Share

Bab 06

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-06-16 11:37:24

06

Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. 

Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang dilakukan di salah satu rumah sakit swasta terkenal di Singapura, awal tahun ialu. 

Perempuan berhidung bangir itu melirik Zikria yang berada di samping kiri. Dia berulang kali mendengar ucapan maaf lelaki tersebut, yang ditujukan pada Lova dan keluarga Padmana. 

Asmiratih mengarahkan pandangan ke depan. Lambaian dedaunan yang tertiup pohon itu seakan-akan menghipnotisnya, dan membuat Asmiratih terus memandangi daun yang tertiup angin. 

"Dek, kita pulang," ajak Zikria yang sukses memutus lamunan gadis di sebelah kanannya. 

Asmiratih tidak menjawab dan hanya mengangguk. Keduanya berdiri, lalu jalan menyusuri lorong panjang rumah sakit, di mana Lova dilarikan ke sana tadi siang, dan tengah mendapatkan perawatan intensif. 

Sekian menit berikutnya, pasangan tersebut telah berada di mobil SUV biru tua milik Zikria. Pria tersebut menyetir tanpa mengatakan apa pun. Begitu pula dengan Asmiratih. 

Mendekati kompleks perumahan yang mereka tempati, Zikria menepikan mobil dan berhenti di depan deretan rumah toko. Zikria mematikan mesin, lalu melepaskan sabuk pengaman. 

"Turun dulu, Dek. Kita makan," ujar Zikria. 

"Bungkus aja, Bang," balas Asmiratih. 

"Mau pesan apa?" 

"Ayam bakar plus nasi uduk. 10 porsi. Sama tahu dan tempe goreng."

Zikria kembali menyalakan mesin, kemudian dia memasang rem tangan. Pria berkemeja putih itu membuka pintu, lalu turun sambil menutup lawang dengan pelan. 

Selama puluhan menit selanjutnya, Asmiratih melamun. Dia merunut peristiwa dari 4 bulan lalu hingga hari itu, sembari sekali-sekali bergumam. 

Kala Zikria kembali, Asmiratih mengambil dua kantung plastik bening yang diulurkan pria tersebut. Asmiratih meletakkan kantung ke dekat kaki, sebelum merapikan duduknya. 

"Mau dianter ke mess, atau rumah Bang Adit?" tanya Zikria sembari mengemudi. 

"Enggak ke dua-duanya," sahut Asmiratih. 

"Terus, ke mana?" 

"Rumah Bang W. Aku mau diskusi dengan beliau. Sekalian nginap." 

"Aku juga mau ke situ. Makanya aku beli banyak tadi. Di sana always rame ajudan." 

Setibanya di tempat tujuan, Zikria memarkirkan mobil di carport. Asmiratih keluar lebih dulu sambil membawa kantung plastik. Dia mendekati pintu garasi dan membukanya dengan tenang. 

Sapaan salam Asmiratih dijawab banyak orang dari dalam. Dia terus melenggang memasuki ruang makan yang berhubungan langsung dengan garasi. 

Zikria menyusul sambil mengucapkan salam. Dia menyambangi pasangan pemilik rumah dan menyalami mereka dengan takzim. Kemudian Zikria berpindah menyalami keempat anak Wirya dan ketiga pegawai, yang tengah berada di sofa ruang tengah. 

"Sudah makan?" tanya Vanetta. 

"Belum. Ini baru mau," sahut Asmiratih. 

"Aku beli ayam bakar paket komplet. Kita makan sama-sama," ajak Zikria. 

Sepanjang acara bersantap itu, Wirya mengamati Zikria yang tampak lesu. Wirya sudah mengetahui peristiwa yang terjadi di kantor PBK tadi siang, dan dia menduga bila hal itulah yang tengah dipikirkan Zikria. 

Seusai makan, Zikria dan Asmiratih meminta waktu bicara dengan Wirya. Pria berkaus putih itu mengajak keduanya menuju ruang kerja yang berada di lantai dua. 

Setelah duduk berdampingan di sofa panjang, Zikria menceritakan tentang peristiwa tadi siang hingga beberapa jam lalu, sebelum dia dan Asmiratih melamun di taman rumah sakit. 

"Dia sebetulnya sakit apa?" tanya Wirya, ketika Zikria usai bercerita. 

"Kata papanya, penyempitan pembuluh darah di otak," jelas Zikria. 

"Sudah diobati?" 

"Sudah. Januari kemarin, dia operasi kedua. Operasi pertama, pertengahan tahun lalu." 

"Hmm, tadi sore aku nelepon Mardi. Dia bilang, Lova memang sempat absen di rapat PCE, dan semua proyek dialihkan ke dirops Padmana. Tapi, Mardi beneran nggak tahu kalau Lova operasi di Singapura." 

"Memang dirahasiakan, Bang," tukas Zikria. "Jangankan Bang Mardi, Ibu kandungnya aja nggak tahu," lanjutnya. 

Wirya mengerutkan dahi. "Kenapa dirahasiakan dari Bu Iffah?" 

"Kata Bu Norma, supaya Bu Iffah nggak panik. Di sana, suaminya juga lagi sakit." 

"Pak Jabir?" 

"Hu um. Kena stroke, katanya." 

Wirya mendengkus pelan. "Pantas saja, Lova temperamental. Dia pasti nahan sakit dari dulu." 

"Tadi ada Agnia, dan dia bilang, Lova sudah sering ngeluh sakit kepala, sejak hampir 3 tahun lalu." 

"Harusnya diperiksa sejak lama." 

"Takut, katanya." 

"Tapi, sekarang dia sudah beneran sembuh, kan?"

"Masih menunggu hasil observasi, Bang. Rencananya, awal Januari nanti dia mau kontrol lagi." 

"Semoga beneran sembuh. Aku ngeri, ada yang bernasib sama dengan almarhumah Kak Iis." 

Zikria manggut-manggut. "Ehm, Bang. Ini tentang proyek yang diputus sepihak sama Lova. Gimana?" 

"Enggak apa-apa. Kita tetap tuntaskan sampai beres. Mengenai modalnya yang mau ditarik, lagi dihitung sama Zulfi dan Ari." 

"Lalu, tentang pemutusan kontrak sekuriti. Aku jadi nggak enak hati. Tim PB pasti pusing mau nempatin mereka di mana? Hampir 100 orang itu." 

"Tenang aja. Dimas dan tim-nya pasti menemukan solusi." 

Zikria mendengkus pelan. "Aku nggak nyangka, bakal jadi kacau kayak gini." 

"Ujian hidup, Zik. Jalani aja, sambil terus memperbaiki kualitas diri." Wirya memandangi pasangan yang sama-sama tampak kusut. "Sekarang, kalian pulang. Mandi. Salat. Lanjut tidur awal," cakapnya. 

"Aku mau nginap di sini. Baju ganti sudah siap," terang Asmiratih. 

"Aku juga mau nginap. Suntuk. Di rumah nggak ada teman ngobrol," imbuh Zikria. 

"Hmm, Asmi tidur sama Ghazwa. Kamu isi kamar tamu yang dekat garasi, Zik," lontar Wirya. "Kalau kalian nginap bareng di lantai 1, nanti bakal jadi gosip. Walaupun kalian beda kamar," sambungnya, yang dibalas anggukan kedua juniornya. 

Olivia Yoyet

Hai. Ketemu lagi dengan Emak OY. Kali ini, giliran Zikria yang naik panggung. Dukung terus Emak, dengan tambahkan buku ini ke rak pustaka. Baca runut, ya, supaya nggak ketinggalan info ^^

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mispri Yani
Sabar Zik ini ujian hidup kamu sama Asmi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 44

    44Asmiratih mengulum senyuman, seusai mendengar penuturan Zikria tentang kejadian di rumah keluarga Tong, kemarin malam.Asmiratih membayangkan ekspresi wajah pria di seberang telepon, yang akan terlihat semringah jika menerangkan kegiatan sehari-harinya. Perempuan berjilbab abu-abu itu sangat merindukan lelaki tersebut, dan itu membuat dadanya sakit akibat rasa kangen yang luar biasa. "Abang, kapan mau pulang?" tanya Asmiratih. "Beberapa hari lagi," sahut Zikria. "Waktu itu bilangnya seminggu sebelum lebaran. Harusnya hari ini, kan?" "Ditunda, Dek. Aku mesti menyelesaikan semua kerjaan. Dikit lagi." Asmiratih mendengkus pelan. "Abang beneran mau nikah nggak, sih?" "Maulah. Masa nggak mau? Aku sudah nungguin kamu 2 tahun lebih." "Makanya, pulang!" "Sstt! Jangan marah. Lagi puasa." "Aku sedang libur." "Oh, tamunya sudah datang?" "Hu um.""Good. Berarti malam pertama, aku bisa langsung kultivasi." "Heh! Mesum!" "Enggak apa-apalah. Mesumnya ke kamu, doang." "Aku langsung

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 43

    43Deru mesin kendaraan yang tengah mendekat, mengejutkan beberapa penjaga di bagian depan rumah besar, di kawasan elite selatan Kota Guangzhou. Mereka segera melapor pada ketua penjaga, yang meminta semua anak buahnya bersiap-siap untuk menghadapi serangan musuh tak dikenal. Seisi rumah seketika panik. Para perempuan dan anak-anak, serta orang tua, diungsikan ke ruang rahasia, yang memiliki jalan tembus ke garasi belakang. Sementara semua pria di keluarga itu mengeluarkan senjata masing-masing. Bunyi benturan keras terdengar dari gerbang utama. Disusul pekikan para penjaga, yang tengah berusaha menghalau puluhan orang berseragam biru tua, dan memakai masker gelap, yang telah keluar dari banyak mobil jeep serta van.Tong Herald, putra tertua keluarga tersebut, mengamati pertempuran itu dari teras depan. Dia bingung, karena para penyerbu tidak menggunakan senjata tajam atau pun senapan. Mereka hanya memakai tongkat besi dan tombak yang ujungnya tumpul, serta tongkat hitam khas satuan

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 42

    42Sekelompok orang yang raut wajahnya terlihat tegang, muncul dari pintu depan ruang ICU VIP. Mereka mendatangi keluarga Zhou yang seketika berdiri dari kursi, guna menyalami mereka. Zhou Yiran terisak-isak dalam pelukan papanya. Meskipun hubungan mereka sempat memburuk, tetapi selama beberapa bulan terakhir, mereka telah berbaikan dan berusaha memperbaiki keadaan.Dimas mendengarkan penuturan Koko iparnya, yang masih tampak syok. Zhou Yongrui menerangkan kronologi perkelahian serta penusukan pada Zhou Dingbang, berdasarkan informasi dari kedua asisten Zhou Dingbang dan beberapa rekan mereka, yang juga terluka akibat insiden itu. Cheung Xiuhuan dan Dokter Chan yang menangani Zhou Dingbang, muncul dari dalam ruang ICU. Mereka menyalami semua tamu yang baru datang dari Indonesia, kemudian keduanya bergantian menerangkan kondisi pasien yang masih koma. Zhou Yiran menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Tangisannya mengencang, sebelum dipeluk Dimas sembari ditenangkan pria tersebut. C

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 41

    41Asmiratih mengerjapkan matanya yang memanas, sembari memandangi punggung calon suaminya yang bergerak menjauh. Asmiratih menekan-nekan ujung matanya dengan tisu, sebelum berbalik dan jalan ke tempat parkir bersama Ferlita, Zelia, dan Panji.Setibanya di tempat tujuan, keempatnya menaiki mobil van besar berlogo tour and travel PBK. Sang sopir segera melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, hingga kendaraan menjauhi area bandara.Asmiratih memandangi luar kaca dengan tatapan kosong. Hatinya gelisah, karena Zikria pergi menjelang pernikahan mereka. Padahal seharusnya pria itu sudah stand by di Indonesia, dan tidak keluyuran ke luar negeri. Malam beranjak larut, tetapi mata Asmiratih tak kunjung memejam. Lelah untuk mencoba tidur, akhirnya Asmiratih menyambar ponsel cashing merah dari meja rias, dan mengaktifkan benda itu.Asmiratih kaget kala ratusan notifikasi grup masuk secara bersamaan, hingga ponselnya mendadak eror. Asmiratih menunggu hingga benda itu bisa digunakan, kemudia

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 40

    40Hari berganti. Akhir pekan itu, Zikria pergi ke rumah calon Ayah mertuanya, untuk melakukan acara buka puasa bersama. Zikria berangkat bersama Zelia, Kenji, Rishian, dan Dhriti. Sebab seusai salat Tarawih nanti malam, mereka akan langsung mudik ke Bogor. Selain Zikria dan rekan-rekannya, beberapa sahabat Asmiratih juga ikut datang. Dari Tangerang, mereka akan langsung pulang ke rumah orang tua masing-masing, guna menghabiskan waktu bersama keluarga. Tepat jam setengah lima sore, acara dimulai dengan salam dan salawat, yang dituturkan dengan fasih oleh Nareswara Bryatta, putra ketiga keluarga itu. Selanjutnya Zikria melantunkan ayat suci, dan terjemahannya dibacakan Mahesa. Seorang Ustaz kenalan pemilik rumah, memberikan tausiah yang menyejukkan hati para jemaah. Ketika sang ustaz mengajukan pertanyaan tentang keagamaan, yang mengacungkan tangan hanya segelintir orang. Termasuk Zikria dan keempat adiknya. Kelima orang tersebut menerangkan jawaban mereka dengan lugas. Ustaz berko

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 39

    39Jalinan waktu terus bertukar. Bulan Ramadan tiba dan membuat gembira seluruh umat muslim di dunia. Tidak terkecuali Asmiratih. Dia sangat antusias menyambut bulan suci, dengan belajar mengubah penampilan diri.Kemunculannya di kantor GUNZ pagi itu, menjadikan semua orang tertegun. Asmiratih mengayunkan tungkai seraya tersenyum kepada teman-temannya, yang masih takjub dengan penampilannya yang berbeda dari kemarin.Asmiratih mengetuk pintu ruang rapat direksi, kemudian dia mendorong lawang dan melongok ke dalam. Asmiratih tersenyum lebar ketika orang-orang di ruangan itu kompak terdiam melihatnya masuk."Assalamualaikum," sapa Asmiratih sembari melenggang dengan santai."Waalaikumsalam," jawab semua orang di sana."Dek, aku nggak lagi mimpi, kan?" tanya Zikria, sembari terus memandangi gadis bersetelan blazer ungu tua dan jilbab ungu muda."Enggak, Bang," jawab Asmiratih, setelah dia berhenti dan duduk di kursi samping kanan Gwenyth. "Aku lagi belajar pake jilbab. Jangan dibully, ya

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 03

    03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang mas

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 02

    02Bulan bertukar dengan cepat. Asmiratih berhasil mengerjakan semua tugasnya lebih awal 2 bulan dari waktu yang telah disepakati. Dia menolak semua tawaran pekerjaan tambahan, karena ingin kembali ke profesi awalnya sebagai bodyguard lady. Asmiratih dan Ferlita segera mengemasi semua barang merek

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 01 - Penolakan

    01"Dek, nikah, yuk!" ajak Zikria Hafidz Shiddique. Asmiratih Kirania Bryatta tertegun sesaat, lalu dia menyahut, "Nggak mau." Raut wajah semringah yang semula ditampilkan Zikria, mendadak berubah masam. Pria berkumis tipis itu mengamati perempuan yang telah menjadi kekasihnya, sejak 2 tahun sila

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 10

    10 Zikria mendengarkan penuturan Dzardi Charand, Adik Dzafri Chalondra, yang merupakan anggota tim rahasia. Zikria telah meminta Dzardi untuk mengikuti Lova ke mana pun gadis itu pergi, karena direktur operasional PBK itu mengetahui kegemaran Lova akan dunia hiburan malam. Kenal sejak belasan tah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status