MasukGara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar.
Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada bapak juga, tapi bapak malah bilang, “Ya sudah, Ca. turuti saja ibumu. Memang pengantin harusnya dipingit dan mempercantik diri biar suamimu besok pangling.” Tanpa melakukan perawatan apapun, Ica yakin calon suaminya sudah pangling padanya, wong mereka hanya ketemu dua kali, itupun tak sengaja. Belum lagi tambahan ceramah soal menjadi istri yang baik dan penurut pada suami dari ibu. Ica memang tidak bakal menang debat dengan orang tuanya. Dengan hati dongkol Ica mengunci pintu kamarnya. Jendela kamarnya lumayan besar sih. Bisa digunakan untuk kabur kalau dia benar-benar sudah suntuk. Sekarang dia mau nonton film dulu di laptopnya. Tapi bukan kabur dari pernikahan dua hari lagi ya, Ica hanya butuh sedikit hiburan, mungkin jalan-jalan lihat sawah atau nongkrong di café langganannya pake uang bapak tentunya. “Icaaaa…icaaaa… main yuk.” Itu suara Tata. Sahabat itu memang aduhhh… Dikira mereka masih bocah SD apa, cara manggilnya itu lhooo. Padahal Ica mau nikah lho rencananya. Bakal punya status baru di KTP dan sudah bisa bikin bocah…. Ica memukul kepalanya sendiri, ini pasti karena tuduhan ibu-ibu tadi yang mengotori pikirannya. “Icaaaa.” Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dan suara ibu terdengar. “Ca, ini ada Tata, kamu boleh keluar.” “Kalau tahu gini, dari tadi Ica sudah seret Tata untuk membawanya keluar rumah.” “Iya, bu.” Ibu masuk setelah Ica membuka pintu kamarnya, ibu menatap laptop yang masih menyala, lalu menggeleng sejenak. “Kamu boleh pergi ke salon sama Tata, tapi segera pulang sebelum jam lima.” Cinderella saja waktunya sampai jam dua belas malam, Ica cuma sampai jam lima sore. “Ini uangnya, yang cantik ya, itu badannya dilulur terus rambutnya dikeramas yang wangi jangan dekil begitu.” Memang rejeki nggak kemana, Ica tersenyum lebar menatap ibu lalu memeluknya dengan erat. “Sudah sana, itu Tata sudah menunggu.” Ica mengangguk dan berganti baju secepat mungkin. “Lama amat, Ca. sudah jamuran aku nunggu di sini,” gerutu Tata begitu Ica menghampirinya. “Salah sendiri ajak main nggak bilang-bilang.” “Memang kamu presiden pake bilang sebelumnya segala, sudah yuk.” *** Ica baru saja menghabiskan setengah gelas jusnya saat menyadari pandangan mata seseorang tak pernah beralih padanya. “Kamu mau tanya apa?” Sejak SD, dia sudah berteman dengan Tata dan sudah hapal betul dengan sifat temannya ini, meski Tata sekarang sudah bekerja di kecamatan dan hanya hari libur saja mereka ketemu tapi tetap saja tak bisa melunturkan ikatan persahabatan diantara mereka. “Hehehe… kamu kok tahu aku mau bertanya sesuatu.” Ica memutar bola matanya malas, sudah nasibnya mungkin akhir-akhir ini menjadi artis dadakan, banyak orang yang ingin bertanya padanya. Apalagi muaranya kalau bukan… Adam. Si biang masalah dari semuanya, pria pengecut yang tiba-tiba saja membatalkan pernikahan mereka dengan alasan konyol. “Soal pernikahanku kan?” tebak Ica dengan malas. “Wahhh!!! Aku nggak nyangka temanku ini bisa memprediksi masa depan, jangan bilang kamu dari masa depan, lalu hidup lagi- akhhh.” Dengan tak sabar Ica menyuapkan kentang goreng ke mulut Tata yang tidak bisa diam. Pusing dia mendengarnya. Kok bisa sih dia tahan berteman dengan mahluk cerewet kayak gini. “Caaa!!!” Ica sih cuek saja menghabiskan minumnya, Tata baru ngomong lagi setelah menelan kentang goreng di mulutnya. “Teman kejam. Kalau aku mati kesedak bagaimana.” “Mau lagi.” Tata langsung melotot tak terima. “Kalau nggak mau ya sudah,” kata Ica memasukkan kentang goreng itu ke mulutnya sendiri. “Benar kamu selingkuh dengan petani teman bapakmu?” “Enggak,” jawab Ica tenang. Gosip yang beredar, dia sudah mendengar semuanya. Ingin sekali Ica ke masjid dan meminjam toa di sana untuk memberi tahu seluruh kampung kalau dia tidak selingkuh. Baru dua kali bertemu juga itupun karena dulu ibu sedang pergi ke pasar dan bapak memintanya untuk membuatkan minuman dan mengantarkannya ke ruang tamu dan yang kedua adalah kemarin dan itupun kalau dia nggak ngomong ya dikira meja kursi. “Lalu kok bisa kamu tiba-tiba nikah sama dia? Kamu itu sudah jaman majapahit lho sama Adam.” Ica mendelik, tak terima dengan ucapan sahabatnya yang lebay ini. “Kamu seharusnya tanya Adam, bukan tanya aku, dia yang tiba-tiba datang membatalkan semuanya.” “Hah!!! Kok bisa, berita yang beredar katanya-“ pandangan tajam penuh cemoohan Ica membungkam kalimat Tata. “Terus… terus cerita aslinya bagaimana, aku sebenarnya juga nggak percaya makanya mau tanya kamu langsung. Kamu kan bucin sama Adam.” “Yeee siapa yang bucin.” “Kamulah siapa lagi. Apa namanya kalau pacaran selama bertahun-tahun kamu yang biayain padahal dia itu lebih tua lima tahun dari kamu.” Ica manyun tapi tidak bisa membantah ucapan Tata. Iya sih kok mau-maunya dia setiap keluar sama Adam selalu jadi mesin ATM, belum lagi dulu saat pria itu masih kuliah ada saja alasannya untuk meminjam uang pada Ica dan sampai sekarang jangankan balik, dia ingat saja enggak. “Ibu Adam bilang aku tak selevel dengan anaknya yang PNS.” “Hah!!! Nggak selevel bagaimana, kenapa baru sekarang?” Ica tersenyum kecut. “Ibunya punya calon yang lebih baik katanya.” “Calon yang lebih baik, itu maksudmu.” Tata menunjuk arah pintu masuk dengan dagunya. Ica menoleh dan matanya membelalak saat melihat Adam bersama cewek yang sangat dia kenal. Orang bodoh juga pasti tahu kalau mereka memang punya hubungan lebih karena tangan Adam yang melingkar erat di pinggang si cewek. Iyuhhhh. “Pantas sih kalau kamu dilepeh, Ca. mainnya sama bidan yang sudah bisa cari duit sendiri.” “Kenapa kesinggung, itu kenyataan kali. Sejak dulu Adam itu pelit nggak modal, kamunya saja yang percaya,” jawab Tata enteng dia masih santai menghabiskan makanannya tak peduli tatapan galak Ica. “Iya, akunya yang bodoh memang, aku kira nanti kalau dia sudah kerja akan berubah.” “Iya berubah nggak mau sama kamu.” Ica hanya tersenyum kecut. “Kamu mau ngelabrak dia nggak? Permaluin gitu.” “Buat apaan, kami sudah tak ada apa-apa.” “Yaelah, Ca. kamu di sekolah aja pinter tapi masak gini aja kamu nggak ngerti sih.” “Apa maksudmu?” “Pernah nggak sih kamu mikir kalau Adam yang mengatur supaya gosip menyebar kalau kamu yang selingkuh bukan dia.” Ica terdiam sejenak. Apa benar begitu? “Soalnya aku nggak pernah percaya kalau kamu itu selingkuh. Kamu itu tipe lugu…lugu… bego… mau saja dikadalin sama buaya.” Suara Tata kembali terdengar tapi masih tak mampu memecah kebisuan Ica. “Aku temani, deh kalau mau melabrak mereka, nih kebetulan es kopiku masih banyak.” Ica menggeleng dia meraih ponselnya, lalu memotret mereka dalam beberapa sudut yang jelas lalu senyum kecil terbit di bibirnya. Tata yang penasaran langsung pindah tempat duduk di samping Ica. “Itu kamu kirim ke siapa, Ca?” “Bu RT,” jawab Ica kalem. “Hah, memang apa hubungannya dengan bu RT?” tanya Tata bingung. “Biar diupload ke grup RT kalau perlu biar diumumkan waktu arisan RT.”Sepagi ini dapur rumahnya sudah ramai. Ica masuk dapur dengan canggung. Apalagi berpasang-pasang mata saudaranya yang memang menginap memperhatikan semua gerak-geriknya, seolah Ica adalah spesies baru yang butuh diteliti. Ibu dan bapak memang masing-masing dari keluarga besar. Kalau saudara bapak yang memang asli orang kampung sini, bisa langsung pulang ke rumah masing-masing hanya menyisakan saudara dari pihak ibu. Namanya juga saudara banyak, ada yang baik ada juga yang julid. Kejadian kemarin itu tentu saja membuat Ica jadi pusat perhatian, banyak peramal dan hakim dadakan, dan yang paling menarik pasti apa malam tadi dia sudah melakukan malam pertama? Ih Ica paham betul arah pikiran mereka, karena itulah meski semalam dia dan Saka langsung tepar, paginya dia tetap keramas. “Kamu lapar, Ca?” tanya salah satu saudara melihat Ica yang membuka panci di atas kompor. Makanan sisa pesta memang masih ada dan sedang dihangatkan kembali, tapi pandangan mereka yang tak melepaskan Ic
Bapak dan ibu hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan anak dan mantunya. Sedangkan mbak Hanum dengan wajah jengkel harus menyuapi Ica. “Makasih ya, mbak,” kata Ica sambil memasang senyum termanisnya, begitu makanan telah habis. Mbak Hanum tak menjawab, tapi langsung turun dari panggung pelaminan dan pamit pulang. Lah kenapa piringnya juga dibawa pulang? Untung saja bulek dan paklek yang mendampingi Saka sudah turun dari panggung. Dari informasi yang didapat Ica, Saka itu anak bungsu dari dua bersaudara. Dia punya seorang kakak laki-laki yang menentap di Jakarta dan tidak bisa datang, sedangkan di sini dia tinggal bersama sang ibu dan kebetulan hari ini beliau juga sedang dirawat di rumah sakit karena darah tingginya kumat. Jadinya Saka datang bersama keluarga besarnya saja dan juga para tetangga. Itu saja mereka datang dalam satu bis besar. Ibu dan bapak saja sampai shock saat tahu pengiring pengantin yang dibawa Saka. “Ca.” Ica masih tak bereaksi dia masih tenggelam lamun
“Ini benar suaminya mbak nggak keteker kok.”Tawa semua orang menyambut kalimat itu. Astaga dia ketahuan. Ica makin grogi, apalagi sejak tadi dia sudah mencuri pandang pada pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu. Suami? Ih kok rasanya Ica bangga ya, dengan beskap putih itu, wajahnya berkali-kali lipat lebih ganteng dan macho. Biarlah petani miskin asal bertanggung jawab padanya dan yang pasti syarat pertama yang dia ajukan dipenuhi tanpa banyak nawar.Bersama PNS juga dia nggak pernah dijajanin. “Ca, tuh suruh tanda tangan.” Tata menyenggol tangan Ica yang masih melongo bengong. “Eh iya,” gagap Ica segera mengambil bolpoin, tapi tangan yang akan menggoreskan tanda tangan itu terhenti saat melihat tulisan di buku kecil itu. Ica tadi terlalu sibuk berdebat dengan Tata sampai tak mendengar Saka mengucap ijab qobul dan tentu saja dia sama sekali tak mendengar mahar apa yang diberikan pria itu untuknya. “Ini serius, Om?” Tanyanya tak percaya pada Saka yang ada di samping
“Icaaa!!!”Ica melotot galak pada temannya itu. Kok bisa ya, dia punya teman suaranya mirip toa begini, mana sekarang sedang hening, persiapan mau acara ijab qobul. Ica memang tak langsung keluar, dia akan menunggu di kamar sampai kata “Sah” terucap baru dia bisa menemui suaminya. “Diam kenapa sih, Ta. Itu tenggorokan nggak sakit kamu buat teriak-teriak terus.” “Eh kok kamu sewot sih Ca. grogi ya,” godanya sambil menaik turunkan alis. Ica menunjukkan tatapan paling tajam untuk Tata, tapi yang namanya Tata mana mempan dikasih peringatan kayak gitu, itu anak malah nyerocos. “Tahu nggak, Ca.” “Nggak,” jawab Ica ketus. Tuh kan, dikira Ica peramal, tahu apa yang belum dia katakan. “Idih manten apaan mukanya manyun gitu, kalau orang lihat pasti dikira kamu belum bisa move on dari si Adam.” “Siapa tuh Adam. Nggak kenal.” “Eleh lagakmu, pasti kamu sakit hati banget ya, tapi tenang kamu dapat yang lebih baik kok aku sudah lihat fotonya.” “Hah!!! Foto apa?”Tata mengotak-atik ponse
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pasti segan membangunkannya. Pelan bangettt… Ica melepaskan pelukan ibu, dia ngeriii juga kalau ibu tiba-tiba ketawa kayak mbak kunti setelah menangis sejak tadi. Untung persediaan air minum Ica masih ada. “Bismillahirrohmannirrohim….” Bandel-bandel gini sholat lima waktu Ica nggak pernah bolong, dan yang lebih penting dia hapal surat al-fatihah berserta artinya. Ica meniup air dalam gelasnya tiga kali setelah mengucap amin, lalu mencipratkan ke wajah ibu. “Ca?!!! kamu apa-apaan sih, lihat ini spreimu jadi basah. Ibu sudah susah-susah bawa ke londri malah kamu kotori lagi. Besok kamu mau nikah. Memangnya mau pake sprei buluk.” “Alhamdulillah!” ucap Ica penuh syukur. Kan! Jin pen
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan mengutuk si pengecut itu. Tapi dasarnya setan itu memang tak tahu diri, dia malah datang mendekati Ica yang sedang berdiri di samping motor Tata, sedangkan Tatanya sendiri pamit ke kamar kecil sebentar. Ica ingin pergi menghindar, tapi buat apa coba, dia nggak salah kok lagi pula ini tempat umum bukan punya dia. Meski hatinya masih sakit tapi dia sudah coba ikhlaskan. Anggap saja hama. “Hon.” Itu memang panggilan sayang Adam untuk Ica, tapi karena sekarang Adam tidak ada lagi hubungan dengannya, Ica nggak mau kegeeran itu masih panggilan untuknya. “Ica, honey.” Ica juga belum menoleh dia masih sibuk dengan ponselnya. Baru setelah merasa seseorang memegang pundaknya dia mengangkat kepa







