Suasana di dalam ruang pertemuan utama Mansion keluarga Clarissa terasa mencekam, kontras dengan kemewahan ruangan tersebut. Di satu sisi meja panjang, Andrea duduk dengan pelipis yang mulai dibanjiri keringat dingin. Di sampingnya, sang istri dan putrinya memasang wajah cemas yang dibuat-buat, meski dalam hati mereka bersorak kegirangan atas hilangnya Clarissa. Namun, fokus utama semua orang di ruangan itu tertuju pada ujung meja. Di sana, duduk seorang pria di atas kursi roda perak. Gideon. Pria itu mengenakan setelan jas formal yang sangat rapi. Wajahnya yang rupawan tampak sedingin es, dengan tatapan mata elang yang mampu menguliti keberanian siapa pun yang memandangnya. Di sebelah Gideon, berdiri keponakannya, Sebastian, anak muda yang tampak gelisah dan terus-menerus melihat jam tangannya. Semua orang mengira Gideon hanyalah pria cacat yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik selimut yang menutupi kakinya, Gideon-lah yang memerintahkan bawahannya untuk membukakan jala
اقرأ المزيد