เข้าสู่ระบบ"Kak, jangan! Nanti ketahuan Mas Tama." Alena sering berfantasi sendiri dalam menuntaskan hasratnya. Suaminya~Tama, pria itu selalu acuh, bahkan jarang sekali menyenangkan Alena jika menyangkut urusan ranjang. Hingga pada akhirnya, Alena memutuskan untuk menceritakan semua masalah rumah tangganya, bahkan urusan ranjang sekali pun kepada Kakak Iparnya. Dan kebetulan, sosok Aston ini adalah Dokter SpOG.
ดูเพิ่มเติม"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.
Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang. Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu, hanya menatapnya datar setelah masuk ke dalam kamar. Sambil melepaskan kancing kemejanya, Tama menatap Alena dengan tatapan lelah tanpa cinta. Bukan kelembutan yang Alena dapat. Tanpa pemanasan atau rangsangan terlebih dulu, Tama langsung merebahkan tubuh Alena dan menarik pakaian dalam wanita itu secara kasar. Tama segera menghentakkan pinggurnya, bergerak cepat dan kasar. Sekuat tenaga Alena menahan desahannya dengan rasa perih yang menjalar. Bukannya kenikmatan yang dirinya dapat, melainkan rasa sakit. Perih. Kebas. Dan hambar. "Mas... Ahhh... Tolong pelan sedikit, ini sakit...." Pekiknya sambil meringis. "Tidak bisa Alena... Aku sudah lelah, dan aku harus segera menyelesaikannya," balas Tama dingin. Tama sama sekali tidak memedulikan rengekan maupun rasa kecewa sang istri. Baginya, pemenuhan hasrat ini tak lebih dari sekadar rutinitas biologis yang harus segera ia tuntaskan. Sentuhan-sentuhan dambaan istrinya itu justru membuatnya merasa terbebani dan muak. "Ini sakit, Mas! Aku sama sekali tidak menikmatinya," balas Alena yang hanya dapat pasrah. Tama tidak menjawab, hingga beberapa saat kemudian pergerakannya berhenti. Pria itu langsung menarik diri tanpa memberikan jeda atau dekapan hangat, lalu melangkah acuh menuju kamar mandi. Sudut mata Alena menetes. Masih dalam keadaan polos itu dirinya ditinggalkan begitu saja layaknya wanita bayaran. Di bawah lampu temaram luas, hatinya terasa hancur. Tama seolah menghempas harga dirinya begitu saja. Sudah hampir satu tahun ini—sejak Tama disibukkan dengan jadwal rumah sakit setelah sumpah dokternya—Alena merasa kehilangan suaminya. Tama memang ada di depannya, selalu pulang tepat waktu, tetapi pria itu selalu mengabaikan urusan ranjang dan tidak pernah menyentuhnya dengan cinta. Apalagi setelah ada operasi besar, suaminya itu bahkan bisa berminggu-minggu tidak menyentuhnya. Alena sempat curiga; apakah suaminya memiliki wanita lain di luar sana? Apakah Tama sudah tidak mencintainya? Malam itu, Alena masih merasakan gejolak hasrat yang menggantung dan tak tersalurkan. Tama sangat egois. Sambil bangkit, Alena mengenakan kembali daster tipisnya. Bahu kecilnya luruh, tatapannya menghujam lantai marmer dengan nanar. Untuk sejenak, Alena menatap ke arah pintu kamar mandi. Suaminya masih belum keluar. "Aku ke kamar mandi bawah saja," putus Alena bergegas untuk turun. Pukul sebelas malam, rumah besar itu terasa sepi dan senyap. Alena mengira mertuanya sudah terlelap. Wanita itu berjalan pelan menuruni anak tangga, hingga langkahnya tertahan di undakan terakhir. Asumsinya salah. Di ruang tengah, sorot cahaya dari layar televisi masih menyala. Alena yakin Kakak Iparnya masih terjaga. Dan kebetulan, Alena masih satu rumah dengan Iparnya -Aston. "Kak Aston masih belum tidur? Lebih baik aku ke kamar tamu saja," putus Alena melanjutkan jalannya menuju kamar tamu di belakang sofa. Aston yang melihat siluet badan seseorang terpantul pada sorot televisi, kini refleks menoleh. Kerutan tipis muncul di dahinya saat melihat Iparnya masuk ke dalam kamar tamu sendirian pada jam selarut ini. Alena? Untuk apa dia ke kamar tamu? Apa dia tidak tahu aku tidur di sana dua hari ini? Aston membatin. Namun, pria itu segera menepis pikirannya. Mungkin Alena hanya menumpang ke kamar mandi karena keran di kamarnya bermasalah. Aston kembali fokus pada tayangan berita di televisi. Sementara di dalam kamar tamu, Alena langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia melepaskan dasternya, lalu menyalakan shower. Di bawah guyuran air hangat, hasratnya yang menggantung memaksa untuk diselesaikan. Perlahan, Alena mulai menyentuh dirinya sendiri. Malam ini, ia terpaksa berfantasi demi mencapai puncak gairah yang selalu terpendam. Bayangannya kembali pada masa awal pernikahan, saat Tama menyentuhnya dengan penuh cinta. Saat tangan kekar suaminya merengkuh tubuhnya dengan lembut. Alena menggigit bibir bawahnya, desahan halusnya mulai berirama mengikuti gerakan jemarinya sendiri. "Shhh... Ahhh... Remas lebih kuat, Tama!" Racauan Alena semakin menjadi. Malam pertama itu penuh kenangan manis yang selalu menari dalam ingatannya. Dulu, Tama tidak hanya menatapnya dengan penuh damba, tetapi juga menyerahkan seluruh perhatiannya. "Ouhhh... Tama... Ini sangat enak...." Alena membusungkan dadanya, menikmati stimulasi yang terpaksa ia ciptakan sendiri. Sentuhan mandiri itu memberikan kehangatan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari suaminya. "Tama... Ouhhh... Lakukan lebih cepat! Aku sudah tidak tahan lagi...." Racaunya. Di luar, Aston merentangkan kedua tangannya. Jam dinding klasik menunjukkan pukul dua belas malam. Rasa kantuk mulai menyerang. Sambil mematikan televisi, ia bangkit menuju kamar tamu. Sudah dua hari ini AC di kamar utamanya mati, sehingga ia terpaksa mengungsi ke kamar tamu. Aston mengira Iparnya sudah kembali ke atas. Namun, saat ia mendorong pintu kamar, suara gemercik shower dari kamar mandi masih terdengar. Langkah Aston tertahan. Pintu kamar mandi itu rupanya tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil. Aston bermaksud untuk mengetuknya, tetapi gerakan pria itu mendadak kaku. Melalui celah sempit itu, ia bisa melihat dengan jelas siluet tubuh Iparnya yang tanpa busana di balik dinding kaca yang basah, lengkap dengan suara desahan tertahan yang mengalun di sela gemercik air. Aston menegang. Sebagai seorang dokter spesialis, tubuh wanita bukanlah hal asing baginya. Namun, melihat Iparnya berada dalam situasi seintim itu di kamarnya, membuat sudut matanya menggelap. Pria paruh baya itu berdiri tak bergerak selama beberapa saat, mengamati dalam keheningan yang dingin sebelum akhirnya melangkah mundur dengan sangat pelan, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan mata. Dua puluh menit kemudian, Alena baru saja menyelesaikan pelepasan hasratnya. Tubuhnya bersandar lemas pada dinding marmer kamar mandi. Setelah berhasil mengontrol napasnya, ia mengeringkan tubuh dan mengenakan kembali dasternya. Namun, begitu melangkah keluar kamar mandi, jantung Alena seolah berhenti berdetak. Matanya membelalak sempurna saat melihat Iparnya sudah berbaring di atas ranjang. Apa Kak Aston melihatku? batin Alena didera kecemasan luar biasa. Bagaimana bisa ia lupa kalau Iparnya sedang mengungsi di kamar tamu? Dengan langkah super pelan dan diselimuti ketakutan, Alena menyelinap keluar dari kamar tamu. Tuhan, bagaimana jika Iparnya melihat semuanya?Alena membalikan badan. Leon di depanya tersenyum tipis menghanyutkan. "Kenapa menatap saya kayak gitu?" Leon menarik satu alisnya. "Dimana mobil saya?!" Cetusnya. Leon menghentikan kedua bahunya. Lalu berjalan ke sembarang arah dengan wajah tengilnya. Sementara Alena yang masih membeku di belakangnya, raut wajah itu berubah merah, kedua tanganya terkepal erat, hampir saja emosinya meledak. "Heh, singa!" Alena membalikan badan, melempar tatapan kuat ke arah tempat Leon. Mata Leom mendelik. Leana yang mengintip diambang pintu hanya dapat cekikikan saja. Sementara Alena kini beranjak menghampiri pria itu. Berdiri di depan Leon sambil berkacak pinggang. "Mana?!" "Apanya?" Leon mengunci tatapan Alena. Antara keduanya tak mau mengalah. Saling tatap. Saling bersitegang, seperti dua petinju yang di lepaskan dalam satu ring yang sama. Kepala Alena su
Pri tadi terdiam. Seolah berpikir ketika akan menjawab pertanyaan Alena. Dahinya masih menyisakan kerutan tipis. Lalu menjawab dengan suara rendah. "Apa Mbak-Mbak ini datang karena tau jika Non Rania sudah di temukan 1 tahun lalu?!" Deg! Tubuh Alena membeku. Ia terdiam dengan mata sedikit terbuka, seperti dakwaan yang mendapat jatuhan vonis. Leana yang menyadari langsung membuka suara. Dan ternyata benar dugaannya tadi. Rania selama ini masih hidup, dan menjadi rahasia umum. Tapi yang masih membuat Alena tidak faham, untuk 1 tahun itu... Mengapa Aston tidak pernah tahu ataupun melihat sang pujaan, sementara tempat tinggal Rania yang baru cukup dekat dengan gemerlap Ibukota. "Oh maaf, Pak... Jadi ternyata kabar itu benar adanya? Setelah kami tahu, kami berdua cepat-cepat datang mencari alamat Mbak Rania yang baru." Leana melirik Alena sekilas, kembali menatap pria tadi, memancing beberapa
Tama masuk dengan langkah tergesa, tatapan yang sangat serius. Seolah pria itu baru saja mengetahui sesuatu yang menggemparkan. Ia menarik kursi dan langsung duduk begitu saja. "Mas, ada sesuatu yang mau aku bicarakan serius," ucapnya meyakinkan. Aston meruncingkan kedua alisnya. Duduk tegap dalam balutan wajah profesionalisme. "Apa itu? Masalah kerjaan?" "Bukan! Ternyata pasien yang nanti akan menjalani operasi adalah Om Herman. Ayahnya Mbak Rania!" Deg! Wajah Aston brubah serius dan lebih mencekam. Jantungnya mulai berpacu cepat, hingga membuat duduknya lebih maju ke depan penuh rasa penasaran. "Apa Om Herman di rawat disini?" "Pindahan dari rumah sakit Marwadi Sehat. Operasinya nanti pukul sebelas siang," jelas Tama. Setelah mengatakan itu, ia menjeda kalimatnya beberapa detik. Dahinya terlipat tipis, pikirannya bergolak pada hal janggal yang baru saja dirinya terima.
Alena dan Leana reflek menoleh ke belakang. Kebetulan dirinya ingin bertanya mengenai rumah Rania saat ini. "Maaf, Bu... Ini benar rumah Rania?" Alena akhirnya membuka suara. "Benar, Neng. Ini rumahnya Mbak Rania. Tapi sebentar, apa Neng berdua ini nggak tahu? Temannya atau kerabat ya?" Ibu-ibu tadi menatap kedua wanita di depannya dengan lipatan tipis pada dahinya. "Kami teman semasa fakultasnya, Bu," sahut Leana. Ibu-ibu tadi manggut-manggut kecil. "Oh, pantes nggak tahu ceritanya ya? Keluarga Mbak Rania sudah pindah lama, setelah kabar pencarian Mbak Rania yang nggak menemukan titik terang." "Memang benar kabarnya hilang, Bu?" Alena menatap sangat serius. Hanya mendengar kisah Rania dari tetangga, ia dan Leana dapat merasakan perih dan ikut larut dalam kisah wanita itu. "Benar, Neng. Saat acara mendaki di puncak, Mbak Ra
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น