapter: S2-169. Penyerahan Kuasa kepada Zara.
Ruangan menjadi sunyi sejenak.Zara tidak langsung bereaksi. Matanya hanya sedikit melebar, lalu menyipit, seolah sedang mencerna setiap kata.“Kau yakin?” tanyanya akhirnya, kini nada pribadi mulai menyelinap. “Ini bukan keputusan kecil, Noah.”“Aku yakin,” jawab Noah tegas. “Aku sudah bicara dengan Ayah. Beliau setuju. Yayasan ini butuh pemimpin yang stabil, yang paham dunia akademik dari dalam, dan yang tidak terikat pada konflik keluarga seperti aku.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah.“Dan aku ingin punya waktu lebih banyak untuk Zelda. Untuk kami. Tanpa bayangan jabatan ini yang selalu membuat kami harus berhati-hati. Bahkan, Ayahku ingin aku pegang kendali Grimm’s Corporation segera.”Zara menatap Noah lama. Ada banyak hal yang melintas di matanya. Kejutan, pertimbangan, dan akhirnya … pengertian.“Kau sudah bicara dengan Zelda tentang ini?” tanyanya.“Belum,” akui Noah. “Aku ingin bicara denganmu dulu. Karena ini juga menyangkut posisimu sebagai d
Última actualización: 2026-02-20
Chapter: S2-168. Malam yang Melepaskan (+21)
Zelda menatap layar ponselnya lama sekali setelah membaca pesan Ariana. Layarnya sudah redup, tapi kalimat pendek itu masih terbayang jelas di benaknya. “Maaf. Aku salah. Semoga kau bahagia.” Jemarinya berhenti di atas keyboard. Ada banyak hal yang ingin ia ketik. Marah, kecewa, bahkan pertanyaan “kenapa kau lakukan itu?” Tapi semuanya terasa terlalu berat malam ini. Akhirnya ia mengetik pelan, huruf demi huruf. “Aku sudah memaafkanmu lebih dulu.” Ia berhenti. Jarinya ragu di atas layar. Lalu melanjutkan. “Setidaknya kau sudah berbuat baik padaku. Terima kasih. Aku harap kau baik-baik saja di sana.” Zelda menarik napas dalam, lalu menekan kirim. Pesan terkirim. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu bersandar kembali ke dada Noah. Dadanya terasa sedikit lebih ringan sekarang. Noah yang sejak tadi diam memperhatikannya tanpa mengganggu, akhirnya mengangkat dagu Zelda dengan lembut menggunakan dua jari. Matanya menatap dalam, penuh cinta dan kesabaran. “Aku menging
Última actualización: 2026-02-20
Sang Villainess Memikat Tiga Pria!

Sang Villainess Memikat Tiga Pria!

Yuna, pembaca novel reverse harem, terbangun di dalam tubuh Yuna Rein—tokoh antagonis yang ditakdirkan berakhir tragis di buku favoritnya. Bertekad mengubah nasib, ia menjauhi para tokoh utama. Namun demi menyelamatkan ibunya yang sakit parah, Yuna terpaksa menerima tawaran gelap pengacara dingin Kai Verazo: menjadi miliknya selama satu bulan. Di antara kelembutan dokter Firas Adiyaksa dan pesona pewaris Darren Mahesa, Yuna perlahan terseret ke dalam pusaran emosi, rahasia, dan ikatan tak terduga. Jika alur cerita mulai berubah … akankah ia benar-benar bisa selamat kali ini?
Leer
Chapter: Chapter 226.
Hari pernikahan telah tiba.Langit sore di The Orchid Garden berwarna keemasan. Ribuan bunga putih dan baby’s breath menghiasi altar sederhana namun elegan sesuai permintaan Yuna. Undangan dibatasi hanya keluarga dan orang-orang terdekat, menciptakan suasana intim yang hangat.Yuna berjalan menyusuri aisle dengan gaun A-line ber-detail lace yang dipilihnya bersama ibunya. Tangannya gemetar ringan di lengan Yuvita yang mengantarnya.Di ujung altar, Kai berdiri tegap dengan tuksedo hitam. Tatapannya tidak pernah lepas dari Yuna sedetik pun. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak lembut, bahkan sedikit tegang menahan emosi.Saat Yuna sampai di hadapannya, Kai mengulurkan tangan. Yuna meletakkan tangannya di atas telapak Kai yang hangat.“Kamu cantik sekali,” bisik Kai pelan, hanya untuk mereka berdua.Yuna tersenyum malu. “Kamu juga tampan.”Upacara berlangsung singkat, namun sarat khidmat. Saat mengucapkan janji pernikahan, suara Yuna sempat bergetar, menahan haru yang memenuhi dadan
Última actualización: 2026-07-01
Chapter: Chapter 225.
“Jadi, sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian?” Pertanyaan Kendrik yang lugas itu membuat Yuna hampir tersedak air putihnya. Matanya membulat dan jantungnya berdegup kencang. “Eh? Sekarang?” tanyanya tanpa sadar. Kai yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum tipis. Ia menjawab dengan tenang, seolah sudah mempersiapkan jawaban ini sejak lama. “Tanggal 18 Oktober. Venue utama di The Orchid Garden, kapasitas 300 orang. Resepsi malam hari. Saya sudah pesan tanggalnya dua minggu lalu.” Yuna menoleh cepat ke arah Kai. Yang benar saja, pria ini malah bergerak cepat dari yang ia kira?! “Kamu … sudah pesan?!” Kai mengangguk santai, seolah itu hal biasa. “Saya tidak suka menunda hal penting.” Ah, benar. Memang begitulah Kai. Begitu sudah mengambil keputusan, ia tak pernah suka menunda atau mengulur waktu. Yuvita langsung berseri-seri, matanya berbinar penuh semangat. “Wah, tanggalnya bagus! Ibu setuju. Kita harus pilih gaun secepatnya, Yuna! Ibu bayangkan yang model A-line denga
Última actualización: 2026-07-01
Chapter: Chapter 224.
Beberapa hari setelah malam itu, Yuna akhirnya mengambil keputusan. Dengan langkah mantap, ia masuk ke ruangan Kai di lantai Firma Hukum Verazo & Associates dan meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja kerja pria itu. Sejak terbangun di dunia novel ini, Yuna selalu berusaha menghindari alur yang telah ditentukan sambil berharap bisa lolos dari akhir tragis yang menanti sang antagonis. Namun kini, saat memutuskan meninggalkan firma itu, Yuna menyadari sesuatu. Tanpa pernah ia rencanakan, ia telah melangkah begitu jauh hingga tak lagi sibuk melarikan diri dari takdir. Kai membaca surat itu sekilas. Sudut bibirnya perlahan terangkat, lalu berubah menjadi senyum lebar yang begitu puas—ekspresi yang nyaris tak pernah ia perlihatkan di kantor. Yuna mendengus pelan dan menyilangkan tangan di depan dada. “Udah puas, kan? Saya sudah menurut apa kata kamu.” Kai tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, mengitari meja kerja dengan langkah santai namun penuh kuas
Última actualización: 2026-06-30
Chapter: Chapter 223.
Kai membeku di tempat. Tatapannya yang biasanya tajam dan penuh kendali, kali ini dipenuhi kejutan yang tak bisa disembunyikan. Detik berikutnya, tangannya bergerak cepat. Ia menarik kepala Yuna ke dadanya dan memeluknya erat di koridor luar penthouse. “Terima kasih …” bisik Kai dengan suara berat, hampir parau. “Terima kasih karena sudah memberi saya kesempatan.” Pelukannya begitu kuat, seolah ia takut Yuna akan menghilang jika dilepaskan. Yuna terkubur dalam pelukan itu, menghirup aroma Kai yang sudah sangat familiar. Yuna tersenyum kecil di dada pria itu. “Terima kasih juga … karena sudah membuat hidup saya seperti roller coaster sejak kenal Anda.” Kai terkekeh pelan. Getaran tawanya terasa di dada Yuna. Ia melepas pelukan sedikit, cukup untuk menatap wajah Yuna, lalu mengambil cincin dari kotak itu. Kai mengangkat tangan Yuna dengan hati-hati. Tanpa terburu-buru, ia menyematkan cincin itu ke jari manis gadis itu. Saat cincin itu melingkar sempurna, keduanya hanya saling menat
Última actualización: 2026-06-30
Chapter: Chapter 222.
Yuna membeku dengan jantung berdegup cepat, sampai rasanya terasa sakit. Wajahnya mendadak panas dan malu setengah mati. Karena pertama kali dalam hidupnya, ia dilamar oleh dua pria yang berbeda dalam satu malam.Yuna tergagap sambil tangannya bergerak ke mana-mana tanpa arah."Tu-tunggu, Kai! Ini ... ini terlalu tiba-tiba! Sa-saya ....”“Saya tahu, Yuna. Saya benar-benar tahu,” potong Kai rendah. “Awalnya saya pikir ... saya hanya ingin memperbaiki kesalahan saya. Tapi ternyata tidak.”Kai tersenyum tipis, tatapannya lembut namun penuh keyakinan."Semakin saya mencoba melepaskanmu, semakin saya sadar, saya memang tidak ingin kehilanganmu.” Kai menunduk sekilas ke cincin di tangannya, lalu kembali menatap Yuna. "Saya belum tahu apakah ini yang orang-orang sebut cinta. Yang saya tahu … saya sudah memutuskan."Yuna menahan napas sejenak, dadanya semakin sakit karena debaran jantung yang semakin kacau."Kalau kamu bersedia ...." Kai mengangkat kotak cincin itu sedikit lebih tinggi. "Hab
Última actualización: 2026-06-30
Chapter: Chapter 221.
Yuna terdiam. Angin malam kembali berhembus membawa dingin yang menyelip di antara keduanya. Dada Yuna terasa sesak oleh rasa bersalah yang mulai menghantuinya. “Apa karena kamu sudah menduga kalau ini bakal terjadi, Firas?” Yuna mengangkat wajahnya menatap pria itu. “Kamu bakal pergi karena … saya menolakmu?” Firas diam sejenak sebelum tersenyum kecil. "Tidak." Suaranya tenang. "Tawaran itu sudah ada beberapa hari yang lalu. Saya hanya … belum memutuskan." "Berarti kamu sudah memutuskannya?" "Sekarang sudah," jawabnya pelan. Yuna menunduk. Jemarinya meremas ujung blazer tanpa sadar. "Firas, saya—" "Yuna." Suara Firas memotong lembut. "Kamu tidak perlu merasa bersalah." "Tapi saya memang merasa bersalah, Firas. Selama ini kamu sudah sangat baik sama saya." Firas menghela napas pelan. Ia menatap hamparan lampu kota di bawah sana yang berkelip tenang. "Saya pergi bukan karena kamu menolak saya," ucapnya akhirnya. "Tapi karena … mungkin memang sudah waktunya saya m
Última actualización: 2026-06-29
Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!

Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!

"Kamu milikku, Vanya, ha-hanya kamu yang bisa buat aku seperti ini, aahh!" Demi melunasi hutang dan nyawanya, Vanya dijual tunangannya kepada Jay, seorang bos mafia yang dingin. Tanpa Vanya sadari pula, tubuhnya memancarkan feromon alami yang langka. Di tengah gairah yang membara, feromon alami Vanya bekerja secara ajaib. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Jay mencapai klimaks yang intens dan hampir mustahil—sensasi yang selama ini hanya ia anggap mitos. Vanya kini menjadi satu-satunya kelemahan Jay, yang harus dimiliki dan dilindungi sepenuhnya dari dunia mafia gelap yang terus mengancamnya. (+21)
Leer
Chapter: CHAPTER 93.
Vanya beserta Ibu dan adiknya berjalan mengitari setiap lantai di mal besar. Ia tanpa ragu membayar setiap belanjaan pakaian yang menurutnya menarik perhatiannya demi menghibur dirinya sendiri tanpa melihat harga. Semua itu berkat kartu kredit milik Jay yang masih ada di tangannya. Meski begitu, setiap gesekan kartu itu mengingatkannya—bahwa bahkan kebebasan kecil ini pun masih berasal dari pria yang mengikatnya. Perasaan yang sejak tadi berkecamuk akhirnya mereda perlahan, karena perhatiannya teralihkan pada aktivitas yang selama ini sangat jarang untuk dilakukan selama masih di bangku kuliah. Bahkan, selama ia masih bersama Jordan, ia hanya pergi kencan beberapa kali dalam sebulan. Di salah satu toko pakaian, ada sebuah gaun menarik perhatiannya hingga Vanya melirik sekilas. Gaun itu berwarna pastel lembut dengan desain sederhana, dihiasi detail brokat berlipat yang memberi kesan anggun tanpa berlebihan. Kontras dengan gaun-gaun yang selama ini memenuhi lemarinya di mansion Jay—
Última actualización: 2026-04-10
Chapter: CHAPTER 92.
Vanya membeku saat ia membaca isi pesan singkat suaminya. Tanpa sadar, tangannya yang menggenggam ponselnya mengerat hingga buku-buku jari memutih. Campuran kesal sekaligus muak mengendap di dadanya. Betapa tidak, pria itu masih saja mengontrolnya dari jarak jauh meski keberadaannya sudah tidak ada. Tapi bayang-bayang pria dingin yang tak tahu cara bagaimana berekspresi masih hadir di kepalanya. “Sialan,” gumam Vanya mengumpat pelan. Varsha yang duduk di tengah di antara dirinya dan ibunya langsung menoleh cepat, sebelum menutup kedua telinganya dengan tangan kecilnya. Suaranya terdengar pelan, namun sarat protes dan kekesalan yang begitu jelas. “Kak, ngomongnya jangan kasar.” Vanya tersentak dan menoleh cepat pada adiknya sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh kecilnya dan mencium puncak kepalanya. Tangan satunya memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. “Maafin Kakak ya. Kakak nggak sengaja ngomong kasar.” Varsha hanya mengerucut bibirnya dan menjawab. “Nanti beliin aku es kri
Última actualización: 2026-04-09
Chapter: CHAPTER 91.
Violet menatap putrinya lama sekali sebelum ia tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. “Baik. Ibu ikut.” Varsha bertepuk tangan kecil. “Jalan-jalan! Aku mau beli es krim!” Vanya tertawa kecil dan memeluk adiknya lagi. “Kalau begitu, aku pakai baju dulu.” Violet mengangguk. “Ibu akan siap-siap bareng Varsha.” Vanya berbalik menuju kamar utama dengan langkah cepat. Di dalam kamar, ia membuka lemari besar dan memilih dress sederhana berwarna krem panjang selutut, cardigan tipis, dan flat shoes yang nyaman. Rambutnya ia keringkan cepat dan diikat ponytail tinggi. Sebelum keluar, ia menatap cermin sekali lagi. Ia memandang wajahnya dengan tajam dan penuh keyakinan. Dibenaknya ia terus meyakinkan diri sendiri, bahwa ia bisa hidup tanpa suaminya yang selalu mengatur hidupnya. Lantas Vanya mengambil tas kecil dan memasukkan Black Card ke dalamnya, lalu keluar kamar. Di koridor, ia bertemu Violet dan Varsha yang sudah siap. Varsha memegang tangan ibunya dengan wajah yang cerah. “Kak
Última actualización: 2026-04-09
Chapter: CHAPTER 90.
Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan
Última actualización: 2026-02-26
Chapter: CHAPTER 89.
Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membaca. Lampu di dalam redup, hanya menyala dari lampu baca kecil di sudut. Jay mendorong pintu pelan. Dan benar, Vanya ada di sana. Ia meringkuk di sofa panjang berwarna krem, selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Matanya tertutup rapat, napasnya teratur—tertidur lelap. Di depannya ada nampan kosong: sisa muffin cokelat dan stroberi yang sudah dimakan separuh, segelas susu hangat yang tinggal setengah. Violet menutup mulutnya dengan tangan. “Ternyata Vanya disini.” Varsha langsung berlari kecil dan memeluk kaki Vanya sambil berbisik, “Kak Vanya .…” Jay berdiri di ambang pintu, tidak berge
Última actualización: 2026-02-25
Chapter: CHAPTER 88.
Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video dari tim yang baru kembali dari misi pulau pribadi Jay. Wajah mereka pucat, keringat masih menempel di dahi meski sudah berada di daratan. Bianca Moretti berdiri di samping meja, tangan disilangkan di dada. Matanya dingin, tapi ada kilatan amarah yang tersembunyi. Pria di layar, komandan tim menelan ludah sebelum bicara. “Nyonya Silvia, kami gagal total menyusup ke pulau. Perimeter dijaga sistem otomatis tingkat tinggi: pelat baja anti-peluru di semua jendela, drone patroli 24 jam, sensor gerak di seluruh garis pantai, jammer sinyal yang memblokir hampir semua komunikasi.” Napas pria itu sedikit tercekat. “Dari satelit sipil, pulau itu bahkan tidak terdeteksi sebagai wilayah berpengh
Última actualización: 2026-02-25
También te puede gustar
Wanita Penghibur Berkelas
Wanita Penghibur Berkelas
Romansa · Mustacis
7.2K vistas
Mafia Cantik Dan CEO buruk Rupa
Mafia Cantik Dan CEO buruk Rupa
Romansa · Rindu_Mentari
7.2K vistas
Sebatas Teman Tidur
Sebatas Teman Tidur
Romansa · Lentera Jingga
7.2K vistas
Cincin Pemikat Jodoh
Cincin Pemikat Jodoh
Romansa · JihanMarc
7.2K vistas
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status