LOGINBagi Elana, gaun pengantin putih yang dikenakannya terasa seperti kain kafan. Daripada harus menikahi pria tua yang mempunyai banyak istri— pilihan sang paman, Elena lebih memilih mengakhiri hidup yang seperti neraka baginya. Akhir yang tragis? Harusnya begitu. Tapi takdir punya selera humor yang aneh. Elena terbangun di atas ranjang sutra, bukan di kamar mayat. Sialnya, ia bukan lagi Elena, melainkan Clarissa Sinclair —tokoh protagonis dari novel yang baru saja ia baca semalam sehari sebelum pernikahan. Menurut plot asli, Clarissa ditakdirkan mati tragis di tangan tunangannya sendiri. Berbekal pengetahuan cerita, Elena bertekad mengubah nasibnya. Pertemuannya dengan sang tokoh figuran yang dingin dan kejam membuatnya menyusun rencana baru. Namun, kematian kedua dalam dunia novel menghampiri. Akankah kali ini ia benar-benar mati atau terbangun kembali di tubuh aslinya?
View More"Elena, jangan—!"
Suara teriakan dari pria paruh baya tidak mampu menghentikan tekad seorang gadis yang sedang berdiri di sisi pembatas jembatan beton. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu memilih mengakhiri hidupnya dibandingkan harus menjadi tumbal keluarga pamannya. Ia dipaksa menikah dengan seorang pria tua yang mempunyai istri banyak hanya untuk melunasi semua hutang mereka. Baginya, hidup seperti neraka lebih buruk daripada sebuah kematian. Elena memejamkan mata. Ia menjatuhkan dirinya ke belakang. Wushhh! Tubuh ringkih berbalut gaun putih itu meluncur bebas dari ketinggian lima belas meter. Detik berikutnya, BYURRR! Dinginnya air sungai yang membeku langsung mendekap tubuh Elena. Arus yang dahsyat menghantamnya tanpa ampun, menyeretnya masuk ke dalam pusaran air yang gelap di bawah bongkahan es. Paru-parunya terisi air es yang ngilu, dadanya terasa meledak. Perlahan, kesadarannya mulai menipis, pandangan menggelap, dan rasa sakit itu mati rasa karena membeku. Ibu ... Ayah ... Elena ikut ... batinnya pasrah saat jiwanya bersiap pergi. Hal pertama yang dirasakan Elena adalah rasa dingin yang menusuk tulang, seolah air sungai yang deras nan beku itu masih mendekap tubuhnya. Paru-paru terasa sesak, dan telinganya berdengung hebat. **** ’Aku seharusnya sudah mati,’ pikirnya samar. ‘Arus sungai itu tidak mungkin membiarkanku hidup.’ Namun, alih-alih kebekuan yang mendekap, indra penciumannya justru menangkap aroma kuat bunga lavender dan obat-obatan yang tajam. Elena perlahan membuka matanya. Langit-langit ruangan itu tidak berwarna kelabu seperti langit saat ia melompat, melainkan putih bersih dengan ukiran emas yang megah di sudut-sudutnya. "Nona? Nona Clarissa? Anda bangun?!" Sebuah suara melengking membuat kepala Elena berdenyut nyeri. Ia menoleh perlahan dan mendapati seorang gadis remaja dengan seragam pelayan —gaun hitam dengan apron putih—sedang menatapnya dengan mata membelalak. Elena mencoba bersuara, namun tenggorokannya terasa seperti terbakar. "Air ...." bisiknya parau. Pelayan itu dengan cekatan menuangkan air ke gelas perak dan membantunya minum. Setelah rasa haus itu reda, Elena menatap tangannya. Tangan yang halus, putih pucat dan jari-jarinya lebih lentur dari miliknya yang asli. "Nona, syukurlah! Kami pikir Anda tidak akan selamat setelah jatuh dari tangga besar itu," pelayan itu terisak kecil sambil menyeka air matanya. Elena mengerutkan kening. ‘Tangga? Aku ‘kan melompat ke sungai. "Di mana ... ini?" tanya Elena , suaranya masih asing di telinganya sendiri. "Anda di kediaman Sinclair, Nona. Saya Lily, pelayan pribadi Anda. Apa Anda tidak ingat?" Jantung Elena berdegup kencang. Sinclair? Nama itu tidak asing. Itu adalah nama keluarga antagonis dalam novel "Cinta di Ujung Pisau" yang baru saja ia selesaikan semalam sebelum ia memutuskan untuk kabur dari pernikahannya yang dipaksakan dan memilih mengakhiri hidupnya. "Siapa... namaku?" Elena bertanya dengan ragu, ketakutan mulai merayapi hatinya. Pelayan itu tampak bingung, wajahnya memucat. "Nama Anda Clarissa Sinclair, Nona. Putri bungsu keluarga ini yang ... yang sering diabaikan." Elena tertegun. Clarissa? Tokoh figuran yang hanya muncul di bab ketiga dan diceritakan tewas karena kecelakaan konyol? Tiba-tiba, pintu kamar terbanting terbuka. Seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam masuk dengan langkah angkuh. Wajahnya tampan namun dingin seperti es. "Jadi, kau memutuskan untuk bangun setelah membuat kegaduhan ini, Clarissa?" pria itu berucap sinis tanpa mendekati tempat tidur. Elena menatap pria itu. Ini pasti Kakak tiri Clarissa, Alistair Sinclair yang kejam itu. "Aku ...." Elena menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku tidak tahu siapa Anda." Pria itu menyipitkan mata, senyum meremehkan muncul di bibirnya. "Oh, luar biasa. Sekarang kau berpura-pura amnesia agar aku merasa kasihan? Simpan sandiwaramu. Setelah kau sembuh, kau tetap akan menikah dengan tuan muda dari keluarga Sterling sesuai rencana papah." Tidak ada rasa peduli atau khawatir yang ditunjukkan pria itu. Baginya Clarissa hanyalah anak manja pembuat masalah yang menjadi beban. Setelah pria itu pergi dengan bantingan pintu, Elena bersandar di bantalnya yang empuk. Ia tidak lagi di sungai. Ia tidak lagi dipaksa menikah dengan pria tua bangka di dunianya. ’Aku masuk ke dalam novel?’ batinnya tak percaya. ‘Mungkin ini kesempatan kedua, tapi kenapa harus jadi tokoh yang ditakdirkan mati muda?’ Elena mengusap kulit wajahnya yang terasa begitu halus. Ia masih belum percaya jika semua ini nyata. Ia menoleh pada Lily yang masih setia berdiri disisi tempat tidurnya. “Lily, kemarilah,” pintanya. Gadis remaja itu pun menghampiri sang nona. “Cubit tanganku!” “Hah?” Lily melongo tidak percaya dengan permintaan sang nona muda. “Ta … tapi, Nona.” “Sudah cepat cubit saja!” Ia kembali memberikan perintah, menyodorkan tangannya. “Yang kuat!” Meski terlihat ragu, Lily tetap mengikuti permintaan itu. “Aws,” Elena meringis merasakan sakit. “Maafkan saya, Nona. Saya lancang, hukum saya.” Lily sudah berlutut, menunduk dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. “Hei, kau kenapa? Cepat bangun! Aku yang memintamu melakukan itu. Ini bukan salahmu sama sekali. Bangunlah Lily!” Gadis pelayan itu menggeleng. “Saya sudah menyakiti, Nona.” Lily semakin terisak. Elena beranjak dan segera membantu gadis itu untuk berdiri. Kepalanya masih terasa berdenyut. “Bangunlah Ly, kalau kau masih tidak mau bangun, aku akan sangat marah!” Naluri pelayan itu bangkit dan ia segera berdiri di hadapan sang nona. Elena menghela napas. Kenapa sial sekali hidupnya. Bukannya mati seperti keinginannya, ia justru terlempar ke dunia novel dan menjadi tokoh yang senyedihkan. Ah sial sekali. BRAK Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Elena, yang kini berada di tubuh Clarissa, menoleh dan langsung membeku saat melihat siapa yang masuk. “Clarissa.” Seorang pria tampan dengan setelan jas kantor lengkap terlihat berjalan mendekat ke arah Elena dengan langkah tegap. Tubuh Elena menegang dan wajahnya pucat melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. “Ka-kamu ….” Elena terduduk lemas di lantai dengan wajah menegang ketakutan.Sebastian berbalik, memotong langkah Clarissa hingga wanita itu terpaksa berhenti. Tatapan matanya yang tadi teduh kini menggelap, memancarkan kilat berbahaya yang sangat familiar di mata Clarissa."Jangan pernah menyebut nama Paman Gideon di depanku, Clarissa. Apalagi membandingkan aku dengannya," desis Sebastian, suaranya rendah tapi sarat akan ancaman. "Kau tidak bisa membandingkan kami berdua. Dan ingat, yang berdiri di sampingmu saat ini adalah aku, tunanganmu. Bukan dia."Clarissa menatap Sebastian yang mulai terpancing emosi. Alih-alih takut, ia justru merasa puas. Berhasil mengusik ketenangan pria egois ini adalah sebuah kemenangan kecil baginya."Kenapa kau sensitif sekali?" Clarissa bertanya dengan nada santai, sengaja memiringkan kepalanya dengan raut wajah seolah-olah ia tidak bersalah. "Aku hanya menawarkan solusi. Lagipula, apa kau pikir dia mau mengeluarkan uangnya cuma-cuma untukku? Reaksimu terlalu berlebihan.”Rahang Sebastian mengatup rapat. Ia benci bagaimana C
Clarissa mengira Sebastian akan langsung mengantarnya pulang ke rumah, tetapi mobil itu justru berhenti di pelataran sebuah restoran mewah yang bertengger di lantai teratas gedung pencakar langit. Restoran itu sudah dipesan secara privat—hanya ada mereka berdua, diiringi alunan musik klasik yang lembut dan pemandangan kota dari balik dinding kaca.Sebastian turun dengan sikap yang luar biasa sopan, membukakan pintu mobil untuk Clarissa. Ia bahkan mengulurkan tangannya, tersenyum begitu menawan."Silakan turun, My Lady," ucap Sebastian lembut, sangat kontras dengan pria brutal di parkiran tadi.Clarissa menatap tangan itu dengan dingin, mengabaikannya lalu turun sendiri.‘Pria ini sedang merencanakan sesuatu,’ batin Clarissa waspada. Perubahan sikap Sebastian yang mendadak manis ini justru membuat alarm bahaya di kepala Clarissa berdering kencang.Mereka kemudian duduk berhadapan di meja yang penuh dengan hidangan premium. Sebastian dengan telaten memotong steak di piringnya sendi
Langkah kaki Clarissa terdengar ritmis di atas lantai koridor mansion keluarga Sterling setelah obrolannya yang cukup menguras energi bersama Audrey. Sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu di depan, dengan seorang sopir paruh baya yang langsung sigap membukakan pintu belakang untuknya. Sesuai dengan permintaannya pada Gideon jika ia ingin supir yang mengantarnya pulang, bukan Sebastian.Namun, belum sempat Clarissa mengayunkan kakinya masuk, sebuah bayangan tinggi besar mendadak memotong jalurnya.Sebastian."Tinggalkan kami!" perintah Sebastian kepada sopir tersebut. Suaranya berat, dingin, dan tidak menerima bantahan. "Saya yang akan mengantar Clarissa pulang."Sopir itu tampak ragu, menatap Clarissa dan Sebastian bergantian. Namun, intimidasi yang terpancar dari aura Sebastian membuat pria itu akhirnya membungkuk hormat dan mundur, membiarkan mereka hanya berdua di area parkir yang sepi.Begitu sopir itu menjauh, Sebastian langsung berbalik menghadap Clarissa. Matanya menghu
“Bu—bukan begitu.” Sebastian berdeham, berusaha menguasai kembali suaranya yang sempat tercekat. Ia berdiri, merapikan setelan jasnya dengan gerakan formal yang sengaja dibuat kaku untuk mengembalikan jarak.“Bibi Martha sudah melayani Ibu sejak aku masih kecil,” ujar Sebastian dengan nada suara yang diatur sedatar mungkin, meski kilatan panik sempat melintas di matanya. “Dia sudah seperti bagian dari rumah ini. Refleks saja aku tidak ingin ada pelayan yang terluka di depan mataku saat sedang ada tamu, Itu akan terlihat buruk bagi citra keluarga kami, Clarissa.”Sebastian melirik Audrey yang sejak tadi diam, mencoba membaca ekspresi wanita itu, lalu kembali menatap Clarissa dengan tatapan memperingatkan. “Lagi pula, pertanyaanmu tadi cukup mengejutkan. Wajar jika Bibi Martha terkejut hingga menjatuhkan nampan. Jangan memikirkan yang tidak-tidak.”Martha, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, mengangguk cepat sambil menunduk dalam-dalam. “Mohon maaf sebesar-besarnya, Nona Clari
Deru napas Elena masih sedikit memburu saat pintu mobil sedan hitam itu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari kemegahan mansion yang baru saja ia tinggalkan. Di balik kemudi, Victoria langsung menginjak pedal gas, membawa mereka menjauh dari gerbang belakang.Setelah memastikan situasi aman, Vic
Mata Elena membelalak. Ia membekap mulutnya sendiri agar tidak memekik. Nama itu... tidak mungkin. Pria misterius di atas kursi roda itu adalah Gideon Valerius Sterling, putra kedua keluarga Sterling dan merupakan paman dari tunangannya—pria yang rumornya terkenal dingin, kejam, dan tidak tersent
Elena sudah berhasil ke luar. Udara bebas sudah terasa di wajahnya. Namun tiba-tiba, suara HT (Handy Talkie) berbunyi nyaring dari arah pos penjagaan belakang. Salah satu pengawal yang cerdik ternyata langsung memeriksa kamar Clarissa dan menyadari mereka telah ditipu."Target melarikan diri! Nona
Suasana di dalam ruang pertemuan utama Mansion keluarga Clarissa terasa mencekam, kontras dengan kemewahan ruangan tersebut. Di satu sisi meja panjang, Andrea duduk dengan pelipis yang mulai dibanjiri keringat dingin. Di sampingnya, sang istri dan putrinya memasang wajah cemas yang dibuat-buat, m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews