MasukKehilangan calon suami PNS berujung pada Ica yang mendadak dipinang oleh Saka, seorang petani misterius berusia tiga puluh enam tahun. Sampai ketika Ica sadar, yang berseragam dinas ternyata pelit setengah mati, sedangkan yang mengaku cuma petani sederhana punya kuasa yang sanggup membuat bulu kuduk Ica meremang. Tepat saat sang mantan tunangan kembali datang untuk mengejarnya, Saka langsung pasang badan dengan tatapan dingin mematikan, "Permata yang sudah kamu buang, tidak pantas kembali lagi ke tempat sampah sepertimu."
Lihat lebih banyak“Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”
Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mereka bukan terjalin satu-dua tahun. Tapi lima tahun! Memang belum selama KPR rumah yang biasanya lima belas tahun, tapi tetap saja sakitnya itu menancap di hatinya. Apalagi saat Ica melihat ibunya hampir pingsan. Awalnya, Ica kira Adam datang untuk membicarakan mahar pernikahan mereka. Ica bahkan sudah menyiapkan uang tabungannya jika Adam bilang uangnya tidak cukup untuk mahar yang layak. “Tidak perlu, untung saja anak saya tidak jadi beristri perempuan tidak tahu cara menyambut tamu seperti kamu!” Ibu Adam, dengan dandanan menor ala emak-emak sosialita, namun lehernya tetap terlihat hitam itu, mendengus seraya berdiri. Wanita itu pun beranjak seraya mengetuk-ngetukkan sepatu hak tingginya. Bahkan ibu Adam masuk ke rumah Ica tanpa melepas alas kakinya! Adam juga beranjak sambil menghela napas panjang, “Ca, aku harap hubungan kita tetep baik ya setelah ini…” Hati Ica mencelos saat Adam dan ibunya benar-benar pergi. Tidak terlihat ada penyesalan. Bahkan Adam berharap hubungan mereka baik-baik saja, setelah yang terjadi hari ini?! “Ca!!!” “Sabar buuu….” Bapak memeluk ibu yang menangis sesenggukan dengan lembut. “Jangan sampai ibu sakit karena emosi.” Ica menatap orang tuanya dengan pandangan iri. Enak ya kalau punya pasangan yang bisa selalu mengerti satu sama lain. “Kita harus bagaimana, pak?” Ibu memilih menenggelamkan tangisnya di bahu bapak. Ica menggeser sedikit duduknya, tangannya gemetar hebat saat mengambil nastar yang tadinya disuguhkan untuk Adam dan keluarganya, memakannya sekaligus tiga. Mengamuk dan memaki bukan gayanya. Dia marah. Dia kecewa, malu juga tapi dia sadar hal itu tak akan membuat Adam memilihnya lagi. Pelaminan sudah terpasang di depan rumahnya, tinggal dua hari lagi seharusnya dia akan menjadi nyonya Adam Firmansyah, tapi semuanya…… BATAL. Gila!!! Sakit banget rasanya. Ica mengambil nastar kembali, rasanya enak. Ibu memang pintar membuat kue, apalagi ini hari istimewanya tentu saja sang ibu akan membuat yang terbaik meski akhirnya hari ini tak akan seistimewa kue buatan ibu. Saking cepatnya dia makan remah-remah nastar berhamburan di kursi tapi dia tak peduli. “Ca! kok kamu malah makan terus, ini bagaimana nasib pernikahanmu!” “Mau bagaimana lagi, bu. Mau nggak mau ya harus kita batalkan.” Bukan Ica yang menjawab tapi bapak. Bapak memang tidak emosi seperti ibu tapi jelas saja ada kekecewaan yang nyata di mata beliau. “Ica sedang memikirkan solusinya, bu, pak.” “Solusi apa lagi, Ca. kamu mau minta Adam tidak membatalkan pernikahan? Tidak. Bapak sudah tidak mau punya mantu kayak dia.” Rencana setelah menikah yang telah dia susun rapi hancur sudah. “Bukan itu, pak.” “Lalu apa solusimu?” Ica hanya memberikan gelengan tak berdaya. Otaknya benar-benar macet tak mau dia ajak untuk berpikir apalagi mencari solusi. Dia tidak pingsan saja sudah bagus. Sedangkan di rumahnya ini, semua persiapan pesta sudah hampir rampung, apalagi makanan sudah matang sebagian. Masa iya, acara pernikahannya diganti acara syukuran. Syukuran karena tidak jadi menikah dengan pria pengecut seperti Adam. Cocok juga sih. Ah sial! Ternyata dia masih dalam kategori orang bodoh. Bayangkan saja semua biaya pernikahan ini orang tuanya yang menanggung. Adam?? Boro-boro. Untuk hantaran waktu lamaran saja seuprit. Ica sampai harus nombok uang tabungannya supaya tidak malu-malu banget. Calon suaminya PNS tapi hantaran cuma jajan pasar. “Saya duda tanpa anak, usia tiga puluh enam tahun. Pekerjaan petani.” Ica dan orang tuanya melongo. Saat drama pembatalan oleh keluarga Adam tadi, semua tetangga yang membantu pesta memang memilih menyingkir. Hanya pria ini yang tetap diam di sudut ruangan, begitu tenang hingga keberadaannya nyaris tak disadari. Kalau tadi tidak bicara Ica dan orang tuanya pasti masih mengira pria ini kursi. “Maksudnya bagaimana?” bapak yang pertama sadar dari shocknya langsung bertanya. Ah! Ini kali kedua pria ini datang ke rumahnya. Dia teman bapak dan seingatnya tadi mereka membicarakan lapak di pasar. Ica ingat betul. Meski tak tahu namanya tapi wajah tampan dan badan yang tinggi dan ramping membuat sosoknya tak mudah dilupakan. "Apa putri pak Abdul mau menikah dengan saya?" "Hah?!" Ica menggosok telinganya, takut salah dengar. Dia baru saja dibuang mantan, masa langsung dilamar om-om teman bapaknya? Mana mukanya datar kayak papan, tidak ada grogi-groginya sama sekali. "Kamu serius, Sak?" tanya bapak penuh selidik. "Kamu tidak perlu kasihan pada kami. Lebih baik acara dibatalkan daripada Ica terpaksa menikah hanya untuk menutup malu." "Saya butuh istri dan anak bapak butuh suami. Apa saya tidak pantas menjadi menantu bapak?" Jawabannya tegas, membuat bapak menghela napas lalu menatap Ica pasrah. "Bagaimana, Ca? Kamu mau?" Tatapan bapak terasa berat. Ica melirik ibunya yang masih bermata sembab. Pikirannya mendadak berputar liar, menghitung segala kemungkinan buruk jika dia menolak. Kalau pesta ini batal, besok pagi satu kampung akan membicarakannya. Ibu pasti pingsan lagi. Bapak harus menanggung malu, belum lagi utang biaya sisa katering dan tenda yang sudah telanjur terpasang. Dia akan dicap sebagai perempuan malang yang dicampakkan H-2 pernikahan. Tapi kalau dia menerima pria ini... setidaknya wajah orang tuanya terselamatkan. Urusan cinta? Persetan. Adam yang dicintainya lima tahun saja bisa berubah jadi bajingan karena SK PNS. Ica mengatupkan rahang, mengepalkan tangan di atas lututnya yang gemetar. "Baik, aku mau." Semua orang seketika membeku. Ica menatap Bapak dan ibunya bergantian, menunjukkan jika keputusannya ini benar-benar matang. “Tapi… ada syaratnya…” "Syarat apa, Ca?" Bapaknya menelan ludah. Ica berdehem, lalu tatapannya beralih ke Om-om sahabat bapak, "Om harus membayar semua biaya pesta ini sekarang juga. Sebagai bukti keseriusan." Katanya cuma petani, kita lihat punya duit tidak, batin Ica menantang. Tanpa sepatah kata, pria bernama Sak itu berdiri, merogoh saku belakang celananya, dan meletakkan sebuah kartu di atas meja. Mata Ica nyaris melompat keluar melihat kartu debit platinum berlogo bank swasta ternama di hadapannya. Petani zaman sekarang simpan uangnya bukan di bawah bantal lagi? "Kartu ini beneran milik Om, kan? Bukan hasil nyolong?" Sak tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu hanya menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis misterius yang mendadak membuat bulu kuduk Ica meremang.Sepagi ini dapur rumahnya sudah ramai. Ica masuk dapur dengan canggung. Apalagi berpasang-pasang mata saudaranya yang memang menginap memperhatikan semua gerak-geriknya, seolah Ica adalah spesies baru yang butuh diteliti. Ibu dan bapak memang masing-masing dari keluarga besar. Kalau saudara bapak yang memang asli orang kampung sini, bisa langsung pulang ke rumah masing-masing hanya menyisakan saudara dari pihak ibu. Namanya juga saudara banyak, ada yang baik ada juga yang julid. Kejadian kemarin itu tentu saja membuat Ica jadi pusat perhatian, banyak peramal dan hakim dadakan, dan yang paling menarik pasti apa malam tadi dia sudah melakukan malam pertama? Ih Ica paham betul arah pikiran mereka, karena itulah meski semalam dia dan Saka langsung tepar, paginya dia tetap keramas. “Kamu lapar, Ca?” tanya salah satu saudara melihat Ica yang membuka panci di atas kompor. Makanan sisa pesta memang masih ada dan sedang dihangatkan kembali, tapi pandangan mereka yang tak melepaskan Ic
Bapak dan ibu hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan anak dan mantunya. Sedangkan mbak Hanum dengan wajah jengkel harus menyuapi Ica. “Makasih ya, mbak,” kata Ica sambil memasang senyum termanisnya, begitu makanan telah habis. Mbak Hanum tak menjawab, tapi langsung turun dari panggung pelaminan dan pamit pulang. Lah kenapa piringnya juga dibawa pulang? Untung saja bulek dan paklek yang mendampingi Saka sudah turun dari panggung. Dari informasi yang didapat Ica, Saka itu anak bungsu dari dua bersaudara. Dia punya seorang kakak laki-laki yang menentap di Jakarta dan tidak bisa datang, sedangkan di sini dia tinggal bersama sang ibu dan kebetulan hari ini beliau juga sedang dirawat di rumah sakit karena darah tingginya kumat. Jadinya Saka datang bersama keluarga besarnya saja dan juga para tetangga. Itu saja mereka datang dalam satu bis besar. Ibu dan bapak saja sampai shock saat tahu pengiring pengantin yang dibawa Saka. “Ca.” Ica masih tak bereaksi dia masih tenggelam lamun
“Ini benar suaminya mbak nggak keteker kok.”Tawa semua orang menyambut kalimat itu. Astaga dia ketahuan. Ica makin grogi, apalagi sejak tadi dia sudah mencuri pandang pada pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu. Suami? Ih kok rasanya Ica bangga ya, dengan beskap putih itu, wajahnya berkali-kali lipat lebih ganteng dan macho. Biarlah petani miskin asal bertanggung jawab padanya dan yang pasti syarat pertama yang dia ajukan dipenuhi tanpa banyak nawar.Bersama PNS juga dia nggak pernah dijajanin. “Ca, tuh suruh tanda tangan.” Tata menyenggol tangan Ica yang masih melongo bengong. “Eh iya,” gagap Ica segera mengambil bolpoin, tapi tangan yang akan menggoreskan tanda tangan itu terhenti saat melihat tulisan di buku kecil itu. Ica tadi terlalu sibuk berdebat dengan Tata sampai tak mendengar Saka mengucap ijab qobul dan tentu saja dia sama sekali tak mendengar mahar apa yang diberikan pria itu untuknya. “Ini serius, Om?” Tanyanya tak percaya pada Saka yang ada di samping
“Icaaa!!!”Ica melotot galak pada temannya itu. Kok bisa ya, dia punya teman suaranya mirip toa begini, mana sekarang sedang hening, persiapan mau acara ijab qobul. Ica memang tak langsung keluar, dia akan menunggu di kamar sampai kata “Sah” terucap baru dia bisa menemui suaminya. “Diam kenapa sih, Ta. Itu tenggorokan nggak sakit kamu buat teriak-teriak terus.” “Eh kok kamu sewot sih Ca. grogi ya,” godanya sambil menaik turunkan alis. Ica menunjukkan tatapan paling tajam untuk Tata, tapi yang namanya Tata mana mempan dikasih peringatan kayak gitu, itu anak malah nyerocos. “Tahu nggak, Ca.” “Nggak,” jawab Ica ketus. Tuh kan, dikira Ica peramal, tahu apa yang belum dia katakan. “Idih manten apaan mukanya manyun gitu, kalau orang lihat pasti dikira kamu belum bisa move on dari si Adam.” “Siapa tuh Adam. Nggak kenal.” “Eleh lagakmu, pasti kamu sakit hati banget ya, tapi tenang kamu dapat yang lebih baik kok aku sudah lihat fotonya.” “Hah!!! Foto apa?”Tata mengotak-atik ponse






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.