MasukKisah cinta segitiga antara Zikria Hafidz Shiddique, Asmiratih Kirania Bryatta, dan Lova Restisalya Hanasta Padmana. Akibat lamarannya ditolak Asmiratih, Zikria memutuskan untuk melupakan gadis itu dan berpaling pada Lova. Setelah menyadari kesalahannya, Asmiratih memberikan pilihan pada Zikria, untuk memilihnya atau Lova. Sebab hati Zikria masih terpaut pada Asmiratih, maka dia memutuskan guna kembali menjalin hubungan dengan gadis itu. Zikria menemui Lova guna menjelaskan keputusannya untuk kembali pada Asmiratih, dan hal itu membuat Lova kecewa serta marah. Lova melakukan tindakan nekat yang menyebabkan pertemanannya dengan Zikria dan Asmiratih, memburuk. Lova juga menyumpahi pasangan tersebut dengan kalimat buruk, yang ternyata benar-benar jadi kenyataan. *** Bodyguard The Series 13 Urutan novel Bodyguard The Series : 1. My Handsome Bodyguard 2. Penjaga Hati 3. Tawanan Cinta Nona CEO 4. Pabeulit Cinta Akang 9. Running Away 10. Sang Pewaris Goodnovel : 5. My Lovely Bodyguard. Tamat. 6. Jaring Cinta Sang Bodyguard. Tamat 7. Terjerat Daun Muda. Tamat 8. Cutie Bodyguard. Tamat 11. Ajudan Selembe. Tamat 12. Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta. On Going. Tayang tiap hari. 13. Kesengsem Ajudan Caem
Lihat lebih banyak01
"Dek, nikah, yuk!" ajak Zikria Hafidz Shiddique.
Asmiratih Kirania Bryatta tertegun sesaat, lalu dia menyahut, "Nggak mau."
Raut wajah semringah yang semula ditampilkan Zikria, mendadak berubah masam. Pria berkumis tipis itu mengamati perempuan yang telah menjadi kekasihnya, sejak 2 tahun silam.
"Aku sudah melamarnu 6 kali, dan ini yang terakhir," tukas Zikria. "Karena kamu menolak, maka aku nggak akan maksa," lanjutnya.
"Abang nggak nanya, alasanku apa?" tanya Asmiratih.
"Jawabanmu pasti sama dengan yang kemaren. Kamu belum siap nikah dan berhenti kerja," jelas Zikria.
"Yups, tepat banget."
"Okay, it's done. Aku menyerah." Zikria berdiri. "Aku pergi," sambungnya sebelum berbalik dan jalan pelan sambil menghitung dalam hati.
Tepat di hitungan ketujuh, Asmiratih memanggil. Zikria tetap bergeming dan menunggu gadis itu menyambanginya.
"Kunci mobilnya ketinggalan," ucap Asmiratih sembari mengulurkan benda yang dimaksud.
Zikria mengerutu dalam hati. Pada awalnya dia yakin dipanggil Asmiratih, karena perempuan itu berubah pikiran. Namun, ternyata gadis berparas ayu tersebut hanya ingin mengantarkan kunci mobil.
Zikria meraih benda itu dari tangan Asmiratih. Tanpa mengatakan apa pun, pria berkemeja biru muda tersebut melangkah menuju pintu keluar restoran.
Asmiratih mengamati lelaki yang disayanginya itu, seraya mengulum senyuman. Dia tahu jika Zikria tengah merajuk, dan nantinya pria tersebut akan bersikap seperti biasa.
"Bersabarlah, Bang. Tinggal sedikit lagi. Setelah pekerjaanku beres, lamar lagi dan aku akan bilang iya," gumam Asmiratih.
Perempuan bergaun salem itu melebarkan senyuman. Dia senang, karena berhasil mengerjai Zikria. Asmiratih yakin jika pria tersebut akan kembali meminangnya, karena Zikria sangat mencintai Asmiratih, dan telah mendapatkan restu dari seluruh anggota keluarga Bryatta.
Langit siang bergerak cepat menuju petang. Hujan deras yang turun sejak 1 jam lalu, membuat langit tampak gelap. Hingga akhirnya sang surya benar-benar tenggelam di garis cakrawala.
Awal malam itu, Asmiratih telah tiba di unit apartemen yang disewanya selama 6 bulan terakhir. Asmiratih meletakkan barang bawaan ke meja pantry dan berbincang sesaat dengan Ferlita, sepupunya, yang tengah memanggang kue di dapur.
Asmiratih melenggang menuju kamar depan. Dia bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu berwudu. Asmiratih keluar dari toilet dan jalan menuju jendela. Dia meraih sajadah dari rak dan menghamparkan benda itu ke lantai.
Selama sekian menit berikutnya, Asmiratih bersimpuh dan memanjatkan doa setulus hati. Kala bayangan Zikria melintas dalam benak, dia langsung mendoakan pria tersebut.
Sementara itu di tempat berbeda, orang yang tengah dipikirkan Asmiratih, sedang duduk di sofa tunggal sambil memegangi mushaf kecil. Zikria melantunkan ayat suci dengan suara merdu khas qori, guna menenangkan hatinya yang resah.
Zikria benar-benar sudah menyerah untuk mengajak Asmiratih menikah. Kedekatan mereka yang selama 2 tahun, membuat hati Zikria telah dikuasai sepenuhnya oleh perempuan tersebut.
Zikria berjuang untuk menikahi Asmiratih, karena pria itu tidak mau terus menjadi bujangan. Usianya sudah 32 tahun dan telah sukses dalam karier, hingga Zikria yakin untuk meminang Asmiratih.
Akan tetapi, lamaran yang telah enam kali diajukan Zikria, semuanya ditolak Asmiratih. Meskipun paham dengan maksud penolakan itu adalah urusan pekerjaan, dan bukan karena pribadi, tetap saja Zikria kecewa.
Pria bermata sipit itu sudah menegaskan pada diri, jika lamaran tadi siang adalah yang terakhir diajukannya. Zikria lelah untuk terus menunggu dan memutuskan buat menenangkan diri, sebelum menyusun rencana lain untuk kehidupannya.
Dering ponselnya mengejutkan Zikria. Dia menyambar benda itu dari meja, lalu segera mengangkat panggilan dari bosnya.
"Assalamualaikum," sapa Zikria.
"Waalaikumsalam," jawab Wirya Arudji Kartawinata, presiden komisaris GUNZ, tempat Zikria bekerja. "Posisi, di mana, Zik?" tanyanya.
"Di Shanghai," terang Zikria.
"Habis ngapel Asmi?"
"Hu um."
"Bisa ke Beijing?"
"Kapan?"
"Besok pagi berangkat. Malamnya, temani Yuwen ke acara film."
"Oh, Abang nggak ikut?"
"Enggak. Zayd lagi demam. Aku ngalah dan tinggal di sini."
"Okay, aku siap."
"Yuwen sudah beliin kamu setelan tuksedo, supaya matching sama gaunnya."
"Semoga bukan pinky."
"Enggak, dia pakai fuchsia."
"Girly banget."
"Sekali-sekali kamu pakai jas warna genjreng. Bajumu gelap semua."
"Ada yang cerah, Bang."
"Cuma putih, biru muda, hijau muda dan krem. Lainnya, butek."
"Abang perhatian, gitu, aku jadi terharu."
"Jangan merayu. Kamu pasti mau minta uang saku."
"Beuh! Ketahuan."
***
Minggu berganti. Zikria telah kembali ke Jakarta. Dia beristirahat sehari di rumahnya, kemudian mengunjungi kediaman Aditya Bryatta, Kakak tertua Asmiratih.
Zikria menerangkan maksud kedatangannya yang menyebabkan Aditya tercenung. Pria yang dijuluki sebagai Abang wajah datar oleh para pengawal junior itu, memandangi pria di kursi seberang, yang diharapkannya menjadi ipar.
"Jangan menyerah dulu, Zik. Berjuang sekali lagi," pinta Aditya.
"Aku sudah nunggu selama 2 tahun, Bang. Aku nggak bisa nunggu lagi," tutur Zikria. "Orang tuaku sudah mendesak agar aku segera menikah, karena mereka nggak mau aku dilangkahi Zelia dan Panji," lanjutnya.
"Aku sudah bilang, nggak apa-apa kalau mereka yang nikah duluan, tapi semua keluargaku kompak menolak," tambah Zikria.
"Aku lupa, berapa umur mereka sekarang?" tanya Aditya.
"Zelia, 27, mau 28. Panji, 29."
"Hmm, pantas orang tuamu maksa. Mereka nggak mau Zelia ketuaan buat nikah."
"Ya. Keluarganya Panji juga sudah melamar Zelia. Mereka siap nikah kapan pun."
Aditya menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Aku paham, Zik. Ini memang masalah yang rumit."
"Syukurlah kalau Abang ngerti. Aku cuma mau melangkah dengan tenang dan mencari pasangan hidup, tanpa ada kesalahpahaman di antara kita."
Aditya mengangguk mengiakan. "Jujur, aku masih ingin kamu bertahan. Mungkin pikiran Asmi akan berubah. Tapi, aku nggak bisa egois dan maksa kamu, Zik. Karena kamu yang menjalani kehidupan, bukan aku."
Sementara itu di Shanghai, Asmiratih yang tengah terlelap, terbangun karena mimpi buruk. Dia memegangi dada sembari mengatur napasnya yang memburu.
Asmiratih tidak paham, kenapa mimpi itu mendatanginya kembali. Padahal peristiwa buruk tersebut sudah berlalu lebih dari 2 tahun, sebelum dia memutuskan untuk cuti sebagai bodyguard lady PBK, dan berganti profesi sebagai model serta aktris drama pendek di China.
Asmiratih ditawari pekerjaan itu dari Chen Production, salah satu agensi terbesar di China. Chen Baldwin, direktur utama perusahaan itu, tertarik dengan kemampuan bela diri Asmiratih, saat perempuan itu menjadi stuntwoman buat Liu Yuwen Vanetta Zeline, istri Wirya, yang merupakan aktris terkenal dari Tiongkok.
Asmiratih yang sering mengawal Vanetta syuting, beberapa kali menjadi pemeran pengganti Vanetta. Hingga Chen Baldwin menawarkan pekerjaan yang akhirnya diterima Asmiratih.
Perempuan berkulit putih itu menyerahkan semua urusan kontrak kerjanya pada Shen Emilly, yang juga manajer Vanetta. Sebelum menetap di Shanghai, Asmiratih pernah tinggal di Hong Kong selama setahun, dan menumpang di rumah Liu Gideon, papanya Vanetta.
Sekian menit berlalu, Asmiratih telah berpindah ke sofa ruang tengah. Dia menonton televisi sambil menyesap susu cokelat hangat.
Asmiratih mengalihkan pandangan ke sofa tunggal. Dia seolah-olah bisa melihat sosok Zikria, yang akan menempati kursi itu jika tengah berkunjung.
Asmiratih merindukan pria tersebut, yang selalu berusaha melindungi dan memperlakukannya dengan sangat baik. Tidak seperti mantan kekasihnya yang lain, Zikria tidak pernah mau duduk berdampingan dengan Asmiratih.
Hal itu dilakukan Zikria, karena dia benar-benar ingin melindungi kesucian Asmiratih. Mereka juga tidak pernah bergandengan tangan, apalagi berpelukan. Jika hendak pulang ke Indonesia, Zikria hanya mengusap rambut Asmiratih sekali, kemudian dia mengecup kedua jemari dan menempelkan jemarinya ke pipi Asmiratih.
"Bang, aku kangen," bisik Asmiratih.
Gadis berpiama merah itu mengerjapkan matanya yang memanas. Asmiratih menghela napas berat dan melepaskannya sekali waktu, guna mengusir rasa sesak yang menyeruak dalam dada.
"Aku bereskan kerjaan dulu, Bang. Setelah itu aku pulang, dan kita langsung nikah," cakap Asmiratih, sembari terus memandangi bayangan Zikria, yang perlahan memudar, lalu menghilang tanpa jejak.
93Yao Scott memerhatikan para ajudan senior di sekelilingnya. Putra sulung keluarga Yao itu membatin, jika rekan-rekannya itu tidak ada yang tidak terluka. Semuanya menderita memar, bahkan ada yang luka cukup parah.Tatapan Yao Scott berhenti pada pasien di ranjang. Lelaki muda itu terlihat pucat kesi, seusai mengalami dua tusukan dalam di paha dan perutnya. Yao Scott membisikkan sesuatu pada Muyang, yang membalas dengan anggukan.Yao Scott mendekati sekelompok orang yang merupakan keluarga dan kerabat Herjuno. Yao Scott berdeham untuk menarik perhatian orang-orang tersebut, sebelum dia merunduk untuk memberi hormat, yang segera dicegah Mahesa."Aku memberi penghormatan pada kalian, sebagai ucapan terima kasih, sekaligus penyesalan terdalamku, hingga Herjuno terluka parah," tutur Yao Scott setelah menegakkan badannya."Tuan tidak perlu menghormat," sahut Mahesa dalam bahasa Inggris. "Adikku terluka, itu sudah takdirnya," lanjutnya. "Pakai bahasa Mandarin, Sa," goda Zulfi.Mahesa men
92 "Mas, bisa tolong obatin?" tanya Aditya, seusai melepaskan jaketnya.Fachri menyambangi Ajudan Selembe dan memeriksa luka di sepanjang lengan kanan pria tersebut. "Duduk dulu, Om," ucapnya, sembari berdiri dan memberikan kursinya "Kena apa ini?" desaknya sambil mengamati luka itu."Pedang pendek Ruan Haakon," terang Aditya."Aku bersihkan dulu. Tahan, ya. Agak perih." Dokter muda itu meraih botol alkohol dan gumpalan kapas, serta kasa. "Zid, tolong ambilkan obat luka," pintanya, sebelum memulai tugasnya. Aditya meringis menahan perih saat lukanya dibersihkan. Dia mengaduh ketika Fachri menekan area paling dalam dengan kasa, supaya bagian itu bisa dibersihkan secara maksimal.Bayazid mendekat sambil membawa cairan obat tradisional Tiongkok. Setelah Fachri mundur, Bayazid mengoleskan obat itu ke tangan Aditya, dengan hati-hati. "Bang, Ruan Haakon, di mana?" tanya Mahesa, yang baru meletakkan Ruan Eadwald ke kasur tipis."Kukunci di container belakang," jelas Aditya dengan santai.
91Suasana di sekitar area gudang Yao Company, di timur Kora Shanghai, dini hari itu sangat sunyi. Belasan petugas keamanan yang berjaga di sana, bergantian mengelilingi area sekitar dengan menggunakan motor listrik. Supaya bisa meminimalisir suara kendaraan saat bertugas.Detik bertukar menjadi menit. Ratusan pasang mata mengawasi layar besar di dalam gudang utama, yang menampilkan video dari empat penjuru area luar, sekaligus jalanan di sekitarnya. Tidak ada seorang pun yang urun suara. Mereka menghemat tenaga dan tetap diam, sambil sekali-sekali berbincang di grup pesan. Beberapa lampu kendaraan muncul dari sisi utara. Sebagian orang itu berdiri, lalu melemaskan tangan dan kaki. Sha Jun Hui memerintahkan anak buahnya untuk keluar dari pintu samping kiri. Sedangkan kelompok kedua pimpinan Yin Sueh-yn, keluar dari pintu kanan.Puluhan perempuan yang sejak tadi bersembunyi di sepanjang balkon lantai dua, mendengarkan arahan Zikria, melalui alat khusus di telinga masing-masing. Puspa
90Asmiratih dan Ferlita, memandangi puluhan orang berjaket biru tua yang tengah bergerak memasuki kereta api cepat. Kedua perempuan tersebut berdoa setulus hati, agar rekan-rekan mereka bisa selamat dan sanggup menuntaskan tugas dengan baik.Ferlita mengajak Asmiratih kembali ke mobil. Langkah mereka diikuti kedua kru film yang merupakan sahabat Zhu Hadwin, yang bertugas menjaga keselamatan Asmiratih serta Ferlita. Kereta api beranjak meninggalkan stasiun Kota Nanxun sesuai jadwal. Satu gerbong yang diborong tim PBK, menjadikan penumpang lain bertanya-tanya tentang identitas mereka. Sepanjang perjalanan itu, Zikria tidur. Dia mencuri waktu istirahat, untuk merecharge tenaga. Guna bersiap-siap menghadapi pertempuran di titik tujuan.Setibanya di stasiun Shanghai, rombongan PBK dijemput Li Fengjun yang memang bertugas di sana. Koko tertua Li Mye Na tersebut mengajak mereka menaiki bus Hotel CJC, lalu dia menerangkan pada Zikria, tentang kesiapan anggota mereka di lokasi. Li Fengjun j
03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang mas
06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T
04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita d


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan