MasukNaya tak pernah membayangkan pernikahannya akan membawanya pada pilihan paling kelam dalam hidupnya. Demi memiliki keturunan, Arman, suaminya, menyeret Naya ke dalam kesepakatan keji. Naya harus tidur dengan Ardi, sopir baru mereka, demi mendapatkan seorang anak. Tetapi dengan ada satu syarat mutlak. Naya tak boleh jatuh hati pada sopirnya itu. Namun, lambat laun, perasaan yang seharusnya tak ada itu muncul. Semakin jauh, Naya semakin tenggelam dalam cinta terlarang yang berbahaya. Yang tak Naya sadari, ternyata Ardi bukanlah sekadar pion dalam rencana ini, tetapi pria itu menyimpan sebuah rahasia besar.
Lihat lebih banyak“Tidak, ini gila… sungguh gila…” Naya duduk di pinggir ranjang hotel sambil mencengkram permukaan sprei yang lembut.
Di hadapannya, jendela hotel yang besar menampilkan pemandangan malam yang indah. Lampu-lampu dari gedung pencakar langit yang mengelilinya terlihat spektakuler sebenarnya. Wangi lembut dari aroma terapi juga menyebar ke seluruh sudut kamar yang seharusnya bisa membuat Naya tenang.
Namun kenyataannya dadanya seakan mau meledak. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya.
“Kamu menyerahkan tubuhmu padaku untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu yang hampir bangkrut!”
“Jadi, apa bedanya kalau kamu tidur dengan pria lain, sama-sama untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu dan aku bisa menyelamatkan reputasiku?”
“Dasar perempuan redahan.”
Ucapan-ucapan suaminya itu tiba-tiba berkelebat lagi di dalam kepalanya. Mengingatnya hanya membuat hati Naya terluka semakin dalam, tetapi entah kenapa perkataan menyakitkan itu seperti lem yang merekat erat dalam memorinya.
Lantas pintu kamar hotelnya membuka pelan. Napas perempuan tiga puluh tahun itu pun tertahan. Rasanya dia ingin kabur dari ide gila suaminya, namun sepertinya semua sudah terlambat.
“Maaf, Nyonya,” Ardi, pria bertubuh tegap itu muncul dari balik pintu. Bahu lebarnya dibalut kemeja putih yang sedikit kusut dengan lengan yang digulung hingga ke siku. Rambut hitam pria itu nampak tersisir rapi. “Saya disuruh Tuan Arman menemui Nyonya di sini. Sungguh, saya tak bermaksud bersikap lancang.”
Suara Ardi mengalun berat dan lembut. Dia berdiri canggung di ambang pintu dengan pandangan yang tertuju ke karpet kamar karena tak berani menatap majikan barunya ini.
Naya berusaha bersikap wajar sambil menghela napas pelan. Dia lalu mulai memperhatikan supir barunya.
“Tidak perlu sungkan. Masuklah.” Naya menukas santai.
Ardi melangkah dengan ragu. Dan sekarang mereka hanya tinggal berdua di dalam kamar hotel.
Jelas terlihat, Ardi menjaga jarak sejauh mungkin dari majikan wanitanya itu.
Jantung Naya berdenyut begitu cepat. Setelah menghitung sampai tiga dalam hati, wanita itu bangkit.
Wangi Naya menguar di kamar hotel yang cukup besar ini, menusuk ke dalam hidung Ardi yang memantik bulu-bulu di tubuhnya jadi sedikit meremang.
“Apa kamu tahu kenapa Arman menyuruhmu menemuiku di sini?” Naya kembali menelusuri wajah Ardi, yang sebenarnya untuk ukuran seorang sopir, ketampanan pria itu bisa dikategorikan di atas rata-rata. Bahkan tanpa tersenyum pun, kedua lesung pipi Ardi sudah nampak.
“Tidak, Nyonya.” Ardi terus menunduk sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dengan sopan.
Naya tersenyum kecut. “Ah… Jadi, dia tak memberitahumu. Kamu tahu, awalnya aku juga mempertanyakan hal yang sama. Kenapa suamiku menyuruhku tinggal di sini dan menunggu kedatanganmu.”
Tiba-tiba Ardi mendongak dan tatapan mereka pun langsung beradu. Cepat-cepat, Naya mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Wanita itu bersedekap sambil mengembuskan napas panjang keputusasaan.
Keheningan menguar beberapa saat. Sampai akhirnya, Ardi memberanikan diri untuk bertanya.
“Jadi… saya harus mengantar Nyonya pulang sekarang?” Suara Ardi terdengar ragu.
“Kuharap begitu. Tapi tidak. Bukan itu perintahnya,” tandas Naya, menarik napasnya dalam-dalam sambil memejamkan mata sejenak.
Kesepakatan gila bin konyol suaminya kembali berputar di kepalanya. Kesepakatan yang membuat hati Naya terluka dalam. Tetapi pada akhirnya dia tak bisa berbuat banyak selain menjalankan kesepakatan itu.
“Kalau begitu, apa perintahnya, Nyonya?” Ardi memiringkan kepalanya dengan heran. Semakin lama dia berada di sini, dia semakin tak nyaman. Ingin rasanya pria itu ingin cepat-cepat balik badan dan keluar dari kamar hotel yang menyesakkan ini.
Bagaimana tidak menyesakkan? Dia berusaha menahan dirinya untuk tak berpikiran macam-macam karena harus berhadapan dengan majikannya yang mengenakan gaun hitam yang begitu terbuka.
Gaun hitam itu dengan jelas memperlihatkan lekukan tubuh Naya yang menawan. Bagian atasnya membelah begitu rendah yang membuat mata lelaki pasti tertuju ke sana.
Rambut indah Naya disanggul ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang menggantung di lehernya yang jenjang.
Sejujurnya, sedari tadi Ardi berusaha menghempaskan pikiran kotor yang bercokol di benaknya. Walau bagaimanapun, Naya adalah majikan barunya dan dia tak boleh berpikiran macam-macam.
“Duduklah,” titah Naya yang membuat dahi Ardi mengernyit semakin dalam. “Tidak, tidak… bukan di sofa itu tapi di pinggir ranjang.”
Walaupun permintaan majikannya terdengar aneh, namun Ardi tetap menurutinya. Dia duduk di pinggir ranjang dengan canggung.
Sementara itu, Naya masih berdiri di depan jendela, membelakangi Ardi. Punggung Naya yang terekspos dari balik gaunnya yang minim itu membuat Ardi menelan ludahnya pelan. Secepat kilat, Ardi menundukkan pandangannya.
Tanpa Ardi sadari, jantung Naya berdentum semakin keras. Perasaan bimbang itu terus menggelayuti dirinya. Haruskan dia menjalankan kesepakatan gila Arman, atau menyudahinya saja?
Entahlah, kepala Naya kini berdenyut pening.
“Kamu…” Naya memutar tubuhnya. “Orang yang terpilih. Bukan hanya sebagai sopir pribadiku tapi juga…” Naya menjeda kalimatnya sesaat. Sungguh, dia tak sanggup untuk mengatakan ini.
“Tapi juga apa, Nyonya?” Tanya Ardi penasaran. Dia menelengkan kepalanya sambil terus menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir merah itu.
“Tapi juga sebagai pria pengganti,” tandas Naya pada akhirnya.
“Maaf, Nyonya. Tapi saya benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Pria pengganti?” Ujung hidung Ardi nampak mengernyit. “Apa maksudnya dengan pria pengganti?”
“Jadi, kamu harus menggantikan apa yang suamiku tak bisa berikan untukku,” balas Naya yang semakin membuat Ardi tenggelam dalam kebingungan. “Arman ingin aku segera hamil.”
Naya bergerak pelan ke depan Ardi. Setiap langkah yang dia ambil terasa begitu berat. Dia tak ingin melakukan ini! Namun entah kenapa tubuhnya tetap bergerak maju.
“Nyo-Nyonya… saya sungguh tidak–”
“Jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya,” sela Naya cepat. “Ketika kita sedang berdua seperti ini, panggil aku Naya saja. Toh, kalau aku tak salah dengar dari Arman, kita seumuran.”
Bibir Ardi mengatup rapat. Kini pria itu memberanikan diri menatap mata coklat Naya yang menyorot sendu. Seperti ada kesedihan mendalam di balik sepasang mata indah itu, pikir Ardi.
“Arman menginginkan seorang anak tapi dia tak bisa melakukannya. Dia mandul,” sambung Naya. “Rahasiakan soal ini. Jadi, Arman memilihmu untuk… menghamiliku.”
Raut muka Ardi berubah pucat sekarang. Dia pikir dia salah dengar, tapi tidak. Semua yang dikatakan Naya barusan adalah kenyataan. Dia tak salah dengar ataupun sedang bermimpi.
“Nyonya, kalau ini semacam lelucon, maka ini sudah keterlaluan,” suara Ardi terdengar gemetar. Dia buru-buru bangkit dari pinggir ranjang.
“Ini bukan lelucon, Ardi. Kamu pikir untuk apa Arman menggajimu sepuluh juta per bulan hanya sebagai seorang sopir?” Ucap Naya dingin sambil menyipitkan kedua matanya. Dia merasa sudah tak ada harga dirinya lagi sekarang. “Dan kamu pikir, aku menginginkannya, hah?”
Ardi mematung di depan ranjang. Tubuhnya terasa berat untuk beranjak ke depan pintu. Sementara Naya kini sudah berada begitu dekat di depan wajahnya, menatapnya lekat.
“Kamu harus meniduriku malam ini, Ardi…” Naya mencondongkan tubuhnya. Bau alkohol kini menyusup masuk ke hidung Ardi. “Ledakkan milikmu di dalam tubuhku dan buat aku hamil. Kalau kamu berhasil, imbalan besar menunggumu…”
Ardi tercekat begitu tangan Naya merengkuh dagunya. Belum sempat pria itu melontarkan penolakan, bibir merah Naya keburu membungkam bibirnya.
Kaki Ardi melangkah ringan di sepanjang koridor. Dia menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu, tanpa ada meeting tambahan atau hal-hal mendadak lainnya.“Selamat bersenang-senang, Pak Ardi!” ucap Vita, sekretaris lamanya yang kini sudah kembali setelah cuti melahirkan. “Sampaikan salam saya pada Bu Naya dan Haryasena yang imut!”“Tentu,” Ardi mengangguk riang.Sebelum menjemput istri dan anaknya, dia berencana mampir ke toko bunga terlebih dahulu, mengambil pesanan buket bunga tulip untuk Naya.“Masih banyak waktu,” gumam Ardi saat melirik pergelangan tangannya. “Pasti Naya senang dengan kejutan kecil dariku,” lanjutnya lagi.Namun begitu Ardi baru saja masuk ke dalam mobilnya, ponselnya bergetar. Dia pikir itu telepon dari Naya, tetapi keningnya langsung mengerut tajam saat mengetahui bahwa Shannon yang meneleponnya.Ardi terdiam sejenak, membiarkan nama Shannon terus berada di layar ponselnya. Sampai akhirnya, ibu jarinya bergerak menerima panggilan itu.Tadinya, Ardi mau mengab
Sedari tadi, jemari Naya mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan gelisah di atas permukaan meja yang keras. Croissant dan air mineral di hadapannya tak tersentuh sama sekali.Jujur, dia begitu gugup menunggu kedatangan Mardani.Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada suaminya dan wanita itu. Mungkin mereka benar-benar berselingkuh?Naya menarik napasnya pelan. Di lubuk hatinya, dia tak yakin Ardi tega melakukan itu. Tapi, kalau ternyata hal itu terjadi, apa yang harus dia lakukan?“Maaf, Nyonya Naya,” sosok Mardani akhirnya muncul juga di hadapannya. Pria itu langsung menarik kursi dan menghempaskan dirinya. “Jalanan macet siang ini.”“Silakan pesan minum dulu. Aku yang bayar,” tawar Naya.Setelah secangkir latte tersaji di hadapan detektif itu, jantung Naya pun berdebar cepat. Kini, saatnya wanita itu mengetahui apa yang terjadi.“Ceritakan padaku,” tandas Naya gugup. “Semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi.”Mardani menaruh cangkir itu dan mulai membuka mulutnya. “Semala
Naya menggeliat pelan begitu dia merasakan ada sentuhan hangat di pipinya.“Ardi?” Suara Naya terdengar parau, melihat Ardi yang sudah ada di sampingnya. Wajah suaminya itu nampak lelah.“Maaf, aku jadi membangunkanmu,” tukas Ardi sedikit bersalah.“Jam berapa sekarang?” Naya menyipitkan matanya. Lalu pandangannya menangkap jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. “Lembur lagi ya? Kamu pasti capek banget.”Ardi tak menjawab. Hanya senyuman tipis yang membingkai di wajahnya.Lantas, pria itu mencium kening Naya dan menyuruh istrinya kembali tidur. Setelah itu, Ardi menenggelamkan dirinya di bathtub yang berisi air hangat.Kepalanya terkulai ke belakang sambil terus-terusan menghela napas panjang. Rasa bersalah itu kemudian menyeruak dalam dirinya.“Sungguh bodoh…” gumamnya pelan. “Seharusnya aku mengikuti kata-kata Naya untuk tak terlalu dekat dengan Shannon…”Kedua mata Ardi pun terpejam. Ingatannya seakan terlempar ke beberapa jam sebelumnya, di saat bibir Shanno
Senyuman pongah Shannon masih terekam jelas di benak Naya. Senyum yang membuat hatinya terbakar penuh amarah.‘Dia pikir aku bakal jatuh ke dalam jebakannya?’ ucap Naya dalam hati. ‘Ha, tentu saja tidak! Untuk apa aku menerima tantangan konyol itu, mengetes kesetiaan Ardi?? Yang benar saja!’“Kamu terlihat geram, Nay. Ada masalah apa?” Tanya Ardi seketika dari balik kemudinya. Sedari tadi, pria itu sesekali memperhatikan ekspresi istrinya yang terus-terusan mengernyitkan dahinya.“Apa ini soal Shannon?” Tebak Ardi lagi sambil melajukan mobilnya di tengah jalanan malam yang padat.“Huh, untuk apa aku kesal gara-gara wanita itu?” Kilah Naya. “Aku… hanya sedikit lelah.”“Maafkan aku ya. Gara-gara menemaniku kamu dan bayi kita jadi kelelahan…” Ardi menoleh sekilas ke arah Naya, memamerkan lesung pipinya yang manis.“Tidak masalah kok… Ternyata aku cukup senang juga malam ini. Sepertinya, aku harus banyak keluar rumah dan berinteraksi dengan orang-orang,” balas Naya riang.“Memang seharus






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak