LOGIN“Dokter bilang apa tadi, agar aku melupakan Ethan?”Suara Minari terdengar lirih.Ia mengulang kalimat itu pelan, seolah takut salah dengar. Kalimat tersebut terlalu ganjil untuk dipercaya.Selama ini Alistair selalu mengatakan obat yang diminumnya bertujuan melindungi kondisi otaknya. Namun sekarang, Dr. Maidan justru mengatakan ada alasan lain.Alasan yang berkaitan dengan Ethan. Pria yang baru mulai muncul kembali di dalam ingatannya.Dr. Maidan tidak membantah. Ia justru menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siapa pun yang memperhatikan percakapan mereka.Suasana toko bunga cukup ramai. Beberapa pelanggan sedang memilih rangkaian bunga, sementara pegawai sibuk membungkus pesanan. Meski begitu, dokter itu tetap tampak waspada.Ia melangkah sedikit lebih dekat kepada Minari dan merendahkan suaranya."Seharusnya aku tidak mengatakan ini.”Nada suaranya terdengar penuh penyesalan.
Hari pernikahan tinggal menghitung hari.Sejak pagi, Minari sudah berada di sebuah salon kecantikan ternama untuk menjalani rangkaian perawatan pra-nikah.Mulai dari lulur tubuh, perawatan wajah, hingga spa relaksasi.Awalnya ia mengira semua itu akan melelahkan. Nyatanya, beberapa jam kemudian ia justru keluar dari salon dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan.Kulitnya masih menyisakan aroma bunga melati yang lembut. Ia menarik napas panjang sambil menikmati udara siang."Akhirnya selesai juga."Sopir taksi yang sejak tadi menunggunya segera membuka pintu."Langsung pulang, Nona?"Minari baru hendak mengangguk ketika pandangannya tertumbuk pada sebuah toko bunga yang berdiri di seberang jalan.Etalasenya dipenuhi bunga segar dengan berbagai warna.Mawar putih. Lili. Tulip. Baby's breath. Semuanya tersusun begitu cantik hingga membuat siapa pun ingin mampir.Minari tersenyum kecil.
Rapat persiapan pernikahan berlangsung hampir dua jam.Ruang pertemuan yang luas itu dipenuhi berbagai contoh dekorasi, katalog bunga, kain pelapis meja, hingga maket pelaminan yang dibuat dengan sangat detail.Panitia bekerja dengan profesional. Mereka menjelaskan satu per satu konsep yang telah disusun sesuai permintaan keluarga Ravenshow dan Halden."Kami mengusulkan tema Elegant Garden Wedding," jelas salah satu wedding planner sambil membuka papan presentasi. "Nuansa putih, krem, dan hijau akan menjadi warna utama. Seluruh area taman akan dipenuhi bunga mawar putih dan hydrangea."Minari memperhatikan dengan saksama. Sementara di sampingnya, Zian sesekali mengangguk lalu memberikan beberapa masukan kecil."Bagian lorong menuju altar dibuat sedikit lebih panjang," ujar Zian. "Aku ingin tamu bisa melihat Minari berjalan dari kejauhan."Wedding planner langsung mencatatnya. "Tentu, Tuan."Minari menoleh sekilas. "Kamu
Minari baru saja selesai mandi ketika ponselnya bergetar di atas meja rias.‘Selamat pagi, Nona Minari. Hari ini dijadwalkan rapat final mengenai dekorasi dan susunan acara. Mohon hadir pukul sepuluh pagi.’Minari membaca pesan itu dua kali sebelum menepuk dahinya pelan."Oh, rapatnya hari ini, ya?”Beberapa hari terakhir ia terlalu sibuk menikmati hari-harinya bersama Zian hingga hampir melupakan persiapan pernikahan yang terus berjalan.Tanpa menunda waktu, ia langsung mencari nama Zian di daftar kontak lalu menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar. Tapi tidak ada jawaban.Minari mengernyit. Biasanya Zian selalu mengangkat teleponnya dalam hitungan detik, bahkan ketika sedang rapat sekalipun.Ia mencoba menelepon sekali lagi. Hasilnya tetap sama.Minari melirik jam dinding. Sudah pukul sembilan lewat.Kalau mereka terlambat, panitia pasti harus menunda banyak agenda."Jangan-jangan dia masih tidur."Semalam Zian memang sempat mengirim pesan bahwa ia baru pulang dari luar kota
Beberapa hari setelah pengakuan perasaan Zian, kehidupan mereka perlahan kembali berjalan seperti biasa.Zian benar-benar menepati janjinya untuk selalu berada di sisi Minari. Ia membelikan Minari ponsel baru karena seluruh barang milik wanita itu tertinggal di kapal pesiar.Nomor baru itu menjadi awal dari kebiasaan baru yang tanpa sadar mulai mereka lakukan.Setiap pagi, selalu ada pesan dari Zian."Sudah bangun?""Sarapan yang banyak.""Jangan lupa istirahat."Malam harinya, sebelum tidur, pria itu hampir selalu menelepon. Sama seperti malam ini."Ah, sebalnya. Besok aku harus survei ke berbagai tempat. Padahal aku mau bersamamu," keluh Zian dari seberang telepon.Minari tersenyum tipis. "Jangan malas. Kau kan bisa bersamaku setelahnya.""Kalau begitu... ikut aku saja.""Hm?""Ikut kerja."Minari sempat terdiam beberapa detik."Aku? Jangan!" tolaknya cepat
"Minari... maafkan aku."Suara Zian jauh lebih pelan daripada biasanya. Tak ada lagi nada tinggi. Tak ada lagi amarah yang meledak-ledak seperti siang tadi.Kini yang tersisa hanyalah seorang pria yang terlihat kelelahan.Ia perlahan meraih tangan Minari yang sejak tadi terdiam di atas pangkuannya.Minari tidak menarik tangannya. Namun ia juga belum sanggup menatap wajah Zian."Aku benar-benar minta maaf." Zian menundukkan kepala. "Aku tidak seharusnya menciummu tanpa izin."Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan. Ia mengakui kesalahannya sepenuhnya."Aku tahu aku sudah membuatmu marah."Ruangan kembali sunyi. Hanya terdengar suara embusan napas mereka berdua.Beberapa detik berlalu. Zian menggenggam tangan Minari sedikit lebih erat."Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa menjadi seperti ini." Ia tersenyum pahit. "Selama hidupku, aku tidak pernah seperti ini kepada siapa pun."Tatapannya jatuh pada tangan yang sedang digenggamnya."Aku selalu khawatir.
“Aku hitung sampai tiga. Keluar dari sini!”Wanita itu langsung panik.Dengan tergesa-gesa ia turun dari tubuh Zian, meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya sembarangan.Tak sampai satu menit, wanita itu sudah berlari keluar mansion tanpa berani menoleh lagi.Suasana mendadak
Pintu terbuka, Minari terbelalak kaget melihat tamunya yang datang.“Hai, aku tetangga baru. Aku mau memberikan camilan sebagai tanda perkenalan."Minari membeku.Bukan hanya karena kedatangannya yang tiba-tiba, tetapi juga karena pria yang berdiri di depan pintunya adalah sosok bermata hazel yang i
“Lehermu. Aku bisa melihat bekas ciuman di sana.”Zian terkesiap. Namun hanya sepersekian detik.Setelah itu, ia kembali pada ekspresi santainya, seolah tidak terjadi apa-apa.“Apa maksudmu?” tanyanya ringan.Minari tersenyum miring. “Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semuanya. Termasuk hobimu yang s
“Kalau kau ingin keluar dari rumah ini, kau harus mau dijodohkan dengan putra keluarga Ravenshow.”Kalimat itu menjadi alasan Minari Halden berdiri tegap mengikuti acara pertunangan hari ini.Papanya – Alistair Halden, memilih Zian Nathaniel Ravenshow sebagai pasangan hidupnya. Putra satu-satunya ke







