Share

Bab 7. VIP

Penulis: Liani April
last update Tanggal publikasi: 2026-06-11 11:10:35

Pagi itu Minari sedang bersantai di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Dua asisten rumah tangga di kejauhan sibuk mengatur vas bunga baru di ruang tamu.

Suasana tenang. Terlalu tenang. Sampai ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar membuat alis Minari terangkat.

Rin.

Begitu panggilan tersambung ia berteriak.

“MINARIIIIII!”

Minari refleks menjauhkan ponselnya dari telinga.

“Kenapa teriak?”

“Aku mau mati!”

“Kalau mau mati, telepon ambulans.”

“Bukan itu!” Rin mengeluh dramatis. “
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 7. VIP

    Pagi itu Minari sedang bersantai di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Dua asisten rumah tangga di kejauhan sibuk mengatur vas bunga baru di ruang tamu.Suasana tenang. Terlalu tenang. Sampai ponselnya berdering.Nama yang muncul di layar membuat alis Minari terangkat.Rin.Begitu panggilan tersambung ia berteriak.“MINARIIIIII!”Minari refleks menjauhkan ponselnya dari telinga.“Kenapa teriak?”“Aku mau mati!”“Kalau mau mati, telepon ambulans.”“Bukan itu!” Rin mengeluh dramatis. “Penyanyi favoritku datang. Hari ini. Di atrium hotel bintang tujuh!”Minari mengernyit. “Lalu?”“Aku mau nonton.”“Hm.”“Tapi aku tidak punya teman!”Hening.Minari menopang dagu.“Ayo, aku temani.”Sunyi sesaat.“Hah? Kau serius?” Rin terdengar syok. “Bukannya, kau biasanya dikawal ke mana-mana?”Minari mendengkus pelan.“Itu dulu. Sekarang aku tinggal sendiri.” Jeda sebentar. “Aku bebas.”Senyum kecil muncul di bibirnya. Ia masih menyukai kata itu.Bebas.Tidak ada pengawasan. Tidak ada jadwal

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 6. Kebebasan Pertama

    Minari bermimpi lagi. Masih seperti sebelumnya. Seorang pria berlutut di hadapannya. Bahu pria itu bergetar. Tangisnya terdengar menyayat hati, seolah ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan darinya. “Rooha...” Suara itu kembali memanggil nama yang tidak dikenali Minari. “Rooha...” Pria itu mengangkat wajahnya. Mata hazel. Mata yang entah kenapa membuat dada Minari terasa sesak. Mimpi itu selalu hanya sampai sana. Ia tidak melakukan apa-apa dan langsung terbangun. “Hah!” Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi pelipis hingga leher. Kepala Minari kembali berdenyut. Bahkan lebih sakit dibanding biasanya. Minari memejamkan mata sambil menekan pelipisnya dengan kedua tangan. Belakangan ini mimpi itu datang semakin sering. Dan setiap kali terbangun, rasa sakit di kepalanya juga semakin kuat. Setelah dipikir-pikir, semua itu mulai terjadi sejak ia berhenti meminum obat penenang pemberian Alistair. Papa selalu mengira ia menghabiskan obat tersebut sesuai jadwal

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 5. Semanggi

    Malam itu, taman utama kawasan mansion berubah menjadi lautan cahaya.Lampu-lampu kristal menggantung di antara pepohonan, memantulkan warna keemasan ke segala arah. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur suara gelas yang saling beradu dan percakapan orang-orang.Minari datang bersama Zian.Ia mengenakan gaun hitam sederhana dengan potongan elegan yang membuatnya terlihat anggun tanpa perlu berusaha terlalu keras. Sementara di sampingnya, Zian berdiri dengan setelan gelap mahal dan senyum formalitas yang tampak sempurna.Begitu mereka melangkah masuk, beberapa penghuni mansion langsung menghampiri.“Selamat datang. Akhirnya bertemu langsung dengan putri keluarga Halden.”Minari membalas dengan senyum tipis. Senyum yang selama bertahun-tahun telah ia pelajari.Namun di sela keramaian itu, matanya bergerak pelan.Ia mencari sesuatu. Dan langsung menemukannya.Evan.Rupanya pria itu sudah datang lebih dulu.Ia berdiri tidak jauh dari kerumunan, mengenakan setelan abu gelap sederhana ta

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 4. Pria yang Sulit Didekati

    “Aku hitung sampai tiga. Keluar dari sini!”Wanita itu langsung panik.Dengan tergesa-gesa ia turun dari tubuh Zian, meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya sembarangan.Tak sampai satu menit, wanita itu sudah berlari keluar mansion tanpa berani menoleh lagi.Suasana mendadak sunyi.Zian masih duduk santai di sofa. Seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan.Ia mengenakan celananya perlahan, lalu menatap Minari dengan sorot mata tajam bercampur kesal.“Sialan,” gerutunya. “Kau tidak bisa masuk ke rumah orang seenaknya.”Minari melipat tangan di depan dada.“Kurasa kau belum paham ucapanku waktu itu.” Nada suara Minari meninggi. “Tahan dirimu sampai kita menikah. Hanya tiga bulan. Apa sesulit itu?”Zian tertawa pendek.“Aku melakukannya di rumahku.” Zian mendengkus. “Lagipula tidak akan ada yang tahu.”“Justru karena ini rumahmu!” balas Minari cepat. “Tetangga bisa melihat wanita keluar masuk mansionmu. Orang-orang tahu kau bertunangan denganku. Kalau sampai ada

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 3. Tetangga Baru

    Pintu terbuka, Minari terbelalak kaget melihat tamunya yang datang.“Hai, aku tetangga baru. Aku mau memberikan camilan sebagai tanda perkenalan."Minari membeku.Bukan hanya karena kedatangannya yang tiba-tiba, tetapi juga karena pria yang berdiri di depan pintunya adalah sosok bermata hazel yang ia temui di pesta pertunangan kemarin malam.“Loh, kamu pria yang di pesta itu, kan?”Pria itu tampak sama terkejutnya. “Oh, kau tinggal di sini juga?”Minari mengangguk ragu. Masih belum bisa mencerna apa yang terjadi pagi hari ini.“Ya, aku baru pindah kemarin malam.” Minari menyandarkan tubuh di daun pintu. “Lalu beberapa jam kemudian kau muncul di depan rumahku.”Ekspresi pria itu terlihat jauh lebih santai dibanding pertemuan pertama mereka.“Wah, kebetulan yang langka.” Ia terkekeh pelan. “Aku juga baru pindah tiga hari lalu. Baru selesai membereskan barang-barang. Kupikir tidak ada salahnya berkenalan dengan tetangga sambil membawa sesuatu.”Ia mengulurkan sebuah kotak kecil. Lalu Mina

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 2. Rumah Impian

    “Lehermu. Aku bisa melihat bekas ciuman di sana.”Zian terkesiap. Namun hanya sepersekian detik.Setelah itu, ia kembali pada ekspresi santainya, seolah tidak terjadi apa-apa.“Apa maksudmu?” tanyanya ringan.Minari tersenyum miring. “Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semuanya. Termasuk hobimu yang senang bermain wanita.”Zian tidak tersinggung. Sebaliknya, senyum sinis justru terangkat di bibirnya.“Kau keberatan?” balasnya santai, nyaris meremehkan. “Papamu yang menginginkan perjodohan ini. Baginya, ini hanya soal bisnis.”Ia melirik sekilas ke arah Minari.“Keluargamu butuh suntikan dana. Keluargaku menyediakannya. Jadi, menurutku aku tidak perlu berpura-pura menjadi pria baik.”Minari terkekeh pelan. Sopan santun yang biasa dikenakan, ia lepaskan sepenuhnya di hadapan pria ini.“Itu karena Papa belum tahu siapa kamu sebenarnya.” Ia menatap lurus ke depan. “Dia pikir keluarga Ravenshow bersih. Tidak ada pria brengsek sepertimu di dalamnya.”Senyum Zian menghilang. Kata itu mulai tera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status