Share

Bab 03

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-06-01 11:24:01

03

"Dek, jangan begini," pinta Zikria. 

Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang masih menguasai hatinya..

"Aku cinta sama Abang," ucap Asmiratih dengan suara serak. 

Zikria bergeming. Hatinya terbelah, antara senang dengan pengakuan Asmiratih, dan tetap teguh pada pendiriannya, yang telanjur memberi harapan pada Lova. 

Zikria terbayang wajah Lova dan itu membuatnya tersadar. Dia mengurai dekapan dan memaksa menggeser kedua tangan Asmiratih, hingga tubuh mereka sedikit berjauhan. 

"Aku sudah janji pada diri, untuk mencari perempuan lain yang mau menerimaku apa adanya, dan siap menikah dalam waktu dekat," ujar Zikria. "Aku sudah menerangkan itu pada Lova, dan dia mau menerimaku, tanpa syarat apa pun," lanjutnya yang mengagetkan Asmiratih. 

"Jujur, aku sangat kecewa, setelah kamu menolak lamaran terakhir. Aku merenung lama, dan setelah lebih tenang, aku mengambil keputusan untuk melupakanmu, dan membuka hati buat perempuan lain." 

"Aku mendatangi Bang Adit, dan menerangkan semuanya. Dia memahami keenggananku untuk menunggumu lebih lama lagi. Aku juga sudah berdiskusi dengan Bang W, dan dia menyerahkan semua keputusan padaku." 

"Aku sebetulnya nggak punya niat apa pun ke Lova. Kami bertemu, dan aku mengajaknya berbincang serius. Aku menjelaskan semua keinginanku untuk segera mengakhiri masa lajang, lalu aku menawarkan pernikahan padanya." 

"Lova nggak langsung mengiakan. Dia minta waktu berpikir, dan setelah 2 minggu, kami bertemu lagi. Dia menerima pinangan tidak resmiku, dan dia memintaku untuk mendatangi orang tuanya."

"Aku sudah menemui Pak Shaka. Aku menerangkan hasil pembicaraanku dan Lova, dengan menutupi bagian dirimu. Beliau memberiku kesempatan lebih dekat dengan Lova, dan itu yang tengah kulakukan sekarang," pungkas Zikria. 

Asmiratih mengerjapkan matanya berulang kali. Penuturan Zikria membuat hatinya patah. Asmiratih mendengkus kuat, lalu jalan cepat memasuki toilet. 

Isakan Asmiratih kembali terdengar dan itu menyebabkan Zikria merasa bersalah. Dia berpikir cepat, lalu mengirim pesan pada Wirya guna menunda janji temu, karena dia hendak menyelesaikan permasalahannya dengan Asmiratih. 

Zikria menutup pintu, lalu berpindah duduk ke kursi yang tadi ditempatinya. Dia sengaja berpura-pura pergi, supaya Asmiratih mengira jika Zikria benar-benar keluar dari kamar. 

Sekian menit berlalu. Pintu toilet terbuka dan Asmiratih keluar sambil menunduk. Dia kaget ketika tangan kirinya ditarik dan badannya didekatkan ke dinding. Asmiratih nyaris menjerit, sebelum mulutnya ditutupi Zikria dengan tangan kiri.

Asmiratih tetap diam sambil mengamati Zikria yang balas menatapmya lekat-lekat. Asmiratih mengerjapkan mata ketika pria itu memajukan tubuh, dan mengecup dahinya dengan lembut.

"Aku juga masih mencintaimu," bisik Zikria, seusai menjauhkan diri. 

Asmiratih mendorong tangan kiri Zikria hingga menjauh dari wajahnya. "Kalau Abang masih cinta, harusnya Abang menungguku. Bukannya melamar Lova!" rajuknya.

"Pikiranku buntu, Dek. Orang tuaku sudah mendesak, karena Panji dan Zelia sudah menunggu lama. Aku nggak bisa egois menunda menikah, karena mungkin saja Panji lelah menunggu adikku, dan membatalkan pernikahan." 

"Abang mestinya telepon aku. Kita diskusikan lagi. Bukannya ngambil keputusan sendiri." 

"Kamunya nolak terus, aku jadi kesal!" 

Asmiratih mengulurkan tangan kanannya dan mengusap pipi kiri Zikria dengan pelan. "Aku memang salah. Menunda terus. Lupa kalau Abang mesti tanggung jawab ke Zelia." 

"Kita sama-sama bodoh." 

"Abang, doang. Aku nggak." 

Zikria mengulum senyuman. Dia hendak mengucapkan sesuatu, tetapi Asmiratih telanjur maju dan menciumi kedua pipinya. Zikria tercenung sesaat. Seumur hidup dia selalu menjaga diri untuk tidak bersentuhan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Namun, kali itu Zikria kalah, dan dia balas mengecup kedua pipi Asmiratih. 

Zikria sempat ragu-ragu, sebelum menyatukan bibir mereka, dan mengisap madu Asmiratih yang membalasnya dengan malu-malu. Pagutan itu berlangsung cukup lama, dan dihentikan Zikria ketika menyadari bila Asmiratih tengah kehabisan napas. 

"Aku belum pernah lepas kendali kayak gini," bisik Zikria sembari menyatukan dahi mereka. "Kamu bikin akal sehatku hilang. Itu pelanggaran," kelakarnya sambil menolak tubuh.

Asmiratih menyunggingkan senyuman lebar. "Itu, karena Abang cinta berat ke aku." 

"Hu um." 

"Pulang dari sini, temui Lova dan batalkan pinangan Abang," bujuknya. 

"Kalau aku nggak mau?" 

"Aku bakal datangin dia dan berakting, kalau Abang sudah merenggut kesucianku, dan sekarang aku tengah hamil anak Abang."

Zikria menyentil pelan telinga kiri Asmiratih yang sontak cengengesan. "Dasar, aktris drama China." 

"Pokoknya aku akan melakukan berbagai cara, supaya perjanjian kalian batal. Lalu kita segera menikah." 

"Aku nggak yakin dia terima, Dek. Kamu tahu, kan, dia sudah naksir aku dari dulu." 

"Aku nggak peduli! Aku duluan yang Abang lamar. Jadi aku lebih berhak buat jadi istri Abang." 

"Hmm, aku masih belum yakin. Bisa aja kamu berubah pikiran lagi." 

Asmiratih merengut. "Sekarang, ikut aku." 

"Ke mana?" 

"Nemuin Bang Adit. Kita nikah sekarang aja, dan dia jadi waliku." 

"Ehh ... nggak bisa gitu, Dek. Nikah nggak bisa mendadak. Semuanya harus dipersiapkan dengan matang." 

"Bang, untuk sekali ini saja. Berhenti jadi perfeksionis. Kalau direncanakan, bisa saja batal." 

"Kita nggak bisa melangkahi orang tua. Semuanya harus seizin mereka." 

Asmiratih melengos. "Abang selalu gitu. Sibuk menjaga hati orang lain. Sampai melupakan keinginan sendiri." 

"Dek, aku ...." 

"Mau atau nggak?" 

"Aku mau, tapi ...." 

"Enggak ada tapi-tapi." 

"Aku belum nyiapin maharnya. Masa nikahin kamu, tapi cuma bawa badan?" 

Asmiratih merogoh saku celana dan meraih kotak kecil berlapis bludru biru. Dia membuka kotak itu dan menunjukkan isinya pada Zikria. 

"Kapan kamu beli ini?" tanya pria berkemeja putih pas badan, sembari mengambil cincin polos dari kotak, dan memasangkan benda itu ke jemari manis kanannya.

"Bulan lalu," jawab Asmiratih. 

"Ukurannya pas." 

"Kita, kan, pernah beli cincin couple. Aku ingat ukurannya." 

"Hmm, ya." 

"So, gimana?" 

Zikria memerhatikan gadis yang masih dicintainya itu dengan intens. "Gini aja. Supaya orang tua tidak merasa dilangkahi, sekarang kita tunangan dulu. Nyampe sana, baru kita atur rencana buat lamaran resmi, dan nikahan. Okay?" 

Asmiratih berpikir sejenak, lalu dia mengangguk. "Ya, aku setuju." 

Keduanya saling menatap, sebelum sama-sama mengulaskan senyuman. Zikria menunduk untuk melepaskan cincin dan mengembalikan benda itu ke kotak. 

Zikria mengecek arlojinya di tangan kiri. "Kita ke mal," ajaknya.

"Ngapain?" tanya Asmiratih. 

"Beli antaran. Sedapatnya aja. Yang penting aku bawa seserahan, dan nggak nekat ngelamar kamu dengan tangan kosong." 

"Bentar. Aku mau dandan dulu." 

"Nanti aja, di mobil. Keburu mal-nya tutup." 

"Bang, ini Shanghai, bukan Jakarta. Di sini mal tutupnya tengah malam. Malah ada yang open sampai subuh." 

"Ehm, ya, aku lupa." 

Asmiratih berpindah ke dekat meja rias guna mengambil dompet, tas, dan ponselnya. Asmiratih kaget saat Zikria memeluknya dari belakang, dan mereka saling menatap melalui pantulan cermin. 

Asmiratih menurut kala Zikria memutar tubuhnya, hingga saling berhadapan. Asmiratih terpegun ketika pria itu mendekap tubuhnya dengan erat. 

"Aku mencintaimu," bisik Zikria. "Selamanya, mencintaimu," lanjutnya, yang menyebabkan hati Asmiratih menghangat. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mispri Yani
ya ampuuuun karena pada kondisi yabg emosi ambil keputusan nya kayak impulsif dan sekarang bakalan ada hati yang terluka lebih dalam
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 93

    93Yao Scott memerhatikan para ajudan senior di sekelilingnya. Putra sulung keluarga Yao itu membatin, jika rekan-rekannya itu tidak ada yang tidak terluka. Semuanya menderita memar, bahkan ada yang luka cukup parah.Tatapan Yao Scott berhenti pada pasien di ranjang. Lelaki muda itu terlihat pucat kesi, seusai mengalami dua tusukan dalam di paha dan perutnya. Yao Scott membisikkan sesuatu pada Muyang, yang membalas dengan anggukan.Yao Scott mendekati sekelompok orang yang merupakan keluarga dan kerabat Herjuno. Yao Scott berdeham untuk menarik perhatian orang-orang tersebut, sebelum dia merunduk untuk memberi hormat, yang segera dicegah Mahesa."Aku memberi penghormatan pada kalian, sebagai ucapan terima kasih, sekaligus penyesalan terdalamku, hingga Herjuno terluka parah," tutur Yao Scott setelah menegakkan badannya."Tuan tidak perlu menghormat," sahut Mahesa dalam bahasa Inggris. "Adikku terluka, itu sudah takdirnya," lanjutnya. "Pakai bahasa Mandarin, Sa," goda Zulfi.Mahesa men

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 92

    92 "Mas, bisa tolong obatin?" tanya Aditya, seusai melepaskan jaketnya.Fachri menyambangi Ajudan Selembe dan memeriksa luka di sepanjang lengan kanan pria tersebut. "Duduk dulu, Om," ucapnya, sembari berdiri dan memberikan kursinya "Kena apa ini?" desaknya sambil mengamati luka itu."Pedang pendek Ruan Haakon," terang Aditya."Aku bersihkan dulu. Tahan, ya. Agak perih." Dokter muda itu meraih botol alkohol dan gumpalan kapas, serta kasa. "Zid, tolong ambilkan obat luka," pintanya, sebelum memulai tugasnya. Aditya meringis menahan perih saat lukanya dibersihkan. Dia mengaduh ketika Fachri menekan area paling dalam dengan kasa, supaya bagian itu bisa dibersihkan secara maksimal.Bayazid mendekat sambil membawa cairan obat tradisional Tiongkok. Setelah Fachri mundur, Bayazid mengoleskan obat itu ke tangan Aditya, dengan hati-hati. "Bang, Ruan Haakon, di mana?" tanya Mahesa, yang baru meletakkan Ruan Eadwald ke kasur tipis."Kukunci di container belakang," jelas Aditya dengan santai.

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 91

    91Suasana di sekitar area gudang Yao Company, di timur Kora Shanghai, dini hari itu sangat sunyi. Belasan petugas keamanan yang berjaga di sana, bergantian mengelilingi area sekitar dengan menggunakan motor listrik. Supaya bisa meminimalisir suara kendaraan saat bertugas.Detik bertukar menjadi menit. Ratusan pasang mata mengawasi layar besar di dalam gudang utama, yang menampilkan video dari empat penjuru area luar, sekaligus jalanan di sekitarnya. Tidak ada seorang pun yang urun suara. Mereka menghemat tenaga dan tetap diam, sambil sekali-sekali berbincang di grup pesan. Beberapa lampu kendaraan muncul dari sisi utara. Sebagian orang itu berdiri, lalu melemaskan tangan dan kaki. Sha Jun Hui memerintahkan anak buahnya untuk keluar dari pintu samping kiri. Sedangkan kelompok kedua pimpinan Yin Sueh-yn, keluar dari pintu kanan.Puluhan perempuan yang sejak tadi bersembunyi di sepanjang balkon lantai dua, mendengarkan arahan Zikria, melalui alat khusus di telinga masing-masing. Puspa

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 90

    90Asmiratih dan Ferlita, memandangi puluhan orang berjaket biru tua yang tengah bergerak memasuki kereta api cepat. Kedua perempuan tersebut berdoa setulus hati, agar rekan-rekan mereka bisa selamat dan sanggup menuntaskan tugas dengan baik.Ferlita mengajak Asmiratih kembali ke mobil. Langkah mereka diikuti kedua kru film yang merupakan sahabat Zhu Hadwin, yang bertugas menjaga keselamatan Asmiratih serta Ferlita. Kereta api beranjak meninggalkan stasiun Kota Nanxun sesuai jadwal. Satu gerbong yang diborong tim PBK, menjadikan penumpang lain bertanya-tanya tentang identitas mereka. Sepanjang perjalanan itu, Zikria tidur. Dia mencuri waktu istirahat, untuk merecharge tenaga. Guna bersiap-siap menghadapi pertempuran di titik tujuan.Setibanya di stasiun Shanghai, rombongan PBK dijemput Li Fengjun yang memang bertugas di sana. Koko tertua Li Mye Na tersebut mengajak mereka menaiki bus Hotel CJC, lalu dia menerangkan pada Zikria, tentang kesiapan anggota mereka di lokasi. Li Fengjun j

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 89

    89Lova terhenyak dan tidak langsung menyahut. Dia menduga jika Aiden mendengar berita itu dari Reksa atau Dodi, karena hanya kedua pria itu yang pernah melihat foto Rizqan. "Ehm, maksudnya, Mas Rizqan, ya?" Lova balik bertanya. "Aku nggak tahu namanya, tapi kata Dodi, dia owner hotel di Yunani. Betul?" desak Aiden.Lova mengangguk mengiakan. "Itu benar, dan dia memang pacarku." Raut wajah Aiden seketika berubah muram. "Berarti, nggak ada kesempatan buatku." "Apa?" Aiden menatap perempuan di tepi kiri itu dengan saksama. "Aku suka kamu." Lova mengerjapkan matanya, karena sangat kaget dengan pernyataan pria berkemeja hitam motif garis-garis putih tersebut. "Ehm, sorry, aku nggak tahu." Aiden menggeleng pelan. "Enggak apa-apa. Aku memang telat ngomong ke kamu." "Boleh, aku tahu? Sejak kapan Mas suka sama aku?" "Lama banget. Kayaknya setahunan." "Kenapa nggak bilang?" "Aku nggak enak sama Reksa. Dia pernah bilang lagi naksir kamu. Jadinya aku diam aja." Lova tercenung sesaat.

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 88

    88*Grup GUNZ Indonesia*Andri : @Satya, Daebak! Harzan : Baru kali ini, orang ngajuin proposal, belum dibaca isinya, tapi langsung disetujui presdir kita.Haryono : Kenapa aku endak kepikiran, gitu, ya? Benigno : Aku bingung. Antara mau muji Satya, atau W. Mereka sama-sama sarap. Kimora : Ayah Kiddos memang the best! Andara : Aku padamu, @Abang ipar. Puspa : Aku mau muji Satya aja. Keren bingits! Dahlia : @Satya, luar biasa! Namira : Tembak langsung ke Ayah W. No basa basi. Mantap! Fatma : Aku salut sama dua-duanya. Lova : Ada apa ini? Aku baru lihat chat. Divija : Bang Satya ngajuin proposal bayangan ke Ayah W. Belum dibaca, tapi langsung disetujui, @Kak Lova. Lova : MasyaAllah. Hebat banget!Dimas : Aku mau gitu juga, deh. Dilara : @Abang kesayangan. Aku ngajuin proposal pake telepati. Agnia : @Kak Dilara, tiap muncul, pasti bikin ngikik.Arista : @Abang selingkuhan. Aku ajuin proposal lewat jalur orang dalam. Alias nyodorin ke Mamados. Rinjani : @Engkoh Kekasihku. Ya

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 06

    06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 05

    05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 04

    04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita d

  • Kesengsem Ajudan Caem    Bab 02

    02Bulan bertukar dengan cepat. Asmiratih berhasil mengerjakan semua tugasnya lebih awal 2 bulan dari waktu yang telah disepakati. Dia menolak semua tawaran pekerjaan tambahan, karena ingin kembali ke profesi awalnya sebagai bodyguard lady. Asmiratih dan Ferlita segera mengemasi semua barang merek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status