LOGINAlena sering berfantasi sendiri dalam menuntaskan hasratnya. Suaminya~Tama, pria itu selalu acuh, bahkan jarang sekali menyenangkan Alena jika menyangkut urusan ranjang. Hingga pada akhirnya, Alena memutuskan untuk menceritakan semua masalah rumah tangganya, bahkan urusan ranjang sekali pun kepada Kakak Iparnya. Dan kebetulan, sosok Aston ini adalah Dokter SpOG. "Kak, jangan! Nanti ketahuan Mas Tama."
View MorePov ANA.
Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya. Dua bulan lalu, Sasha datang ke apartemenku berlutut sambil terisak. "Ana, aku hamil dan anak ini adalah anaknya Max. Tolong jangan marah." Aku tidak menangis saat itu. Aku hanya diam. Aku tidak tahu harus marah kepada siapa. Kepada Max yang bilang dia sibuk dengan pekerjaannya? Atau kepada Sasha yang setiap pagi minum kopi bersamaku sambil bercerita tentang cowok-cowok yang mendekatinya? Sekarang mereka menikah dan mereka berciuman di altar. Semua orang bertepuk tangan. Keluarga Max, keluarga Sasha, teman-teman yang mengenalku sebagai "teman baik Sasha". Tidak ada yang menoleh ke arahku. Aku berdiri pelan, berjalan keluar melalui pintu samping Di luar, teleponku bergetar kencang di saku celana. "Hey gendut! Datang ke mall sekarang!" Aku segera berjalan cepat ke mall dan butuh waktu dua puluh menit, nafasku ngos-ngosan karena berat tubuhku yang berlebihan. Sesampainya di sana, Clara sudah menunggu. "Astaga, lama sekali," keluh Clara sambil menyodorkan tiga tas besar ke tanganku. "Bawa ini." Aku mengangkat semua tas itu. Beratnya menarik bahuku ke bawah. Dia berjalan di depanku dengan langkah santai sepatu mahalnya sambil bercerita tentang pesta semalam di klub malam yang tidak pernah aku injak karena satu kali masuknya bisa untuk beli makanku seminggu. Aku hanya mengikuti, sesekali menyesuaikan tas yang mulai tergelincir dari bahuku, sesekali menunduk untuk menghindari tatapan orang yang melihat seorang gadis dengan rambut keriting kusut membawa tumpukan tas mewah di siang hari. Sampai di depan mall, Clara berhenti di area drop-off. Aku meletakkan tas-tas itu di trotoar batu sambil mengatur napas. Tanganku terasa seperti akan lepas dari bahu. Beberapa saat kemudian, tiga mobil mewah berhenti tepat di depan kami. Pengawal-pengawal keluar dari mobil di depan dan belakang. Mereka membuka pintu dengan gerakan sigap, dan keluar dari dalam mobil para pria paruh baya dengan jas rapi, sepatu mengilap, dan wajah tanpa kerutan. Salah satunya adalah ayah Clara. "Oh aku lupa, Ana," Clara berbalik dan ia mengeluarkan beberapa lembar euro, dua puluh, lima puluh, sepuluh lalu melemparnya ke arahku. Uang itu mengenai pipi kiriku, lalu jatuh ke tanah. Dia sudah mengulang hinaan ini ratusan kali selama dua tahun. Dulu aku merasa sakit hati tapi sekarang tidak ada yang bisa lebih menyakitkan dari apa yang sudah kualami pagi ini ketika melihat pacarku menikah dengan sahabatku. Aku menunduk. Aku memunguti lembaran-lembaran euro itu satu per satu dan memasukkan uang itu ke dalam saku jaketku tanpa menghitung. Saat aku berdiri kembali dan menepuk debu dari lutut celanaku, Clara sudah masuk ke dalam mobil tapi sebelum pintu mobil menutup, aku melihat sesuatu yang menghentikan napasku sebentar. Di kursi belakang masing-masing mobil, para pria itu menatapku. Aku tidak bisa bergerak lalu pintu mobil menutup satu per satu. Tiga mobil itu melaju pergi bersamaan, meninggalkan aku berdiri sendirian di trotoar dengan uang kotor di saku dan bau asap knalpot di hidung. Kemudian aku kembali ke mansion, tentu saja itu bukan mansionku, aku bekerja di sana, di rumah ayah Clara. Setibanya di sana, aku buka pintu kamarku dengan kunci yang sudah berkarat lalu aku menangis untuk pertama kalinya hari itu. Aku baru saja menenangkan diri ketika ponselku bergetar lagi. Kukira pesan dari Clara tapi ternyata Max. "Aku tahu kamu ada di gereja tadi. Kamu lihat sendiri kan? Sasha cantik sedangkan kamu?Coba deh intropeksi diri. Masa pacarmu milih cewek lain, kamu masih nggak sadar kenapa? Kamu tidak bisa merawat diri dengan baik. Dasar gadis jelek dan gendut! Setelah ini tidak ada laki laki yang mau dengan gadis gendut sepertimu!" Aku membaca sekali sampai dua kali. Bukan permintaan maaf, bukan penyesalan. Justru hinaan dari laki-laki yang sebelumnya menjadi pacarku. Aku ingin membalas dan ingin menulis semua kepedihan yang mengendap dua bulan terakhir tapi tanganku berhenti. Tidak perlu karena ia bukan lagi urusanku. Aku tekan namanya lalu pilih blokir tapi tak sampai satu menit kemudian sebuah pesan masuk dari Clara. "Hei gendut! Ke kolam renang sekarang!"Alena sudah tidak dapat lagi menahan gejolak yang hampir meledakan emosionalnya saat ini. Sentuhan panas itu membuat dadanya lebih membusung naik ketika bibir Aston berhasil mencapai pucuk kemerahan dibalik daster tipisnya. Sensasi memutar dari lidah Aston diluar kain satin -menusuk pucuk gundukannya, Alena merasakan gigitan kecil yang membuat sekujur tubuhnya terasa lemas bersamaan. Aston memainkan dua aset kembar Alena beberapa menit, hingga remasan lembut itu serasa membuat tubuh Alena terbang menembus nirwana. Shhh... Lenguhan bercampur suara kecapan mulut Asto yang terus menyesap dua aset sang Ipar, kini menusuk setiap sudut kamar -membuat sensasi ke-intiman lebih hidup. Aston menarik kain segitiga yang menutupi aset berharga Alena. Dengan bersamaan itu, tangan Alena juga sibuk membantu sang Ipar menurunkan boxer yang masih membungkus pusat inti Aston. Di balik kabut gairah yang sudah mencapai ubun-ubun, Aston bersiap menerobos pusat pertahanan Ale
Aston merebahkan tubuh Alena. Senyum mengayun menyelimuti suasana intim di dalam kamar itu. Ada perasaan tenang yang menyelinap masuk. Alena tersenyum malu, rona pipinya bersemu merah. "Kak... Terimakasih, ya. Aku bahagia sekali masih ada Kak Aston yang peduli sama Alena."Aston yang masih mengukung tubuh Alena, kini satu tanganya membelai lembut wajah sang Ipar, lalu menyingkirkan anak rambut yang bebas menyapu wajah Alena. Aston tersenyum. Sekilas, ia berikan ciuman beberapa detik sebagai rasa kenyamanan yang tersisa. "Apapun akan saya lakukan demi kamu, Alena!" Ada sebuah penegasan yang di bungkus rasa cinta. Aston akui, akhir-akhir ini hidupnya berantakan jika tidak ada sang Ipar. "Bertahanlah lebih lama lagi disini, karena saya sangat membutuhkanmu untuk masa depan saya kelak."Alena tersenyum lembut. Kedua tanganya membingka rahang tegas sang Dokter. "I love you, Kak Aston."Cup!Alena menempelkan bibirnya sejenak pada bibir Aston, merasaka
Malam itu, Alena memutuskan keluar dari kamar Aston, sebab Tama sudah memutuskan menjaga Kakaknya disana. Dan beberapa menit itu, disaat Tama tengah mengontrol selang infus sang Kakak, mata Aston perlahan mengerjab. Kepalanya masih menyisakan denyut nyeri, namun setelah ia berhasil bangkit menyeret tubuhnya ke belakang, wajahnya syok -menegak ke samping disaat melihat sang Adik berdiri antusias tengah fokus menstabilkan infus yang keluar. "Tama? Kamu ada disini?" Suara bass bercampur serak itu menarik wajah Tama hingga menoleh kearah sang Kakak. Tama masih bersikap santai, melepaskan tanganya dari selang infus, lalu berjalan mendekat. "Iya, Mas. Aku kesini tadi sore sama Ben, setelah Alena telfon," katanya. Tama kini duduk di sofa single, menatap wajah sang Kakak yang sudah lebih segar daripada sebelumnya. "Bagaimana perasaan Mas Aston? Sudah enakan? Kenapa bisa sampai demam tinggi sekali? Nggak biasanya kamu capek." Aston menghela nap
Alena mengangguk. Tanganya bergerilya turun mengusap dada bidang Aston yang terbuka tiga kancing piyamanya. "Alena melihat bagaimana tubuh Kak Aston berekasi saat menginginkan Alena. Padahal... Jika Kak Aston bilang saja, Alena akan lebih bahagia dan ter-miliki seutuhnya." Aston mulai menurunkan cardigan tadi pada bahu mulus Alena. Dan setelah kain tebal itu luruh diatas ranjang, Aston mulai menyingkirkan rambut Alena ke samping. Pria itu membelai bahu mulus sang Ipar, hingga Alena hanya mampu memejamkan mata dengan jantung yang mulai berpacu kuat. Aston menarik tubuh Alena untuk dirinya dekap. Antara dinginya AC, panasnya tubuh Aston, serta desakan gairah yang mencapai ujung, Alena dapat merasakan betapa inginnya sang Ipar untuk menyentuhnya lebih dalam. "Alena... Malam ini saya menginginkanmu," bisik Aston dibalik ceruk leher sang Ipar. Alena menarik tubuhnya sejenak. Bagaimana mungkin dalam keada












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.