Masuk
01
"Dek, nikah, yuk!" ajak Zikria Hafidz Shiddique.
Asmiratih Kirania Bryatta tertegun sesaat, lalu dia menyahut, "Nggak mau."
Raut wajah semringah yang semula ditampilkan Zikria, mendadak berubah masam. Pria berkumis tipis itu mengamati perempuan yang telah menjadi kekasihnya, sejak 2 tahun silam.
"Aku sudah melamarnu 6 kali, dan ini yang terakhir," tukas Zikria. "Karena kamu menolak, maka aku nggak akan maksa," lanjutnya.
"Abang nggak nanya, alasanku apa?" tanya Asmiratih.
"Jawabanmu pasti sama dengan yang kemaren. Kamu belum siap nikah dan berhenti kerja," jelas Zikria.
"Yups, tepat banget."
"Okay, it's done. Aku menyerah." Zikria berdiri. "Aku pergi," sambungnya sebelum berbalik dan jalan pelan sambil menghitung dalam hati.
Tepat di hitungan ketujuh, Asmiratih memanggil. Zikria tetap bergeming dan menunggu gadis itu menyambanginya.
"Kunci mobilnya ketinggalan," ucap Asmiratih sembari mengulurkan benda yang dimaksud.
Zikria mengerutu dalam hati. Pada awalnya dia yakin dipanggil Asmiratih, karena perempuan itu berubah pikiran. Namun, ternyata gadis berparas ayu tersebut hanya ingin mengantarkan kunci mobil.
Zikria meraih benda itu dari tangan Asmiratih. Tanpa mengatakan apa pun, pria berkemeja biru muda tersebut melangkah menuju pintu keluar restoran.
Asmiratih mengamati lelaki yang disayanginya itu, seraya mengulum senyuman. Dia tahu jika Zikria tengah merajuk, dan nantinya pria tersebut akan bersikap seperti biasa.
"Bersabarlah, Bang. Tinggal sedikit lagi. Setelah pekerjaanku beres, lamar lagi dan aku akan bilang iya," gumam Asmiratih.
Perempuan bergaun salem itu melebarkan senyuman. Dia senang, karena berhasil mengerjai Zikria. Asmiratih yakin jika pria tersebut akan kembali meminangnya, karena Zikria sangat mencintai Asmiratih, dan telah mendapatkan restu dari seluruh anggota keluarga Bryatta.
Langit siang bergerak cepat menuju petang. Hujan deras yang turun sejak 1 jam lalu, membuat langit tampak gelap. Hingga akhirnya sang surya benar-benar tenggelam di garis cakrawala.
Awal malam itu, Asmiratih telah tiba di unit apartemen yang disewanya selama 6 bulan terakhir. Asmiratih meletakkan barang bawaan ke meja pantry dan berbincang sesaat dengan Ferlita, sepupunya, yang tengah memanggang kue di dapur.
Asmiratih melenggang menuju kamar depan. Dia bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu berwudu. Asmiratih keluar dari toilet dan jalan menuju jendela. Dia meraih sajadah dari rak dan menghamparkan benda itu ke lantai.
Selama sekian menit berikutnya, Asmiratih bersimpuh dan memanjatkan doa setulus hati. Kala bayangan Zikria melintas dalam benak, dia langsung mendoakan pria tersebut.
Sementara itu di tempat berbeda, orang yang tengah dipikirkan Asmiratih, sedang duduk di sofa tunggal sambil memegangi mushaf kecil. Zikria melantunkan ayat suci dengan suara merdu khas qori, guna menenangkan hatinya yang resah.
Zikria benar-benar sudah menyerah untuk mengajak Asmiratih menikah. Kedekatan mereka yang selama 2 tahun, membuat hati Zikria telah dikuasai sepenuhnya oleh perempuan tersebut.
Zikria berjuang untuk menikahi Asmiratih, karena pria itu tidak mau terus menjadi bujangan. Usianya sudah 32 tahun dan telah sukses dalam karier, hingga Zikria yakin untuk meminang Asmiratih.
Akan tetapi, lamaran yang telah enam kali diajukan Zikria, semuanya ditolak Asmiratih. Meskipun paham dengan maksud penolakan itu adalah urusan pekerjaan, dan bukan karena pribadi, tetap saja Zikria kecewa.
Pria bermata sipit itu sudah menegaskan pada diri, jika lamaran tadi siang adalah yang terakhir diajukannya. Zikria lelah untuk terus menunggu dan memutuskan buat menenangkan diri, sebelum menyusun rencana lain untuk kehidupannya.
Dering ponselnya mengejutkan Zikria. Dia menyambar benda itu dari meja, lalu segera mengangkat panggilan dari bosnya.
"Assalamualaikum," sapa Zikria.
"Waalaikumsalam," jawab Wirya Arudji Kartawinata, presiden komisaris GUNZ, tempat Zikria bekerja. "Posisi, di mana, Zik?" tanyanya.
"Di Shanghai," terang Zikria.
"Habis ngapel Asmi?"
"Hu um."
"Bisa ke Beijing?"
"Kapan?"
"Besok pagi berangkat. Malamnya, temani Yuwen ke acara film."
"Oh, Abang nggak ikut?"
"Enggak. Zayd lagi demam. Aku ngalah dan tinggal di sini."
"Okay, aku siap."
"Yuwen sudah beliin kamu setelan tuksedo, supaya matching sama gaunnya."
"Semoga bukan pinky."
"Enggak, dia pakai fuchsia."
"Girly banget."
"Sekali-sekali kamu pakai jas warna genjreng. Bajumu gelap semua."
"Ada yang cerah, Bang."
"Cuma putih, biru muda, hijau muda dan krem. Lainnya, butek."
"Abang perhatian, gitu, aku jadi terharu."
"Jangan merayu. Kamu pasti mau minta uang saku."
"Beuh! Ketahuan."
***
Minggu berganti. Zikria telah kembali ke Jakarta. Dia beristirahat sehari di rumahnya, kemudian mengunjungi kediaman Aditya Bryatta, Kakak tertua Asmiratih.
Zikria menerangkan maksud kedatangannya yang menyebabkan Aditya tercenung. Pria yang dijuluki sebagai Abang wajah datar oleh para pengawal junior itu, memandangi pria di kursi seberang, yang diharapkannya menjadi ipar.
"Jangan menyerah dulu, Zik. Berjuang sekali lagi," pinta Aditya.
"Aku sudah nunggu selama 2 tahun, Bang. Aku nggak bisa nunggu lagi," tutur Zikria. "Orang tuaku sudah mendesak agar aku segera menikah, karena mereka nggak mau aku dilangkahi Zelia dan Panji," lanjutnya.
"Aku sudah bilang, nggak apa-apa kalau mereka yang nikah duluan, tapi semua keluargaku kompak menolak," tambah Zikria.
"Aku lupa, berapa umur mereka sekarang?" tanya Aditya.
"Zelia, 27, mau 28. Panji, 29."
"Hmm, pantas orang tuamu maksa. Mereka nggak mau Zelia ketuaan buat nikah."
"Ya. Keluarganya Panji juga sudah melamar Zelia. Mereka siap nikah kapan pun."
Aditya menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Aku paham, Zik. Ini memang masalah yang rumit."
"Syukurlah kalau Abang ngerti. Aku cuma mau melangkah dengan tenang dan mencari pasangan hidup, tanpa ada kesalahpahaman di antara kita."
Aditya mengangguk mengiakan. "Jujur, aku masih ingin kamu bertahan. Mungkin pikiran Asmi akan berubah. Tapi, aku nggak bisa egois dan maksa kamu, Zik. Karena kamu yang menjalani kehidupan, bukan aku."
Sementara itu di Shanghai, Asmiratih yang tengah terlelap, terbangun karena mimpi buruk. Dia memegangi dada sembari mengatur napasnya yang memburu.
Asmiratih tidak paham, kenapa mimpi itu mendatanginya kembali. Padahal peristiwa buruk tersebut sudah berlalu lebih dari 2 tahun, sebelum dia memutuskan untuk cuti sebagai bodyguard lady PBK, dan berganti profesi sebagai model serta aktris drama pendek di China.
Asmiratih ditawari pekerjaan itu dari Chen Production, salah satu agensi terbesar di China. Chen Baldwin, direktur utama perusahaan itu, tertarik dengan kemampuan bela diri Asmiratih, saat perempuan itu menjadi stuntwoman buat Liu Yuwen Vanetta Zeline, istri Wirya, yang merupakan aktris terkenal dari Tiongkok.
Asmiratih yang sering mengawal Vanetta syuting, beberapa kali menjadi pemeran pengganti Vanetta. Hingga Chen Baldwin menawarkan pekerjaan yang akhirnya diterima Asmiratih.
Perempuan berkulit putih itu menyerahkan semua urusan kontrak kerjanya pada Shen Emilly, yang juga manajer Vanetta. Sebelum menetap di Shanghai, Asmiratih pernah tinggal di Hong Kong selama setahun, dan menumpang di rumah Liu Gideon, papanya Vanetta.
Sekian menit berlalu, Asmiratih telah berpindah ke sofa ruang tengah. Dia menonton televisi sambil menyesap susu cokelat hangat.
Asmiratih mengalihkan pandangan ke sofa tunggal. Dia seolah-olah bisa melihat sosok Zikria, yang akan menempati kursi itu jika tengah berkunjung.
Asmiratih merindukan pria tersebut, yang selalu berusaha melindungi dan memperlakukannya dengan sangat baik. Tidak seperti mantan kekasihnya yang lain, Zikria tidak pernah mau duduk berdampingan dengan Asmiratih.
Hal itu dilakukan Zikria, karena dia benar-benar ingin melindungi kesucian Asmiratih. Mereka juga tidak pernah bergandengan tangan, apalagi berpelukan. Jika hendak pulang ke Indonesia, Zikria hanya mengusap rambut Asmiratih sekali, kemudian dia mengecup kedua jemari dan menempelkan jemarinya ke pipi Asmiratih.
"Bang, aku kangen," bisik Asmiratih.
Gadis berpiama merah itu mengerjapkan matanya yang memanas. Asmiratih menghela napas berat dan melepaskannya sekali waktu, guna mengusir rasa sesak yang menyeruak dalam dada.
"Aku bereskan kerjaan dulu, Bang. Setelah itu aku pulang, dan kita langsung nikah," cakap Asmiratih, sembari terus memandangi bayangan Zikria, yang perlahan memudar, lalu menghilang tanpa jejak.
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. Terutama setelah berhadapan dengan Shaka, dan istrinya, Norma, serta Lova Restisalya Hanasta Padmana. Zikria menelan ludah sembari menenangkan degup jantungnya yang menggila. Kemudian dia menerangkan maksud kedatangannya dengan hati-hati. Raut wajah Shaka yang berubah masam, menjadikan kegugupan Zikria bertambah. Namun, dia menguatkan diri guna menuntaskan penuturannya. "Saya tidak menyangka, jika kamu berniat mempermainkan putri saya!" desis Shaka. "Mohon maaf, Pak. Tapi, aku sama sekali berniat begitu," kilah Zikria. "Kalau kamu sudah punya calon istri, kenapa melamar Lova?" "Seperti yang tadi kujelaskan, Pak. Calon istriku awalnya menolak. Lalu, aku didesak keluarga untuk segera nikah
04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita di kursi kanan, yang menanggapinya dengan anggukan. Wirya turut menerangkan keputusan Aditya pada istrinya. Vanetta nyaris bersorak, sebelum menenangkan diri dan tetap memasang raut wajah serius. "Sekarang sudah tengah malam. Orang tua kita pasti sudah tidur," cakap Aditya sembari memandangi pasangan di kursi seberang. "Besok subuh, aku telepon Ayah buat berdiskusi dengan beliau. Kalau beliau oke, kita laksanakan keinginan kalian. Tapi kalau nggak oke, tunggu kita nyampe sana, lalu lamaran resmi langsung dilakukan, akhir pekan depan," lanjutnya. "Ya, Bang. Aku paham," jawab Zikria."Kalian bikin aku kaget. Bubar nggak jelas, lalu tiba-tiba balikan dan mutusin buat tunangan." Zikria mengul
03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang masih menguasai hatinya.."Aku cinta sama Abang," ucap Asmiratih dengan suara serak. Zikria bergeming. Hatinya terbelah, antara senang dengan pengakuan Asmiratih, dan tetap teguh pada pendiriannya, yang telanjur memberi harapan pada Lova. Zikria terbayang wajah Lova dan itu membuatnya tersadar. Dia mengurai dekapan dan memaksa menggeser kedua tangan Asmiratih, hingga tubuh mereka sedikit berjauhan. "Aku sudah janji pada diri, untuk mencari perempuan lain yang mau menerimaku apa adanya, dan siap menikah dalam waktu dekat," ujar Zikria. "Aku sudah menerangkan itu pada Lova, dan dia mau menerimaku, tanpa syarat apa pun," lanjutnya yang mengagetkan Asmiratih. "Jujur, aku sangat kecewa, setelah
02Bulan bertukar dengan cepat. Asmiratih berhasil mengerjakan semua tugasnya lebih awal 2 bulan dari waktu yang telah disepakati. Dia menolak semua tawaran pekerjaan tambahan, karena ingin kembali ke profesi awalnya sebagai bodyguard lady. Asmiratih dan Ferlita segera mengemasi semua barang mereka, yang hendak dikirimkan ke Indonesia. Mereka keluar dari apartemen dan berpindah ke hotel CJC, guna menunggu kedatangan rombongan Indonesia. Liu Jasver Emery, Adik Vanetta, Sabtu nanti akan menikah dengan Wang Patricia, putri kedua Wang Magen, salah satu pengusaha yang cukup terkenal di Shanghai. Asmiratih dan Ferlita, berteman akrab dengan Wang Patricia, yang merupakan pemilik spa langganan kedua gadis tersebut. Sebab itu, Wang Patricia meminta kedua perempuan bersaudara itu untuk menjadi pengiring pengantinnya. Sore itu, rombongan Indonesia akhirnya tiba. Mereka diarahkan petugas hotel untuk menuju restoran terbesar di sisi kanan bangunan, di mana keluarga besar Liu, Cheung, Zheung, V
01"Dek, nikah, yuk!" ajak Zikria Hafidz Shiddique. Asmiratih Kirania Bryatta tertegun sesaat, lalu dia menyahut, "Nggak mau." Raut wajah semringah yang semula ditampilkan Zikria, mendadak berubah masam. Pria berkumis tipis itu mengamati perempuan yang telah menjadi kekasihnya, sejak 2 tahun silam. "Aku sudah melamarnu 6 kali, dan ini yang terakhir," tukas Zikria. "Karena kamu menolak, maka aku nggak akan maksa," lanjutnya. "Abang nggak nanya, alasanku apa?" tanya Asmiratih. "Jawabanmu pasti sama dengan yang kemaren. Kamu belum siap nikah dan berhenti kerja," jelas Zikria."Yups, tepat banget." "Okay, it's done. Aku menyerah." Zikria berdiri. "Aku pergi," sambungnya sebelum berbalik dan jalan pelan sambil menghitung dalam hati. Tepat di hitungan ketujuh, Asmiratih memanggil. Zikria tetap bergeming dan menunggu gadis itu menyambanginya."Kunci mobilnya ketinggalan," ucap Asmiratih sembari mengulurkan benda yang dimaksud. Zikria mengerutu dalam hati. Pada awalnya dia yakin dipan







