LOGINSemenjak pernikahan ayahnya yang kedua, hidup Aleena tak sama lagi. ia di kucilkan dan harus menghidupi dirinya sendiri. Di satu malam, Viki Kaka tirinya Aleena hendak melecehkan Aleena, namun hal itu urung terjadi karena tiba tiba keluarganya pulang ke rumah. Viki yang gak ingin nama baiknya rusak pun menunduh Aleena menggodanya. Ayahnya Aleena saat itu percaya dengan Viki dan memgusir Aleena. Tak sampai di situ, Aleena yang hendak mencari perlindungan pada Sang kekasih harus menelan pil pahit, karena kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya. di saat putus asa, Aleena di pertemukan dengan Kevin pengacara kaya raya berstatus duda. Drama pun di mulai karena ternyata Kevin adalah ayah dari Davin teman satu kampusnya yang sering membully Aleena
View MoreAleena membeku di tempatnya berdiri. Sendok kayu yang tengah dipegangnya tertahan di udara, tepat di atas wajan yang masih mengepulkan uap hangat. Sapuan angin di tengkuknya terasa begitu dekat, hangat, dan entah mengapa memberikan efek menenangkan yang membuat bulu kuduknya meremang halus. Detak jantung Aleena mendadak berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Kehadiran Kevin di belakangnya terasa begitu dominan, mengunci seluruh pergerakannya. "Tu... Tuan Kevin..." bisik Aleena terbata, suaranya nyaris tenggelam oleh desis minyak di atas wajan. Kevin tidak langsung menjawab. Pria matang itu seolah terhipnotis oleh pemandangan di hadapannya. Jarak di antara mereka terkikis begitu tipis hingga Aleena bisa merasakan embusan napas berat Kevin menerpa pundaknya. Dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh kelembutan, Kevin mengulurkan tangan kokohnya. Ujung jarinya menyentuh beberapa helai rambut hitam Aleena yang lolos dari gelungan asal, lalu menyingkirkannya ke samping dengan b
Beberapa hari kemudian, keajaiban dari daya tahan tubuh anak muda benar-benar terbukti. Kondisi fisik Aleena menunjukkan pemulihan yang sangat signifikan. Dokter keluarga Kevin akhirnya melepas gips dan perban yang selama ini membungkus tubuh ringkihnya, menyisakan beberapa lebam samar yang mulai memudar. Meskipun langkah kakinya masih agak terpincang-pincang akibat sisa nyeri di sendi, Aleena menolak untuk terus berdiam diri di dalam kemewahan kamar lantai tiga.Pagi itu, dengan tekad bulat untuk membalas budi, Aleena mulai mencicil pekerjaan rumah. Ia mengawalinya dengan merapikan ruang tamu besar dan menyapu lorong lobi utama. Baginya, setiap sudut mansion ini terlalu indah, dan ia tidak ingin dicap sebagai parasit pemalas yang hanya tahu menumpang hidup.Davin yang baru saja melangkah masuk melewati pintu jati utama setelah menyelesaikan kelas paginya, mendadak menghentikan langkah. Sepasang matanya langsung menangkap siluet Aleena yang tengah membungkuk, menekan tongkat pel denga
"Apaan sih lo pada kaget begitu?" sergah Davin, mengedarkan pandangan tajamnya demi meredam gejolak heran dari teman-temannya.Ia berdeham pendek, mencoba mencari alasan paling logis yang tidak akan mengorbankan harga dirinya di depan geng kampus. "Mulai sekarang, jangan lagi ganggu si Aleena. Kita belajar aja yang bener. Sebentar lagi skripsi, dan gue gak mau gagal lagi. Ayah udah kasih ultimatum, kalau kali ini gue gagal, bakal dikirim ke luar negeri buat urus cabang perusahaan di sana!" bohong Davin—meski tidak sepenuhnya salah, sebab Kevin memang selalu menuntut nilai akademik yang sempurna darinya.Leon yang awalnya bersiap meledek, langsung terdiam begitu mendengar kata 'luar negeri' dan 'skripsi'. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal, ikut membayangkan kemarahan orang tuanya sendiri jika sampai mengulang semester."Bokap gue juga sama, udah kasih peringatan keras semalam. Kalau IPK gue jeblok lagi, fasilitas mobil bakal ditarik," aku Leon, seketika kehilangan minat untuk mer
"Sepertinya kau sangat nyaman tidur di sini," sindir Davin. Suaranya terdengar begitu tajam dan mengintimidasi di dalam kamar yang sunyi itu.Aleena yang baru saja berbaring dan memejamkan matanya seketika membelalak. Ia langsung memaksakan tubuhnya untuk bangun dan duduk bersandar, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang mendadak tak ia rasakan karena kalah oleh rasa syok.Tubuh gadis itu gemetar hebat menatap Davin yang berdiri angkuh di ujung ranjang. Bayangan ember berisi air es semalam seolah kembali membayangi kepalanya. Dengan kedua tangan yang saling meremas selimut, Aleena menatap Davin dengan pandangan memohon yang amat sangat."Davin, aku... aku mohon jangan ganggu aku. Aku hanya ingin bekerja di sini, untuk mencari makan," ratap Aleena. Air matanya mengalir begitu deras membasahi pipi, menyuarakan keputusasaan seorang gadis yang telah kehilangan segalanya dan kini hanya ingin bertahan hidup.Melihat Aleena yang begitu ketakutan karena dirinya, ditambah pernyataan p












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.